For My Family

For My Family
206



Sejak dari pagi pandangan Gerald kosong. Ia tidak mendengarkan sedikit pun yang sedang dijelaskan oleh para bawahan.


Pikirannya terus melayang, mengingat Yena yang sempat bermain bersamanya tadi pagi.


Senyumnya, suaranya, jernih bola matanya selalu terbayang. Perlahan rasa sayang itu menjalari kalbu. Dia rindu, walau baru sebentar saja berpisah.


"Pa," panggil Arfan dan Gerald mengangkat alisnya.


"Papa baik-baik saja? Aku lihat Papa terus melamun?"


"Papa baik-baik saja."


"Benarkah? Apa Ardan membuat Papa marah lagi? Gak biasa Papa melamun sepagi ini dirapat bulanan perusahaan?"


Gerald mengibas satu tangannya, kembali menatap ke depan. Seperti sedang memerhatikan apa yang sedang dipresentasekan anak buahnya.


Padahal pikirannya mulai mengacau, selalu terbayang wajah bayi itu. Perlahan, rindu yang dirasakan semakin tidak tertahan.


Gerald bangkit, membuat seluruh pandangan peserta rapat mengarah padanya.


"Maaf, rapat bulanan biar diketuai oleh CEO sementara. Saya masih ada urusan. Permisi." Tanpa mengucapkan kata lain Gerald langsung meninggalkan ruangan meeting.


Cemas, lelaki berkulit putih itu mengejar langkah sang Papa.


"Pa."


Gerald menoleh.


"Papa mau ke mana? Aku antar, ya. Papa baik-baik saja?"


"Papa baik-baik saja, Arfan. Hanya ingin pulang dan istirahat."


"Benar Papa baik-baik saja?" tanya Arfan cemas.


Karena biasa Gerald jarang sekali meninggalkan kantor saat jam kerja. Apalagi saat meeting bulanan mengenai perkembangan anak-anak perusahan.


Rasanya Gerald agak berbeda dan sebagai anak dia mencemaskan sang papa.


Gerald tersenyum lembut menyadari raut wajah Arfan yang mencemaskan dirinya.


"Kembalilah ke ruangan. Meetting masih harus dilanjutkan."


Arfan hanya mengangguk, memerhatikan punggung Gerald yang terus menjauh. Berjalan keluar dari ruangan.


Satu tangan Arfan mengeluarkan ponsel. Mencoba menghubungi seseorang di seberang sana.


"Ya, Arfan?" tanya Sang istri sesaat setelah dia mengangkat panggilan.


"Ferla kamu masih di rumah?"


"Ya. Setelah memandikan putramu aku akan menjemput para putrimu."


"Sekalian ke rumah Papa. Nanti pulang dari kantor aku akan menjemputmu di sana."


"Eh, kenapa?"


"Aku hanya khawatir sama papa. Karena tidak biasa papa meninnggalkan kantor begitu saja."


...***...


Gadis bermata madu itu masih sibuk di dapur. Walau sudah ada pembantu Erlangga, tetapi sudah menjadi kebiasaan buatnya menyajikan makan siang.


Beberapa kali Bi Indri mencoba mengambil alih. Namun, Hazel masih bersikukuh memasak bersama sang adik.


Sampai dehemen suara seseorang menghentikan segela aktifitas para wanita di sana.


Beberapa pembantu Erlangga langsung berjalan ke arah kompor. Meminta Hazel untuk segera meninggalkan masakannya.


Sementara, kakak beradik itu hanya terdiam. Menundukkan pandangan ke bawah.


"Apa yang kalian lakukan?" Bariton suara itu membuat tangan Nigar gemetar.


"Sudah ada pengurus rumah tangga. Kalian tidak perlu melakukannya."


"Maaf, Pak. Tapi sebagai istri saya hanya ingin menyiapkan makanan untuk suami saya," jawab Hazel lirih.


Gerald menarik napas, lalu berkata. "Kemarilah!"


"Hah?" Hazel mendongak, melihat wajah Gerald yang berdiri di balik pantry.


Perlahan gadis itu mendekat, beberapa buah paper bag diletakan Gerald di atas pantry.


"Kemarin saya membelikan Pelin dan Percy mainan. Karena cucu saya juga bukan hanya mereka, saya belikan yang sama dengan yang mereka dapatkan."


Gadis bermata madu itu sempat terpaku. Kentara sekali perubahan sikap Gerald. Dia yang dulu bahkan sangat dingin dan tidak pernah peduli.


"Ini banyak sekali. Yena juga masih terlalu kecil untuk memainkan ini."


"Bukankah kau juga memiliki seorang putra?"


"Hah?" tanya Hazel kembali terkejut. "Sekali lagi terima kasih, Pak. Apa Anda mau meminum sesuatu?" tanya Hazel bingung.


Gerald hanya terdiam, memandamgi wajah Hazel dengan lekat. Setelah selama ini, baru kali ini dia melihat wajah sang menantu dari jarak yang sangat dekat.


'Pantas saja bayi Ardan sangat cantik. Ternyata istri Ardan juga secantik ini," gumam Gerald dalam hati.


Iris berwarna madu itu terlihat sangat jernih. Mengkilap. Memandangi Gerald dengan terheran-heran.


"Di mana dia sekarang?"


"Dia? Maksud Anda Yena?"


Gerald mengangguk.


"Dia di kamar, sedang tidur."


"Boleh saya mendekati dia?"


Cepat Hazel mengangguk, gesit gerakan tangannya membereskan paper bag itu. Membawanya ke lantai atas dan Gerald hanya mengikuti dari belakang.


Sedikit kesusahan gadis itu ingin membuka pintu. Gerald menarik kenop pintu dan membukanya sangat lebar.


"Terima kasih," kata Hazel tersenyum lembut.


Seperti biasa wajah tua itu tampak dingin dan tanpa ekspresi.


"Silakan, Pak. Dia di sana." Tunjuk Hazel ke tengah kasur.


"Boleh kalo saya bawa dia ke kamar saya?"


"Oh." Ibu dua anak itu segera mengambil tubuh sang bayi, sedikit menepuk bokongnya agar bayi cantik itu kembali pulas.


Memberikan ke tangan sang kakek dan bibir keriput itu mulai mengembang setelah melihat cucu cantiknya di dalam dekapan.


Meninggalkan kamar Hazel dan membawa Yena menuju kamar sang istri.


Hazel memandangi punggung berbalut jas tersebut menghilang di balik pintu, masih tampak gagah walau usia tidak lagi muda. Seulas senyum terbit di wajah cantiknya.


"Kadang hati seseorang itu misteri. Saat Mas Ardan yakin bahwa Pak Gerald menginginkan seorang putra. Nyatanya, dia malah luluh oleh seorang putri."


Di dalam sini Aulia langsung semangat saat melihat sang suami datang dengan Yena di dekapan.


Ia menutup majalah dan mengambil alih tubuh mungil Yena saat Gerald mendekati dirinya yang terduduk di atas ranjang.


"Gerald, kenapa kamu gak kerja?" tanya Aulia dan lelaki tua itu hanya mengecup dahi wanitanya lembut.


Sepasang mata itu menatap sang bayi, Aulia tersenyum dengan jari-jari yang menganggu sang bayi. Terkekeh sendiri saat melihat reaksi Yena yang memainkan bibirnya seperti sedang mengemut. Sampai lesung pipinya tercetak.


Lalu kepala itu menoleh, melihat Gerald yang ada di sebelahnya. Merangkul bahunya dengan sangat mesra.


"Lihat bibirnya, Gerald. Dia lucu sekali," kata Aulia dan Gerald hanya mengangguk.


Mata tuanya terus memerhatikan wajah Aulia. Entah kapan terakhir kali wanitanya bisa sebahagia ini. Bahkan saat anak Arfan lahir dia tidak bereaksi.


Perlahan genangan kaca melapisi netra. Gerald memeluk kepala Aulia dan berulang kali mengecup kepala sang istri.


"Kumohon kembalilah, Aulia. Kembalilah ke sisi kami. Aku merindukanmu, sangat merindukanmu, Istriku."


Gerald terisak, ada beban yang tidak pernah dia perlihatkan selama ini. Pada anaknya dan pada dunia.


Bagaimana juga, kehilangan teman satu-satunya bercerita membuat dia kelimpungan. Gamang menghadapi setiap permasalahan yang ada, sendiri. Di mana anak-anaknya mulai terpecah dan dia tidak tahu harus mengadu pada siapa.


Psikis sang istri yang terus memburuk, membuat beban yang dirasa semakin bertambah. Tak ada yang tahu, karena selama ini keotoriterannya lah yang dikenal sang anak.


Perlahan isakan yang ditahan kian mendalam. Gerald membenamkan wajah di bahu Aulia. Terseduh-seduh dan berusaha agar tidak larut dalam kesedihannya.


Tangisan itu terhenti saat sebuah tangan membelai kepalanya. Gerald mengangkat wajah, sang istri menatapnya dengan banjir air mata yang sama.


Mungkin dia masih tidak sadar, namun masih memiliki perasaan yang sama. Kekuatan akan sebuah rasa itu nyata. Tetap ada dua hati yang menangung duka, saat salah satunya terluka.


Bisa saja kesadaran Aulia tidak sepenuhnya. Namun, hatinya masih memiliki cinta yang sama.


"Kenapa menangis, Gerald?"


Bibir keriput itu tersenyum lembut, menarik tangan Aulia dan mendekap tubuh sang istri dengan erat.


"Karena aku masih sangat mencintaimu, Aulia."