For My Family

For My Family
238



Ardan mengikuti langkah Hazel yang menaiki anak tangga. Mengejar sang istri yang tampak tidak baik-baik saja setelah mendengar keputusan ini.


"Hazel," panggil Ardan saat memasuki kamar mereka.


Gadis bermata madu itu menoleh, tersenyum lembut dan kembali sibuk memilih baju-baju dalam lemari.


Ardan menarik napas, mendekat perlahan dan langsung mendekap tubuh mungil itu dari belakang.


"Maaf, Hazel. Maafin aku yang tidak mengatakan ini padamu lebih dulu. Maaf karena sudah mengambil keputusan tanpa melibatkanmu."


Wanita di dalam dekapannya hanya bergeming, mendengarkan setiap ucapan Ardan.


"Bukan aku tidak memikirkan perasaanmu dan Surya. Aku menyanyangi kalian dan aku pun tidak ingin kalian terluka," jelas Ardan lagi.


"Tapi aku juga tidak bisa menutup mata dengan masalah yang dihadapi Papa dan adik-adikku, Sayang. Ini keluargaku, walaupun kacau, walaupun renggang. Aku tidak bisa mengabaikan mereka."


Sebuah kecupan mendarat di punggung putih mulus itu. Hazel berbalik dan meraih sebelah pipi Ardan.


"Aku tau, Mas. Aku baik-baik saja. Sudah kukatakan, apa pun keputusanmu. Aku akan mengikutimu."


Ardan menatapi wajah itu lamat, gadisnya menyimpan kecewa. Tergambar dari raut wajah indahnya yang seperti menyimpan luka.


"Sungguh aku menyanyangi kalian, Hazel. Aku akan melindungi Surya. Percaya padaku."


"Aku percaya, Mas. Mas mau pakai kemeja apa hari ini? Biar aku siapkan," katanya seraya berbalik mencari kemeja sang suami.


Ardan kembali mendekap tubuh mungil itu. Benar-benar takut jika Hazel kecewa dengan keputusannya.


"Jika kamu kecewa katakan, Sayang. Aku akan meyakinimu, apa pun yang kamu ingini aku akan penuhi. Tapi jangan bersikap seperti ini. Kamu tampak peduli, nyatanya itu hanya menutupi kecewamu padaku."


Hazel tersenyum, melirik, melihat sang suami yang berpangku dagu pada bahunya. Satu tangan Hazel terangkat, meraih rahang tegas milik sang suami.


"Aku baik-baik saja, Mas."


"Bohong!" tuding Ardan.


Gadis itu tersenyum, melepaskan dekapan Ardan, lantas menatapi wajah garang itu.


"Aku memang terkejut mendengar ucapanmu, Mas. Sedikit kecewa karena kupikir Mas hanya bertahan di rumah ini demi kesembuhan Mama."


"Maaf, Hazel," sesal Ardan lemah.


Hazel menggeleng dan kembali tersenyum. "Dulu aku memang egois, Mas. Hanya memikirkan aku dan Surya saja. Aku yang tidak nyaman dan Surya yang merasa asing di sini terus mendesakmu agar kita kembali. Sekarang aku tau, aku tidak bisa memonopoli Mas hanya untuk keinginan kami. Ada hati yang juga menunggu Mas kembali, merindukanmu dan selalu menantimu. Bagaimanapun Mas tetaplah anak keluarga ini, aku tidak bisa mengingkari karena tanggung jawab Mas bukan hanya kami."


Seulas senyum terukir di wajah cantik itu. Hazel mendekat, mengelus kepala belakang suaminya.


"Kamu adalah imamku, Mas. Segala keputusanmu adalah kewajibanku untuk mengikutimu. Aku tau Mas gak akan biarin aku dan Surya tersakiti. Tidak peduli di mana, asalkan selalu ada kamu di sisi, aku dan anak-anak akan baik-baik saja."


Hazel menarik kepala sang suami, mendaratkan kecupan di dahi. Berbalik dan kembali sibuk pada jajaran kemeja Ardan.


"Mas mau pakai warna apa? Kalau abu-abu terang gimana?" tanya Hazel dan Ardan hanya terdiam.


Memandangi punggung kecil yang ada di depannya nanar. Antara sedih dan senang, dia masih tidak tahu apakah perasaan Hazel memang baik-baik saja? Atau tengah menutupi kecewa.


"Cokelat muda ya, Mas? Kan, sekarang bukan GM lagi, harus pakai warna terang dong, biar lebih fresh."


Sepasang tangan kembali mendekap dari belakang. Lekat, hidung mancung itu terbenan di helaian rambut sang istri.


Sejenak Hazel terdiam, detik selanjutnya senyum terkembang dengan lebar.


"Mas."


"Terima kasih, Sayang. Aku bersyukur karena pendampingku adalah kamu. Walau kadang kita sama-sama keras. Tapi kamulah yang selalu membuka mataku tentang banyak hal. Tidak tau apa jadinya jika itu bukan kamu, Sayang."


Hazel berbalik, kini sepasang tangan mungil itu melingkari bahu sang suami.


"Aku juga berterima kasih, Mas. Karena Mas mau menjebakku ke dalam pernikahan ini. Jika lelaki itu bukan kamu, mungkin aku dan Surya tetaplah bagian asing di dalam dunia kejam ini." Tangan lentik itu menarik pipi Ardan, memainkan ujung hidung mereka.


"Karena lelaki itu kamu, Mas. Aku bisa merasakan bahwa cinta itu bisa sangat indah. Karena suamiku itu kamu, Mas. Aku ingin menjadi istri yang sempurna, karena kamu mencintaiku dengan segala yang kamu punya, aku juga ingin mendampingimu sampai akhir batas nyawa."


"Karena lelaki itu kamu, Mas. Aku yang terbuang ini, merasa menjadi sangat berharga. Karena itu, tak peduli tinggal di mana dan bersama siapa, asalkan kamu bersedia menghadapinya bersama. Bahkan menyelami badai pun aku akan baik-baik saja."


Ardan bergeming, hanya menatapi wajah cantik itu. Detik selanjutnya dia menarik pinggang Hazel. Mendekap tubuh mungil itu erat.


"Kuatlah, Sayangku. Karena saat ini bukan hanya aku dan anak-anakmu yang mengandalkanmu. Tapi juga keluarga ini. Aku tak bisa membantu Mas, tapi aku selalu bisa mendekap, Mas."


"Aku tak butuh apa pun lagi, Nazha. Cukup kamu, dekapanmu dan lembut usapanmu. Itu sudah sangat cukup membuat aku kuat menghadapi segalanya."


Hazel mengembangkan senyumnya, membalas dekapan itu sangat erat. Kini dia hanya bisa mencoba memahami, apa pun yang Ardan pilih. Itulah yang terbaik untuk dia jalani.


Seperti dia yang terluka saat harus dijauhkan oleh buah hatinya. Itu pula yang dirasakan Aulia saat harus berjauhan dengan putra-putranya.


Menahan rindu, menanti harapan sebuah temu. Dan saat itu tiba, anak-anaknya kadang hanya sekadar menyapa. Seakan penantian mereka selama ini tak berharga, kita tak pernah tahu sebanyak apa air mata yang luruh karena menahan rasa rindu.


Sebagai seorang ibu, yang dinanti bukanlah kesuksesan yang dihadirkan kepangkuan. Hanya ingin sebuah pelukan, perhatian dan kasih sayang.


Sebagaimana dia menyayangi anaknya sewaktu kecil, mengapa kasih sayang itu jarang terbalas saat anaknya sudah dewasa?


...***...


Lelaki dengan jas rapih itu berjalan memasuki sebuah ruangan. Tersenyum lembut saat seseorang yang terduduk di depan sana menyambutnya.


"Apa yang membuat putra sulung Erlangga mengunjungi kantorku?" tanya lelaki berperawakan tinggi itu tersenyum sinis.


Ardan membuka kacamatanya, melemparkan ke atas meja. Lantas tajam tatapan itu seperti menantang.


"Kenapa? Apa kau tidak senang bertemu teman lama?" tanya Ardan dan lelaki itu tertawa sinis. Melipat sebelah kakinya, lalu menaikannya ke atas paha.


"Aku hanya takut jika kantorku terlalu kumuh untuk menyambut kehadiranmu."


Ardan mengedarkan pandangannya, melihat seisi ruangan dengan furniture berwarna abu-abu terang yang menghiasinya.


"Ya. Ruangan ini terlalu kecil untukku. Aku sesak jika terlalu lama berada di sini."


Lelaki dengan jas cokelat itu menggeleng, tersenyum sinis mendengar ucapan Ardan.


"Sialan anak ini!" sungutnya dan Ardan terkekeh, ia merentangkan kedua tangannya dan lelaki tinggi itu bangkit.


"Long time no see, Ardan."


"Bagaimana kabarmu?" tanya Ardan kembali.


"Ya, seperti yang kau lihat. Memang apa yang bisa terjadi denganku?"


Kedua lelaki itu terkekeh, Ardan berjalan mendekati meja kerja temannya itu. Sementara, lelaki itu berjalan ke sudut ruangan. Mengambil dua botol soda dalam lemari esnya.


"Bagaimana kabar Arfan dan Ferdi?" tanyanya kembali.


"Hem. Jika kau penasaran, tanya saja sendiri."


"Sialan anak ini." Satu tangannya melemparkan botol itu. Sigap Ardan menangkap lemparannya.


"Thank's," katanya seraya membalik-balik dokumen yang ada di atas meja.


"Tumben kau ke sini?"


"Ya. Aku hanya ingin memastikan, apakah kau masih hidup atau sudah mati."


Lelaki yang tengah berdiri di sudut ruangan itu menggeleng. Dari dulu ucapan Ardan masih saja tajam seperti ini.


"Aku rasa, aku yang akan melihatmu lebih dulu mati. Disantet orang!" balasnya kesal dan Ardan terbahak.


Seketika ruangan itu pecah, bercerita ringan membuka beberapa kenangan masa lampau. Asyik masuk dalam kenangannya sampai lupa bahwa tujuannya ke sini bukan untuk reuni.


Lelaki berwajah garang itu tersadar saat deringan ponselnya berbunyi. Melihat nama yang tertera membuat ia kembali pada tujuan awal menemui sahabat lamanya kali ini.


"Van, aku dengar bahwa kariermu di Macau sangat bagus. Mengapa kau kembali?" tanya Ardan berusaha kembali membuka topik pembicaraan.


"Tidak ada, aku hanya ingin kembali ke negara tercinta. Memangnya tidak boleh?"


"Halah, jangan membual. Apa taji kau sudah tidak tajam?"


Evan tertawa, lantas ia melemparkan kaleng soda kosong ke arah Ardan.


"Jangan asal ngomong! Apa kau pikir bertahun-tahun menjadi pengacara otak licikku tidak berguna? Ini masih sangat briliant, Ardan." Ketuk Evan di sudut dahinya.


"Aku kembali karena ingin membangun karier di sini. Ya Macau memang menggoda, tapi jika semakin lama di sana. Aku takut yang pulang hanya tinggal nama."


Ardan kembali terkekeh. "Makanya kalau bertarung jangan terlalu kejam."


"Kau yang selalu mengatakan. Jika kita bertarung harus bisa mengendalikannya, jangan pernah mengikuti permainan orang lain. Apalagi sampai mengikuti keinginannya."


Ardan mengangguk, lantas menatapi wajah Evan lamat.


"Untuk itu, aku ingin kau yang menjadi backing hukum Erlangga Grup."


Seketika senyum lelaki muda itu memudar, terkejut mendengar ucapan sahabatnya tersebut.


"Ar-Ar-Ardan, maksudnya?" tanya Evan tergagap.


"Aku ingin memakai firma hukummu untuk menjadi kuasa hukum Erlangga, apa kau sanggup?"


Beberapa kali mata Evan mengerjap dengan sangat cepat. Masih terkejut.


"Tunggu dulu, bukannya Erlangga Grup selama ini dibacking oleh Guard Law Firm?"


"Benar, tapi saat ini mereka ingin memutuskan kontrak. Dan aku ingin kau menekan mereka untuk tidak membocorkan rahasia perusahaan. Bisa?"


"Ardan yang benar saja? Kau ingin firma hukum yang kubangun hancur dalam sekejap?" tanya Evan gusar.


"Inginnya begitu, tapi kuyakin kau tak selemah itu."


Even tersenyum getir, menggeleng pasrah.


"Tapi itu Guard Law Firm. Seluruh ibu kota tau, mereka adalah firma hukum yang tidak terkalahkan di kota ini."


"Tapi kita juga tau, bahwa mereka sudah berganti generasi."


Lelaki bertubuh tinggi itu terdiam, memikirkan ucapan Ardan.


"Guard Law Firm juga tidak sekuat itu, Evan. Pikirkanlah, jika kau bisa melawan mereka, firma hukummu akan menjadi seperti apa?"


"Iya. Tapi jika aku kalah. Maka firma hukumku akan berakhir mengenaskan."


Ardan menumpuhkan kedua sikunya di atas meja. Sedikit mencondongkan wajahnya ke arah Evan.


"Untuk itu, jangan sampai kalah,  Teman."


💛💛💛


Othor jelasin dikit lagi ya gaes.


Jadi firma hukum itu adalah instansi yang dibangun untuk mengurusi apa pun tentang hukum-hukum negara. Isinya ya para pengacara gaes.


Jangankan intansi/perusahaan. Bahkan perorangan aja ada yang pakai jasa pengacara untuk mengurus segala hukum-hukum yang dihadapi (Publik Figur contohnya)


Sebuah perusahaan akan dikendalikan oleh Seorang President Direktur sebagai pemegang saham terbesarnya.


Sebuah perusahaan besar tidak akan terbangun perorangan. Biasa mereka akan manarik investor untuk menunjangan dana agar keberlangsungan perusahaan tetap terjaga.


Para investor itu disebut dewan direksi. Imbalan para investor itu akan terhitung melalui saham yang akan diberikan sesuai dengan dana yang dialirkan.


CEO, tidak selamanya diambil dari garis keturunan Presdir. CEO bisa juga dipilih dari jajaran karyawan yang memiliki kemampuan mumpuni dalam mengurus perusahaan.


Biasa pemilihan CEO diluar garis keturunan akan dipilih melalui keputusan Dewan Direksi. Jadi, walau tidak ikut bekerja di dalam perusahaan. Dewan Direksi memiliki peran penting karena mereka memiliki dana dan saham.


Jika Dewan Direksi ada yang memecahkan saham, maka otomatis dana yang masuk juga akan berkurang. Inilah yang bisa membuat perusahaan berada dalam krisis dan diambang kolaps.


Apalagi kalo direksi bercampur dengan firma hukum yang bekerja sama.


Simpelnya, saat melakukan kerja sama dan melakukan tanda tangan kontrak. Sebuah perusahaan akan didampingi pihak hukum agar segala sesuatu yang berjalan legal secara hukum negara.


Jadi buat yang bertanya, perusahaan harus memiliki pihak hukum? Ya jelas dong, kalo gak ada pihak hukum sebagai backingnya, bagaimana mereka bisa mengurus legalitas kenegaraan dan menghadang masalah-masalah hukum yang datang.