For My Family

For My Family
242



Sendu tatapan mata tua itu kian merapuh, memandangi selaksa gemintang yang tengah berpadu dalam gelap kelabu. Mencoba meredam amarah, bagaimana bisa keluarga adalah pertukaran seperti yang dikatakan oleh putranya?


Gerald tersenyum miris, setitik air melintasi kulit keriputnya. Dadanya menyesak, lelaki itu menarik napas panjang saat sebuah tangan menyentuh hangat punggung tangannya.


Lelaki itu menoleh, seulas senyum terbit di wajah senjanya. Menarik kepala sang istri lantas mengecup selembut mungkin.


"Percayalah, kali ini pun aku mampu mempertahankan segalanya, Aulia."


Aulia tersenyum seraya memejamkan mata, mencoba memberikan isyarat bahwa dia tidak pernah meragukan kemampuan sang suami. Ada beberapa hal yang masih dia sadari walau itu masih kemungkinan terapuh dalam imajinasi. Sebab hati, tak akan pernah mengingkari rasa yang dimiliki.


...***...


"Papa mau ke mana?" tanya Arfan saat melihat lelaki tua itu tengah bersiap-siap.


Sinis mata tuanya hanya melirik. "Menurutmu?"


"Papa mau kembali ke perusahaan?"


"Apa kamu pikir papa akan membiarkan perusahaan hancur di tanganmu dan saudara-saudaramu?" tanya Gerald kembali.


Lelaki berkulit putih itu terdiam, tak mampu menjawab karena saat ini dia juga tak mampu membaca situasi yang Ardan berikan.


Namun, jika dia membiarkan Gerald kembali turun tangan, bisa saja masalah perusahaan akan lebih kacau. Cara sang papa pasti akan mengacaukan rencana sang kembaran.


Lamunan Arfan tersadar saat sebuah tangan menepuk pundak kekarnya.


"Tenanglah, Papa masih kuat jika hanya menyelesaikan masalah yang disebabkan kembaranmu itu."


Arfan menarik napas, "Pa, aku memang tidak mengerti dengan cara berpikir Ardan kali ini. Tapi aku percaya, Ardan pasti bisa membawa perusahaan kembali."


"Terus apa kamu pikir Papa bisa duduk tenang sambil menonton kalian hancur perlahan, begitu?"


"Pa ...."


"Fan, Papa masih mampu."


Tak ingin lagi mendengarkan ucapan putranya itu, Gerald langsung berjalan menuruni anak tangga. Meninggalkan rumah besar itu lebih pagi sebelum penghuni yang lain menyadarinya.


Dia tahu bagaimana watak si sulung itu, jika dia tahu niat Gerald untuk kembali ke perusahaan. Pasti dia akan mencegahnya mati-matian.


Tegap langkah itu berjalan terburu memasuki perusahaan termegah di ibu kota. Memperhatikan setiap bangunan yang kian besar seiring berjalannya masa. Buah keringat kerja kerasnya dengan banyak mengorbankan segalanya. Bagaimana bisa dia berdiam begitu saja?


Sementara di ruangan lain, suara sumbang menggema. Memehuni rumah megah milik Erlangga. Ardan tertawa lepas seraya menggoda putranya, menuruni anak tangga dengan menjadikan Surya sebagai mainannya.


"Kak Ardan berikan padaku," kata Arfi yang berada di ujung anak tangga, membuka lebar tangannya.


Cepat tubuh mungil itu melambung melewati dua anak tangga dan berakhir di pelukan Arfi. Seketika tawa pecah dari tiga lelaki yang tengah asyik bermain di anak tangga. Saat Arfi bersiap-siap ingin melambungkan Surya kembali, gerakan itu terhenti oleh badan mungil seorang wanita.


"Stop, Arfi!" Lirikan mata indah itu tajam menatap sang suami yang ada di belakangnya. Ardan memutar bola matanya,  bersiul seraya berjalan santai melewati Hazel dan Arfi.


"Dia anakku! Bukan bantal yang bisa kalian lambung-lambungkan begitu."


Gesit gerakan tangan itu menarik Surya yang masih berada di dalam dekapan Arfi.


"Maaf," sesal Arfi tanpa rasa bersalah, karena bocah kecil itu malah memainkan matanya. Mencoba mengkode Arfi bahwa permainan belum selesai sepenuhnya.


Lelaki berambut pirang itu terkekeh, mengacak puncak kepala Surya. Beriringan menuruni anak tangga dengan sang ipar.


"Aku dengar kalian sudah menikah secara sipil?"


"Ya," jawabnya santai.


"Hei, kamu itu sebenarnya menganggap aku apa? Selain kakak iparmu, aku juga kakaknya Nigar. Bagaimana bisa kamu menikahi adikku dua kali tanpa memberitahuku?"


"Maaf, Hazel. Setelah masalah ini selesai aku akan membuatkan pernikahan yang sempurna untuk adikmu. Aku berjanji!" kata Arfi seraya menaikan dua jarinya.


Hazel hanya menatap wajah itu sinis, pelan kepala itu menggeleng pasrah.


"Dasar keluarga Erlangga ini," ketusnya berlalu meninggalkan Arfi.


"Ardan." Panggilan itu membuat lelaki yang tengah makan di sebelahnya melirik sekilas.


"Papa ... memutuskan kembali ikut campur dan saat ini tengah mengumpulkan direksi untuk memutuskan pernikahan Arfi."


Dentingan suara sendok berpadu dengan piring. Secepatnya lelaki itu kembali menaiki anak tangga, menyambar ponselnya untuk segera menghubungi sahabat karibnya.


Tak butuh waktu lama panggilan itu sudah terhubung ke seberang.


"Evan, gawat! Datanglah ke perusahaan secepatnya. Kita harus mengumumkan firma hukum baru sebelum Gerald mengumumkan keputusan."


Tanpa menunggu jawaban Ardan langsung mematikan ponselnya, mengganti kausnya dan secepat mungkin untuk menyusuli papanya.


"Kenapa kau tak mengatakannya padaku?!" bentak Ardan ketus.


Arfan hanya mengangkat kedua bahunya, bersama-sama memasuki mobil sport miliknya untuk mengejar waktu.


Decitan suara ban mobil nyaring terdengar saat lelaki itu memijak paksa pedal rem. Memarkirkan mobil hitam itu asal, tergesa ia berjalan ke arah gedung. Tangannya terus sibuk menekan ponsel, mencoba menghubungi Evan.


"Aku di sini," sahut Evan yang tiba-tiba sudah berada di sebelah Ardan.


"Baguslah, akhirnya kau tau tepat waktu." Dua lelaki itu hanya saling membalas senyum, sementara Arfan masih terbodoh.


"Evan?"


"Hai, Fan," sapa Evan ramah.


"Sudahlah, nanti saja bertegur dramanya. Saat ini kita harus bisa mengejar keputusan Gerald."


...***...


Dentingan suara detik jarum jam di ruang rapat direksi bagai sebuah eksekusi. Gerald memandangi satu persatu diwan direksi. Entah bagaimana menjelaskan pada mitra, jika mereka sampai pecah kongsi dengan firma hukum saat ini.


Gerald menarik napasnya, ia melepaskan kepalan kedua tangannya yang sedari tadi ia remas di depan wajah.


"Kami tidak setuju jika Erlangga Grup melepaskan Ruby Jewelry, itu adalah anak perusahaan dengan statistik pendapatan yang terbaik selama ini," kata salah stau mitra di sana.


Farhan dan Dio tersenyum, trik mereka untuk membocorkan masalah ini mampu membuat Gerald kembali turun tangan. Jika bisa mengendalikan perusahaan besar itu, apalah artinya sebuah anak perusahaan.


"Benar, Erlangga grup tidak hanya sendiri. Kami juga memiliki saham yang tidak sedikit di sini. Bagaimana bisa Ardan mengambil sebuah keputusan besar tanpa berdiskusi dengan kami dulu?"


"Mengapa tidak bisa?" sanggah Ardan memasuki ruangan rapat. Seketika seluruh mata menatap ke arahnya. Kali ini entah apa lagi ulahnya.


"Aku adalah CEO Erlangga Grup, aku juga anak pemilik perusahaan ini, tentu aku memiliki wewenang untuk mengambil sebuah keputusan."


"Tapi perusahaan ini juga memiliki kami. Apa pun yang kamu putuskan, itu harus melewati persetujuan kami."


"Benarkah?" Ardan tersenyum sinis. Pelan langkah itu berjalan mendekati Gerald, berdiri di sisi lelaki tua itu.


"Bukankah kalian hanya ingin hasil akhir? Selama ini kalian bukannya tak peduli pada prosesnya? Hanya butuh hasil kemenangannya?"


"Ardan!" ketus Gerald tertahan.


"Kenapa? Apa yang aku katakan salah?" tanya lelaki berkulit sawo matang itu. "Bukankah sebagian direksi kita hanya tau tentang uang? Tidak lihai berbisnis, tapi hanya lihai melihat peluang yang besar?"


Gerald mengusap wajahnya kasar, dia benar-benar kehilangan cara menghadapi putranya itu. Sementara, jajaran para direksi hanya terdiam, siapa yang tak kenal Ardan? Putra Gerald yang terkenal dengan mulut tajamnya.


"Lalu, bisakah kamu memberikan penjelasan, mengapa kamu membiarkan anak perusahaan lepas dari Erlangga? Sebagai CEO seharusnya kamu tau kalau Ruby Jewelry adalah anak perusahaan yang sangat menopang penghasilan."


"Lalu mengapa kau masih ingin melepaskannya?"


"Karena mereka memintanya?"


"Begitu? Lalu, apakah jika mereka meminta Erlangga Grup apa kau pun akan melepaskannya?"


"Tentu saja. Tapi itu pun jika mereka mampu," jawab Ardan seraya melirik ke arah Farhan.


"Apa kau gila, Ardan?"


"Aku bahkan memiliki pengumuman yang lebih gila lagi." Santai, lelaki dengan jas hitam yang membalut tubuhnya itu menyilangkan tangan di depan dada. Terus memperhatikan Farhan dan Dio secara bergantian.


Sementara Gerald semakin tak karuan, kali ini entah apa lagi yang akan dibuat oleh sang putra.


"Ardan, berhentilah sebelum aku kehilangan muka," bisik Gerald sedikit menekan.


"Tenanglah Presdir, semua akan baik-baik saja."


Ardan berdehem pelan, ia meletakan beberapa copy berkas yang ia bawa. Membiarkan lembaran itu berjalan ke setiap direksi yang ada.


"Karena firma hukum telah menyetujui pecah kongsi, maka aku telah merekrut firma hukum yang baru."


Seketika mata Gerald membelalak, ia bangkit tiba-tiba. Memandangi wajah Ardan sengit.


"Ardan .... "


"Evan, masuklah!" Tak peduli pada tatapan mata Gerald, Ardan malah membiarkan sang pemilik nama masuk ke dalam ruangan.


"Para Direksi yang terhormat, perkenalkan firma hukum kita yang baru."


Seluruh mata menatap ke arah Evan, lelaki itu tersenyum lembut. Sedikit berdehem sebelum memulai pembicaraan.


"Selamat pagi semua, saya Evan. Saya ...."


"Cukup!" putus Gerald tak memberi kesempatan. "Rapat dibubarkan, kita akan bahas lain waktu. Ardan, kita bahas ini di ruangan!" perintah Gerald memadam.


...***...


Plaaaaak!


"Aku berharap aku tak pernah membesarkan anak tak tau diri sepertimu!" lantang teriakan itu membuat seisi rumah terkejut.


"Bagaimana bisa kamu terus membuatku sakit kepala? Bukannya membantu kau bahkan memperburuk keadaan yang ada. Ardan! Tak cukupkah kau menyiksaku selama ini?" bentak lelaki tua itu kehilangan kesabaran.


Dadanya bergemuruh tak karuan, setetes air meluncur dari salah satu matanya. Amarahnya telah memuncak dan dia kebingungan untuk meredam.


"Pa ... tenanglah." Mencoba meredam, Arfan menarik badan Gerald yang saling berhadapan dengan Ardan.


"Aku tidak tau lagi bagaimana menghadapimu, Ardan. Sedendam apa kau padaku? Tak bisakah kau melepaskanku?" tanya Gerald melunak.


Pandangan mata Ardan tertunduk. "Aku benar-benar ingin membantu."


"Dengan menghancurkan perusahaan yang kubangun! Begitu?!"


"Percayalah padaku!"


"Apa yang harus kupercaya? Selama bertahun-tahun kau selalu menjadi ujung pisau yang menusuk ke dalam badan. Dan kini kau ingin membantu? Hah?! Atas dasar apa kau ingin membantu?!" Bentak Gerald kasar.


Dada tua itu semakin bergemuruh, sementara Ardan semakin tertunduk. Ternyata seperti itu dia di mata Gerald selama ini. Hanya duri yang dibesarkan dengan tangan sendiri.


"Kau ingin kebebasan? Baiklah aku akan membebaskanmu dari Erlangga. Bawa keluargamu dan pergilah sejauh yang kau mau!"


"Papa!" tekan Arfan.


Ardan mengepalkan kedua tangannya, gemalatuk rahangnya terdengar. Tanpa menatap Gerald, ia berbalik dan ingin pergi.


"Ardan, tenanglah. Papa hanya emosi."


"Jika dia tidak percaya, maka buat apa aku susah payah memikirkan jalannya." Ardan menatap Arfan, tersenyum seraya menepuk pundak adiknya.


"Dan. Kumohon! Kaulah yang paling mengenal karakter Papa."


"Arfan, tak perlu kau tahan jika dia ingin pergi. Kita pernah kehilangannya sekali, jadi tak perlu mengemis agar dia tetap di sini."


"Papa!" tekan Arfan.


Lelaki berkulit sawo matang itu melirik sekilas, lantas berlari menaiki anak tangga. Menarik Surya ke dalam dekapannya, membawa keluarganya sesuai keingin Gerald.


"Baguslah! Pergi dan jangan pernah kembali! Aku melepaskanmu dari tuntutan Erlangga!"


Seulas senyum miring tercetak di wajah Ardan. Genggaman tangannya terkepal kuat, tegap langkahnya ingin berjalan keluar. Lalu, sebuah tangan menahan dada tegap itu.


"Kak, aku mohon! Kalian hanya sama-sama panas. Jangan lakukan ini, jangan tinggalin kami, Kak."


Tanpa menoleh, Ardan melepaskan tangan Arfi dan berniat akan melangkah keluar.


"Papa!" teriak bungsu itu kelabakan. "Kumohon mengalahlah. Mengapa kalian berdua sangat keras kepala. Mau sampai kapan kita terus seperti ini?!" bentaknya tak tahan lagi.


Lelaki berambut pirang itu menatap Gerald dan Ardan bergantian. Lantas, ia mengusap wajahnya kasar. Bingung dan juga kalut.


"Kenapa? Kenapa kalian berdua terus seperti ini? Tak cukupkah penderitaan yang kalian torehkan selama ini? Tak cukupkah kalian menggerus luka di hati kami selama ini? Sampai kapan mau terus begini? Kenapa? Kenapa kalian harus seegois ini?" Bungsu Erlangga itu menggeleng.


"Kalian berdua, tidak bisakah menyelesaikan masalah dengan cara dingin. Kak, bukankah kau mengatakan kita keluarga. Kenapa? Tidak kau mulai dengan cara mengalah?"


Ardan tertawa sinis, "aku sudah mengalah. Gerald yang tak ingin membuka jalannya. Lalu, aku harus bagaimana?"


"Aku?" tanya Gerald tak terima. "Apa yang kau bilang mengalah, Ardan? Dengan menghancurkan kerja kerasku?"


"Sumpah aku tidak pernah berniat ingin menghancurkan Erlanggamu!" teriak Ardan tak tahan.


"Lalu, mengapa kau melakukan ini?!"


"Ini semua demi kebaikan perusahaan. Sekarang kutanya pada Anda, Pak Presdir. Pernahkah Erlangga grup tanpa masalah? Pernahkah aku melepaskan tangan saat menghadapi masalah? Pernahkah aku mencoba menghancurkan perusahaan meskipun posisinya terdesak?" tanya Ardan bertubi.


"Jika dulu aku mampu menyelesaikannya. Kali ini pun aku mampu mencari jalan keluarnya!" teriak Ardan dan Gerald terdiam.


Lelaki tua itu meneguk salivanya, menatap wajah sang putra dengan tatapan nyalang.


"Kita selalu bertentangan, tapi aku sadar siapa aku. Aku tidak pernah berniat menghancurkan usaha dan kerja keras Anda. Walaupun aku selalu berada di seberang yang berbeda," ucap Ardan melunak.


"Aku tak pernah percaya jika kau melakukan semuanya tanpa pertukaran. Kali ini kamu ingin apa sebagai pertukarannya?"


Ardan tertawa sinis, ternyata sejauh itu jaraknya dengan sang papa selama ini. Sampai Gerald mampu berucap seperti itu. Lelaki itu menarik napas, ingin melanjutkan langkah. Namun, sebelah tangannya tertahan oleh sang istri.


Ardan menoleh, Hazel menggeleng. Mencoba menghentikan sikap gila sang suami. Elang tatapan mata itu beralih ke arah putranya. Lantas, ia berbalik dan menatap wajah Gerald.


"Hanya satu," kata Ardan. "Dan aku mau Anda melakukannya dengan baik."


"Apa?" tanya Gerald langsung.


"Terima Surya di rumah ini."


"Maksudmu putra Hazel?"


"Putraku!" tekan Ardan seraya menatap Hazel. "Karena walau dia bukan bagian dari darahku. Dia adalah bagian dari jantungku."