For My Family

For My Family
113



Arfi bergeming, memandangi punggung berbalut gamis itu pergi.


Redam, seluruhnya terasa sangat menyakitkan. Usahanya berujung pada duka tanpa dasar yang teramat dalam.


Ia kembali terduduk di kursi depan minimarket, menyesap salah satu cangkir kopi di sana.


Mungkin, kesalahannya dulu telah meninggalkan luka di hati wanita tersebut. Tak seharusnya ia menyerah pada Khadijah hanya karena gadis itu pernah diperkosa.


Lelaki itu mengacak rambutnya, penyesalannya kini tiada lagi arti.


Sebuah tepukan di bahu kekar itu mengalihkan perhatiannya. Ferdi tersenyum dan menjatuhkan badan di depan Arfi, berseberangan meja.


"Kirain udah balik. Beli kopi apa buat kopi?" tanya Ferdi meledek.


Arfi tersenyum, ia menggelengkan kepala sembari menyesap kopi itu.


Lelaki itu menghela napas, menyandarkan punggung di sandaran belakang.


"Ada apa?" tanya Ferdi lembut.


"Ada yang hancur, di sini." Arfi menyentuh dada kirinya.


Ferdi menaikan sebelah alis matanya. Terus terang dia geli saat melihat Arfi melow begini. Lelaki itu sebelas dua belas dengan kakaknya, Ardan.


"Nyeri, Kak. Sesak dan ... entah," sambungnya pahit.


"Maksudnya?" tanya Ferdi bingung.


"Usahaku, pencarianku, segalanya. Hancur sudah." Lelaki itu tersenyum getir. Mengusap wajah itu kasar.


"Aku bingung, Kak. Sumpah! Rasanya duniaku gelap seluruhnya."


"Tunggu dulu," tahan Ferdi bingung. "Maksudnya bagaimana?" tanyanya lagi.


Tadi saat keluar dari rumah sakit Arfi masih baik-baik saja. Mengapa kini dia jadi begini?


"Aku menemukannya," jawab Arfi seraya menegakkan duduknya.


"Siapa?" tanya Ferdi bingung.


"Wanita yang kucari selama ini."


"Lalu?"


"Lalu, dia sudah tidak sendiri lagi?"


"Maksudnya dia sudah menikah?"


Arfi menganggukkan kepalanya. "Akan."


***


Ardan membuka kembali pintu ruang inap itu. Meletakan beberapa vitamin dan juga resep obat yang baru saja ia tebus di farmasi rumah sakit.


Pelan, ia menggeser kursi ke sisi ranjang. Menatapi wajah Timur Tengah itu lekat.


Gadis itu tidak salah, wajar saja jika dia cemburu. Itu artinya, cinta di dalam hatinya telah utuh diberikan untuknya.


Ardan membelai dahi itu lembut, mendaratkan sebuah kecupan di sana.


"Sayang," bisiknya lembut.


Gadis itu tak menjawab, tertidur pulas. Terlihat dari napasnya yang begitu teratur.


"Hazel." Pelan, lelaki itu mengambil jemari mungilnya dan mencium punggung tangan itu.


"Hei Istriku. Bangunlah," panggil Ardan lembut.


Wanita itu tak merespon, terlalu lelah membuat ia terlalu jauh menjelajahi alam mimpi.


Bibir tipis itu ditarik, sampai membentuk sebuah senyuman. Satu jarinya menyentuh bibir mungil itu. Memainkannya sampai kelopak mata itu mengerjap. Detik kemudian bulu mata itu mengembang.


"Makan dulu, ayo sini biar aku bantu."


Tangan lelaki itu sigap mengangkat bahu Hazel. Menyusun bantal agar wanita itu bersandar dengan nyaman.


Sedikit meringis, Hazel mengubah posisi duduknya.


"Pelan, Mas. Ngilu," lirihnya menahan nyeri.


Mata elang itu menatap nanar, tak tega. Siapa sangka jika jebakan itu pada akhirnya malah menjebaknya sendiri.


Andai ia tidak mengikuti ide gila itu. Mungkin Hazel masih nyaman bermain dengan kandungannya saat ini.


Tangan kurus itu membuka penutup makanan. Seketika bibirnya memanyun. Melihat nasi dan sayur kuah bening.


"Kenapa? Kamu gak selera?" tanya Ardan menyadari tatapan itu.


Gadis itu menggeleng, bulat mata itu menatap Ardan dalam.


"Sabar ya, Sayang. Dokter Abel bilang kamu harus makan ini selama 40 hari."


"Hem. Aku tau."


Lelaki itu tersenyum, tangannya mengacak puncak kepala Hazel, lalu sebuah suapan terulur ke depan mulut Hazel.


Tak banyak lagi berkata, wanita itu hanya memakannya perlahan. Walau terlihat ia malas-malasan untuk menelannya.


Hazel menahan suapan yang kembali ke depan mulutnya. Tangannya menolak uluran Ardan.


"Baru beberapa suap. Makan lagi biar asimu cepat keluar, Hazel."


Hazel menggeleng. "Aku pingin lihat dia, Mas."


"Dia?" tanya Ardan menaikan sebelah alis matanya. "Anak kita?" sambungnya lagi.


Kepala itu mengangguk dengan cepat.


"Kamu baru selesai operasi, Sayang. Duduk saja masih ngilu, kan. Gimana lagi di bawa ke sana."


"Tapi aku belum lihat dia sedikit pun, Mas."


"Nanti aku fotokan. Sekarang ayo makan lagi." Ardan kembali memberikan suapan. Gadis itu memalingkan wajah. Menolak suapan yang Ardan sodorkan.


Lelaki beralis tebal itu menghela napas, meletakan piring ke atas buffet. Lalu, kedua tangannya meraih jemari putih pucat istrinya tersebut.


"Hazel, aku tau aku bersalah karena telah menjebak Arfan dengan cara seperti itu. Jika kamu masih menganggapku suami, percayalah. Itu semua hanya sandiwara," jelas Ardan lembut.


Wanita itu hanya bergeming, ia berusaha untuk tidak mengingatnya lagi. Kenapa? Ardan malah membahas itu lagi.


"Hari itu rapat Direksi, Hazel. Hari di mana perusahaan berada dalam zona merahnya dan yang bertugas untuk mempresentasekan adalah Kinara. Bahkan sampai sekarang Kinara di mana saja aku gak tau."


Hazel memalingkan wajahnya, melihat Ardan yang masih menundukkan pandangannya.


"Kamu minta aku membuatkannya cuti di saat dia adalah ujung tombak nasib perusahaan. Ferdi memintaku menggoda Nana agar Arfan menghancurkan rapat. Agar kami memiliki waktu untuk meminta Khadijah menggantikan Nara, Sayang."


"Aku berani bersumpah, demi anak kita atau demi nama mama, Hazel. Aku tak pernah ada niat lain saat itu, hanya murni untuk membuat Arfan marah. Itu saja."


"Emh," jawab gadis itu cuek.


Kini sedikit rasa bersalah itu menghampiri dirinya. Bagaimana juga gara-gara dia yang meminta Ardan memberikan cuti tanpa prosedur, kejadian ini terjadi dan berimbas panjang.


Akan tetapi, ia masih terlalu angkuh untuk mengakuinya. Selagi lelaki itu mau mengalah. Biarkan ia merasakan hukumannya terlebih dahulu.


"Maaf, Hazel. Karena aku, Arfan membuat kamu dan anak kita dalam bahaya."


"Hem," jawab gadis itu lagi.


"Mau maafin aku, kan?"


"Belum."


"Kenapa?"


"Aku sakit hati, Mas. Sakit badan, sakit mental, sakit semuanya. Apa hanya dengan satu kata maaf saja semua bisa sembuh secepat itu?" tanyanya ketus.


Lelaki itu tertunduk, pelan kepalanya menggeleng.


"Jadi kamu mau aku bagaimana?" tanya Ardan lagi


"Entahlah, aku juga gak tau."


"Hazel," panggil Ardan lembut.


Wanita itu menghela napas, tak tega juga melihat wajah suaminya yang terlihat sangat kelelahan.


"Aku rindu Surya, Mas."


"Sabar, ya, saat pengecekkan tulang belakangnya nanti sekalian bawa dia ke sini. Tidak bagus juga membiarkan Surya terlalu sering di rumah sakit, Hazel."


Lagi-lagi wanita itu menghela napas, Ardan meraih dahi Hazel dan merapikan anak rambutnya. Pelan, tangan wanita itu menjauhkannya.


"Hazel," panggil Ardan lembut.


"Hmm."


"Masih marah?"


Hazel berdiam.


"Ada yang bilang padaku, jika lelaki itu selingkuh berarti ada yang salah dari istrinya. Lalu, dia akan bertanya masih maukah suaminya memperbaiki atau memilih pergi."


Hazel menatap Ardan sinis, sadar saat ini lelaki itu sedang menyindir dirinya.


"Aku gak selingkuh, Hazel. Aku masih mencintaimu, sangat."


"Tapi caramu salah, Mas. Apa pun itu, seharusnya kamu ingat. Ada hati yang harus kamu jaga."


"Aku tau." Ardan menundukkan wajahnya.


"Pernah terpikir kah, Mas? Bagaimana jika aku mengetahuinya? Pernahkah kamu bertanya bagaimana sakitnya?"


Ardan menggeleng, dengan tatapan yang masih menatap ke bawah.


"Pikirkan Mas. Itu bisa membuat aku melahirkan prematur, seandainya Arfi tidak cepat, bagaimana nasibku dan nasib anakmu? Terpikirkan olehmu jika itu bisa membuat aku mati?"


"Hazel!" tekan Ardan tak suka.


"Apakah yang aku katakan salah?" tanya Hazel.


Ardan menggeleng, hanya mendengarkan dan menuruti omongan istrinya. Seperti bocah yang sedang ketahuan berbuat salah.


"Saat ini kamu sudah tak sendiri, Mas. Pikirkanlah kelurgamu jika bertindak di luar sana. Jangan sampai lalaimu menjadi boomerang untuk rumah tanggamu. Ada aku, ada anakmu yang harus dijaga."


"Maaf, Hazel," sesal Ardan.


"Lebih hati-hatilah, Mas. Di mana pun kamu berada, ingat aku yang harus kamu jaga. Entah itu ketahuan atau tidak. Kamu tetap harus menjaganya, karena jika bukan Arfan, mungkin Allah akan memberitahukannya padaku."


"Iya, Hazel."


"Cukup sekali dan jadi pelajaran. Sakit Mas, beneran. Melihatmu memperlakukannya sepertimu memperlakukanku."


Ardan kembali menundukkan wajahnya. Menyesal atas ketidak berdayaannya kala itu.


Hazel tersenyum tipis, jemarinya meraih tangan Ardan dan mengenggamnya lembut. Lelaki yang terkenal arogan itu, bisa juga selemah ini di hadapan wanita.


Ardan menaikan wajahnya, menatap wajah pucat istrinya itu.


"Sudahlah, sini peluk aku," ucap Hazel manja.


Lelaki beralis tebal itu tersenyum lebar, segera bangkit dan mendekap tubuh mungil itu. Membenamkan ujung hidungnya di bahu sempit Hazel.


"Terima kasih, Hazel. Maaf, untuk semua kesalahanku."


"Jagalah dirimu, Mas. Jangan sampai ini kejadian lagi."


"Akan, aku pasti akan menjaganya."


Ardan menghela napas lega, menangkupkan kedua tangnnya di pipi istrinya.


"Berjanjilah, sebesar apa pun kesalahanku kedepannya jangan pernah ucapkan lagi kata itu, Hazel."


"Tergantung kesalahanmu juga, Mas."


"Dengar Hazel, aku ini suamimu. Hanya seorang lelaki biasa. Mungkin ini bukan kesalahan yang terakhir, bukan karena aku ingin membuat lagi. Tapi karena aku manusia biasa, paati akan terus melakukan kesalahan demi kesalahan kedepannya. Berjanjilah untuk bersamaku apa pun yang terjadi, Hazel. Kumohon, ya,"


Hazel tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ardan ikut tersenyum lebar, lega rasanya. Perlahan ia menarik kepala itu mendekat, menghapus jarak antara keduanya.


"Eheem!" dehem Arfi dan Ferdi bersandar di ambang pintu.


"Baru siap melahirkan, loh. Tahan dikit ngapa?" ledek Arfi seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Entah! Memang rumah sakit ini kamar pribadi? Hargai yang jomlo, dong," sahut Ferdi.


Ardan terkekeh dan berjalan mendekati lelaki berkacamata itu. Merengkuh bahu kekar sahabatnya.


"Sialan! Gara-gara ide gila kamu itu. Hazel mengalami pendarahan sampai lahiran prematur."


"Halah ... tapi kamu menikmati, kan." Sikut Ferdi di perut Ardan.


"Sialan emang! Aku baru baikan jangan buat salah paham lagi."


Ardan menarik bahu itu, cepat gerakan tangan Ferdi melepaskannya. Menghindari tangkapan tangan Ardan yang berusaha merengkuhnya.


Gelak tawa dalam ruangan itu pecah. Hazel hanya tertawa dan menggelengkan kepala pelan. Dua lelaki itu memang sangat dekat, bahkan  bisa lebih dekat dari saudara.


Terkadang di dalam dunia ini. Tak selamanya yang berbeda itu asing. Dan tak selamanya yang asing itu tentang perbedaan.


Karena ada yang sangat dekat lalu menjadi asing tiba-tiba hanya karena sebuah kesalahan.