
Ardan mengangkat gelasnya dan tersenyum, meneguk wine yang ada di tangannya saat mitra yang ia targetkan malam ini masuk ke dalam perangkap yang ia buat.
Setidaknya, perusahaan itu akan memulai peperangannya kembali, setelah hampir kolaps di tangan kembarannya itu.
"Ardan," panggil Gerald datar. Seketika senyum di wajah tuanya memudar setelah tamu Ardan pergi.
"Ada apa, pak Presdir?"
"Benarkah kamu sudah menikah?" tanya Gerald dingin.
"Benar," jawab Ardan datar.
"Apa? Kamu ini sebenarnya menganggap saya apa, ha?" tanya Gerald geram.
"Presdir saya."
"Jangan main-main kamu. Saya ini Papa kamu, kamu harus ingat itu!" tekan Gerald ketus.
"Ardan, apa kamu itu tinggal di hutan? Kenapa menikah pun kamu tidak memberitahu kami semua?" tanya Arfan yang ikut geram dengan saudara kembarnya itu.
"Menurut pengamatanku, jika aku memberitahu sebelum menikah. Maka pernikahan Ardan Erlangga kali ini tidak akan berhasil," jawab Ardan dengan tersenyum lebar.
"Jangan bercanda kamu! Katakan pada Papa yang mana wanitanya?" tanya Gerald geram setengah mati.
"Coba tanyakan pada setiap pengunjung wanita di sini, yang manakah Nyonya Ardan Erlangga," ucap Ardan santai.
"Kamu!" Gerald mengenggam erat gelas wine di tangannya. Rasanya ingin sekali ia meremat putra tertuanya itu.
"Jangan membuat gosip yang buruk, Ardan. Wanita yang bersanding dengan calon CEO selanjutnya tidak bisa wanita sembarangan. Kamu tidak boleh main-main dengan reputasimu," jelas Arfan tegas.
"Jadi yang kamu maksud dengan wanita berkelas seperti, Sharon? Wanita yang sangat sombong dan memecat pelayan cafe seenaknya saja itu?" tanya Ardan ketus.
"Apa maksudmu?" tanya Arfan bingung.
"Arfan, kita memang kembar. Tetapi seleraku tidak sama denganmu, aku tidak suka wanita sombong dan banyak bicara. Aku tidak suka wanita yang hanya memandang lelaki dari jabatannya dan fisiknya saja. Seharusnya kamu paham itu, kenapa selama ini aku tidak pernah jatuh cinta." Ardan mendekatkan bibirnya ke telinga kembarannya itu.
"Itu karena semua wanita yang kukencani sama. Sombong dan terlalu banyak bicara, ditambah manja dan selalu merepotkanku saja. Seperti Sharon kebangganmu itu."
"Ardan, jangan keterlaluan!" tekan Arfan tidak suka.
"Kenapa? Jika kamu suka sekali dengan wanita bernama Sharon itu, kenapa kamu tidak menjadikannya istri kedua saja?"
Arfan menahan buruan napasnya, walaupun Ardan memang terkenal dengan si lisan tajam. Tetapi ia tidak menyangka kalau lisannya akan tertuju pada kembaran sekaligus sahabatnya ini.
"Ardan, kenapa kamu menjadi seperti ini? Kamu lebih terlihat sebagai lawan dibandingkan kawan."
"Kalian benar-benar tahu bagaimana sikapku. Aku tidak suka bermain jika aku tidak suka, jangan pernah mencari tahu yang mana istriku dan jangan pernah sentuh dia. Jika ada yang menyakitinya, silahkan saja." Ardan meletakan gelas winenya di atas meja dan membalikan badan.
"Carilah calon CEO baru untuk perusahaan Erlangga. Karena jika kehidupan pribadiku hancur, maka perusahaan Erlangga juga akan ikut hancur bersamaku."
Ardan tersenyum sinis dan berjalan keluar dari gedung acara itu. Tujuan dia hari ini untuk mendapatkan Direksi baru perusahaan telah tercapai. Ia tidak berminat untuk lebih lama lagi berada dalam kerumunan ini.
Ferdi menyentuh lengan tangan Hazel lembut, mengajak Hazel untuk keluar saat melihat Ardan berjalan menjauh dari perkumpulan keluarganya.
Arfan menatap tajam ke arah kembarannya itu, melihat sampai punggung Ardan keluar dari pintu, memang tidak ada wanita yang mendekatinya ataupun yang ia gandeng untuk pulang.
"Apa Ardan benar-benar sudah menikah? Bahkan perusahaan juga tidak tahu siapa istrinya," ucap Arfan dingin.
"Kamu bagaikan tidak tahu siapa Kakakmu itu, Arfan. Jika dia protect terhadap sesuatu, maka itu sesuatu yang sangat penting buatnya." Gerald meneguk gelas winenya, kepalanya berdenyut saat ia mulai bersaing dengan putra tertuanya itu.
"Tidak banyak hal yang kak Ardan lindungi dalam dunia ini. Aku hanya tahu bahwa kak Ardan pernah sangat posesif pada Emily, apakah wanita ini sangat ia lindungi atau memang tidak ada sama sekali?" tanya Arfi bingung.
"Wanitanya ada, aku yakin itu. Dan cepat atau lambat, ia akan membawanya ke rumah Papa. Tunggu saja," ucap Arfan tersenyum sinis memandangi arah pintu gedung. Tempat terkahir kali kakak yang lahir lebih cepat sepuluh menit darinya itu keluar.
***
Ardan memasukan kedua tangannya di saku celana, menunggu mobil Ferdi yang membawa istri cantiknya itu keluar dari gedung.
Ardan langsung membuka pintu depan mobil sahabatnya itu dan memasukan Hazel ke dalam mobilnya.
Ardan menaikan tangannya, tos kemengan untuk rencanya yang berjalan sempurna.
"Aku seharusnya tahu, bahwa kamu tidak akan benar-benar menyerahkan istrimu begitu saja untuk taruhan ini," ucap Ferdi sambil tersenyum lembut.
"Sesuai yang kukatakan padamu. Kita akan mendirikan perusahaan sendiri tanpa nama Erlangga di belakangnya," ucap Ardan senang.
"Lalu, apakah seluruh Dewan Direksi yang tersisa akan kita gantikan?" tanya Ferdi kembali.
"Hem, aku rasa itu tidak perlu. Kita akan bahas ini besok, aku akan membawa pulang Hazel terlebih dahulu."
"Baiklah, hati-hati, Kawan."
Ardan membuka jasnya dan meletakan di jok belakang. Ia melihat Hazel yang hanya diam memandang ke arah luar.
"Kamu lapar? Kita mau makan malam dulu?" tanya Ardan saat melihat Hazel terus memandangi ke arah luar jendela, bahkan ia tidak memalingkan wajahnya saat diajak bicara.
Hazel menggelengkan kepalanya, matanya memandang kosong ke jalanan malam.
Apa yang ia pikirkan? Bagaimana bisa ia merasa nyaman begitu saja. Tanpa ia tahu siapa Ardan sebenarnya.
Terlalu banyak hal yang ia tidak tahu tentang Ardan. Saat ini, siapa Ardan yang sekarang bisa saja menyakiti Surya ke depannya nanti.
Dari yang ia tahu selama ini, walaupun ia tidak pernah berurusan langsung dengan Arfan, tetapi Arfan bukan orang yang bisa diajak berdiskusi.
Arfan adalah lelaki yang sangat dingin. Sikapnya yang tidak pernah mentolerir selama ini, membuat Hazel takut sendiri. Takut jika keluarga Ardan akan menyakiti putranya sama seperti Luna yang pernah menyakiti anaknya.
"Hazel," panggil Ardan lembut.
Wanita itu masih diam, bukan tidak mendengar. Tetapi lebih tidak ingin menjawab.
"Hazel," panggil Ardan sekali lagi saat Hazel tak menjawab apapun pertanyaannya malam ini.
Melihat Hazel yang masih melamun di sebelahnya. Ardan menghentikan laju mobil hitamnya. Mengambil tangan Hazel yang mulai mendingin.
"Ada apa?" tanya Ardan saat Hazel memalingkan kepalanya.
"Pak," panggil Hazel.
"Hmm." Ardan menggeleng dan mencubit sebelah pipi Hazel, lembut.
"Jangan panggil saya Pak lagi. Panggillah dengan kata yang lain."
"Ardan."
"Kenapa? Apa ada yang menyakitimu? Hm?"
Hazel menggelengkan kepalanya, "Ayo kita segera pulang," ajak Hazel lembut.
"Kenapa? Apa kamu lelah?" tanya Ardan kembali.
"Ayo pulang saja. Lebih cepat maka lebih baik."
"Baiklah, saya tahu. Kamu pasti kangen Surya, kan. Kita akan pulang sekarang juga."
Ardan tersenyum lembut, jemarinya mengenggam tangan Hazel erat. Perlahan wanita itu melepaskan pegangan tangan Ardan dan kembali menatap keluar jendela. Memperhatikan lampu-lampu jalanan yang menghiasi gelapnya malam.
'Aku tidak bisa menunggu lagi, kita harus melakukannya lebih cepat. Sebelum anakku yang menjadi korban manusia tanpa nurani lain lagi,'
Ardan membuka daun pintu rumahnya dengan memainkan kunci di tangan. Memasuki kamar dan meletakannya jasnya di atas kasur.
Diikuti Hazel yang mengejar langkah Ardan memasuki kamar. Ia membalikan badan Ardan yang sedang berdiri di depan cermin. Membuka kancing kemeja yang melekat di tubuh tegap pria itu satu persatu.
Sedang, Ardan masih bingung. Ia sama sekali tidak mengerti apa maksud Hazel.
"Hazel, kamu baik-baik saja?" tanya Ardan bingung.
Wanita itu mengangguk, cepat tangannya membuka setiap kancing yang terkait, melepaskan kemeja yang Ardan kenakan, menyisakan kaus dalam yang membentuk lekuk badan lelaki berotot itu.
"Hazel, ada apa denganmu?" tanya Ardan sekali lagi.
Hazel melepaskan ikat rambutnya dan mulai menyanggul tinggi mahkota bewarna cokelat itu. Perlahan ia membuka resleting dress yang dikenakan, memperlihatkan kulit putih di bagian punggung belakangnya.
Ardan menelan salivanya dengan berat, melihat jelas punggung wanita itu yang begitu mulus. Tidak memungkiri bahwa hasratnya naik saat ini.
Hazel memalingkan sedikit pandangannya, ia tersenyum sinis saat melihat Ardan terpaku memandangi kulit putihnya.
Dress yang menutupi badan mungil itu terlepas ke bawah. Perlahan Hazel membalikan badannya, sebuah selimut besar terlempar ke arah wanita itu. Menutupi badan mungil itu seluruhnya.
"Saya tidak tahu apa yang salah denganmu malam ini, tetapi saya tidak suka wanita yang menanggalkan pakaiannya begitu saja," ucap Ardan dingin.
Hazel keluar dari dalam selimut itu dan membungkus badan mungilnya dari atas kepala. Hanya memperlihatkan raut wajahnya yang datar.
"Bukankah anda berhasrat saat melihat kulit saya? Jadi kenapa anda tahan lagi? Saya istri anda, ayo lakukan yang seharusnya kita lakukan."
"Untuk apa?" tanya Ardan ketus.
"Untuk memenuhi tanggung jawab saya, saya harus melayani anda."
"Benarkah? Kamu memang benar ingin melayani saya dengan memenuhi tanggung jawabmu sebagai istri atau memenuhi tanggung jawabmu sebagai pihak kedua?" tanya Ardan dingin.
"Saya ... saya--"
"Kenapa kamu jadi seperti ini? Begitu inginkah kamu tidur sama saya?" tanya Ardan datar. "Atau kamu hanya ingin cepat hamil agar bisa meninggalkan saya?"
Hazel menundukan pandangannya, tangannya meremat selimut yang membalut badannya, kuat.
"Hazel, kamu yang datang ke dalam dekapan saya. Tanpa izin saya, kamu tidak akan bisa pergi begitu saja." Ardan berjalan mendekati wanita muda itu.
"Tentu, saya bisa menidurimu saat ini juga. Lalu saya juga bisa memaksamu meminum kontrasepsi setelahnya, kamu tahu artinya apa?" bisik Ardan lembut di telinga Hazel.
Namun kelembutan itu mampu membuat hati Hazel tertusuk, pelan namun mendalam.
Hazel menaikan pandangannya, menatap wajah Ardan yang terlihat begitu dingin dari sebelumnya. Perlahan genangan kaca itu mulai melapisi netra mata.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan agar anda melepaskan saya?" tanya Hazel kembali.
"Sudah saya katakan, jika kamu mau pergi, maka pergilah sekarang juga. Sebelum saya melakukan apapun padamu, maka pergilah sejauh yang kamu mau."
"Tapi, saya berhutang satu anak pada anda."
"Apa itu penting?"
Ardan menarik jaketnya dan berjalan keluar. Menutup daun pintu dengan sangat keras.
Rasa kecewa atas tindakan Hazel, membuat hatinya terluka.
Dalam sekejap mata, usahanya yang mulai berbuah harus kembali sirna hanya karena siapa dirinya yang sebenarnya.
Entah harus menyalahkan siapa? Tetapi takdir ia dan takdir Hazellah yang terlalu rumit untuk dipecahkan.