For My Family

For My Family
175



Gadis kecil itu mengusap sudut dagu yang sempat berair. Menarik napas yang terasa sangat sesak, lantas ia berbalik.


Langkahnya memundur saat badan tegap Ardan ada di belakangngnya. Mata elang itu menatap ke arah Ferdi. Lalu ia beralih ke Sasy yang ada di depannya.


"Pak Ardan."


Lelaki berkulit sawo matang itu tersenyum lembut.


"Ikut aku," ajaknya lembut.


Seketika Sasy mendongak. "Hah?"


"Ayo." Lelaki berjas hitam itu berjalan lebih dulu. Sementara sang belia masih terdiam.


Kepalanya menoleh ke arah belakang, Ferdi masih berbicara dengan gadis di sana. Dia kembali menarik napas, lalu langkahnya mengikuti Ardan memasuki kafe.


Tajam sepasang mata itu memandangi dirinya. Sasy tertunduk, sesekali dia menyeka pelipis yang banjir keringat. Tajam tatapan mata itu membuat gelisah.


"Kau cemburu?" tanya Ardan tanpa basa-basi.


"Hah?" Seketika kepala Sasy mendongak. Beberapa detik, lalu tertunduk dan menggeleng pelan.


Ardan tersenyum, satu tangannya mengeluarkan dompet. Lelaki itu membukanya, lantas sepasang mata elang itu menatap foto di sana, detik kemudian beralih ke gadis belia yang ada di depannya.


Lelaki berkulit sawo matang itu menarik napas. "Kau tak perlu cemburu."


"Aku gak cemburu, Pak."


"Tak usah berkelit," kata Ardan lembut.


Gadis itu menggulum bibirnya, memang berbeda, tak ada lesung yang menghiasi pipi gadis belia itu.


Namun, mengapa bayangannya tampak sama?


"Sasy, kuatlah."


"Maksud Anda, Pak?"


"Kau menyukai Ferdi bukan?"


Gadis belia itu gelagapan, ia menarik jus miliknya, meneguk melalui sedotan. Dan itu membuat Ardan tersenyum simpul.


"A-a-anda salah paham, Pak. Aku hanya meminta Kak Ferdi mengajari beberapa mata kuliah."


"Sasy lihat aku."


Gadis itu mendongak, melihat wajah Ardan yang ada di depannya.


Raut wajahnya memang tampan, namun kegarangan yang mendominan membuat dia sedikit lebih menyeramkan di bandingkan Arfi.


"Aku bukan lagi lelaki remaja yang bisa kau bodohi. Tak perlu pengakuanmu, dari gerakan tubuhmu saja aku bisa menilainya."


Bibir gadis itu terkulum, satu jarinya menggaruk kulit kepala.


"Katakan, kau cemburu?"


Gadis belia itu mengangguk.


"Kenapa?"


Gadis itu hanya diam, meneguk salivanya pahit.


"Sasy," panggil Ardan lagi.


"Selama ini Kak Ferdi selalu dingin padaku, gak pernah respons. Tetapi sama Kakak cantik itu dia sangat peduli. Seperti mencair, dan sikapnya itu ...." Sasy menggantungkan kalimatnya, matanya menatap Ardan lamat.


Pria dua anak itu tersenyum, merenggangkan dasi yang melingkari lehernya.


"Hei, Ferdi itu memang lelaki lembut. Bukan hanya dengan Nigar, bahkan jika nenek tua sekalipun, dia akan melakukan hal yang sama. Tak peduli pada siapapun, setiap orang akan dia perlakukan sama."


"Benarkah?" tanya Sasy tidak percaya.


Lelaki berkulit sawo matang itu kembali tersenyum dan mengangguk pelan.


"Ferdi itu memang sangat lembut. Dari dulu dia adalah orang yang peduli pada apa pun. Terlebih wanita, mungkin karena ibunya adalah seorang janda. Sifat penyanyangnya sangat kentara."


Gadis itu menunduk, jadi perkataan Ferdi yang mengingatkan dia pada adiknya, bukan hanya bualan semata. Namun, memang itu kebenarannya.


"Kau ingin tau sesuatu?"


Belia itu mendongak. Bundar mata belia itu menatap wajah Ardan. Hanya diam, dan sepasang netra jernih itu membuat angan Ardan kembali mengawan.


Polos pandangan mata itu membuat ia rindu pada belianya. Walau sedikit berbeda, namun memang banyak kesamaan dalam dirinya.


Salah satunya adalah sikap manja dan tatapan polosnya.


Ardan tersenyum lembut, satu tangannya mengelus pipi Sasy. Menghapus jejak bulir yang masih tertinggal.


"Dengarkan aku. Bukan kepedulian Ferdi yang menjadi tolak ukur rasa di dalam hatinya. Ferdi akan berbuat lembut dan baik dengan siapa saja. Namun, sikap gilanya, hanya akan ditunjukkan pada orang yang menempati ruang di hatinya."


"Maksudnya?" tanya Sasy tak mengerti.


"Ferdi itu sangat tertutup soal emosinya. Dia sangat tenang dan terlihat lembut. Selama ini dia memang jarang sekali meluapkan amarahnya. Hanya satu cara untuk bisa melihat isi hatinya."


"Apa?"


"Hah?"


"Jika Ferdi mulai gila dan menunjukkan emosinya, artinya sesuatu itu penting di dalam hatinya. Disadari atau tidak, Ferdi akan selalu lepas kendali saat sesuatu yang penting buatnya, tersakiti. Dia akan bereaksi berlebihan, dan dia akan terlihat berbeda dari yang kamu kenal."


"Benarkah?"


"Aku mengenal Ferdi lebih dalam dari siapapun. Jika kau ingin tau isi hatinya. Buatlah dia lepas kendali, keluar dari sifat tenangnya."


"Misalnya?"


Ardan kembali tersenyum, satu tangannya menarik selembar foto dari dalam dompetnya.


"Kau akan tau sendiri nanti. Itu tak bisa dijelaskan, Belia."


Bibir belia itu memanyun, kepalanya memaling. Melihat Ferdi yang masih berbicara dengan Nigar di ujung trotoar.


Sesekali tersenyum, lemah lembut dan sangat tenang. Dia cemburu, tak suka jika Ferdi melakukan semua itu pada orang lain.


Walaupun Ardan mengatakan hal yang sebaliknya, dia tetap tidak percaya. Siapa yang tidak suka wanita seperti yang ada di sana.


Cantik, lemah lembut dan sangat sempurna. Sasy menghela napas, ia tertunduk dalam.


Menyadari tatapan mata Sasy, Ardan menyodorkan selembar foto ke depan Sasy.


Gadis itu mendongak, menarik foto itu dan menatapnya lekat. Cantik, dan sangat imut.


"Ini siapa, Pak?"


"Adikku."


"Cantik. Mirip seperti Anda dan Om Arfi." Sasy kembali meletakan dan akan menyodorkan kembali.


"Masa lalu Ferdi." Seketika tangan Sasy terhenti. Ia kembali menarik foto itu dan menatapnya lebih dalam.


Wajahnya terlihat belia, sangat muda dan senyum itu sangat indah. Walau tersirat luka dari wajah yang tak lagi bernyawa.


"Kenapa kau menatapnya begitu?"


Sasy melihat Ardan, dia tersenyum kaku dan menggeleng lemah.


"Kau merasa dia mirip denganmu?"


Sasy tersenyum kaku. "Bagaimana mungkin, Pak? Kalo dia adik Anda, berarti dia adalah Erlangga. Mana mungkin aku merasa mirip dengannya."


Ardan tersenyum simpul, satu tangannya menarik gelas kopi. Menyesapnya seraya menatapi bentangan langit, ada mega berarak yang menghiasinya. Angin yang lembut, bahkan bisa membuat awan berpindah.


"Tetapi aku melihat Arsy ada di dalam dirimu," kata Ardan lirih.


"Arsy?" tanya Sasy pelan. Pikirannya mengawan, mengingat nama itu pernah dia dengar sebelumnya.


"Kenapa? Kau tak asing dengan nama itu?"


"Ya. Seperti pernah mendengarnya sekali."


"Dari bibir Ferdi?"


Gadis itu menggeleng, sepasang mata itu masih memandangi foto yang ada di dalam genggaman.


"Om Arfi."


Ardan tersenyum, kali ini bersama luka yang tertanggung. Arfi, pasti merindukan Arsy sangat dalam. Walau dia dan Arsy selalu bertengkar, bukankah hubungan yang seperti itu terasa lebih dirindukan?


Suatu saat, yang mengesalkan akan sangat menyesakkan. Yang sangat membuat benci akan sangat dinanti. Saat hubungan itu tak lagi dapat diraih layaknya dulu, saat waktu masih membuatnya menyatu.


Suatu saat masa-masa itu akan sangat dirindu. Saat yang mencairkan telah berlalu, kini hanya semu. Bahkan bayangannya saja masih dinanti untuk membasuh.


Ardan kembali menatap wajah belia itu. Mencoba menarik napas yang perlahan sesak karena terganjal luka.


"Adikku telah pergi. Namun cintanya masih bertahan di hati. Bayangannya masih dinanti, walau raga tak akan pernah bisa untuk diraih."


Gadis itu masih diam, berusaha untuk mencerna ucapan Ardan.


"Ada yang masih mencintainya, dalam dan tak pernah lekang. Walau bertahun-tahun waktu terbuang, sayangnya rasa cinta itu tidak pernah hilang. Dan yang kutahu, itu semakin dalam."


Ardan memandangi wajah belia itu lekat. Pendar matanya menunjukkan seribu tanya. Namun, seperti enggan untuk mengungkapkannya.


"Di dalam dirimu ada bagian kepingan masa lalunya. Dan sayangnya, dia terlalu takut untuk mengakauinya. Tak bisa membedakan, lebih tepatnya."


"Membedakan?"


"Antara pengganti dan sejati."


Gadis itu lagi-lagi diam, memandangi wajah di dalam foto yang ada di genggaman. Tersenyum lembut dengan sebuah jemari diletakan di bawah dagu, tampak sangat indah dengan rambut tergerai dan sebuah topi bundar yang dikenakan.


"Sasy."


"Ya."


"Sainganmu bukanlah Nigar ataupun gadis lainnya." Ardan menegakkan badannya, menatap belia itu lamat-lamat.


"Melainkan masa lalunya."