
Ardan menghentikan langkahnya saat melihat Ferdi masih terpaku di tengah taman. Satu tangan kekar tersebut merangkul bahu, membuat lelaki berkacamata itu menoleh.
"Kau sudah mendapatkan pesannya?" tanya Ardan.
"Ya."
"Ayo kita bahas di ruanganku."
"Ya. Setelah aku berpamitan dengan pengantin."
"Lalu, kenapa kau masih berdiri di sini?"
"Aku masih menunggu dia. Katanya dia sakit perut."
Ardan hanya menatap wajah itu datar. Rengekan Yena membuat dua pandangan lelaki itu teralih.
"Mas aku ke mobil duluan, ya. Yena haus," pamit Hazel berjalan meninggalkan dua orang itu.
Seraya menggenggam jemari Surya, wanita berdarah Turki itu berjalan ke arah parkiran.
Ada langkah yang kembali berbalik, bersembunyi di pintu toilet seraya memerhatikan tubuh mungil ibu dua anak itu ke arah parkiran.
"Duh, Sasy. Mati saja kau! Bagaimana bisa aku tidak mengenali Pak Ardan saat itu?" tanyanya sendiri.
Gadis belia itu menggigit ujung kukunya, mengingat saat pertama kali dia bertemu dengan Ardan senja itu. Saat Hazel mengambil baju-baju mereka dan apa yang diucapkan Ardan sangatlah menggambarkan amarah.
"Mungkin Kak Hazel memang tidak akan dendam. Tetapi Pak Ardan? Bagaimana jika dia tau gadis yang dikatainya hari itu adalah aku?"
Gadis itu berjalan mondar-mandir di depan toilet. Berdecak sebal, bingung harus bersikap bagaimana.
Sementara Ferdi terus melirik jam di pergelengan tangannya. Sudah lima belas menit gadis itu ke toilet. Namun, Sasy sama sekali belum kembali.
Mulai khawatir, takut jika terjadi apa-apa pada belia itu.
"Ardan, kamu kembali saja lebih dulu. Nanti aku akan langsung ke kantor setelah mengantar Sasy pulang."
Lelaki berkemeja batik cokelat itu hanya mengangguk, ia menepuk pundak Ferdi lembut.
"Kutunggu makan dagingnya, Kawan," ledek Ardan dan Ferdi hanya memutar bola mata malas.
Setelah melihat sang teman keluar dari acara. Lelaki berkacamata itu berjalan ke arah toilet. Alisnya bertaut saat melihat sang belia hanya mondar mandir di depan toilet.
Perlahan Ferdi mendekat, Sasy masih tidak menyadari. Sibuk mondar mandir sendiri. Saat berbalik, ia menabrak dada bidangnya. Gadis belia itu mendongak, lalu memundur untuk menciptakan jarak.
"He, Kak?" Bibirnya menyeringai, dengan satu jari menggaruk kulit kepala.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Aku? Aku ... sakit perut, tapi bukan seperti mau poop," jawabnya dan seketika wajah itu memerah. Malu dengan ucapannya. Kedua tangannya tertangkup di wajah, merutukki mulutnya yang suka sembarangan bicara.
"Lalu?" tanya Ferdi bingung.
Sasy masih terdiam, memalingkan wajahnya karena telanjur malu oleh ucapan tadi.
"Jika tidak enak perut ayo kita pulang. Kenapa harus mondar-mandir di sini." Satu tangan Ferdi menarik lengan, gadis itu masih bertahan. Membuat pandangan Ferdi menoleh ke belakang.
"Hem, Kak. Apa ... Pak Ardan sudah pulang?"
"Sudah, kenapa?"
Bibir Sasy menyeringai, "tidak ada apa-apa. Ayo kita pulang." Lilitan tangan Sasy pada lengan Ferdi membuat kepala lelaki itu kembali menoleh.
Sempat terdiam, sebelum bibir itu mengembang karena sentuhan tangan Sasy menghidupkan degup jantungnya.
Ketika perasaan nyaman telah lebih dulu mendominan. Maka sekuat hati mengatakan tidak akan percuma. Karena cinta adalah tentang keyamanan sebuah rasa. Bukan hanya ungkapan penuturan kata.
Saat melihat Ferdi berjalan ke arah mereka. Satu tangan Pedro merengkuh pinggang Nara.
Gadis yang masih berbicara dengan tamunya itu menoleh, melihat ke arah Pedro yang tersenyum lembut kepadanya.
"Ada apa, Kak?"
"Tidak ada," jawabnya lembut. Detik kemudian lelaki berkacamata itu hadir di depan mereka.
Mengulurkan tangannya ke arah pengantin pria seraya berkata. "Selamat buat kalian berdua."
"Terima kasih, Pak. Anda sudah menyempatkan hadir di pernikahan saya," jawab Nara lembut.
Lelaki berdarah Spanyol itu melirik ke arah sang istri. Mengetahui tatapan mata itu, Nara beralih pada gadis belia yang menggandeng lengan Ferdi.
"Anda, datang sama siapa?"
Gadis belia itu mengulurkan tangannya, tersenyum ramah dengan berkata.
"Selamat, Kak. Kamu cantik sekali dengan gaun berwarna ini."
"Terima kasih. Kamu?"
"Em, aku .... " Sasy mendongak ke arah Ferdi, pelukan tangannya di lengan lelaki itu semakin mengerat. Sedangkan, Ferdi hanya menatap wajah Sasy yang tersenyum manis padanya.
"Pacarnya Kak Ferdi."
Nara mengerutkan dahinya, ia menatap wajah Ferdi. Bagaimana bisa Khadijah berubah dengan gadis belia?
"Oh," kata Nara terkejut, ia menoleh ke arah Pedro. Lelaki bermata cokelat itu hanya berdehem pelan.
"Saya permisi dulu. Sekali lagi, selamat buat kalian berdua."
Sedikit tidak percaya, Nara masih memerhatikan dua orang tersebut. Saat ingin turun dari tangga stand. Satu tangan Ferdi terulur, membantu belia itu turun dengan perhatian yang sangat lembut.
Deheman suara Pedro mengalihkan perhatian Nara.
"Kenapa gitu banget lihatnya? Nyesel bukan kamu yang diperlakukan begitu?"
"Kakak apaan, sih? Aku hanya bingung saja, gadis belia itu? Seperti gak mungkin pacar Pak Ferdi."
"Kenapa gak mungkin? Lagian apa urusannya dengan kita?" tanya Pedro geram.
Nara berdecak kesal, ia memutar badan berarah ke Pedro.
"Kakak gak perlu cemburu. Saat ini semua orang tau kalau aku sudah sah menjadi istri Kakak."
"Siapa yang cemburu?" kata Pedro malas.
"Kalo gak cemburu kenapa sikap Kakak begini? Aku biasa aja tuh saat Mbak Hazel datang, bukannya Kakak juga pernah suka sama Mbak Hazel?"
"Keadaan Hazel beda, Nara. Dia sudah memiliki Ardan."
"Bukannya Pak Ferdi juga sudah memiliki pacar?"
"Begini saja, bukannya kamu sudah hamil? Kamu gak usah kerja lagi, di rumah saja, ya."
"Kok gitu sih, Kak? Kakak jadi kayak gak percaya sama aku. Kakak juga bekerjanya ketemu Mbak Hazel terus, kan?"
"Tapi gak setiap hari, Nara. Gak kayak kalian yang tiap hari selalu ketemu," tekan Pedro.
Gadis itu menarik napasnya, lalu satu tangannya menarik lengan Pedro agar lelaki itu menghadap ke arahnya.
"Kak, saat aku gadis saja selama bertahun-tahun Pak Ferdi tidak pernah menoleh ke arahku. Apalagi saat ini? Jika memang dari dulu ada sesuatu, tidak mungkin malam itu aku sakit hati dan malah terjebak kesalahan sama Kakak."
Lelaki berjas putih itu hanya berdiam. Menolehkan wajahnya ke arah lain.
"Lagian saat ini pandangan dan juga pikiranku bukan lagi tentang pria lain. Hanya ada tentang Kakak dan anak kita."
Pedro masih berdiam, ia menarik napas sampai membuat dada itu naik turun dengan cepat.
"Pedrosa Da Villa," panggil Nara sedikit ketus dan lelaki itu masih tidak menoleh.
"Bersamamu ... aku bahagia."
Pedro melirik sekilas, melihat wajah Nara yang masih memerhatikannya.
"Oh, ya. Aku ada sesuatu sebagai hadiah pernikahan kita," kata Nara lembut.
"Apa?" tanya Pedro datar.
Gadis itu membuka selipan gaunnya yang ada di pinggang. Matanya menatap Pedro seraya berputar, mencari-cari benda kecil yang ia selipkan di sana.
Penasaran, kepala lelaki itu mendekat. "Kamu cari apa?"
"Ini." Gadis itu menautkan dua jarinya membentuk lambang cinta. Pedro terdiam sesaat, lalu lelaki itu menggulum bibirnya, berusaha menahan tawa melihat ulah Kinara.
"Ayo ketawa aja, Kak. Lagian ini acara resepsi kita, kenapa harus marah-marah, sih?" goda Nara dengan menyenggol lembut lengan kekar itu.
Pedro melepaskan senyumnya, menggelengkan kepala pelan. Satu tangannya menarik kursi yang ada di belakang.
"Duduklah, apa kamu lelah?"
Gadis itu hanya mengangguk, lantas Pedro berjongkok di depan Nara.
"Assalamualaikum, anak Dady. Gimana kabarnya hari ini? Lelah juga, gak?" tanya Pedro, sepasang mata itu menatap wajah sang istri yang masih tersenyum ke arahnya.
"Lelah, dong, Dady. Apalagi Dady pake acara cemburu segala."
"Itu karena Dady sayang Mommy, sayang sekali."
"Sayang atau cinta?"
"Keduanya," jawabnya lembut.
...***...
Bungsu Erlangga itu memakai salah satu tali ransel di bahunya. Berjalan menuruni anak tangga seraya memakai kacamata hitam.
"Mau ke mana kamu?" tanya Gerald saat Arfi berjalan melewati mereka.
"Ke Bandara. Pesawatku akan take off jam tujum malam."
"Pesawat? Kau mau ke mana, Arfi?" tanya Arfan ketus.
"Ke Rusia."
"Rusia? Ngapain kau ke sana?" tanya Arfan lagi.
"Tentu saja liburan. Lagian apa yang bisa kukerjakan di sini?" Seperti tanpa dosa lelaki berkaus hitam itu berjalan ke arah Gerald. Mencium punggung tangan sang Papa.
Yang membuat Arfan geram, Gerald hanya mengelus bahu itu seakan memberikan restu.
"Tunggu dulu. Kenapa Papa gak larang dia pergi?"
"Biarkan saja jika dia ingin liburan." Seraya menyilangkan kakinya, Gerald kembali sibuk pada gawainya.
"Gak bisa, dong, Pa. Aku butuh bantuan untuk ngurus perusahaan. Masa iya Arfi liburan saat genting begini?"
"Sudahlah, biarkan saja," jawab Gerald malas. Lalu lelaki itu kembali menatap sang putra yang masih berdiri di depannya.
"Arfi hati-hati, ya. Hubungi Papa jika di sana kamu kekurangan apa pun."
Arfi tersenyum dan mengecup dua jarinya. Mengulurkan ke arah Gerald seraya berkata.
"Hasta la vista, Dady. Aku mencintaimu."
Lelaki itu menaikan ranselnya sembari mengedipkan sebelah mata ke arah sang Kakak. Arfan tersenyum kecut, mendesis geram melihat kasih sayang sang Papa yang jelas terlihat berat ke Arfi.
"Enak sekali menjadi anak bungsu. Bahkan dia tidak terbebani apa pun dan malah liburan di saat genting begini," rutuk Arfan sesaat setelah Arfi pergi.
Gerald terbahak, ia menurunkan satu kakinya dan menatap sang anak.
"Biarkan dia liburan ke Rusia. Setidaknya pergerakan kita tidak akan tercium oleh Ardan. Lebih baik Arfi tidak di sini, dan tidak di sisi Ardan. Agar dia tidak bisa menusuk di dua arah seperti kemarin."
Arfan tersenyum sinis, "bagaimana Papa bisa tau jika dia tidak kembali ke sana?"
Gerald mengeluarkan ponselnya, menelpon seseorang yang dia suruh mengecek penerbangan sesaat setelah Arfi mengatakan ingin liburan.
"Siap, Tuan," jawaban itu langsung terdengar setelah panggilan terangkat.
"Katakan, apa ada penerbangan atas nama Arfi ke Rusia jam tujuh malam ini?"
"Dari yang saya periksa, terdaftar Tuan Arfi Erlangga akan berangkat dari Bandara International menuju Bandara Sheremetyevo pukul tujuh malam nanti."
"Lalu?"
"Sebuah kamar hotel president suite atas nama Tuan Arfi sudah di booking di kota Moskwa, Tuan."
Gerald tersenyum ke arah Arfan, sengaja dia meloudspeaker perkataan sang bawahan agar anaknya itu mendengar.
"Kamu sudah dengar? Berperang melawan Ardan membuat Papa lebih teliti, Arfan."
Di luar sini ada seulas senyum yang tercetak di bibir tipis lelaki berambut pirang itu.
"Dan menjadi sekutu Ardan selama bertahun-tahun. Membuat aku lebih lihai dalam bergerak."
Arfi mendesah, memakai kacamatanya yang sempat ia buka.
"Baiklah, urusanku telah selesai. Rusia, aku datang."