For My Family

For My Family
156



Sasy mengomel, menggerutu kesal, kedua tangannya terasa hampir patah. Di hari Minggu bukannya bisa tidur lebih lama, kini dia disuruh belanja ke pasar.


Menyelamatkan hobinya, berusaha membujuk sang mama agar tidak mengoyak kertas-kertas gambarnya, malah kini tidurnya yang tersita.


"Sebenarnya aku ini anak mama bukan, ya Allah?" teriaknya dengan mengangkat kedua tangan menatap langit.


Suara kekehan seorang lelaki mengalihkan perhatian belia itu. Di tengah jembatan dekat pasar, Ferdi berdiri manyandarkan punggung pada pagar.


Suasana hati Sasy berubah, rentetan omelan dan juga rutukkan kekesalan berubah keceriaan.


Gadis itu menghampiri, mendekati Ferdi yang tengah meninum jusnya.


"Kakak kok di sini?" Dia meletakan barang belanjaan di lantai jembatan. Lantas tangannya mengkibas-kibas, pegal.


"Hem." Ferdi menunjuk ke arah belanjaannya mmenggunakan pandangan.


"Wah, Kakak belanja sendiri?"


"Jadi siapa yang mau belanjain?"


"Adik atau ibu, gitu?"


"Mereka gak di sini. Mereka di ibu kota."


"Jadi Kakak di sini tinggal sama siapa?" tanyanya panjang lebar.


"Sendiri."


"Weh, enak dong."


"Apanya yang enak?" Ferdi melirik, satu tangannya menyentuh pucuk kepala Sasy, lantas badan itu berbalik. Melihat ke arah air di bawah jembatan.


"Enak, dong. Gak ada yang marahin, gak ada yang ngerusuhi. Mau ngapain aja bebas."


"Begitu menurutmu?" tanya Ferdi menoleh.


"Tentu saja. Gak kayak aku, tiap Minggu dijeriti mulu. Sasy nyucilah, Sasy belanjalah, Sasy dan Sasy lah."


Ferdi tersenyum, ia meraih sebotol jus dari dalam kantung belanjaan dan memberikan ke pada sang belia.


"Percayalah, saat dewasa kamu akan merindukan itu semua."


"Iya. Sebelum rindu sudah muak duluan sampek muntah." Kesusahan, gadis itu mencoba membuka penutup botolnya. Sedangkan mulut terus meracau, mengikuti ucapan sang mama yang selalu memerintah.


Ferdi menghela napas, ia mengambil alih botol itu, lantas membuka penutupnya dengan cepat.


"Nikmati aja dulu. Karena nanti saat kamu rindu, sekeras apa kamu berusaha menciptakan suasana yang sama. Masa-masa itu tidak akan pernah terulang lagi." Kosong, iris di balik lensa itu menatap ke arah depan.


Cahaya kemerahan yang perlahan menjadi terik mentari yang menghangatkan. Jelas tergambar beriringan dengan mega yang mulai menampakkan wajah.


'Jika waktu bisa terulang. Ingin kuungkapkan cinta itu berulang-ulang. Sampai Arsy muak dan dia tidak akan meninggalkan,' gumamnya dalam hati.


Tangan lelaki itu menyodorkan minuman ke depan bibir. Menenggaknya dengan angan yang kembali mengawan menembus batas angan.


Selama ini dia selalu terlihat tersenyum dan tertawa. Siapa yang menduga itu hanyalah sandiwara agar lukanya tidak terasa. Nyatanya percuma. Karena luka tidak akan punah hanya karena lupa. Dia akan sembuh dengan waktu, walau kadang tidak tahu kapan itu.


Ferdi mendesah panjang, entah kenapa dengan hadirnya Sasy semua tabir kenangan kelam terbuka.


Sasy memandangi wajah tampan itu lamat-lamat. Iris hitamnya mengkilap, bukan hanya terkena pias mentari, tetapi juga terlapisi genangan kaca yang menyakiti.


Gadis itu berdehem, pelan. Satu tangannya menyibak rambut ke balik telinga.


"Jadi, Kakak masak, nyuci, sendiri?" tanyanya lagi.


Mata lelaki itu melirik, ia kembali memutar badan dan menumpuhkan siku pada pagar.


"Jadi siapa lagi yang akan mengerjakannya?"


Gadis itu menggulum bibir, malu-malu ia melirik ke arah Ferdi.


"Pacar?" jawabnya malu.


"Bukannya kamu tau aku single?"


"Ish ... single, kan belum tentu jomlo."


"Terus?"


"Hanya belum ketemu jodoh."


Ferdi tertawa, kepala itu menggeleng lemah.


"Mungkin aku sudah tidak memiliki jodoh," jawab Ferdi setengah bercanda.


Kedua alis gadis itu bertaut.


"Kok gitu?"


"Iya, mungkin jodohku udah ketikung orang."


"Ish, mana mungkin. Yang namanya jodoh itu tidak akan pernah ditikung. Apalagi tersesat. Namanya juga jodoh, pasti akan bertemu suatu saat?"


"Oh, ya. Kapan?"


Sasy menyeringai, ia mengelus lengan Ferdi yang sedang tersilang di perut.


"Sabar, Kak. Aku sedang mendewasakan diri," lirihnya dengan membuang pandangannya.


"Kamu mengatakan apa?" tanya Ferdi pura-pura.


"Pasti Kakak ada jodohnya, kok."


"Ya ... jika kamu baik hati. Boleh kenalin aku dengan Tantemu atau pun teman Kakakmu. Mungkin aja ada yang cocok," jawab Ferdi lembut.


"Kok tante-tante, sih?"


"Jadi?"


Sasy meletakan jusnya ke dalam kantungan belanjaan. Lalu kedua tangannya mengusap-usap di celana yang ia kenakan.


Satu tangannya terulur, sedikit bingung, Ferdi menyambutnya.


"Kenalin, Kak. Aku ... jodoh masa depan Kakak." Wajah gadis itu bersemu, ia menarik tangannya dan berlari. Malu.


Sudah beberapa langkah menjauh, ia tersadar dan kembali. Mengambil kantung belanjaannya dan berlari ke arah yang berbeda.


Ferdi terbahak, tawanya selalu pecah melihat ulah anak remaja. Bahkan yang ini pun lebih parah dari pada Arsy dulu. Terang-terangan, bahkan dia mengucapkan cinta berulang-ulang.


Seakan cinta adalah ungkapan tanpa perasaan. Bisa diucapkan dengan mudah, setelahnya lari begitu saja.


Ferdi mengacak rambutnya. Memerhatikan badan itu yang semakin mengecil, kecil dan hilang di antara keramaian pasar.


"Dasar."


***


Sedikit bersiul lelaki berkacamata itu memasuki rumah Ardan. Suasana hatinya menjadi lebih baik setelah bertemu dengan Sasy. Entah kenapa? Dia pun tidak tahu pasti.


"Selamat siang, Yena." Lelaki itu membungkuk, menyapa Yena yang ada di dalam dekapan istri sahabatnya.


Tangan kekarnya meraih, memindahkan bayi mungil itu ke dalam dekapannya.


"Mana Ardan?" tanyanya pada Hazel.


"Tau, tuh. Tidur mulu," jawabnya sebal.


Ferdi tertawa, ia membawa Yena ke dalam rumah. Berjalan memasuki kamar sang sahabat.


Lelaki berkacamata itu mengetuk sebelum masuk. Sudah pasti tidak akan ada jawaban. Dia hafal tabiat Ardan jika pikirannya mulai lengang.


Tertidur dan akan tertidur terus. Membalas dendam atas istirahatnya yang tersita selama bertarung dan berperang dalam siasat bisnisnya.


Lelaki itu mendesah, satu kakinya menyenggol kaki Ardan. Lelaki yang tertidur tanpa kaus itu bergumam.


Mengambil posisi untuk kembali terpejam.


Ferdi tertawa, ia meletakan Yena di sebelah Ardan. Lantas ia menyenggol badan Ardan lagi.


Lelaki itu berdecak, mengusap-usap wajah kesal.


"Ish, Hazel! Aku mau tidur!"


Ferdi terdiam, memberikan jeda. Setelah ini dia pasti akan menarik bantal di sebelahnya.


Dugaannya tidak salah, lelaki itu mulai meraba-raba sebelahnya. Saat meraih tangan Yena, ia ingin menarik.


Lantas mata itu terbuka, melihat ke sebelah. Yena?


Lelaki itu terduduk, ia menoleh. Sementara sahabatnya hanya terkekeh. Kali ini ada cara membangunkan Ardan tanpa harus bertengkar dan membuat seisi ruangan gaduh dan berantakan.


Ardan mendengkus, kesal. Ia mengusap kepalanya kasar.


"Ah, caramu bahaya. Gimana kalo aku sampek narik tangan Yena, tadi?" Dia bergeser, menepi dengan kedua tangan mengusap wajah.


"Nyatanya kau masih sadar, bukan?"


Ardan memijat pangkal hidungnya, pusing, kepalanya mulai berdenyut, nyeri.


"Bagaimana? Kau sudah selesaikan?" tanya Ardan seraya mendonggak. Melihat ke arah Ferdi.


"Hanya tinggal menunggu reaksi," jawab Ferdi lembut. Ia menjatuhkan badan di sebelah Ardan dan kembali mendekap bayi mungil cantik itu.


"Kau bersiaplah, Ferdi. Kemungkinan terburuknya bisa saja terjadi."


"Aku yakin kau tidak akan membiarkannya. Perusahaan itu, pasti akan menjadi milikmu," kata Ferdi menyamangati.


"Milik kita." Lelaki itu kembali merebahkan badan. Melipat kedua tangan ke belakang kepala untuk dijadikan bantal.


Mata tajamnya menatap langit-langit kamar. Lalu, teralih pada Yena yang ada dipangkuan sang teman.


Bayi kecil itu bermain dengan jari-jari mungilnya. Menggigit-gigit sampai liurnya ke mana-mana.


Bibir tipis itu ditarik, membentuk lengkungan yang sangat indah.


Satu tangannya menarik jemari Yena, lalu mengecup tangan mungil itu.


"Doakan Papa, Sayang. Agar Bundamu tidak akan pernah cemas lagi tentang apa pun. Tentang Kak Surya dan juga dirinya yang asing di tengah Erlangga."


Ferdi melirik ke arah Ardan. "Amin," katanya lembut. "Dan kau Yena, cepatlah besar agar kita bisa menikah."


Ardan mendesis, ia menarik Yena dari dekapan tangan Ferdi.


"Dasar pedofil!"