For My Family

For My Family
126



Ferdi membuka daun pintu ruangan GM, langkahnya sempat terhenti ketika melihat Arfi sedang duduk di sana.


Lelaki itu memaksakan senyumnya saat mata Ardan menyadari kehadirannya. Perlahan Ferdi mendekat, meletakan sebuah map.


"Pagi, Kak Ferdi," sapa Arfi ramah.


"Pagi," jawabnya lembut.


"Kalian mau kopi? Biar aku belikan di kantin."


Tanpa menunggu jawaban, Arfi keluar dari ruangan GM. Matanya teralih pada gadis berhijab di divisi promosi. Tak mau menatapnya, walau dia sadar Arfi ada di sana.


Sementara Ardan mengerutkan dahi. Bingung melihat ulah Arfi dan Ferdi. Seperti ada sesuatu yang terjadi di antara mereka.


Disadari atau tidak, tetapi sikap mereka menjadi lebih dingin dari sebelumnya.


"Ada apa?" tanya Ardan memalingkan perhatian Ferdi dari Arfi dan Khadijah di balik kaca ruangan Ardan.


"Pelajari ini, aku dengar beberapa perusahaan ini sedang mencari mitra baru. Siapkan konsepnya kita akan ajukan kerja sama."


Ardan mengambil map yang Ferdi bawa, membukanya perlahan, lalu mata menoleh pada Ferdi yang masih terpaut akan kaca yang mengarah pada Khadijah.


"Ehem! Sudahlah, bentar lagi menikah, berhenti memandanginya diam-diam, Teman," ledek Ardan riang.


Ferdi mengusap wajahnya, melirik ke arah Ardan. Sinis.


Dia memang tidak tahu atau hanya berpura-pura tidak tahu?


Lalu maksudnya dengan kedatangan Arfi ke sini apa?


"Kenapa menatapiku begitu? Kau butuh tambahan uang buat lamaran?" tanya Ardan lagi.


Ferdi mendesah panjang, sesak rasanya jika diingatkan tentang lamaran terus.


"Bagaimana calon mitranya?" tanya Ferdi datar.


Ardan menyeringai, ia kembali membuka map yang ada di tangan.


Sementara Ferdi hanya menatapi wajah sangar itu lamat-lamat. Apa yang akan dilakukan Ardan jika dia tahu kalau dirinya dan Arfi berebut gadis yang sama.


Akankah dia membela teman, atau darah yang sama? Kenyataan kalau Ardan lebih membela Arfi dibandingkan dirinya, itu akan lebih menyakitkan dari pada kalah dalam pertarungan.


"Kenapa Arfi di sini?" tanya Ferdi dingin.


"Oh, aku memintanya membantu mengurus perusahaan selama kamu cuti," jawab Ardan tanpa menoleh.


"Ardan."


"Hmmm."


Terdiam. Ferdi berat untuk menanyakan hal yang sebenarnya.


"Ada apa?" tanya Ardan lagi.


"Benarkah kau tidak tau?"


"Maksudnya?"


"Aku batal melamar Khadijah."


Seketika pandangan Ardan teralih, menatap ke arah Ferdi yang ada di depannya.


"Kenapa?" tanyanya kaget.


"Kau benar tidak tau alasannya?" tanya Ferdi lagi.


"Berhenti bertele-tele, Ferdi. Kau tau aku bukan orang yang suka berbelit."


Ferdi mendesah panjang, ia menyandarkan bahu di kursi seraya menatapi wajah itu lekat.


"Aku dan adikmu ... menyukai gadis yang sama."


Map yang ada di tangan Ardan terlepas, kaget. Bagaimana bisa nasib buruk ini terjadi pada adik dan sahabatnya.


Itu artinya, akan ada hati yang patah saat salah satunya akan mengecap manisnya sebuah cinta.


Dan siapa pun yang akan terluka, itu adalah orang-orang yang dekat dengannya.


"T-t-tunggu dulu."


Ardan menegakkan posisi duduknya, tangan itu mengacak helaian hitam miliknya.


Seulas senyum tercetak di wajah yang tengah kecewa itu. Belasan tahun mengenal Ardan, dia tahu betul bagaimana reaksi lelaki beralis tebal itu jika terkejut akan sesuatu.


Reaksinya persis seperti ini. Bingung untuk mengungkapkan sesuatu. Dan itu artinya, Ardan memang tidak mengetahui tentang apa pun terkait masalah ini.


"Maksudmu, Khadijah itu gadis yang selama ini Arfi cari?" tanya Ardan meyakinkan sekali lagi.


Ferdi mengangguk, membuat helaan panjang keluar dari mulut Ardan.


"Oh ... Lord! Apa lagi ini?" Ardan mengacak kembali rambutnya, kesal.


Belum berakhir peperangan antara dia dan Arfan. Kini dimulai lagi oleh Arfi dan Ferdi.


Masalah asmara adalah hal yang paling berbahaya. Jika dia dan Arfan yang memiliki keterikatan darah dan nama saja bisa terbelah dua karena cinta.


Bagaimana lagi jika Arfi dan Ferdi?


Dua orang yang dekat hanya karena takdir yang mempertemukan mereka.


Sayangnya, Ardan menyanyangi mereka layaknya ikatan yang sama. Saudara.


Tak bisa mendukung salah satunya, apalagi meminta salah satunya untuk mengalah.


Ferdi bangkit dari kursinya, pelan ia menepuk bahu berkemeja putih tersebut.


"Sudahlah, ini urusan kami bertiga. Jangan bebankan otak busukmu lagi oleh masalah kami, Kawan."


"Youre head!" umpat Ardan kesal.


Ferdi terkekeh, berjalan ke arah pintu. Langkahnya kembali terhenti saat bertemu Arfi.


Lelaki berambut pirang itu tersenyum seraya menyodorkan secangkir kopi.


Ferdi meraihnya, mengangkat gelas kopinya dengan berjalan keluar.


"Kopi, Kak," tawar Arfi dengan meletakan segelas kopi di atas meja.


Mereka memang tidak bertengkar, tetapi mengapa? Melihat mereka yang perang dingin seperti ini terlihat lebih mengerikan.


***


"Apapa!" Bocah yang hampir berumur lima tahun itu memeluk betis Ardan ketika lelaki itu membuka pintu belakang.


"Hai, Sayang. Bunda mana?" Kekar tangannya meraih tubuh Surya, melambungkannya sekali, lantas mendekapnya di salah satu lengan.


Kecil jari telunjuk bocah itu menunjuk ke arah taman. Memberikan arah wanita yang dicari Ardan.


Ardan meraih telunjuk Surya, menciumnya sembari berjalan mendekati sang istri yang tengah bermain dengan Yena. Melihat kupu-kupu yang terbang menghiasi indah bunga di sana.


"Sayang." Satu tangan Ardan menarik kepala Hazel, mencium dahi wanita itu lembut.


"Mas sudah pulang? Mau aku buatkan minuman?"


Ardan menggeleng, matanya menyisir. Mencari keberadaan Mbok Darmi.


"Cari apa, Mas?" tanya Hazel menyadari pandangan mata Ardan.


"Mbok Darmi mana?" tanyanya.


"Kayaknya di kamar, ada apa? Tumben cari si Mbok?"


"Bisa minta tolong titip anak-anak sebentar? Aku ingin berdua denganmu, sebentar saja."


Hazel menatapi wajah tampan itu lamat-lamat. Tak seperti biasa, Ardan bahkan tak bersemangat melihat anak-anaknya.


Jika biasa dia selalu mengatakan lelah sehabis bekerja akan hilang saat bermain dengan mereka. Kenapa saat ini malah meminta anak-anak untuk menyingkir sementara?


Hazel mengangguk, satu tangannya menggiring Surya untuk masuk ke dalam rumah. Menitipkan Yena pada Mbok Darmi, sedangkan Surya lebih memilih bermain bersama Arfi di kamarnya.


Ibu dua anak itu kembali dengan segelas air lemon di genggamannya. Menemui Ardan yang sudah berbaring di kursi taman, hanya dengan kaus dalamnya saja.


Memukul pelan dahinya dengan kepalan tangan sendiri. Hazel menghela napas, berjalan mendekat. Lalu mengangkat kepala Ardan dan memindahkannya ke atas pangkuan.


Ardan langsung membenamkan wajahnya ke perut Hazel. Mendekap pinggang istrinya dengan sangat erat.


Hening. Untuk beberapa saat Hazel hanya bergeming. Membiarkan Ardan bermanja di dalam pangkuannya.


Hanya membelai helaian hitam legam itu dengan sangat lembut.


"Ada apa, Sayang? Gak biasanya Mas kayak gini?" tanya Hazel lembut.


"Sumpah aku gak kuat lagi, Hazel."


"Gak kuat kenapa?"


Ardan melepaskan dekapannya, memalingkan kepala. Menatap wajah istrinya dari atas pangkuan.


Berulang kali napasnya terhela, rasa takut akan sebuah hubungan yang terpecah menjadi trauma di dalam hatinya.


Takut untuk kehilangan lagi, dijauhi orang yang disayangi, dan juga tidak memiliki mereka yang sama lagi. Bukan raganya, tetapi jiwa dan sikapnya.


Karena yang sakit itu bukan kehilangan mereka dari pandangan mata. Namun, kehilangan kehangatan sikap mereka yang memperlakukan kita tak lagi sama.


"Bagaimana aku harus menjelaskannya? Arfi dan Ferdi, mereka merebutkan gadis yang sama, Hazel."


Gerakan tangan Hazel yang membelai rambut Ardan terhenti.


"Maksud Mas, gadis yang menggantikan aku di divisi?"


Ardan mengangguk, satu tangannya menarik jemari Hazel. Mengenggamnya di dalam dada. Kemudian badan tegap itu memiring, terpejam seraya menikmati pikiran yang berkecamuk, berperang dengan luka dan trauma.


"Arfi mencari gadis itu selama dua tahun ini. Khadijah itu mantannya Arfi. Aku gak tau pasti gimana dia dan Ferdi bisa ketemu. Tapi yang aku tangkap dari sikapnya, gadis itu masih memiliki hati pada Arfi, Hazel."


"Lalu?"


"Sedangkan Ferdi berniat akan melamarnya, setelah sekian lama dia baru membuka hatinya. Bagaimana jika dia kembali terluka?"


"Mas, masalah ini bukan bagian kita. Kita gak bisa ikut campur untuk urusan cinta dan hati, Mas."


"Iya! Aku tau. Tapi hubungan ini akan berimbas pada hubuganku juga Hazel. Bagaimana kalo Ferdi akan menjauhiku karena Arfi? Sudah Arfan? Haruskah sahabatku lagi?"


"Ferdi lelaki yang berpikir dewasa, Mas. Aku gak yakin jika dia akan menjauh karena hal ini."


"Ini masalah hati, Hazel. Jika yang saudara aja bisa terpecah, apalagi kami yang hanya akrab karena hubungan sahabat?"


Hazel menghela napasnya.


"Tetapi kadang sahabat itu bisa lebih dekat dibandingkan saudara, Mas. Karena bukan dari keturunan yang sama. Tak ada ikatan yang memaksa. Hubungan itu murni karena keinginan kalian masing-masing. Memahami dan mendekati perlahan. Dan pada akhirnya, kalian mengerti dan mencoba mengimbangi. Menjaga agar ikatan ini abadi. Bukankah, seharusnya akarnya akan lebih kuat menancap dari pada saudara?"


Hazel membelai rambut Ardan dengan lembut. Menumpuhkan kepalanya di atas kepala Ardan.


"Ibarat pohon yang ditanam dengan cara dicangkok dan biji, Mas. Mana yang lebih cepat berbuah?"


"Tentu saja cangkok."


"Kenapa?"


"Karena dia mengikuti pembuahan induknya."


"Nah, sama seperti hubunganmu dan Arfan. Bukankah terjalin karena kalian dari darah yang sama? Tak butuh usaha yang lama. Kalian dekat karena hubungan yang terikat di dasarnya."


Hazel mengecup pipi Ardan, lalu meneggakkan badannya.


"Kamu dan Ferdi, ibarat pohon yang dimulai dari biji. Ditanam, dirawat, tumbuh perlahan, melewati masa-masa sulit, menghadapi hama dan perubahan cuaca yang ekstrem. Tetap tumbuh, subur, sampai ada batang yang kokoh, ranting yang banyak dan daun yang lebat. Kadang, harus menunggu bertahun lamanya hanya untuk menghasilkan buah yang nikmat. Benarkah? Hanya karena hujan badai bisa membuat akar itu tercabut, Mas?"


Ardan terdiam, ia menoleh. Menatap wajah teduh milik istrinya.


"Bagaimana jika bisa?"


"Tidak semudah itu, Sayang. Pertengkaran bisa saja terjadi di antara kalian. Biasa itu tidak untuk merenggangkan, malah akan menyadarkan arti kalian di hati masing-masing, Mas."


"Menurutmu seperti itu?"


"Tentu saja."


"Lalu bagaimana aku bisa berdiri di antara keduanya? Satu sahabatku, satu lagi adikku. Aku tak ingin dua-duanya menjauh."


"Rangkul saja seperti biasanya, Mas. Cukup tunjukkan sikapmu yang tak berpihak pada salah satunya. Hindari obrolan tentang wanita itu dulu. Jika perlu, ungkapkan aja isi hatimu. Katakan jangan pergi, entah bagaimana hasil akhirnya nanti."


Ardan mendecak kesal, ia memiringkan badannya. Menyilangkan kedua tangan di dada.


"Ini bukan kisah cinta segitiga. Aku hanya tidak ingin kehilangan keduanya sebagai adik dan sahabat. Harus selebay itu mengungkapkan isi hatiku? Jangan pergi? Hazel, aku ini lelaki, apa kata Ferdi saat aku katakan jangan pergi? Bisa sakit perut dia, geli melihat Ardan begitu."


Hazel terkekeh, kepalanya menggeleng ketika mendapatkan rentetan omelan dari Ardan.


'Khadijah? Kenapa aku penasaran dengan gadis itu?'