
Suara deritan pintu mengalihkan perhatian lelaki berkulit sawo matang itu. Seorang wanita tersenyum lembut, melepaskan masker seraya berjalan mendekati dua lelaki itu.
"Selamat Pak Ardan, anak Anda perempuan."
Ucapan syukur keluar dari bibir lelaki itu. Senyum yang terlihat begitu teduh, kedua tangan kekar itu mengusap wajah. Ada kelegaan yang perlahan mengisi relung di dalam dada.
"Selamat, Kawan." Lelaki berkacamata itu merengkuh bahu Ardan, memberikan selamat sekaligus kekuatan untuk karibnya tersebut.
"Thank's, Ferdi. Terima kasih, Dokter," ucap Ardan ke arah wanita berjas putih yang masih berdiri di depannya.
"Sama-sama. Anda bisa menemui bayinya di ruang inkubator, dan ibunya akan kami pindahkan ke ruang perawatan setelah semuanya selesai."
Ardan mengangguk, perlahan ia bangkit dan berjalan untuk membersihkan diri. Bersiap untuk mengazani putri pertama mereka.
Nanar, binar itu menatap penuh ketakjuban. Ada selarik senyum yang terus menghiasi wajah tampan itu ketika mata bisa menatap hasil buah cinta mereka.
Seorang perawat menyerahkan bayi merah itu ke dalam dekapan Ardan. Hidung mancung itu mendarat di dahi mungil malaikat kecilnya tersebut.
"Selamat datang, Sayangku," lirih Ardan lembut.
Perlahan ia mulai mendekatkan bibirnya ke telinga malaikat kecilnya. Suara berat itu melafazkan azan, memperkenalkan darah kecilnya dengan nama Tuhan.
Perlahan buliran demi buliran lolos begitu saja. Ada rasa haru dan juga bahagia yang tak tahu bagaimana menjelaskannya. Yang pasti, wajah yang sangat kental seperti Timur Tengah itu telah menumbuhkan cinta yang luar biasa di hati pria arogan ini.
Kekuatan kedua yang hadir dalam hidupnya dan juga, alasan terbesar yang akan mengikat ibunya agar tetap berada di dekapan.
Ardan menghela napas berkali-kali, menatapi pintu di depan ruangan Hazel. Ia menyeka wajah, lalu tangan membuka kenop pintu perlahan.
Wanita itu berbaring setengah duduk di atas ranjangnya. Wajahnya masih terlihat sangat pucat, dengan rambut yang terlipat acak-acakan.
Ardan tersenyum lembut, perlahan ia mendekat dan langsung memeluk bahu mungil itu erat.
"Bagaimana kabarmu, Sayang?" tanya Ardan berbisik.
Wanita itu hanya diam, tak menjawab dan tak membalas dekapan Ardan.
"Syukurlah kamu baik-baik saja, dan juga putri kita." Ardan menciumi kepala wanita tersebut. Tak peduli bau keringat atau apa pun itu.
"Mana dia, Mas?" Serak suara itu bertanya.
Ardan melepaskan dekapannya, menangkupkan tangan di wajah pucat itu.
"Masih di dalam inkubator, Dokter Abel bilang, dia inap di sana dulu selama 24 jam. Nanti akan di bawa ke sini jika asimu sudah keluar."
"Emh," jawabnya lesu.
"Kenapa? Kamu khawatir? Tenanglah, aku akan menjaganya, Sayang. Menjagamu juga."
"Tentu kamu harus menjaganya, dia putrimu. Tapi Mas gak perlu lagi menjagaku dan Surya."
Seketika Ardan menatap mata berwarna madu itu lekat. Masih seriuskah dia dengan keinginan itu.
"Karena setelah nifas, Mas harus menjatuhkan--"
Ucapan itu terhenti saat Ardan mencium bibir mungilnya. Mensesepnya lembut. Hazel menolak dada bidang Ardan.
Plaak ....
Satu tamparan mendarat di wajah tampan itu. Sedikit menahan gejolak dari dalam diri yang semakin membara besar.
"Tampar aku lagi, Hazel. Pukul, bunuh, atau apa pun itu. Lakukan sesukamu padaku, tapi selamanya aku gak akan pernah menjatuhkan talak padamu."
Hazel membuang wajahnya ke sisi kosong. Terdengar desahan panjang keluar dari mulut lelaki itu. Ardan berpindah ke sebelah Hazel.
Menarik kepala wanita itu dan menjatuhkannya di atas bahu.
"Maaf, Hazel. Apa pun yang membuatmu begini, aku minta maaf." Lembut usapan tangan kekar itu membelai rambut cokelat yang masih acak-acakan.
"Maaf, karena peperangan keluargaku, kamu yang terus terkena imbasnya. Demimu, demi anak kita, aku akan berusaha untuk mengalah."
Wanita itu masih terdiam, menatapi jendela kaca ruangannya. Perlahan genangan kaca melapisi netra. Memburamkan pandangan, tetapi malah menjernihkan bayangan.
Bayangan lelaki itu yang terlihat intim, menggoda dengan mesra. Sakit rasanya, jika mengingat Ardan juga melakukan hal yang sama pada wanita lain.
Punggung tangan putih itu menghapus sudut dagu ketika satu air lolos dari mata indahnya.
"Kamu kenapa, Sayang? Apa yang Arfan lakukan?" tanya Ardan lembut.
Hazel hanya diam, mendengar nama itu membuat lukanya semakin parah.
"Akan kubalas rasa sakitmu, Sayang. Katakan padaku, Hazel. Apa yang dia lakukan? Akan kubalas seribu atau sepuluh ribu kali lipat sakitnya, aku bersumpah."
Hazel memalingkan wajahnya, menatap Ardan dengan lolosan air yang terus menjelajahi wajah.
Satu tangan Ardan tertangkup di wajah pucat itu. Mengelus pipi chubby itu dengan ibu jarinya.
"Katakan, Sayang. Apa yang dia lakukan?" bujuk Ardan lagi.
"Ceraikan aku, Mas," lirih Hazel.
"Sssttt ...." Ardan menempelkan dahinya pada dahi Hazel. Menangkupkan kedua tangan di pipi wanita itu.
"Kata cerai tidak sesederhana itu, Hazel. Pernikahan bukan seperti pacaran, yang kamu bisa ucapkan pisah saat sedang marah. Lalu, kembali saat emosi mulai mereda."
Ardan menautkan kedua bola mata mereka, lensa berwarna madu itu terus mengembunkan lara. Lolos begitu saja saat kelopak matanya terpejam.
"Kamu tidak bisa mengatakan cerai saat sedang emosi, Sayang. Setelah itu menyesal, lalu kembali rujuk? Pernikahan tak sebercanda itu, Hazel."
"Tapi aku tidak ingin pernikahan ini terus berlanjut, Mas."
"Kenapa?" tanya Ardan lembut.
Wanita itu diam, punggung tangannya menyeka wajah yang terus kuyu oleh cairan air mata.
"Katakan, Hazel. Kenapa?"
Tak ada jawaban, seperti biasa, dia akan memilih untuk membenam luka.
"Tidak bisa seperti ini terus, Hazel. Kita harus saling terbuka, katakan masalahnya apa, kita cari solusinya sama-sama. Pernikahan berjalan bukan untuk sehari atau dua hari saja, Sayang. Tak bisa mengedepankan egomu saja. Ada saatnya kita harus saling terbuka, menyelami masalah yang ada, lalu berbenah. Bukan berpisah."
Tangisan wanita itu pecah, terisak dalam. Perlahan badannya mulai bergetar, melepaskan sesenggukkan yang kian menyesakkan.
Ardan mendesah panjang, ibu jarinya masih terus mengelus pipi putih itu lembut. Memberikan ruang untuk wanita itu melepaskan bebannya.
"Cium aku jika kamu sedang kalut, Hazel. Peluk aku jika kamu butuh sandaran, jangan merasa kuat, karena lemah dan manja kadang diperlukan. Agar kamu tahu, ada beban yang tak selalu harus kamu pikul sendiri."
Wanita itu menatap wajah Ardan lekat. "Aku benci kamu, Mas. Benci!" sungutnya kesal.
Ardan memejamkan matanya, kepalanya mengangguk pelan.
"Iya, benci saja aku, Sayang. Pukul aku, tampar, dan tendang. Apa pun itu, lakukan saja bahkan kamu mau bunuh juga gak apa-apa."
Plaaak ....
Hazel menampar pipi lelaki itu dengan keras. Ardan hanya terdiam, detik kemudian bibirnya terkembang lebar. Tersenyum lembut dengan tamparan yang terasa menyakitkan.
Wanita itu menarik napasnya dalam, kembali menangis dengan kedua tangan yang memeluk bahu lelaki itu. Mengecup bibir tipis itu berkali-kali.
"Aku benci kamu, Mas! Aku benci," ucapnya lagi.
"Iya, Sayang. Aku tau."
"Kenapa kamu tidak pergi saja? Tinggalkan aku, aku tak mau sakit hati lagi. Terlebih jika harus melihatmu bermesraan dengan wanita lain."
Ardan terdiam, ia menarik bahu Hazel. "Maksudnya?" tanya Ardan bingung.
"Kamu menggoda wanita lain, Mas. Aku benci kamu, aku benci!"
Ardan menghela napasnya, meraih kepala wanita itu, lalu mengecup dahinya lembut.
"Demi Allah, Hazel. Kamulah satu-satunya yang kupilih untuk menjadi istriku. Aku tak pernah berpaling, aku tak pernah mencari yang lain."
"Pembohong!" sungutnya kesal.
"Aku melihatnya, Mas menggoda, berbisik dan mengembus telinga Nana. Apa maksudnya?"
"Nana?" tanya Ardan bingung.
"Iya, Nana."