
Tajam tatapan tua itu mengikuti arah pandang Hazel. Menilik ke balkon kamar putra tertuanya. Terlihat Ardan tengah menidurkan putra tirinya, tulus perbuatannya tampak jelas dari sikap Ardan selama ini.
Lantas, tatapan mata Gerald kembali ke arah sang menantu.
"Hazel Nazha."
"Ya?"
"Jika saya boleh bertanya, apa yang membuatmu mau menikahi Ardan?"
Bibir mungil itu melengkung, berderaikan senyum yang menawan.
"Lucu jika mengingat itu. Tapi Mas Ardan membayar saya 200 juta untuk melahirkan seorang anak buatnya."
Gerald ikut tertawa, ia menggelengkan kepala dengan jari yang memijat pangkal hidungnya.
"Benar-benar anak itu, ada saja caranya untuk memiliki apa yang diinginkannya."
Hazel tertawa terbahak-bahak, geli mengingat bagaimana awal kisah mereka. Diikuti oleh Gerald yang ikut terkekeh melihat gadis itu tertawa dengan semringah.
Samar kekehan dua orang di bawah sana terdengar oleh telinga Ardan. Lelaki itu menoleh ke arah bawah, seketika dahinya mengernyit. Demi apa dia bisa melihat Gerald tertawa selepas itu dengan orang asing? Terlebih dengan wanita yang pernah ditentangnya dulu.
Entah apa yang mereka ceritakan berdua, tetapi terlihat keduanya sangat asyik dengan bahasan mereka berdua. Ardan meletakan tubuh anaknya di atas kasur. Cepat langkahnya berjalan ke arah kamar sang mama.
Aulia tengah duduk melamun di atas kasurnya, kosong tatapan mata wanita tua itu memandang lantai kilap kamarnya.
"Ma, ikut Ardan sebentar!" Tak menunggu jawaban sang Bunda, lelaki itu langsung menarik tangan keriput tersebut.
Pelan ia menggandeng Aulia menuju balkon lantai dua. Tempat yang paling pas untuk melihat pemandangan langka tersebut.
Tatapan kosong wanita beranak empat itu langsung tertuju ke arah bawah saat mendengar Gerald tertawa.
Genggamannya di tangan Ardan mengerat, seperti ada amarah yang sedang ia alirkan. Ardan terkejut, untuk pertama kalinya Aulia menunjukkan emosinya selain pada bayangan Arsy.
"Ardan, siapa wanita muda itu? Kenapa dia bisa buat Gerald tertawa. Katakan! Apa wanita itu mama muda kalian?" tanya Aulia memandang Ardan penuh amarah.
Ardan menggeleng, bibir tipisnya mengembang dengan indah.
"Tentu saja bukan. Apa Mama percaya bahwa Papa akan menikahi wanita selain Mama?"
Aulia menggeleng, matanya kembali menatap dua orang yang sedang bercengkerama di bawah sana. Terlalu asyik berdua sampai mereka tidak sadar bahwa hampir seluruh mata penghuni rumah, tengah memperhatikan mereka.
"Jadi dia siapa? Mengapa dia bisa membuat Gerald tertawa seperti itu?"
"Dia Hazel, Ma."
"Hazel?"
Ardan mengangguk dan mengalungkan satu tangannya di pundak Aulia. Mengecup pipi wanita tua itu lembut.
"Istriku. Ibu dari dua anakku."
"Ardan, kamu sudah menikah?" tanya Aulia menatap Ardan lekat.
"Iya. Dia adalah menantu Mama. Sangat cantik, bukan?"
Aulia tersenyum sangat lebar, menarik wajah Ardan dan mengecup wajah itu berulang kali.
"Kenapa tidak pernah mengatakannya pada Mama? Mama ingin turun dan ikut bercerita dengannya."
Aulia melepaskan dekapan Ardan, ia ingin pergi, tapi badannya tertahan dengan Ardan.
"Ini sudah terlalu malam, Ma. Kita masih banyak waktu untuk bertemu dan bercerita bersama. Mama beristirahatlah, biarkan malam ini Papa puas bercerita dengannya, ya."
"Tapi—"
"Ma, bangunlah besok pagi dan temui menantumu, ya."
Aulia menolehkan pandangannya ke arah bawah, melihat Gerald dan Hazel yang masih seru dengan cerita mereka, membuat kepala Aulia mengangguk lemah.
Ia ikuti keinginan Ardan dan berjalan memasuki kamarnya. Merebahkan badan dan Ardan senantiasa mengurusinya. Menaikan selimut sampai dada untuk membuat Aulia tetap hangat.
Salah satu tangannya meraih pipi Ardan, tersenyum sendu dengan tatapan mata yang memandang penuh cinta.
"Tidurlah, Ma."
"Selamat atas pernikahan kalian, Ardan. Katakan kamu ingin hadiah apa dari Mama?"
Seketika senyum di wajah garang itu menghilang, ia ambil tangan Aulia yang menyentuh wajahnya. Meletakan lembut di atas perut wanita yang telah melahirkannya.
Perlahan mata Aulia mulai terpejam, bersamaan tarikan napasnya yang terlihat tenang dan beraturan.
Ardan mengecup dahi ibundanya lembut, lantas dia berbisik pelan di telinga kanan Aulia.
"Bangunlah dengan kesadaran akan dunia yang sudah berubah, Ma. Aku tak mengingkan apapun selain kesadaran Mama."
"Berikan aku kesembuhan Mama. Selain itu aku tak ingin hadiah apapun. Kumohon, Ma. Berjuanglah untuk kita semua."
...***...
Arfi masuk ke dalam kamarnya dengan seringai yang menghiasi wajah tampannya. Dia dekati Khadijah yang tengah membaca buku di atas kasur.
Lelaki itu menjatuhkan badan di sebelah kasur, lantas ia menatapi wajah Khadijah yang tengah serius membaca buku tentang akuntan.
"Sayang," panggilnya lembut.
Gadis itu hanya menoleh, lantas satu tangannya mengelus pipi Arfi.
"Kenapa?" tanyanya.
"Boleh, nggak kalo aku minta kamu ngelakuin sesuatu?"
"Hem, apa?"
Arfi menyerahkan lima bungkus test pack kehadapan Khadijah. Dahi mulus gadis itu sempat mengernyit saat melihat benda-benda itu. Lantas, sepasang binar indahnya kembali menatap ke arah sang suami.
"Lakukanlah!" perintah Arfi.
Tak banyak membantah gadis itu bangkit dan membawa semua benda itu ke dalam kamar mandi. Degup jantungnya berdebar tak karuan. Ada perasaan yang sangat sulit dijelaskan. Dia takut jika hasilnya tak sesuai keinginan lelaki berambut pirang tersebut.
Arfi mengetuk dua jarinya yang terletak di atas meja. Menghitung detik demi detik dengan jantung yang berdebar tak karuan. Sesekali ia melihat ke arah jarum jam, kenapa lama sekali istrinya belum keluar?
"Sayang?" panggilnya tak sabar.
"Wait a minute, Hubby!" teriakan dari dalam membuat bibir sedikit kemerahan milik Arfi melengkung.
Makin lama, makin berani gadis itu mengucapkan kata-kata cinta.
"Kenapa lama sekali?"
"Kamu memberikannya sebanyak ini!"
"Aku masuk, ya!"
"Ya sudah!"
Arfi terkekeh pelan, bahkan saat ini dia sama sekali tidak malu-malu lagi. Arfi menarik napasnya lantas badan tinggi itu bangkit.
Ada perasaan senang saat gadisnya menjadi lebih terbuka. Namun, ada perasaan yang tak rela juga melihat tingkah polosnya berubah.
Suara derit pintu membuat kepala Khadijah menoleh, sebuah tangan langsung merangkul bahu gadis itu.
"Aku deg-degan, Arfi," katanya menatap lelaki yang tengah merangkulnya itu.
"Mana? Aku ingin merasakannya."
Satu tangan Arfi menyentuh dada kiri Khadijah, gadis itu memainkan bibirnya.
"Modus kamu!" Lembut gadis itu mengempaskan tangan kekar suaminya.
Arfi terkekeh pelan, "kenapa, sih? Lagian udah sering juga."
"Aku benar-benar deg-degan, Hubby. Bagaimana jika hasilnya tak sesuai keinginanmu nanti?"
Arfi meraih wajah istrinya, membenarkan beberapa helai rambut yang berserakan di wajahnya.
"Hei, aku tak pernah memaksamu untuk hamil segera. Aku memintamu melakukan ini hanya karena penasaran dengan tingkahmu tadi siang."
Gadis itu memanyunkan bibirnya, ia melepaskan tangkupan tangan Arfi dan berjalan ke arah tempatnya merendam test pack.
Sepasang binar itu mengkilap saat satu gasir yang lainnya menunjukkan kehadirannya samar, perlahan makin terlihat jelas. Dua! Garisnya ada dua!
Gadis itu berteriak histeris, dia menatap Arfi dengan memegang salah satu test pack di sana. Melihat raut wajah sang istri Arfi tau apa hasilnya.
Dia mendekat dan menarik tubuh semampai itu ke dalam dekapan.
"Selamat, Sayang." Bibir kemerahannya berulang kali menciumi kepala Nigar.
Gadis itu menyerahkan alat itu ke tangan Arfi, awalnya perasaan dia sangat senang. Lalu, saat melihat benda itu sekilas bayangan masa lalu terputar, benda yang sama yang dulu pernah dia temukan di lantai kamar adiknya.
Sontak Arfi melemparkan benda itu kasar. "Apa ini?" bentaknya kasar.
Sedikit kebingungan Khadijah melihat perubahan raut wajah suaminya. Terdiam, dia tak tahu apa yang membuat Arfi marah.
"Jauhkan benda itu dariku!" Lelaki itu langsung melengos keluar.
Meninggalkan Khadijah yang masih kebingungan.