
Gadis dengan rambut kucir kuda itu memainkan kakinya yang tergantung di udara. Kepalanya menoleh, melihat jalan lintas busway.
Duduk di kursi halte sendiri, karena pasti busway tidak ada lagi di penghujung sore begini.
Gadis itu tak acuh, ia memainkan kedua kakinya yang bergoyang di udara. Kadang merasa lelah, tiap hari pulang pergi ke kampus tetapi hasilnya sama saja.
Sebuah mobil oranye berhenti di tepi jalan. Tidak seperti biasa, lelaki itu hanya menurunkan kaca mobilnya, lalu berkata.
"Naik!"
Sasy bergeming, memandangi wajah Arfi.
"Sasy!" bentak Arfi.
Gadis itu mendesah, lantas ia menarik tali ransel mungilnya dan naik ke jok mobil.
"Kenapa?" tanya Sasy ketus.
"Masalah magang, Kak Ferdi sudah mengetahuinya, bukan?"
Gadis itu mengangguk pelan.
"Kalo Direkturnya sudah tidak mengizinkan, bagaimana aku bisa membantumu?"
"Tidak apa, Om. Aku gak minat lagi."
Gadis itu hanya membuang pandangan ke luar jendela. Tidak seperti biasa, dia kelihatan murung dan tidak semenyebalkan biasanya.
Satu alis Arfi terangkat, ia menurunkan kacamata hitamnya. Memandangi wajah belia itu lamat-lamat.
"Kau kenapa? Ada masalah?" tanya Arfi.
Sasy menoleh, dia tersenyum dan menggeleng lemah.
"Yakin? Kenapa diam saja?" tanya Arfi lagi.
"Aku lapar, Om."
Arfi mendesah pelan, percuma dia khawatir berlebihan. Nyatanya belia itu memang hanya memiliki masalah dalam dunia remajanya saja.
"Ya sudah. Untuk merayakan berakhirnya hubungan kita. Aku akan traktir kau makan di restoran mahal. Bagaimana?" tanya Arfi.
Wajah itu tersenyum, tetap saja tidak seceria biasanya. Lantas ia mengangguk pelan.
Gadis itu bergeming, memandangi setiap menu makanan mewah yang terhidang.
Dia menatap Arfi yang ada di depannya, lantas mengambil garpu dan pisau untuk memulai ritual makan malam mereka.
"Sasy, kau yakin baik-baik saja?"
Gadis itu hanya mengangguk lagi. Arfi mulai kesal saat gadis itu menjadi pendiam.
"Hey, jika ada masalah kau bisa katakan padaku. Aku akan berusaha membantumu. Apa Merisa menganggumu lagi?"
Sasy menggeleng, menyuapi potongan-potongan daging ke dalam mulutnya.
Apa jadinya jika dia mengatakan pada Arfi bahwa hasil quiznya mendapatkan nilai rendah lagi. Bisa diledek habis-habisan dan menjadi bahan tertawaan lelaki angkuh tersebut.
Arfi mendesah panjang, biasa jika wanita sudah memilih diam dan tidak banyak bicara. Tidak akan ada hal yang baik-baik saja.
Sasy menyapu paving-paving di depan mini market menggunakan kakinya. Menikmati sentuhan dingin angin malan setelah rinai hujan berhenti menyapanya.
Menunggu Arfi yang membeli sesuatu di dalam sana. Dia sesekali memejam, dengan tarikan napas tertahan.
Lalu satu kepalan tangan ia tumbukkan ke dahi. Merutukki kebodohan otaknya yang sama sekali tidak bekerja, tidak peduli sekeras apa dia berusaha.
"Pasti dimarahi lagi, pasti mama akan mengoyak-ngoyak gambarku lagi."
Gadis itu mendesah, ingin tidak pulang kerumah. Terkadang pikiran manusia memanglah sulit dipahami. Mengapa harus memaksa jika keahlian dan bakat tidak berada di sana.
Dan mental anak, akan merasa tertekan setelah hasil buruk yang didapatkan akan menghasilkan amarah yang menyakitkan.
Terkadang tanpa kita sadari, anak akan berbohong karena diajarkan oleh orangtuanya sendiri. Tidak ada apresiasi atas kejujuran yang dia beri. Terpaksa berbohong dan bersembunyi ketika menyadari apa yang diharapkan orangtuanya tidak terpenuhi.
Sebuah kantungan plastik tersodor ke hadapan. Sasy melirik, satu tangan menarik plastik itu.
Bibirnya terkembang lebar saat melihat berbagai macam es krim yang Arfi berikan.
"Om, ini semua untuk aku?" tanyanya senang.
Arfi menjatuhkan badannya di kursi yang berseberangan dengan Sasy. Menyesap sebatang rokok.
"Kau pikir ada orang lain di sini?" tanyanya datar.
"Makasih, Om." Antusias gadis belia itu membuka salah satu kemasan es krim.
Melihat wajah itu kembali berbinar membuat senyum terkulum di bibir bungsu Erlangga itu.
Matanya terus memerhatikan tingkah dan gaya Sasy yang sedang menikmati suapan es krimnya.
Semenjak Ardan bertanya tentang Sasy atau Arsy. Ia terus-terusan mengingat segala tingkah menyebalkan gadis itu.
Walau dia lebih bar-bar dan berani melawan. Namun, segala tingkah menyebalkannya itu sama. Bahkan dari cara menantang dan melawan.
Pantas saja dia merasa bersalah akan derai air mata yang sempat tumpah karena ulahnya. Walau dia tidak menyadarinya, tetapi hatinya telah merasa. Bahwa Sasy, adalah Arsy dari masa yang berbeda.
Tanpa sadar batang rokok yang ada di sela jari terlepas begitu saja. Satu air mata lolos dari mata sayupnya. Lelaki itu langsung menyeka wajah. Menarik napas yang tersengal ganjalan luka.
Entah itu kasih sayang yang tidak bertuan. Atau pun rindu yang tidak pernah menemukan tepian.
"Bahagiakah kau saat ini, Arsy?" tanyanya tanpa sadar.
Sasy menoleh, dengan sendok es krim yang masih digigit oleh gigi-giginya. Hal yang sama Arsy lakukan jika dia sedang menikmati makanan.
Sengaja menggigit sendoknya agar tidak ada kakak-kakak yang meminta es krimnya.
"Sasy, kemarilah dan peluk aku!"
"Hah?" tanya Sasy kaget.
Arfi bangkit dan menarik badan mungil itu untuk berdiri. Mendekap badan mungil itu erat, sangat erat dan semakin erat.
Mencoba meluapkan rindu, kasih dan cinta. Lebih tepatnya penyesalan atas kegagalan tiga punggung kekar yang tidak mampu melindungi satu hati yang rapuh.
"Arsy, maafkan Kakak yang selalu tak acuh padamu, Sayang. Maafkan Kakak, maaf karena Kakak membiarkanmu terluka."
Sasy terkejut, kali ini Arfi memanggilnya dengan nama yang berbeda.
Lelaki itu terisak, ia membenamkan wajah di pundak sempit itu. Jika Ardan sanggup menahan semuanya sendiri. Tidak dengan dirinya, dia tidak akan mampu setegar si Sulung Erlangga itu. Menahab segala beban pada pundaknya dan menjadi pelindung di saat dia pun butuh bahu untuk berkeluh.
Arfi tidak akan pernah mampu bgitu, karena ia rapuh, dia lemah dan dia selalu membutuhkan bahu untuk menopang segalanya.
Termasuk apa yang dirasakannya selama ini kian dalam dan menusuk. Menyiksa setiap kali rindu itu mendayukan sebuah nama.
Seseorang yang menjadi jantung keluarga, kini seperti hidup dalam diri yang berbeda.
"Arsy, Kakak menyanyangimu lebih dari apa pun. Maafkan Kakak, Kak Ardan dan juga papa. Maafkan kami memaksamu untuk masuk ke jalan yang ...."
Lelaki itu terisak, tidak sanggup melanjutkan kalimat. Karena saat ini dia mulai mengerti, akan kasih yang tidak sempat diberi ketika raga masih bersama di sisi.
***
Arfi mengusap wajahnya sebelum memasuki rumah sang Kakak. Matanya membengkak dengan hidung yang terus berair.
Berulang kali dia mendesah, mencoba menteralkan keadaannya.
Saat akan masuk, tak sengaja ia berselisihan dengan Nigar. Senyum terkulum dari bibir lelaki itu. Melihat wanitanya, hasrat untuk menggoda kembali muncul.
"Hai, Nigar," sapanya menggoda.
Gadis itu memutar badan, masih kesal oleh tingkah Arfi yang memeluknya sembarangan.
Mengejar langkah Nigar yang masuk ke dalam. Lelaki itu ikut berlari ke arah pintu. Tertahan dada Ardan. Lelaki yang lebih dewasa itu menyilangkan kedua tangan dengan tatapan nyalang.
"Hem, Kak," sapanya ramah.
"Ngapain ke sini? Bukannya kau sementara tinggal di kontrakan?"
Arfi mengusap kepalanya, lalu bersiul-siul tidak jelas.
"Arfi!" bentak Ardan.
"Ish, iya!"
"Iya apanya?"
"Iya aku kembali ke kontrakan! Bawel!"
Lelaki itu memutar badan, saat akan berjalan, Ferdi datang dan sedetik kemudian bibir Arfi mengembang.
"Hei, Kak Ferdi ayo kita malam Mingguan berdua."
Arfi merangkul bahu Ferdi erat.
"Ayo kita pesta bujang."
"Tapi Arfi ada yang mau aku kerjakan dengan Ardan."
"Halah, biarkan dia mengerjakannya sendiri dan menjadi tua karenanya."
Ardan mendesis geram. Satu kakinya menendang bokong Arfi.
"Sialan anak ini. Jangan mengacau!" teriak Ardan ketus.
Tak acuh, Arfi langsung memutar badan Ferdi dan semakin mengeratkan rangkulannya.
"Arfi, mau ke mana kau?" tanya Ardan lantang.
"Mau pesta bujang," jawabnya tidak bersalah.
"Kembali kau! Ferdi dan aku ada proyek pekerjaan."
Arfi mendesis, ia menoleh dengan satu jari di depan bibirnya.
"Diamlah, Ardan. Kami ini masih bujang. Jangan buat Kak Ferdi tua karena mengikuti gilanya kamu dalam bekerja."
"Apa kau bilang?" Satu bibir Ardan tertarik ke atas, berjalan menghampiri dua lelaki tersebut.
Lantas ia menepuk belakang kepala Arfi.
"Sialan, kau ingin aku cepat mati?"
"Lebih cepat, lebih baik." Lelaki muda itu berlari dengan menarik lengan Ferdi.
Sementara lelaki berkacamata itu hanya menggeleng lemah. Tingkah mereka masih sama saja, tidak ada bedanya.
"Hei, Arfi kembali!" bentak Ardan lagi.
Lelaki berambut pirang itu hanya melambaikan tangan seraya berjalan menyusuri halaman depan.
Sepasang bola mata indah memerhatikan dari balik kaca jendela. Tawanya, gayanya dan candaannya.
"Mengapa? Jika kalian berdampingan mataku hanya akan terus tertuju padamu dan hanya padamu?" tanyanya sendiri.
"Tidak peduli sekeras apa aku berusaha mengabaikanmu. Hatiku masih terus mengkhawatiran dirimu."
Nigar menutup kain gordennya saat mobil oranye itu meninggalkan halaman rumah Ardan.
"Walau aku benci mengakuinya, tetapi aku pun gila mencintaimu, Arfi."