
Ferdi memberhentikan mobilnya di depan gerbang kampus. Ia menarik napas lalu memandang Sasy yang ada di sebelahnya.
"Belajarlah yang benar dan jangan nakal," titahnya lembut.
Gadis itu mengangguk, lalu ia mengulurkan tangan.
"Apa?" tanya Ferdi seraya menaikan sebelah alis matanya.
"Salim."
Ferdi tertawa, ia memberikan jemarinya. Dingin bibir itu menyentuh kulit punggung tangannya.
Desiran itu kembali mendera, rasa hangat yang telah membeku dengan serangkaian tragedi yang menyanyat kalbu. Perlahan mencairkan apa yang selama ini membatu.
Tanpa sadar senyuman terkulum dari bibirnya. Satu tangan yang lainnya ingin meraih kepala yang sedang tertunduk itu. Tertahan, lantas tergenggam sebelum sempat menyentuh rambutnya.
"Bye, Kak."
Ferdi hanya mengangguk, saat tangan gadis itu akan membuka pintu. Ferdi kembali menahannya.
"Tunggu, Sasy."
"Ya." Gadis itu menoleh.
Ferdi menggeser letak duduknya, mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya.
"Ini?" tanya Sasy bingung. Menatapi beberapa lembar uang merah yang disodorkan Ferdi.
"Makan dan belilah minuman yang bergizi. Bukankah kamu ingin cepat besar?"
Senyum tipis menghiasi wajah belia itu, memandangi wajah Ferdi yang sangat sendu dan meneduhkan. Bagaikan pelindung yang sangat tangguh, di kala rapuhnya kalbu yang mulai lelah bertahan sendiri.
"Ambillah, mungkin kamu memang tidak kekurangan uang. Tapi--" ucapan itu terhenti ketika Sasy menarik uangnya.
"Aku ambil, ya, Kak. Terima kasih." Gadis itu memasukan lembaran itu ke dalam ransel mungilnya.
"Em, Kak."
"Hem."
"Sini, deh. Aku ingin memberikan sesuatu sama Kakak."
"Ini lagi?" tanya Ferdi seraya menautkan dua jemari tangannya seperti yang Sasy lakukan kemarin.
"Bukan!"
"Lalu?"
Sasy menarik sisi jas Ferdi. Membuat lelaki itu agak memiring. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Ferdi.
Berbisik lembut seraya mengucapkan. "I love you, Kak Ferdi."
Bibir tipis lelaki itu mengembang, hangat deru napas gadis itu menyentuh sukmanya. Jika cinta turun dari mata, lalu ke hati. Bisakah dari lirihan kata cinta, lalu menjadi jalinan yang terjaga?
Lelaki berkacamata itu memerhatikan badan Sasy yang terus berlari. Sama seperti sebelumnya, gadis itu akan selalu lari setelah mengucapkan kata cinta.
Unik memang. Karena cinta, selalu punya cara untuk menunjukkannya. Sekonyol apa pun itu, yang penting orang yang disayang bisa tertawa.
Ferdi melonggarkan dasinya, menghela napas berat. Dadanya bergemuruh dengan cepat. Dan itu, hampir membuat dadanya sesak.
"Astaga, ada apa denganku? Kenapa tiba-tiba jadi panas begini?"
***
Beberapa kali kepala Ferdi menggeleng. Teringat akan tingkah-tingkah unik gadis remaja memang membuat geli sendiri.
Selalu salah tingkah dan bertindak konyol. Setelahnya malu dan menyembunyikan diri.
Langkah lelaki itu terhenti ketika melihat Ardan yang berdiri di depan pintu ruangannya dengan silangan tangan di depan dada. Satu bahunya tertumpuh pada bingkai pintu.
Bersiul seraya memainkan kedua alis matanya. Menggoda temannya itu.
"Direktur Ferdi Firmansyah. Anda telat dua jam empat puluh lima menit, dua puluh sembilan detik."
Ferdi mendesis, dia tak acuh dan berjalan meninggalkan Ardan di sana.
Tidak ingin menyiakan kesempatan untuk menggoda. Lelaki beralis tebal itu merangkul bahu Ferdi. Ikut masuk ke ruangan Direktur.
"Hey, Teman. Kenapa kamu suka sekali sama gadis belia? Aku benar-benar curiga. Apa kau seorang pedofilia?"
Ferdi medengkus, kesal. Menyikut perut Ardan kuat.
"Siapa yang tertarik pada belia? Aku hanya mengantarkannya ke kampus. Bukankah adikmu yang buat masalah?"
"Hei, ayolah. Jangan berlindung di balik nama adikku. Apakah kampusnya di ibu kota? Sampai kau butuh waktu dua jam untuk mengantarnya?"
Ferdi hanya memutar bola matanya, geram. Tangannya mulai sibuk membuka laptop dan beberapa berkas yang lainnya.
"Benarkah? Suka atau nyaman?" tanya Ardan memandangi wajah teduh itu lamat.
Gerakan Ferdi yang sedang membuka salah satu map terhenti. Mengingat pelukan tangan Sasy, hangat deru napasnya dan juga tingkah konyol yang selalu dihadirkan untuk mengakhiri pertemuan mereka.
Membuat jantung itu kembali bergerumuh tak karuan. Terlebih oleh pernyataan cintanya. Ada saja akal yang dimiliki untuk menggoda sang lelaki.
Tanpa sadar Ferdi terbahak dan menggelengkan kepala. Ardan terkejut, ia membenar letak duduknya. Melihat Ferdi yang bisa tertawa dengan sendirinya.
"Waw, apa ini? Kau benar-benar jatuh cinta padanya?" tanya Ardan kaget.
"Ck, tidak! Aku hanya lucu mengingat pertengkarannya dengan Arfi."
"Sudahlah, kau lupa aku ini siapa? Belasan tahun kita bersama, Fer. Apa aku pikir aku tidak paham bagaimana saat kau jatuh cinta?"
Ferdi hanya menggeleng, tidak terlalu peduli. Dia sibuk menyiapkan berkas-berkas di atas meja.
"Hanya sekali kau bersikap seperti ini. Dan itu saat Arsy masih ada. Bahkan kau tidak pernah seperti ini saat membahas Nigar dulu."
"Kau bicara apa? Jika Nigar dan Sasy, tentu saja berbeda. Yang aku ingin nikahi itu gadis-gadis seperti Nigar."
"Benarkah? Tapi kenapa aku tidak melihat keantusiasanmu dalam memperjuangkannya? Kau terlihat pasrah dan berjalan mengikuti alur saja?"
Ferdi terdiam, Ardan mana paham. Apa yang telah dia lakukan untuk meluluhkan. Berulang kali melamar, dan ditolak. Namun, ia tetap mencoba dan terus berusaha.
"Kau jangan sembarangan bicara. Tentu saja aku memperjuangkannya."
"Benarkah? Tapi aku hanya merasa kau mengaguminya, Fer. Tidak mencintai dia seperti kamu mencintai dia yang telah berlalu."
"Nigar dan Arsy itu berbeda."
"Namun yang namanya cinta tetap sama. Caramu memperlakukan juga sama. Sepertimu yang antusias ingin menata karier demi Arsy. Kenapa kau tidak antusias merebut Nigar dari Arfi?"
Lagi, lelaki berkacamata itu hanya diam. Mencerna setiap ucapan sahabatanya itu.
"Memang, wanita seperti Nigar itu ideal sekali untuk dijadikan istri. Taat, lembut, sopan dan sangat terjaga. Tetapi, yang namanya ideal dan impian itu berbeda, Kawan."
Iris pekat di balik lensa itu menatap Ardan yang ada di depannya.
"Yang menjadi ideal, belum tentu menjadi impian. Tetapi yang sudah menjadi impian, pasti akan menjadi ideal. Tidak peduli seburuk apa dia di mata dunia dan orang lain. Bagimu, hanya dia yang paling pantas berada di sisimu."
Pandangan mata Ferdi tertunduk. Tidak salah, kadang dia pun bertanya, mengapa asa yang pernah dia kejar sekuat tenaga dan melamar berulang kali pada gadis yang sama. Kian lama, kian memudar. Hilang, tenggelam bersama hadirnya seorang gadis yang lebih menggetarkan hatinya.
Menghadirkan desiran dan gemuruh di dalam dada semakin tidak karuan. Bahkan hanya sekadar mengingat segala ulahnya saja mampu membuat tawanya mengembang sangat lebar.
Melihat ekspresi wajah Ferdi yang seperti bimbang sendiri. Ardan tersenyum, ia bangkit dan menghampiri Ferdi. Merengkuh bahu kekar itu.
"Hei, Teman. Mengagumi dan mencintai itu berbeda. Jika kau memang hanya sekadar mengaguminya, kau bisa saja tidak mencintainya. Namun, jika kau mencintainya, kau pasti kagum akan segala hal yang ada di dalam dirinya. Bahkan walau dia bertingkah konyol yang memalukan bagi orang lain, tetapi di matamu. Tingkahnya adalah kelucuan dan kegemasan."
Ardan meremat bahu temannya itu, lalu setelah beberapa detik ia lepaskan dan menepuknya pelan.
"Kau bilang Arfi buta mencintai Nigar. Bukan, bukan Arfi yang buta mencintai dia. Tapi kau yang sama sekali tidak bisa melihatnya. Bagiku Arfi hanya memperjuangkan rasanya, lelah ataupun sia. Dia tidak peduli selama itu masih memiliki celah."
Ardan mendesah, memandangi wajah temannya yang mulai bingung dengan hatinya.
"Dan kau tidak pernah sunguh-sungguh berniat memperjuangkannya dari awal. Kau mungkin berdoa untuknya, tetapi itu tidak cukup tanpa sebuah usaha, Teman."
Ferdi mendongak, menatap wajah Ardan yang ada di atas. Lantas, ia mengusap wajah itu kasar.
"Kagum dan cinta itu berbeda, seperti aku yang suka dengan wajah-wajah cantik para wanita. Namun, aku tidak pernah jatuh cinta. Pahami perbedaan itu, sebelum kamu telanjur menjatuhkan rasa. Nyatanya itu hanya kekeliruan semata."
Ferdi mendesah, mengacak rambutnya dengan kasar.
"Aku merasa Sasy mirip sekali dengan Arsy, Ardan. Karena itu aku peduli padanya."
Ardan tersenyum, ia tahu. Jelas, Ferdi menyadari itu. Karena selama ini dia memang masih menyimpan Arsy di dalam hatinya.
"Gadis itu membuatku nyaman. Rindu yang tidak bertuan, seakan kembali berdatangan dan berlabuh padanya. Dulu aku sangat tersiksa, sesak memikirkan Arsy. Tapi melihatnya, rasa sesak itu menguap. Dan rindu itu, bukan lagi menyiksa, malah sangat indah."
Ardan mendesah, ia menghentakan bahu kekar sahabatnya itu. Memberikan kekuatan untuk temannya.
"Aku yakin, Fer. Hanya awalnya, lalu perlahan yang kau cintai adalah dirinya. Tanpa ada bayangan Arsy di dalamnya. Karena saat kau nyaman dengannya, maka rasa itu akan mengalir dengan sendirinya."
Ferdi menggeleng, ia melepaskan kacamata itu. Memijat pangkal hidung mancungnya.
"Entahlah. Aku hanya takut, dia akan terluka dan aku juga semakin tersiksa. Jika rasa ini memang milik Arsy. Dan Sasy, hanya sebagai pengganti."
Ardan tersenyum dan meninggalkan Ferdi sendiri. Dia, butuh waktu. Dan cinta, tidak peduli akan masa lalu, dia akan tetap berlabuh dengan cara apa pun yang dia mau. Menjadi bayangan masa lalu, awalnya. Lalu, menjadi angan masa depan.
Diam-diam, perlahan menjelma menjadi cinta yang tidak disadari. Pasti, akan mencari setelah orang itu beranjak pergi.
Ferdi mendesah panjang, menyandarkan pundak pada kursi. Matanya menerawang, menembus batas angan.
Perasaannya kacau, bimbang. Nigar dan Sasy? Atau Sasy dan Arsy?
"Tuhan ... benarkah rasaku pada Nigar hanya kegaguman semata? Dan Sasy? Arsy pada masa yang berbeda?