For My Family

For My Family
174



Berulang kali Sasy menendang kaki Arfi, lelaki itu terus mengelak. Riuh gelak tawanya pecah, terlebih saat wajah belia itu semakin memerah.


"Ish ... Om! Ih." Tak ingin menyerah, kini kepalan kedua tangan Sasy mencoba memukuli badan tegap itu.


Arfi terbahak, satu tangannya menekan pucuk kepala sang belia. Membuat tubuh mungil itu tepatri di sana.


Sasy semakin kesal, berulang kali ia ingin melayangkan tumbukkan ke badan Arfi, sayang tangannya tak sampai. Dan itu, semakin membuat gelak tawa lelaki itu pecah.


Nigar memalingkan wajahnya, menarik napas. Sesak, hatinya kembali redam, sebelum cinta itu telah membawanya melayang. Harapan itu kembali terbenam, walau gambarannya sempat naik kepermukaan.


Pelan, gadis berhijab itu melepaskan seatbeltnya, turun dari Mclarent oranye itu saat sebuah bus berhenti di depan mobil Arfi.


Suara bantingan pintu membuat pandangan Arfi teralih.


"Astaga! Aku lupa kalo ada Khadijah," ucap Arfi saat melihat gadis itu menaiki bus.


Mendengar ucapan Arfi, kepala Sasy memaling. Melihat punggung wanita berhijab itu hilang di dalam bus.


Secepatnya Arfi berlari, mencoba mengejar gadis keturnan Turki tersebut yang telah naik ke dalam bus.


Lelaki berkaus ketat itu ikut masuk, mencoba menahan Nigar.


"Khadijah, dengarkan aku."


Gadis itu berbalik dan tersenyum lembut. Satu tangannya menepuk lengan Arfi.


"Semoga kalian berdua langgeng, ya." Gadis itu langsung berbalik dan duduk di kursi. Membuang pandangannya ke arah jendela.


"Khadijah, kamu salah paham. Dia gadis belia yang sangat mirip dengan almarhumah adikku. Aku hanya menganggapnya adik, tak lebih."


Gadis itu tak menoleh, menatap ke arah luar jendela. Pandangannya memburam, mencoba menahan sakit yang membuat genangan pada netranya.


"Khadijah!" panggil Arfi sedikit menekan.


Gadis itu bergeming, hal yang selalu akrab dengan hubungan mereka, pasti adalah wanita ketiga.


Dari dulu, Arfi yang terkenal di kalangan para wanita selalu menarik perhatian dan ke mana pun mereka jalan. Selalu ada saja wanita yang menyapanya.


Terkadang terlihat dekat dan akrab. Lelaki itu selalu bersinar di mana pun tempat dia berpijak.


"Khadijah!" tekan Arfi tertahan.


Sepasang mata indah itu terpejam, meruntuhkan sebuah lara.


Arfi menarik napas, ia mengacak rambut. Lalu terduduk di sebelah gadis tersebut. Mencoba meraih jemari gadis berhijab itu, namun lebih dulu Nigar memindahkannya.


"Khadijah, maafkan aku. Aku hanya menganggunya seperti aku menganggu Arsy. Percayalah, aku hanya mencintaimu."


Gadis itu hanya diam, setiap kali kelopak matanya berkedip, bulu mata lentikya mengantarkan buliran lara membasuh wajah.


Arfi diam, tak tega, mengapa ia bisa lupa? Pikirannya langsung terbang saat mendengar nama Ferdi. Hanya ingin menemui belia itu untuk menanyakan hubungan mereka. Berharap kalau Ferdi menemukan bahagianya dan itu bukan Khadijah.


Satu jari Arfi terangkat, menghapus bulir-bulir yang membasahi pipi putih gadisnya tersebut.


Khadijah menoleh, menatap Arfi nyalang.


"Tinggali aku sendiri, Arfi."


"Khadijah---"


"Kumohon!" tekan gadis itu. "Please, Arfi."


Lelaki berambut pirang itu menarik napas, ia mengangguk dan berpindah ke kursi paling belakang. Menunggu bus berhenti di halte selanjutnya.


Nigar kembali memalingkan wajahnya, memandangi jalanan pagi ini, satu tangan menyentuh sudut pelipis mata. Mencoba meredam tangisan, namun ia malah semakin terisak. Pelan, kemudian semakin dalam.


Sesenggukkan sampai badan semampai itu bergetar.


Mengapa? Hatinya harus terus jatuh pada lelaki yang sama?


Lelaki yang berulang kali mematahkan, sayangnya jera itu tak kunjung datang.


Saat hati terpaut akan sebuah nama, bahkan berulang kali terkikis rasa perih. Cinta yang tersemai tetap berkembang dan bersemi, walau pilu mengiringi kuncup bunga yang bertumbuh.


***


(Kak, apa Kakak ada di kantor?)


(Tidak. Aku sedang di luar bersama Ardan. Ada yang ingin kau tanyakan tentang pelajaran?)


(Ya, dan kebetulan aku sangat lapar. Boleh aku datang?)


Sedikit tersenyum, lelaki berkacamata itu membalas pesan sang belia.


(Ya. Nanti akan kukirimkan alamat. Ingat perjanjian kita, jangan buat kerusuhan dan mengusili apa pun!)


(Siap, Pak! Kakak tenang saja, saat mulutku terisi dan perutku kenyang. Aku akan diam, tetapi kalo memandang Kakak boleh, kan?) Pesan itu terkirim disertai emot bermain mata di belakangnya.


Lelaki dewasa itu tersenyum lebar, menyimpan ponselnya ke dalam saku jas.


"Ada apa? Kenapa senyummu terlihat berbeda?" tanya Ardan menggoda.


"Sasy?" tebak Ardan langsung.


Lelaki bercamata itu menggeleng lemah, satu tangannya memutar cangkir kopi.


"Tunggu apalagi? Umurmu sudah cukup matang, jangan bermain layaknya anak remaja, Ferdi."


Ferdi menarik napas, menyandarkan punggung pada kursi.


"Entahlah. Rasanya sudah tidak mungkin aku jatuh cinta. Mengingat umurku bukan lagi anak remaja."


"Emangnya cinta itu hanya untuk anak remaja saja? Kau itu terlalu kaku, Ferdi. Dalam urusan hati berusahalah sedikit lebih jujur pada diri sendiri."


Iris di balik kaca itu menatap ke arah Ardan. "Kau maunya aku bagaimana?"


Ardan mengendikkan bahunya, lantas tangan itu menyesap sisa kopi miliknya. Tidak ada yang bisa mengatur seseorang akan bagaimana. Karena cinta, akan membawa arah ke mana kaki akan melangkah.


Mata keduanya beralih pada kaca kafe. Sebelah alis mata Ferdi terangkat, melihat Nigar yang melewati kafe mereka, seperti melamun, pias wajahnya terlihat kacau.


"Dan, aku duluan, ya." Lelaki itu menarik jasnya, berjalan ke luar kafe dan mengejar langkah Nigar.


"Nigar," panggilnya dan gadis itu tak menoleh.


Berjalan gontai dan berulang kali menyeka wajah, menghapus buliran air mata yang terus membasahi pipinya.


Di tepi trotoar gadis itu berhenti, seperti menunggu jalanan lengang untuk menyeberang. Pikirannya melayang, tidak sadar jika jalanan di sana sepi tanpa pengendara berlalu lalang.


Gadis bermata indah itu menarik napas, sekali lagi punggung tangan itu mengusap wajah. Dalam angannya terus terputar kenangan-kenangan lama.


Mencari-cari luka atas masa lalunya, mengumpulkan puing-puing luka untuk meyakinkan diri. Bahwa Arfi bukanlah lelaki yang baik untuk dirinya.


Satu kakinya melangkah, tak sadar jika suara klakson dari pemotor telah memekakkan telinga.


Satu lengannya tertarik dengan keras, seketika tubuh itu kembali naik ke atas trotoar.


"Nigar, apa yang kamu lakukan?" tanya Ferdi sedikit keras.


Gadis berhijab itu tersadar, satu air kembali lolos saat kelopak matanya terpejam. Secepatnya ia seka dan tersenyum lembut.


"Maaf, Pak. Saya tidak lihat ada motor lewat."


"Tidak lihat? Dia telah mengklakson sekeras itu," ucap Ferdi.


"Benarkah?" tanya Nigar menoleh ke arah jalanan.


Ferdi terdiam, memerhatikan raut wajah Nigar yang terlihat berbeda kali ini. Kelopak matanya membengkak, hidungnya memerah.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Ferdi cemas.


Gadis berhijab itu tersenyum, lantas ia mengangguk pelan.


"Terima kasih, Pak. Saya permisi," ucapnya ingin berbalik.


"Tunggu!" tahan Ferdi.


Lelaki berkacamata itu menunduk, berjongkok di bawah Nigar.


Kedua tangannya mengaitkan tali sepatu Nigar yang terlepas. Gadis itu beringsut mundur.


"Gak perlu, Pak. Saya bisa sendiri."


"Diamlah!" perintah Ferdi.


"Tidak usah, Pak. Saya tidak enak."


Gadis itu ikut berjongkok, karena pergerakannya yang spontan, kepalanya terantuk oleh kepala lelaki tersebut.


Ferdi terduduk, sementara Nigar masih memegangi kepalanya. Perlahan lelaki itu tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Sebenarnya kamu itu kenapa?" tanya Ferdi lembut.


Gadis itu ikut tertawa, "Anda baik-baik saja?" tanya Nigar mengulurkan tangannya. Ingin membantu Ferdi untuk bangkit.


Ferdi mengangguk, ia menepukan kedua tangannya, mengempaskan sisa kotoran. Lalu kembali berjongkok dan mengikat tali sepatu Nigar yang terlepas.


Gadis berhijab itu hanya diam, memerhatikan helaian rambut hitam yang tengah menunduk di bawahnya.


Sementara ada langkah yang terhenti di sudut trotoar. Gadis kecil itu mengenggam erat tali ranselya.


Dadanya terasa sangat sesak, melihat posisi Ferdi yang berlutut di depan Nigar. Mengapa rasanya lebih indah di bandingkan dengan dirinya selama ini?


Sasy meneguk saliva, getir dengan pemandangan yang membuatnya iri. Remasan kedua tangannya di tali ransel semakin mengerat. Terlebih, ketika lelaki itu tertawa seraya menggelengkan kepalanya.


Sikap dingin Ferdi seakan mencair, perlahan bening-bening kaca menghiasi netra.


Gadis itu menundukkan kepala, sesak. Redam, asanya lebur sebelum sempat ditata bersama lelaki pujaan hatinya.


"Siapa aku? Dibandingkan Kakak cantik itu?"