For My Family

For My Family
246



Dokter muda itu tersenyum, sesekali mengangguk saat mendengarkan segala celoteh Aulia. Meski dia sudah berulang kali mendengar cerita dari ibu empat anak itu.


Lalu, iris bermata cokelat itu menatap lekat. Mencoba untuk bertanya tentang luka yang selama ini disamarkannya.


"Tante," panggilnya dan Aulia menoleh.


"Perhatikan wajah saya, saya ingin bertanya satu hal?"


Wanita itu menurut, senyum di wajah tuanya tampak begitu ceria, terlapiskan lipstik merah yang membuat wajah senjanya lebih memesona.


"Di mana Arsy saat ini?"


Seketika senyum itu memudar, Aulia menundukkan pandangannya. Mencoba mengingat, cukup lama dia terdiam. Detik selanjutnya dia tertawa sendiri.


"Arsy ... Arsy, bersama Ardan," jawabnya terkekeh, tapi sebuah buliran menetes dari mata tuanya. Menandakan bahwa alam bawah sadarnya tahu pasti di mana putri kecilnya berada saat ini.


"Tante." Lembut suara itu memanggil, dengan sentuhan yang ia berikan di punggung tangan keriput tersebut.


"Jujurlah pada hati Tante. Mau sampai kapan Tante terus bertahan? Bukankah ini menyakitkan?"


Wanita itu bergeming, melihat tangan Pedro. Lantas nyalang tatapan itu memandang wajah sang dokter.


"Arsy belum mati!" teriaknya ketus. "Arsy masih ada di sini!" Aulia berontak, mengempaskan tangan dokter itu dan langsung bangkit.


Tertawa sendiri seraya menatapi kelopak-kelopak bunga persik.


"Arsy masih hidup! Kau siapa? Berani-beraninya mengatakan dia sudah mati, hah?!"


Mendengar teriakan Aulia membuat Gerald yang dari tadi memerhatikan dari jauh ingin mendekat. Sayangnya, langkah itu terhenti saat Ardan menahannya.


"Arsy belum mati! Hah? Kau dengar?" teriak Aulia di depan wajah Pedro.


Pedro menarik napas, lantas kepalanya mengangguk-angguk. Membiarkan Aulia terus meracau dan membentaknya. Sesungguhnya wanita itu memang butuh sesuatu untuk melampiaskan segalanya.


Karena selama ini yang membuat keadaanya memburuk adalah emosional yang terus terpendam. Apa pun yang dia rasakan, dia hanya menahan. Pura-pura untuk tetap tegar dan akhirnya malah menyerang alam bawah sadarnya.


Ibu empat anak itu terus berteriak kencang, tertawa sendiri, detik selanjutnya menangis terisak-isak. Mengeluarkan seluruh ekspresinya di hadapan Pedro. Perlahan kedua kakinya melemas, lalu tubuh tua itu melorot dan terduduk di atas rerumputan.


Meletakan kepalanya di atas kursi dan terseduh-seduh sendiri. Kali ini Aulia benar-benar menangis sejadi-jadinya, di sela isakannya terdengar lirih nama Arsy keluar dari bibir keriputnya.


Seperti menggambarkan banyak rasa, kasih, rindu dan yang paling mendominan adalah penyesalan. Rasa gagal yang melingkupi hati seorang ibu, terus membuat Aulia mengeras pada diri sendiri.


Ada dada yang ikut menahan sesak di sudut sini, Gerald tidak tahan lagi melihat kekasihnya menderita di sana. Baru akan melangkah, Ardan kembali menarik lengan sang papa.


"Biarkan dokter itu bekerja, Pa."


"Apa kau buta? Aulia tersiksa oleh terapinya!"


"Terkadang kita memang harus seperti itu, Pa. Kita harus membuka luka yang sudah mengering agar bisa mengobatinya. Sakit memang, tapi itulah prosesnya. Biarkan Mama melewati prosesnya, Pa."


"Aku tidak bisa melihatnya menderita. Dia istriku!"


"Aku tau! Tapi jangan biarkan sikap posesif Papa semakin membuat Mama jauh dari kita. Bukan hanya Papa, seluruh penghuni rumah sangat menyanyangi Mama. Tapi kita harus tega kali ini, buat kebaikan Mama. Kebaikan kita semua!" Tekan Ardan ketus.


Gerald menarik napasnya, melihat sekali lagi ke arah Pedro dan Aulia. Wajah tua itu memerah. Entah karena marah atau bercampur penyesalan yang ada.


Hukuman terberat yang dia dapatkan dalam hidup ini adalah melihat kekasih yang dicintainya seperti ini. Lelaki tua itu menahan napas, dadanya bergemuruh dan dia mulai sesak untuk tetap menunggu Aulia di sini.


Saat Hazel datang mendekati mereka, lelaki tua itu memilih pergi dan meninggalkan Ardan sendirian di sana.


Melihat itu Hazel hanya tersenyum, memberikan baki ke tangan Ardan. Seperti keinginan Pedro, selama terapi Aulia berlangsung, wanita keturunan Turki itu tidak boleh kelihatan di depan Aulia.


Agar imajinasi tak terpancing dan bermain lagi. Lelaki berbadan tegap itu menarik napas, meletakan baki di atas meja. Nanar tatapan matanya memandangi Aulia yang masih terisak, bersimpuh di bawah kursi.


Perlahan tubuh tegap itu berlutut, mencoba menarik tubuh Aulia agar bisa leluasa menangis di dekapannya.


Aulia berhambur ke dalam dada bidang putra sulungnya. Meremat sisi kaus yang Ardan kenakan.


"Arsy belum pergi! Katakan pada Mama, Ardan. Arsy masih di sini."


Kedua mata tajam itu terpejam, meneguk saliva getir.


"Ikhlas, Ma. Ardan mohon, Arsy sudah tidak lagi di sini."


Kepala dalam dekapan itu menggeleng, benar-benar tidak ingin melepaskan apa yang dia yakini selama ini. Aulia berusaha meleraikan pelukan Ardan, tapi tegap tangan Ardan malah semakin mendekap dengan sangat erat.


"Mama masih punya Ardan. Masih punya kami, putra-putra Mama. Kami janji akan selalu di sini, tapi Ardan mohon Mama jangan terus begini, ya, Ma."


Tangisan Aulia kian pecah, kini isakannya bahkan terdengar lebih keras. Berulang kali Ardan mencoba untuk menenangkannya, menghujani pucuk kepala sang bunda dengan ciuman. Tidak tega, tapi proses yang menyakitkan ini memang harus dilewatinya.


Sampai akhirnya Aulia pingsan di dalam dekapan sang putra. Kelabakan, Ardan langsung mengangkat tubuh tua itu. Entah sejak kapan, tapi makin hari berat badan Aulia semakin terasa ringan.


Ada luka baru yang menggerus kalbu, bahkan saat sudah sedekat ini. Dia masih kurang memerhatikan ibunya.


Lamat mata tajam itu menatapi wajah Aulia, entah bagaimana menjelaskannya. Setiap kali melihat Aulia begini, ada bagian di dalam dirinya yang kembali remuk, redam mengingat kegagalan dia dalam menjaga wanita-wanita yang disayangi.


Setelah melihat ibunya mulai tidur dengan tenang, Ardan beranjak dan menemui dokter muda itu yang masih menunggunya di teras rumah.


"Bagaimana keadaan mama, Pedro?" tanyanya lemas, terus terang melihat keadaan Aulia benar-benar membuat dia putus asa.


"Tenanglah, Ardan. Kita masih berada di tahap-tahap awal. Mungkin kejadian seperti akan terulang beberapa kali. Jangan khawatir, setelah sadar Nyonya Erlangga akan baik-baik saja."


Mata lelah itu semakin menyanyup, seperti tanpa gairah Ardan hanya bisa mengangguk pasrah. Benarkah masih ada kata baik-baik saja dalam dunianya?


"Terima kasih atas kunjunganmu hari ini."


Pedro mengangguk, satu tangannya menepuk bahu Ardan. Terasa cengkeraman lembut, lalu terlepas setelah beberapa detik.


"Hei, tenanglah. Tetap semangat karena energi positifmu akan memberikan pengaruh yang baik buat ibumu."


Lelaki berwajah sangar itu tertawa miris, menggelengkan kepalanya. Entah kenapa rasanya malah semakin lelah karena mendengarkan ucapan sang dokter.


"Pedro."


"Berapa lama hal ini akan terus terulang?"


"Semua butuh waktu, Ardan. Saat ini yakinkan dulu dirimu, bahwa kita akan berhasil."


"Tapi Mama semenderita itu, tak bisakah kau lumpuhkan saja ingatannya? Aku ... benar-benar tidak tega."


Pedro menggelengkan kepalanya. "Jangan lakukan itu, Ardan. Percayalah kenangan Arsy sungguh sangat berharga untuk beliau."


"Tapi kenangan Arsy juga yang selalu menyiksanya. Kau tidak tau karena kau tidak pernah berada di posisiku!"


"Aku tau. Karena aku memahami apa yang tidak kau pahami dari ibumu, Ardan."


Lelaki berkulit sawo matang itu mengusap wajahnya kasar. Lalu, terdengar embusan napas yang melelahkan.


"Ardan, jika kau memang ingin melihat Nyonya Aulia kembali sadar, yakinkan dulu dirimu sendiri bahwa ini akan berhasil sesuai yang kau ingini. Jika kau mulai ragu, sebaikmya kita hentikan ini. Karena penyembuhan yang pertama berawal dari seberapa yakin kau akan hasilnya."


"Aku yakin, tapi aku tidak bisa melihat Mama begitu. Mama terluka, mama menderita, Pedro. Aku tidak sanggup."


Kedua telapak tangan besarnya kembali menyapu wajah, lalu ia tangkupkan untuk menopang dagu seraya menatap kosong ke arah depan.


"Mama benar-benar tersiksa, kau tidak tau sesakit apa rasanya saat dia menangis sepilu itu. Dia ibuku, yang dulu selalu tersenyum dalam keadaan apa pun. Dia ibuku, yang dulu selalu memelukku saat aku terluka amat parah. Dia ibuku, Pedro. Katakan bagaimana aku bisa tega melihatnya terus seperti itu?"


Pedro mengangguk pelan, hanya tersenyum tipis mendengarkan Ardan. Terkadang mendampingi seseorang memang sangat melelahkan. Terlebih dengan segala kesaksian yang kita perhatikan. Kesabaran bukan lagi jadi sebuah kata untuk menyemangati, tapi keadaan yang memang benar-benar harus dijalani.


"Sepertinya kau pun membutuhkan terapi untuk dirimu, Ardan."


Lelaki berwajah sangar itu tersenyum, menggelengkan kepala mendengar lelucon tersebut.


"Aku tidak gila!" ketusnya.


"Entah bagaimana menjelaskannya, tapi hal pertama yang harus dilakukan untuk mereka yang trauma akan sesuatu adalah mendekatkan mereka dengan rasa takut itu. Mengenalkan mereka akan segala hal yang mereka takuti itu pelan-pelan dan akhirnya mereka nyaman dan mampu berdamai, bukan lagi dilawan. Membuka pandangan mereka secara perlahan bahwa semua yang ditakutkan itu tak seburuk yang mereka pikirkan. Sabar, Teman. Ini hanya proses, bagaimana bisa ibumu kembali jika kita tidak membuka jalan untuk dia pulang?"


Ardan berdiam, sekilas teringat lagi bagaimana tangisan Aulia pecah dalam dekapannya tadi.


"Berjanjilah padaku bahwa kau akan berhasil, Pedro."


Lelaki keturunan Spanyol itu tersenyum manis. "Akan kuusahakan sekuat tenaga," balasnya lembut. Sebagai seorang dokter, berjanji untuk sebuah kesembuhan adalah hal yang tidak bisa dilakukan.


Karena dia sadar bahwa seorang dokter hanyalah perantara penyembuhan. Tak mampu menjamin keselamatan pasien yang mereka tangani.


"Untuk hari ini, hanya ini yang bisa kulakukan. Aku pamit, ya. Jika ada apa-apa kamu bisa menghubungiku."


Ardan hanya mengangguk lemah.


"Apa kau akan kembali ke rumah?"


"Tidak. Untuk beberapa waktu aku harus stay di sini karena ada pekerjaan di rumah sakit ibu kota. Dan kita bisa sesering mungkin melakukan terapi untuk Nyonya Erlangga. Pelan-pelan, kita akan mengembalikannya pulang."


Ardan mengangguk dan tersenyum tipis. Berusaha untuk tetap bertahan walau tidak tampak ada keyakinan dari wajah tampannya.


Lekat, iris berwarna hitam pekat itu memerhatikan mobil sang dokter yang keluar dari halaman rumah Erlangga.


Bersamaan sepasang tangan menelusup di antara dua lengan tangannya. Disusul oleh usapan manja di punggung badan. Hazel mengusap wajahnya di sisi belakang tubuh Ardan. Sesaat dia menikmati aroma tubuh lelaki itu.


"Kini aku tau kenapa putra-putra Erlangga sangat posesif terhadap wanitanya," kata Hazel lirih.


Lelaki berwajah sangar itu hanya melirik, menaikan sebelah alis matanya.


"Ternyata itu adalah keturunan dari penguasa Erlangga." Terkekeh, Hazel kembali menyembunyikan wajahnya di punggung Ardan.


Menular, tawa itu ikut menghiasi wajah lelaki garang tersebut.


"Jika saat ini kamu menyesal juga tidak berguna, Sayang."


"Hem, siapa yang menyesal? Diposesifin oleh lelaki Erlangga bukankah suatu kebanggaan?"


Ardan kembali tertawa, satu tangannya menarik tangan Hazel yang memeluk perutnya. Mencium telapak tangan itu lembut. Hangat, harum tubuh wanita itu mampu membuat lelahnya sedikit menguap.


"Di mana anak-anak?"


"Yena sudah tidur, Surya sepertinya masih main di kamar Arfi."


"Kenapa dibiarkan sama Arfi? Kamu tidak takut jika Surya akan menuruni sifat playboynya?"


Hazel terkekeh, "Dibandingkan Arfi, sifatmu lebih parah, Mas."


"Haha, jadi kenapa masih mau?"


"Sudah terlanjur kejebak. Mau bagaimana lagi?"


Satu tangan Hazel melepaskan genggaman Ardan, lantas tubuh wanita itu berpindah ke depan. Berhadapan dengan sang suami.


"Mas."


"Ya."


"Kamu lelah, ya?"


Bibir tipis lelaki itu ditarik, membentuk senyum manis. Lantas, kedua tangannya menarik Hazel ke dalam dekapan. Mencium puncak kepala wanitanya.


"Sangat, Sayang. Masalah perusahaan menguras habis pikiranku, masalah mama menguras habis energiku dan ...." Lelaki itu menggantungkan kalimatnya.


Hazel meleraikan dekapan Ardan, mencoba menatap wajah sang suami yang terlihat semakin letih.


"Dan?" tanyanya.


Ardan tersenyum dan menggeleng, menarik kepala wanitanya untuk kembali dikecup.


'Masalah Surya menguras habis semua emosiku,' sambungnya dalam hati.