
Iris pekat di balik lensa itu menatapi punggung gadis berhijab itu lamat.
Entah mengapa rasanya kali ini ia tidak ingin mengalah. Terlebih gadis itu adalah Khadijah.
Gadis baik dan salehah yang selalu menjaga dirinya. Entah itu karena duri yang berusaha ia lepaskan dari dalam diri. Pun karena memang kewajiban sebagai muslim.
Ferdi mendesah panjang, ia meraih pangkal hidung mancungnya, memijat lembut.
Bagaimana dia harus bersikap? Dia pusing menghadapi ini, takut jika menyakiti, takut jika hubungannya dan Ardan akan menjauh karena masalah ini.
Ferdi menghempaskan badannya di sofa ruangan direktur. Mencoba menenangkan pikirannya yang terus berkecamuk karena kejadian kala itu.
Desahan panjang kembali terdengar dari bibir itu.
"Ya Tuhan, bisakah aku berjuang untuk cinta ini? Atau kulepaskan saja dia untuk masa lalunya?" tanya Ferdi getir.
"Hati, kenapa kamu harus jatuh kembali dalam cinta yang tak teraih?"
...***...
Ardan menyampakkan jasnya di atas sofa kamar. Dahinya mengerut ketika melihat dua anaknya berada di kasur, tetapi tidak ada yang menjaganya.
Perlahan langkah itu mendekat, bibir tipisnya ditarik, sampai membentuk sebuah senyuman yang manis.
Melihat Surya tengah terlungkup di sebelah Yena dengan dagu yang terpangku pada dua telapak tangan mungilnya. Menatap lamat pada bayi cantik yang tengah terpejam itu.
"Surya lagi jaga adik, ya?" tanya Ardan lembut.
Bocah itu menatap Ardan, lama, karena dia butuh waktu untuk mencerna.
Ardan tertawa, menarik badan Surya ke atas pangkuannya. Mendekap bocah lelaki tersebut dengan tatapan tertuju pada Yena.
"Ini, disebut adik. Adik Yena," ucap Ardan seraya membelai wajah putih putrinya.
Surya mendongak, melihat wajah Ardan dengan mata bulatnya. Masih mencerna apa yang diucapkan papanya tersebut.
Bayi kecil itu bereaksi, mulai merengek, menangis sampai membuat wajah putihnya memerah.
"Hazel!" teriak Ardan.
"Ya." Suara itu terdengar dari balik pintu kamar mandi.
"Yena menangis," sahut Ardan lagi.
"Tolong gendong sebentar, Mas. Aku belum selesai mandi."
Ardan melirik ke arah Surya, lalu tatapan terarah pada Yena. Bukannya tidak mau menggendongnya, ia takut jika Yena kenapa-napa.
Terlebih, dia tidak pernah menggendong bayi sebelumnya.
"Mbok Darmi ke mana?" tanya Ardan lagi.
"Aku rasa beli pampers Surya," sahutan dari dalam membuat Ardan mendesah panjang.
Ia kembali menatap Surya yang berada di dalam dekapan. Bingung, bagaimana jika tulang Yena patah karena salah menggendongnya? Pikirnya.
"Surya, bagaimana cara menggendongnya? Papa bingung kalo ngangkat dari bawah," ucap Ardan pasrah.
Lelaki itu mengacak rambutnya, memindahkan Surya ke atas kasur. Lantas tangan besarnya meraih bayi itu. Gemetaran, terlebih saat tangisan itu semakin lantang.
Pelan, jari-jari kekar itu menelusup ke bawah badan mungil sang bayi. Perlahan, tangannya menggeser Yena, tetapi takut untuk menganggkatnya.
Satu persatu keringat membasahi pelipisnya, terlebih saat badan bayi telah sampai di tepi kasur. Haruskah dia mengangkatnya begini?
Lalu kepalanya? Pikir Ardan bingung.
"Ardan," panggilan itu membuat Ardan geram. Ia sedang konsentrasi pada bayinya, seketika keberanian yang sedang ia kumpulan buyar begitu saja.
"Kenapa?" tanya Ardan ketus.
"Bisa kamu keluar? Aku ingin bicara."
"Masuk saja! Hazel lagi di toilet."
Ferdi membuka pintu kamar sahabatnya itu. Alisnya menaik sebelah ketika melihat posisi Ardan yang berlutut di bawah kasur, dengan kedua tangan tengah memegang bayinya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Ferdi bingung.
"Menurutmu?" sengit Ardan.
"Anakmu menangis, angkat dia, Ardan."
"Caranya?"
Ferdi terdiam, perlahan ia mendekat.
"Masukan kedua tanganmu ke bawah ketiaknya, lalu angkat."
Ardan mengangguk, kemudian mata menatap sang bayi.
"Badannya terbungkus kain. Bagaimana masukin tangannya?"
Ferdi beralih pada sang bayi, melihat Ardan kecil dengan balutan kain berwarna pink membalut seluruh badannya.
"Dan, kenapa bayimu di bungkus? Apa dia gak sesak?"
Ardan ikut melihat Yena.
"Oya, kenapa dibungkus?" tanya Ardan balik.
"Lihat wajahnya memerah, aku rasa dia kesulitan bernapas."
"Buka saja, bagaimana jika dia gak bisa napas?" saran Ferdi.
Lelaki itu mengangguk, lalu tangan meraih ujung kaitan kain yang membalut tubuh mungil sang putri.
Membiarkan sang anak bebas bergerak di tepi kasur. Sedangkan, dua lelaki itu hanya menatap tanpa berani menyentuh.
Mata Hazel mendelik, tergesa dia mendekati Ardan.
"Mas, kenapa bedongan Yena dibuka?" tanyanya ketus.
"Dia gak bisa napas, Hazel. Makanya nangis."
"Siapa bilang?"
"Ferdi." Tunjuk Ardan langsung.
"Loh, kenapa kena aku? Kan, yang buka kamu," bela Ferdi tak terima.
Hazel mendengkus kesal, cekatan tangannya menggendong Yena tanpa ragu. Memindahkan ke tengah kasur dan kembali melilitkan kain di tubuh mungil itu.
"Hazel, jangan kuat-kuat. Nanti dia kecekik."
"Siapa yang mau membunuh anak sendiri, Mas. Yena lahir prematur, dia dibedong biar tetap hangat. Dan juga biar tulang-tulangnya tumbuh dengan baik?"
"Memang bisa begitu?" tanya Ferdi bingung.
"Memang begitu, Pak."
"Terus kalo gitu kenapa nangis terus?" tanya Ardan semakin bingung.
"Dia cuma haus," jelas Hazel lembut.
"Ooohh ...." Dua lelaki tersebut serentak menyahut, saling berpandangan. Detik kemudian Ardan tersadar.
"Kalo begitu, kamu?" tanyanya menatap ke arah Hazel.
Mengerti dengan tatapan sang suami, Hazel hanya tersenyum dan memgangguk.
"Ferdi, keluar! Keluar! Istriku mau menyusui, kau jomlo gak boleh lihat," usir Ardan ketus.
Ferdi terbahak, ia membenarkan letak kacamatanya.
"Sialan! Kenapa harus menghina jomlo, sih?" Ferdi berjalan ke luar seraya menggelengkan kepalanya.
Bahkan tawanya masih berderai saat dia sudah berada di luar kamar. Detik kemudian dia tersadar, niatnya datang untuk berbicara dengan sahabatnya itu.
Kepalan tangan kembali mengetuk daun pintu.
"Dan, ada yang mau aku bicarakan!" teriaknya lantang.
"Sebentar, siap mandi aku ke bawah!"
Lelaki itu mengangguk, saat ingin turun, tanpa sengaja Arfi baru masuk dari arah luar. Berselisihan di anak tangga.
Lelaki muda itu tersenyum, tak ada respon dari lelaki berkacamata tersebut. Wajahnya datar, tak seperti biasa. Sikapnya mendingin.
Ferdi berlalu, menjejaki anak tangga menuju bawah. Arfi menaikan sebelah alis mata. Bingung melihat ulah sang sahabat kakaknya tersebut.
Ia mengacak rambut, segera berlari ke arah kamar untuk mebersihkan diri.
...***...
Binar di balik lensa itu hanya memandang kosong ke arah depan. Beberapa kali helaan napasnya terdengar.
Berat, sebenarnya ia tidak tahu bagaimana membicarakannya dengan Ardan.
Sementara lelaki bermata elang itu terus menatapi sang kawan. Menunggu ucapan yang tak kunjung ia lontarkan setelah sejam duduk berdua.
"Ah, aku bosan! Sebenarnya kamu mau bicara apa? Hah?" bentak Ardan.
Ferdi menghela napas, ia menjatuhkan kepala ke atas sandaran bangku.
Bagaimana ia bisa meminta pendapat pada kakak kandung saingannya sendiri? Seakrab apa hubungannya dengan Ardan. Pasti darah lebih kental dibandingkan air.
"Ferdi, ayolah, aku masih harus menjaga kedua anakku," desak Ardan ketus.
Lelaki berkacamata itu melirik, perlahan ia menegakkan badannya.
"Aku ingin kembali ke ibu kota."
"Eh, kenapa tiba-tiba?" tanya Ardan terkejut.
"Aku harus melamar, Dan."
"Melamar?" tanya Ardan bingung.
"Melamar Khadijah maksudmu?"
Ada langkah yang terhenti ketika mendengar nama sang gadis pujaan disebutkan. Arfi memalingkan wajahnya, melihat sang kakak yang sama terkejutnya dengan dia.
"Khadijah?" tanyanya lirih.
Mata hitam itu menatap ke arah Ferdi yang ada di teras rumah. Ada yang teremas di dalam sini. Segumpal darah bernama hati.
Apa yang lebih menyakitkan?
Ketika kamu mengetahui yang berlawanan denganmu adalah orang yang ada di dekatmu?