
Arfi memutar badan Sasy, wajahnya memadam. Kesal dan juga geram.
Iris berwarna pekat itu menatap dalam. Setumpuk amarah tergambar di wajah tampan tersebut.
"Berikan ponselmu padaku!" ketusnya geram.
Gadis itu menggelang, mengacakkan kedua tangan di pinggang. Bundar mata itu melotot garang, menantang lelaki berambut pirang kecokelatan itu.
"Ambillah kalo bisa!"
"Oh." Arfi tersenyum sinis, satu tangannya mengacak rambut.
"Apa kau pikir aku gak berani?" Lelaki itu menyeringai, nakal. Tatapan itu ingin memangsa, membuat Sasy gelapan.
Kedua tangan mungilnya menyilang di depan dada. Perlahan langkahnya memundur. Menjauh dari Arfi yang berjalan mendekatinya.
Beberapa kali mata bulat itu mengerjap. Menelan salivanya, kelabakan. Terlebih melihat tatapan Arfi yang menggerikan dengan seringai nakal menghiasi wajah tampannya.
Lelaki itu terus mendekat, tersenyum sinis. Gadis belia itu semakin memundur. Sampai kedua kakinya tertahan kursi halte. Ia terduduk, dengan sorot ketakutan memandangi Arfi.
"Stop!" teriak Sasy menghentikan langkah Arfi.
"Aku bisa berteriak! Mengatakan Om pedofil yang mencoba melecehkanku!" teriaknya kalut.
Arfi terkekeh, ia menggelengkan kepala.
"Kalo begitu berikan ponselmu!"
Sasy mendekap badannya, menggelengkan kepala.
"Oh, begitu?" Lelaki itu mencekal lengan Sasy.
Membedirikan badan mungil itu secara paksa, lantas menarik dengan sedikit menyeret. Memasukan gadis berkucir kuda itu ke dalam Mclarent hitam milik kakaknya.
Mengunci pintu mobil sesaat setelah lelaki itu berada di balik kemudi.
"Aku beri kesempatan terakhir. Berika ponselmu, atau aku akan mengambilnya sendiri."
"Enggak! Jangan macam-macam, Om. Atau aku akan teriak!" ancam Sasy masih mendekap lengannya erat.
Sebelah bibir gadis itu terangkat, melirik Arfi dengan sengit.
"Teriaklah sekeras yang kau mau! Aku jamin kau akan kehabisan suara," tantang Arfi.
Mata gadis itu mendelik, dengan kedua tangan yang masih menutupi dadanya.
"Jangan macam-macam, Om. Aku bisa saja melaporkan tindakan Om ini! Pelecehan anak dibawah umur!" ancam Sasy.
Jantungnya berdegup kian mengencang. Terlebih ketika lelaki itu mendekatkan tubuhnya. Sampai tercium aroma maskulin itu, pekat.
"Oh, ya. Kita lihat saja, bukannya tadi kamu memaksa aku menjadi pacarmu?" Lelaki itu menyeringai, satu tangannya meraih rambut Sasy yang berantakan. Secepatnya gadis itu menghempaskan.
"Kau tau, saat orang pacaran itu apa yang mereka lakukan?" Arfi mencengkeram lengan tangan Sasy yang menutupi dadanya. Perlahan tangannya berpindah, meraih jemari tangan gadis itu.
"Menyentuh sedikit dadamu, itu hal yang biasa," goda Arfi seraya memainkan alis matanya.
Gadis itu mulai berkeringat, bola matanya memutar. Perlahan kepalanya menjauh. Mencoba menciptakan jarak antara dia dan lelaki itu.
"Hei, Belia, bukankah kau tadi menantangku untuk mengambilnya sendiri?" tanya Arfi.
Sasy meneguk saliva, wajahnya memucat. Mencari cela agar dia keluar dari situasi ini.
"Walau dadamu rata, tapi aku rasa akan sulit untuk mengambil ponselmu tanpa menyentuhnya. Bukankah kau ingin itu bisa cepat besar?" Arfi melepaskan satu tangannya, mata itu menatap telapak tangannya.
"Aku sudah terlatih untuk membuatnya membesar tanpa obat, kau mau coba?" tanya Arfi seraya menyeringai nakal.
Gadis itu mengambil napasnya dengan memburu. Satu dengkulnya menendang perut Arfi.
Lelaki itu memundur, walaupun spontan. Namun, itu cukup kuat mengenai perutnya.
"Kau!" seru Arfi kesal.
Sasy tersenyum, ia kembali mendekap tubuhnya.
"Jangan main-main sama aku, Om. Aku ini anaknya Letkol, Om tau Letkot?" sungut gadis itu.
Arfi menarik napas, tangannya mengacak rambut seraya menatap ke arah depan.
Ternyata, belia itu tidak selugu yang ia duga. Bisa dengan mudah untuk ditakuti dan diancam dengan kata-kata.
Gadis itu memasukan satu tangannya ke dalam kaus, meraih ponselnya dari bawah kausnya, tetapi tidak mengeluarkan benda pipih itu. Rela mengetik seraya mengintip dari kerah kaus.
Arfi melirik, dahinya mengernyit. Memerhatikan apa yang gadis itu kerjakan.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Arfi saat menyadari ada cahaya dari dalam kaus berwarna pink itu.
"Menghubungi Pak Ardan dan mengatakan kau berusaha melecehkanku, Om!"
"Sialan gadis ini! Berikan ponselmu padaku!" teriaknya mencoba merebut ponsel Sasy.
"Enggak!"
"Jangan menguji kesabaranku, Sasy. Atau aku benar-benar merogonya dari dalam kausmu!"
Sasy menjulurkan lidahnya, tangannya semakin cepat menyalin nomor Ardan.
Tak ingin kalah, Arfi mencoba menarik kerah kaus gadis itu. Sasy kembali meletakan ponselnya, kedua tangannya mencoba menghalau gerakan Arfi yang ingin merogo kausnya.
Tersudut, gadis itu meringsut ke sudut pintu saat badan kekar Arfi semakin mengunci dirinya.
Geram melihat ulah gadis itu yang terus melawan. Kedua tangan kekar itu mencengkeram lengan Sasy.
Sekuat tenaga gadis kecil itu menghempaskan tangan Arfi. Tangan lelaki itu terhempas, kehilangan keseimbangan dan membuat tubuh kekarnya limbung. Jatuh ke dekapan Sasy, dengan bibir yang mendarat di ujung hidung mungil gadis itu.
Terdiam, menatap lekat dan dalam. Jernih bola mata bundar itu mampu membuat dia terpukau.
Bergeming, dengan sorot mata yang saling bertautan. Menghidupkan desiran hangat di dalam dada gadis belia itu.
Perlahan bibir Sasy mengembang, ada irama sumbang yang terdengar di dalam dadanya.
"Jangan pandangi aku terlalu lama, Om. Nanti kau benar-benar jatuh cinta padaku bagaimana?"
Arfi langsung menarik tubuhnya, mengacak rambut dengan kasar.
Ia membuang pandangan keluar, dengan satu tangan tertumpu di pintu. Mengapa? Ia bisa terpukau hanya karena tatapan mata lugu itu.
Sementara, gadis di sebelahnya terus tersenyum. Ada yang bergetar di dalam dadanya. Entah apa namanya?
"Baiklah. Aku mengalah. Akan kutemani kau satu malam di acara itu," ucap Arfi tanpa memalingkan wajahnya.
"Gak bisa, Om. Sekarang Om harus jadi pacar aku selama seminggu," jawab Sasy penuh kemenangan.
Seketika kepala itu memaling, melihat gadis itu terheran-heran.
"Kenapa jadi seminggu? Kau mau mengerjaiku?" tanyanya sengit.
"Karena Om sudah menciumku dua kali. Jadi ganti ruginya lebih lama lagi."
"Astaga! Ternyata anak kecil ini penuh jebakan."
"Bagaimana? Atau mau kutelepon Pak Ardan?"
Arfi mendengkus kesal. Ia kembali mengacak rambut yang tak gatal.
"Baiklah, terserah kau saja. Dasar semut kecil!" sungut Arfi kesal.
Bibir itu terkembang, ia mengeluarkan ponselnya. Lalu memutar audio perekam suara.
Mata Arfi mendelik, mendengar ucapannya yang direkam oleh gadis kecil itu.
"Baiklah, Om sudah tidak bisa mengelak. Cukup satu klikan jariku. Maka omongan ini akan berpindah ke Pak Ardan," ucap Sasy menang.
Arfi mengerang kesal, ia menyandarkan bahu pada kursi. Mengusap wajahnya kasar.
Rasanya, gadis itu telah membalik dunia indahnya.
"Terserah kau sajalah. Memang ribet urusan sama bocah!" ketusnya geram.
Sasy menyimpan ponselnya ke dalam tas. Lalu badan itu memiring, menghadap ke arah Arfi.
"Kalo begitu ayo," ajaknya lagi.
Arfi melirik.
"Ayo ke mana? Memang acaranya sekarang?"
"No, no," ucap Sasy seraya memainkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.
"Acara Sabtu malam nanti, di aula kampus Perdana Bangsa, Om."
"Terus?"
"Om, kan, bukan cuma ganti rugi atas ciuman itu. Tapi juga ganti rugi atas gaunku. Sekarang ayo kita ke mall dan beli gaun baru."
Mulut Arfi menganga, benar-benar makhluk kecil ini tidak tahu malu. Bisa-bisanya dia menjebak dengan sangat lihai.
"Oh, Lord! Kutukan macam apa ini? Bukannya kau menolak kartuku tadi?" tanya Arfi kesal.
"Memang!" jawab Sasy seraya menyilangkan tangan di depan dada.
"Lalu, kenapa sekarang kau minta gaun lagi?"
"Oh my G. Om itu jadi cowok gak peka banget, ya."
Dahi lelaki itu berkerut, apalagi ini?
"Masa pacarnya mau ke acara gak dibeliin gaun baru? Om kan, kaya!"
Arfi menjatuhkan kepalanya ke atas jok. Mengusap wajah tampan itu berkali-kali. Kesal setengah mati. Rasanya ingin sekali meremat kepala mungil itu sampai lebur.
"Tapi kan kita gak pacaran beneran! Hanya sebatas perjanjian!" teriak Arfi kesal.
Sasy memainkan ponselnya di ujung dagu. Bibirnya mengembang dengan sangat lebar.
"Kira-kira kalo minta gaun sama Pak Ardan dikasih berapa, ya?"
Lelaki itu melirik sinis, memerhatikan gerakan tangan Sasy yang mengetuk ponsel di dagunya.
Tangan kekarnya ingin merebut, refleks gadis itu lebih gesit dari gerakan Arfi.
"Om, kalo sampek Om nyium aku lagi. Om bakalan jadi pacar aku setahun, loh. Mau?" ancam gadis itu.
"Dih!" Arfi berdecak kesal. "Baiklah, terserah kamu saja," ucapnya mengalah.
Lelaki itu mulai menghidupkan mesin mobilnya. Kuat jemari tangannya menggenggam setir mobil.
'Gadis kecil, lihat saja. Berani kau mempermainkanku? Jangan menyesal jika kau jatuh ke dalam dekapanku. Setelah itu? Menangislah karena kau terlalu berani menantangku,' rutuk Arfi dalam hati.