For My Family

For My Family
131



Sebuah deringan ponsel memaksa Ardan membuka kelopak matanya. Dahinya mengernyit dengan pijatan lembut di pangkal hidung mancungnya.


Lelaki itu melirik, melihat jam di dinding bercat merah itu. Masih pukul setengah tiga dini hari, ia meraih ponselnya. Lima panggilan tak terjawab dari nomor asing yang sama.


Lelaki itu terduduk, baru berniat akan menelepon balik. Panggilan dari seberang sana lebih dulu masuk.


Jari kekarnya mengusap, perlahan ia menempelkan di sisi telinga.


"Selamat pagi, bisa saya berbicara dengan Ardan Erlangga," sapa seorang lelaki di seberang sana.


"Ya. Saya sendiri."


"Bisa Anda datang ke club Star Black, Pak? Arfi Erlangga, dia adik Anda?"


Mendengar nama Arfi disebut Ardan mendesah panjang. Ia tahu ke mana arah penelpon ini akan berlabuh.


"Dia membuat masalah?" tanya Ardan lemas.


"Bisa Anda datang dan jemput dia? Dia sangat mabuk dan merugikan pengunjung lainnya."


"Baiklah." Ardan menarik kemeja putih yang ia lepaskan sebelum terlelap di ruang depan kontrakan Khadijah.


Lelaki itu menelpon temannya, semoga lelaki berkacamata itu masih terjaga.


"Ya, Ardan," jawaban itu langsung diberikan ketika Ferdi mengangkat panggilannya.


"Kau di mana? Sudah tidur?"


"Belum. Aku ... baru selesai mengetuk pintu langit."


Bibir tipis itu tersenyum, kemana arah jalan ini terlihat semakin jelas saat ini.


"Temani aku menjemput si Bungsu, anak itu masih belum berubah dari tabiatnya."


Tak menunggu jawaban, Ardan langsung memacu mobilnya ke arah kelab malam.


Mendatangi ruang keamanan kelab yang telah ramai dengan tiga gadis belia, duduk saling menyempiti di sofa.


Satu gadis lainnya duduk bersejajar dengan Arfi. Matanya membengkak, hidung yang memerah dan wajah pias dengan usapan air mata. Terlihat ada bekas tamparan di pipi gembilnya dan juga pecahan bibir serta pelipis di wajah Erlangga yang tengah mabuk di sana.


"Selamat pagi," sapa Ardan mendekati pria berbaju hitam di sana. Terlihat seperti pengamanan kelab, karena di luar berjejer beberapa pria dengan seragam yang sama.


"Selamat pagi, Anda?"


"Ardan Erlangga," ucapnya memperkenalkan.


Lelaki yang duduk bersama gadis di sofa itu melirik tajam. Sengit, menatap penuh kemarahan.


"Ada apa ini? Bisa dijelaskan?" tanya Ardan menyadari tatapan bengis itu.


"Kau Kakaknya? Dia, baj*ngan kepar*t ini, telah menyentuh adikku!" teriak lelaki itu sinis.


Ardan tersenyum sinis, ia menghempaskan badannya di sofa.


"Baiklah. Saya minta maaf, berapa ganti rugi yang Anda inginkan?"


Lelaki berwajah sangar itu mendengus kesal. Ia memaki, menatapi wajah Ardan, benci.


"Dasar orang kaya! Apa kalian pikir masalah bisa selesai hanya dengan uang?" teriaknya kesal.


"Lalu, Anda mau bagaimana?" tanya Ardan santai.


"Dia telah menyentuh adikku!"


Ardan melirik ke arah gadis belia itu. Hanya menangis sesenggukan dengan punggung tangan yang menyeka wajah.


"Hei, Adik Kecil, apa yang telah dia lakukan padamu?" tanya Ardan lembut.


Gadis itu tidak berani mendonggak, hanya terisak dan tertunduk lesu.


"Sasy! Jawab!" Lelaki itu mencekal lengan Sasy, gadis itu menyeringai, sakit ketika lengannya tercekal sangat kuat.


Meringis kesakitan, gadis itu tergagap ingin menjawab. Matanya memandang sang Kakak, tak berani menjawab karena tatapan itu telah menghukumnya sangat berat.


"Tenanglah. Anda menyakiti dia," ucap Ardan kasihan.


Ikram melepaskan cengkeramannya dengan menyentak kesal.


"Begini saja, perlihatkan saya rekaman CCTV-nya."


Lelaki berseragam hitam itu mengangguk, memutar rekaman yang terjadi saat insiden itu berlangsung.


Ardan mengusap wajahnya kasar, memang salah adiknya. Bagaimana lelaki itu bisa begitu bodoh, mengira gadis belia itu adalah Khadijah. Wanita berhijab yang tak akan sudi mendatangi tempat seperti ini.


Melihat kejadian itu, Ferdi meneguk salivanya. Tak tega, mungkin lebih baik dia melepaskan Khadijah saja.


Arfi buta mencintainya, mungkin akan menjadi petaka yang lebih buruk ke depannya. Jika sampai lelaki berparas manis itu kehilangan gadisnya.


Ardan kembali melihat Arfi yang masih terlelap di bawah pengaruh alkoholnya. Tangannya mengepal, otaknya penuh dengan masalah yang terus berdatangan.


"Pecundang ini," rutuk Ardan mengepalkan tangannya.


Langkah yang ingin menghampiri itu terhenti. Ardan memalingkan kepalanya, Ferdi menggeleng lemah.


"Gadis kecil, siapa namamu?" tanya Ferdi lembut.


Gadis itu masih terisak, pelan. Ia tak mampu menjawab.


"Jangan takut, katakan bagaimana kami harus meminta maaf padamu?" tanya Ferdi lembut.


"Sasy jawab!" teriak Ikram kasar.


"Tenanglah, Mas. Kita tidak bisa memaksanya dengan kekerasan. Gadis itu bisa semakin tertekan," balas Ferdi lembut.


Gadis itu bersimpuh, berlutut di depan sang Kakak.


"Bang, tolong jangan katakan ini pada ayah. Aku takut, nanti ayah bakalan masukin aku ke kamp tentara wanita."


"Kalo begitu selesaikan masalah ini. Katakan apa yang mau kamu lakukan?" tanya Ikram kesal.


Sasy melihat lelaki yang tengah tertidur pulas itu. Lalu, kembali menatap wajah sang Kakak.


"Aku ... aku akan selesaikan masalah ini dengannya. Tidak sekarang, karena dia butuh kesadaran untuk menyelesaikan."


"Menyelesaikan apa?" tanya Ikram tak sabar.


"Menyelesaikan, em. Me--"


"Apa?" teriak Ikram semakin geram.


"Hubungan kami yang belum usai!" Gadis itu menjawab spontan.


Seketika tiga lelaki itu mendelik, menatap wajah sang gadis bersamaan. Kenapa? Kejadian ini semakin terbelit saja?


***


Ardan menyiram wajah pulas itu dengan segelas air.


"Bangun!" teriaknya memekakkan telinga.


Arfi terlonjak, kaget dan langsung terduduk. Lelaki itu mengusap wajahnya kasar, membasuh sisa air yang membasahi wajah tampannya.


Ardan melemparkan ransel ke arahnya. Beserta kunci mobil dan beberapa helai kaus.


"Pulang! Dan jangan buat masalah!" teriaknya geram.


Suara teriakan itu membuat Ferdi merangkul bahunya. Lelaki itu menepuk pundak Ardan, lalu menyeretnya keluar.


Mendudukkan di kursi bar dapur. Cekatan tangannya memotong lemon, lalu memasukan ke dalam gelas berisi air dingin.


Ardan mendesah, tangannya meraih gelas itu dan menghabiskan isinya setengah.


"Ardan, ini bukan kamu," ucap Ferdi menatapi wajah garang itu lamat-lamat.


"Kau selalu terinci, apa pun itu selalu terkendali."


Ardan mengusap kepalanya kasar. Membuang pandangan dengan sengalan napas tertahan.


"Kendalikan amarahmu. Ini bukan kamu, Ardan sahabatku."


"Sumpah aku lelah!" teriak Ardan membuncah.


"Aku jenuh menghadapi masalah dan terus masalah. Sebenarnya keluarga ini kenapa?! Kenapa? Untuk meraih bahagia aja susah!"


Ardan membalikan badannya, menumpuhkan dua sikunya ke bar dapur. Memunggungi Ferdi yang tadi ada di depannya.


Perlahan jarinya menghidupkan api rokok, menyesapnya dan menikmati asap nikotin itu, lalu terbang, menghilang di udara bebas.


Ferdi tersenyum getir, ia bangkit dan menepuk pundak Ardan.


"Aku pulang, ya. Tenangkan diri dan emosimu. Tidak ada yang selesai hanya karena kamu marah, Kawan. Semua memang butuh arah penyelesaiannya. Untuk itu, kamu perlu pikiran jernih untuk mencari jalannya."


Tangan itu mencengkeram pundak Ardan, lalu terlepas dan tubuh itu hilang di balik pintu rumah.


Ardan mengempaskan putungan itu, menenggak air lemonnya. Kemudian ia berlalu, menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri.


***


Lelaki berambut pirang itu tertunduk saat melihat Ardan keluar dari kamar mandinya. Mengusap rambut basahnya, dengan membiarkan dada bidangnya tanpa alas.


Kini kesadarannya telah utuh sepenuhnya. Ia merasa bersalah, telah menyerat Ardan kembali terbenam bersama masalah yang tak kunjung usai.


Ardan memalingkan wajah, berjalan ke arah balkon, melatakan handuk kepala di atas pagar.


Mendesah panjang dengan tatapan memandangi luas langit yang mulai terlihat terang.


Pendar cahaya rembulan semakin memudar. Bersiap menyingsing fajar yang akan menyambut hadirnya mentari datang.


Ia jenuh, lelah dengan keadaan yang memaksanya untuk tetap kuat. Bahkan tak ada tempat untuk menjedanya, sekadar bernapas lega, tenang dengan pikiran yang tak terus terputar mencari jalan keluar.


"Maaf," lirih itu terdengar sayup di antara dingin angin yang mendayukan penyesalan.


"Aku tau aku bersalah, Kak. Membuat masalah baru yang terus mendesakmu."


"Inikah caranya?" tanya Ardan seraya menatap langit dengan hiasan warna terang di ufuk sana.


Alis Arfi bertaut, ia tak mengerti dengan pernyataan Ardan.


"Sudah kutanyakan pada awalnya. Lalu, inikah jawabannya?"


Arfi semakin bingung, ia menatap wajah Kakaknya lamat. Mencoba memahami maksud lelaki bermata elang tersebut.


"Kak, aku gak ngerti."


Ardan tersenyum getir. Pelan kepalanya menggeleng.


"Setelah Arsy, lalu Arfan. Dan kini, inikah caramu untuk menjauh dariku? Meninggalkanku, yang akhirnya harus bertahan sendiri. Entah untuk apa itu?"


Ardan mendesah panjang, memejamkan mata seraya menutup kedua matanya.


"Entah untuk apa aku memperjuangkan semua ini. Karena pada akhirnya, aku tetap kehilangan adik-adikku."


Mata elang itu terbuka, lalu sebuah lolosan keluar dari sana. Ada desiran yang semakin bersarang di dada. Kesalahan, dan perkataan kasarnya yang telah menyakiti.


Lelaki itu selalu takut ditinggali sendiri. Dalam hidupnya, adik-adiknya adalah hal yang sangat ia jaga. Sayang, sikap protectivenya, hanyalah ungkapan yang membuat mereka semakin terpisah.