For My Family

For My Family
102



Khadijah mengetuk ruangan Direktur itu, terlihat wajah yang sangat kusut sedang tertidur di atas sandaran kursinya.


Perlahan gadis berhijab itu mendekat.


"Pak," panggil Khadijah lembut.


Berusaha untuk menyadarkan lelaki itu, tapi lebih dulu rasa penat membawanya tenggelam di dasar mimpi.


Khadijah hanya menatap, dalam. Wajahnya begitu tenang, teduh dengan kharismatik yang begitu kuat. Entah hal apa yang membuat lelaki sekeren dia masih sendiri sampai saat ini.


Bagaimana juga, dari segi gaya pun penampilan ia terlihat begitu menarik. Setidaknya, dalam pandangan gadis berwajah Timur tersebut.


"Pak Ferdi," panggilnya lebih keras.


"Hem." Tanpa membuka mata lelaki itu menyahut.


"Bisakah Anda memberitahu saya, materi mana yang harus saya kuasai?"


Hening. Lelaki itu kembali tertidur, terlihat dari tarikan napasnya yang begitu teratur.


Khadijah menghela napas, sebenarnya ia tidak tega untuk membangunkan. Namun, ia juga butuh waktu untuk mempelajari itu semua.


Khadijah berjalan lebih dekat, kini ia berdiri di samping lelaki itu. Terlihat wajah itu tanpa mengenakan kacamata.


'Manis,' batin Khadijah terpesona. Detik kemudian ia memalingkan wajah. Beristigfar berkali-kali.


Wajah tanpa kacamata itu lebih mempesona saat ia tertidur seperti ini. Terlebih, ketika sebagian rambut berantakan menutupi dahinya.


"Pak Ferdi," panggilnya lagi.


Mata lelah itu mengerjap, jarinya menekan pangkal hidung mancung miliknya.


"Kenapa?" tanyanya seraya memijat pangkal hidung pelan.


"Saya tidak tahu data mana yang Anda maksud. Bisakah Anda beritahu saya?"


Ferdi hanya mengangguk, kepalanya tertunduk dengan jari yang terus memijat pangkal hidung.


"Kembalilah, aku akan menyusulmu nanti."


"Baik."


Perlahan langkah kecil itu berbalik, berjalan meninggalkan ruangan. Ketika ingin menarik gagang pintu, gadis itu menoleh. Melihat Ferdi yang masih memijat pelipisnya pelan.


"Bisakah jangan terlalu Anda paksakan?" tanyanya lembut.


Gerakan tangan lelaki itu terhenti, ia memakai kacamatanya, memandang gadis berhijab nude di depan pintu.


"Saya akan berusaha sekuat tenaga. Janji saya pada Anda. Tapi, bisakah Anda jangan terlalu memaksakan diri. Istirahatlah jika Anda lelah. Bersujudlah jika Anda sedang lemah. Sisanya biarkan Dia yang menyelesaikan permasalahan Anda."


Ferdi hanya terdiam, menatapi tubuh semampai itu dalam.


"Berusahalah semampu Anda. Dia yang masih hak Anda akan tetap bersama Anda. Tapi, jika tidak. Sekuat apa Anda mengenggamnya dia akan tetap terlepas begitu saja."


Khadijah tersenyum lembut. "Ibarat pasir di dalam genggaman. Dia akan hilang saat kepalan itu terlalu erat. Semua butuh ruang, untuk tetap bertahan atau pun menghilang. Percayalah, yang jadi hak Anda akan tetap bersama Anda. Tapi jangan merasa itu milik Anda, sebab semua yang ada di bumi tidak akan bisa kita miliki."


Ferdi tersenyum lembut, pelan kepala itu mengangguk. Akhirnya, setelah beberapa hari, gadis itu bisa kembali menatap senyum teduh itu.


"Aku mengerti," jawab Ferdi lembut.


Khadijah menundukkan kepalanya, ia kembali meraih gagang pintu.


"Khadijah," panggil Ferdi.


Gadis itu menoleh kembali.


"Terima kasih." Seulas senyum terkembang dari bibir tipis lelaki berkacamata itu.


"Sama-sama."


"Terima kasih, untuk hal yang kamu ucapkan barusan. Bukan hanya menyadarkan aku tentang pekerjaan ini. Tapi, juga tentang perasaanku yang tak bertemu denganmu."


Sejenak Khadijah terdiam, ada rasa bersalah di dalam hatinya saat ini.


"Pak, untuk itu saya minta maaf. Ada yang ingin saya katakan pada Anda tentang masa lalu saya. Entah Anda bisa menerimanya atau tidak."


Seketika alis lelaki itu bertautan. "Maksudnya?" tanya Ferdi bingung.


"Saya itu sebenarnya--" Perkataan itu seketika terhenti saat pintu terbuka.


"Ferdi aku!"


Jedug ....


"Auw!" teriak Khadijah saat kepalanya terantuk pintu yang tiba-tiba di buka oleh Ardan.


Mata lelaki itu mendelik saat melihat Khadijah di belakang pintu dengan memegangi dahinya.


"Apa yang kamu lakukan di situ?" tanya Ardan ketus. Bukannya minta maaf, malah dia yang ketusi gadis itu.


"Astaga, Ardan!" bentak Ferdi yang ikut bangkit dari kursinya. "Kebiasan kalau masuk gak pernah ketuk dulu. Kamu melukai gadis ini." Ferdi mendekati Khadijah, mencoba melihat luka yang masih ditutupi oleh telapak tangannya.


Sementara yang dimarahi hanya menyilangkan kedua tangan di depan dada. Tak terlalu peduli.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Ferdi cemas. Ia tak berani menyentuh tangan gadis itu yang sedang menyembunyikan lukanya.


Mata lelaki itu menangkap, ada embunan yang melapisi iris cokelat indah itu.


"Ardan, tolong cari data yang akan dipresentasekan oleh Nara dan pindahkan ke komputer Khadijah. Biar dia gantikan gadis itu untuk rapat nanti."


"Kenapa harus aku?" tanya Ardan tak suka.


"Karena kamu sudah membuat dia terluka."


"Alah ... bilang saja kalian ingin ditinggal berdua. Hem, hem, hem," sahut Ardan seraya memainkan kedua alis matanya, menggoda Ferdi yang tengah sibuk pada kecemasannya.


"Sial! Kenapa jadi kena aku sih?"


"Khadijah, coba singkirkan tanganmu. Aku ingin lihat dahimu, ya," bujuk Ferdi.


Perlahan tangan yang menutupi dahinya terlepas. Ardan merangkul bahu Ferdi sembari memandang gadis itu. Ada rasa bersalah ketika melihat lebam yang lumayan parah.


Satu air luruh dari matanya, cepat tangan itu menghapusnya. Mati-matian ia menahan agar tak kelihatan, akhirnya runtuh juga.


"Ish ... nangis anak orang. Kamu itu buka pintu atau mau ngancurin pintu?" tanya Ferdi kesal.


"Sorry, Khadijah. Lagian kalian ini pacaran kok jauh-jauhan. Kapan jadinya kalau begitu terus?"


"Ardan, ayolah. Kerjakan yang kuperintahkan, cepat!"


"Iya, iya." Ardan tersenyum sembari meraih gagang pintu. "Awas, jangan di belakang pintu lagi. Tadi kejedut pintu. Sekali lagi kejedut bibir Ferdi dahimu."


"Ardan!" bentak Ferdi tak suka.


Lelaki itu terbahak geli, bahkan tawanya masih terdengar saat tubuhnya menghilang di balik pintu.


"Masih sakit sekali?" tanya Ferdi lembut.


Gadis itu mengangguk pelan.


"Duduklah di situ, aku melihatnya boleh?" izinnya sopan.


Gadis itu hanya mengikuti keinginan Ferdi. Duduk di sofa ruangan Direktur itu. Ferdi berlutut di hadapan Khadijah, melihat dahi putih itu yang terus memerah dan membengkak.


"Khadijah, maaf. Bolehkah aku menyentuh dahimu untuk mengompresnya sebentar?"


Ragu, gadis itu menatap Ferdi dengan kecemasan di hatinya. Pelan, kepala itu mengangguk.


Sebuah sapu tangan ia keluarkan dari saku jas. Menggumpalnya lalu mengembuskannya agar kain itu terasa hangat.


"Entah ini manjur atau tidak, entah pengaruh. Aku juga tidak tau. Tapi dulu, saat aku kejedut ibu selalu melakukan ini agar sakitnya menghilang." Ferdi tersenyum, satu tangannya meraih belakang kepala gadis itu. Satu lagi mengompres dahi memar tersebut dengan sapu tangan yang ia embuskan sebelumnya.


Beberapa kali Ferdi melakukan itu, saat ini yang hangat bukan hanya memarnya. Namun, juga segumpal daging dalam diri. Hati.


Terlebi saat iris itu menatap binar jernih di depannya. Sebuah desiran mulai nyata terasa. Hangat sikap dan lembut tutur sapanya, mampu meleburkan jiwa yang pernah menanti sebuah janji yang tak pernah tertepati.


***


Nara memandangi langit hitam berhiaskan bintang dari dalam kamar sederhana miliknya. Ada asa yang hancur karena semesta tak merestui.


Harapan yang tertata sedemikian rapi. Hancur bersama menghilangnya keyakinan di dalam hati.


Entah itu yakin akan diri yang mampu berjuang untuk sebuah hati. Atau keyakinan diri yang hilang karena ia tak suci lagi.


Pandangan teralih ketika mendengar suara pintu kayu terbuka. Lelaki berkaus putih itu masuk dengan handuk kecil mengalung di lehernya.


Pedro tersenyum, saat mendapati pandangan gadis yang baru sehari menjadi istrinya itu lekat menatapi gerakannya.


Setelah meletakan handuk di bingkai jendela, Pedro menatap lekat wajah cantik Kinara.


"Kenapa natapi aku begitu?" tanya Pedro lembut. Perlahan ia mendekat, menjatuhkan bokong di sisi Nara.


"Jangan dekati aku, Dokter. Jangan sentuh aku."


"Jangan panggil aku Dokter, aku ini suamimu. Panggil saja namaku."


"Hanya tiga bulan."


Alis tebal itu saling bertaut. "Maksudnya?" tanya Pedro tak mengerti.


"Aku tidak mau Anda meresmikan pernikahan ini. Setelah tiga bulan dan aku tidak hamil. Aku mau Anda menceraikanku."


Pedro bergeming, ia menelan saliva pahit. Sama pahitnya dengan ucapan istrinya tersebut.


"Kenapa?" tanyanya getir.


"Aku merasa malam itu juga kesalahanku. Tak adil jika Anda harus terjebak pernikahan tanpa cinta ini."


"Aku percaya, bahwa apa yang Tuhan rencanakan adalah hal yang baik. Untukku dan juga kamu, mengapa kita tak memulai ini dari awal yang baik saja? Aku menerimamu sebagai istriku, dan begitu sebaliknya."


Nara terdiam, beberapa kali ia menghela napasnya dengan berat.


"Aku tidak mau."


"Tapi aku adalah suamimu."


"Hanya suami pertanggung jawaban. Bukan suami sungguhan."


"Tapi pernikahan kita sah di mata Tuhan, Nara. Aku berjabat tangan dengan walimu, dan aku telah bersumpah di hadapan Tuhanku. Untuk menjagamu, menjaga anak-anakmu. Menjadikanmu makmumku dan juga pendampingku."


"Tapi aku tidak mau. Hatiku tidak mau, tolong jangan paksa aku. Kita sudah melakukan satu kesalahan malam itu. Jangan terus membuat kesalahan dengan pernikahan yang bahkan kita tidak tau akan berjalan seperti apa kedepannya."


"Berjalan seperti apa, itu tergantung aku dan kamu menjalaninya. Kita memulainya dari awal, cobalah untuk memulainya dengan yang baik. Nara, apakah kamu masih belum bisa melupakan teman Ardan itu?"


Nara tertunduk, pertanyaan itu mampu membuat dadanya terasa sangat sesak.


"Dia tak pantas untuk kamu angani lagi, Nara."


"Kenapa?" tanyanya ketus.


"Karena kamu telah memiliki mahram yang sah. Tubuhmu, jiwamu, raga dan segalanya dalam dirimu. Hanya boleh untukku."


Nara terkekeh, ia menggelengkan kepala. "Hahaha, maaf, aku gak sudi."


"Tapi, kenapa?" tanya Pedro lagi.


"Karena aku tak mencintamu, mengerti!" jawab Nara ketus. "Kenapa Anda terus memaksaku?" tanya gadis itu tak suka.


"Karena aku mencintaimu, Istriku."