For My Family

For My Family
129



Binar berwarna madu itu menatap lamat wajah kuyuh adiknya. Rasanya sulit untuk dijelaskan. Yang pasti, dia merutukki segala kejadian yang telah menimpah keluarga mereka.


Satu tangan Hazel menangkup di pipi Nigar. Mengelus lembut wajah cantik sang adik.


"Nigar, maaf. Jika saja malam itu aku ada di sana. Aku pasti akan berusaha melindungimu dan Omer."


Nigar menggeleng, pungung tangan putih itu berulang kali mengusap wajah.


"Syukurlah kamu tidak ada di sana malam itu, Hazel. Syukurlah kamu tidak ada bersama kami."


Nigar mengenggam jemari Hazel dengan sangat kuat. Masih terasa segala luka yang ia alami selama ini. Gemetaran, dengan cerita-cerita yang harus dia ungkapkan.


"Mereka mengetahui kamu adalah gadis yang paling cantik di desa. Apa jadinya jika mereka melihatmu di sana? Mereka pasti akan membawamu, mengurungmu dan pasti akan melakukan itu berulang kali padamu. Hal yang aku syukuri dari kejadian itu adalah, kamu yang tidak terluka, Hazel."


Hazel memalingkan wajahnya, perlahan ia terisak. Tidak tega, bahkan adiknya masih bisa berkata seperti itu setelah apa yang dialami.


"Syukurlah kamu ada di tempat yang terlindungi, Hazel.  Kampusmu berada di daerah para tentara yang tidak bisa dimasuki mereka. Jika saja ayah tidak mengantarmu siang itu. Mungkin ... mungkin kamu sudah tidak ada lagi untuk kami, Hazel."


"Adilkah itu bagimu dan Omer, Nigar? Kalian adalah adik-adikku, bagaimana bisa kalian yang melindungiku?" tanya Hazel getir.


"Kau adalah kesayangan ayah, Hazel. Kau kesayangan bunda. Selain kamu? Siapa lagi tempat kami mengadu, selama kau tidak terluka, aku yakin ayah dan bunda bisa pergi tanpa penyesalan apa-apa."


Hazel mencubit pipi Nigar.


"Bodoh! Kau juga kesayangan mereka, apa kamu pikir ayah tega melihatmu dilukai seperti itu? Hem?"


Nigar menelan salivanya, bulir demi bulir terus menghiasi wajah cantik itu.


"Ini adalah takdirku, Hazel. Mengetahui kau masih baik-baik sajalah yang membuat aku mampu melewati semuanya. Karena harapan untuk bisa bertemu denganmu lagi, aku sekuat tenaga berusaha untuk hidup, Hazel Nazha."


Hazel menarik badan itu dan kembali memeluknya dengan erat.


"Jangan menjauh lagi, Hazel. Bertahun-tahun aku mencarimu, berulang kali aku ingin kembali ke rumah kita. Berharap kamu ada di sana, tak peduli jika harus melihat rentetan peristiwa itu lagi. Asalkan bisa menemuimu, aku rela. Selain kau, Hazel. Di mana aku dan Omer bisa bermanja?"


Hazel memejamkan kedua kelopak matanya. Tak sanggup lagi untuk menahan segala beban yang diceritakan adiknya.


Mengetahui, bahwa ada yang menyanyangimu lebih dari raganya sendiri. Bukankah itu beban utang yang amat berat?


Terlebih, jika dia merelakan apa yang ada di dirinya hanya untuk melindungi kita.


Ardan menarik napasnya, satu tangannya mengelus puncak kepala Hazel.


Miris, ternyata kehidupan yang dialami imigran seperti mereka bisa sesadis itu.


Binar pekatnya menatapi wajah Nigar lamat. Teringat akan adiknya, mengapa? Wanita-wanita dari ujung negara itu sungguh tangguh menanggung beban deritanya.


Bahkan dia yang lelaki saja tidak sanggup membayangkan sekelam apa kejadian yang Nigar alami saat itu.


Beruntungnya, dia memiliki jiwa yang sangat kuat. Dan dipertemukan oleh orang yang sangat tepat.


Dia Maha Adil bukan? Terkadang ada seseorang yang diciptakan dengan segalanya, tetapi lemah dalam menghadapi cobaannya. Sebagian lagi, hanya diciptakan dengan kekuatan dalam dirinya, untuk menerjang segala cobaan berat dalam hidupnya.


Beban orang berbeda-beda,  ketahanan mentalnya juga sangat berbeda. Ada yang sangat kuat saat kau lihat, tetapi rapuh saat dia sedang sendirian. Ada yang terlihat sangat ringkih di luar, tetapi sangat tegar menghadapi cobaan.


Jangan pernah samakan kekuatan mentalmu dan orang lain. Lantas bisa melakukan apa pun, saat kau anggap dia kuat menerimanya.


Akan tetapi, cobalah menempatkan dirimu untuk menerima semua perlakuanmu padanya. Yakinkah kau sanggup menahannya?


Karena membunuh yang paling mudah itu tidak butuh senjata. Cukup hancurkan saja mentalnya, maka dia akan menggali kuburannya sendiri.


Setelah itu apa yang kamu rasakan? Puas? Jika, ya, berarti mentalmu mulai tidak waras.


***


Hazel menatapi wajah yang sedang terlelap itu lamat-lamat. Sisa-sisa sesenggukan masih tersisa di lelapnya.


Bibir mungilnya terkembang, lantas tangannya membelai rambut sebahu adiknya itu.


Hazel mengangkat tubuh Yena yang ikut terlelap di sebelah Nigar. Gadis itu berjalan pelan, membuka pintu kamar di kontrakan Nigar selembut mungkin agar tidak membangunkan.


Tiga lelaki itu masih menunggunya di ruang tengah. Lesehan, dan satunya sudah rebahan dengan mata terpejam.


"Mas," panggil Hazel lembut.


Senggolan di kaki Ardan membangunkan lelaki bermata elang itu. Ardan bangkit dan meraih pangkal hidungnya. Mencoba sadar sepenuhnya.


"Kita pulang?" tanya Ardan setengah sadar.


"Boleh gak kalo Mas jemput Surya ke sini. Malam ini, aku ingin tinggal di sini," pinta Hazel manja.


Ardan menatapi wajah cantik itu lekat. Perlahan ia menarik jasnya dan berjalan mendekati Hazel.


"Biar Surya malam ini sama aku, kamu dan Yena, istirahatlah di sini."


Ardan mengambil Yena dari dekapan Hazel, menciumnya beberapa saat. Dan mengembalikan ke Hazel setelah mata bulat bayi itu terbuka.


"Ingat untuk kunci seluruh pintu dan jendelanya, besok pagi aku akan menjemput kalian berdua."


Hazel mengangguk, meraih tangan Ardan dan menciumnya takzim.


"Terima kasih, Mas."


Di depan pintu kontrakan itu, tiga lelaki tersebut saling pandang satu sama lain.


Tidak tahu harus bersikap bagaimana, karena saat ini keadaan mereka semakin rumit dengan terungkapnya siapa Nigar yang sebenarnya.


"Arfi, kita pulang?" rangkul Ardan di bahu kekar sang adik.


Lelaki itu tak banyak bertanya, hanya mengikuti keinginan sang Kakak yang membawanya untuk kembali ke rumah.


Sementara pikiran Ardan terus berperang. Bagaimana memberitahukan posisi ini pada Arfi?


Beberapa kali Ardan melirik, melihat wajah tampan sang adik. Baru niat membicarakannya, tetapi dia sudah tidak tega.


Sekilas terngiang perkataan Hazel saat mereka mengantarkan Nigar kembali ke kontrakan tadi siang.


"Aku gak setuju kamu menikahi Arfi, Nigar," ucap Hazel siang tadi.


Ardan melihat setumpuk kekecewaan hadir di wajah cantik sang adik.


Kepalanya tertunduk, tetapi tidak membantah, hanya menjawab. "Aku mengerti."


Ardan menghela napas, ia memberhentikan laju mobilnya dan menumpuhkan kepala di atas jok mobil.


Rasanya mau pecah, tak tahan menghadapi kenyataan demi kenyataan yang semakin terbuka.


Kalut, kusut, dan entah. Kenapa di hidupnya terlalu banyak teka-teki yang membingungkan ini?


"Kau baik-baik saja, Kak?" tanya Arfi menyentuh punggung tangan Ardan yang berada di atas tuas mobil.


Ardan memijat pangkal hidungnya, lelah, rasanya dia mulai jenuh menghadapi keadaan ini.


Beberapa kali lelaki itu menghela napasnya, lantas ia kembali duduk dengan benar.


"Arfi," panggilnya seraya duduk menatap Arfi.


"Ya."


"Aku mau ... kau lepaskan Khadijah."


"Apa?"