
Hazel menangkupkan tangan di depan mulut, satu tangannya memegang perut. Ia berlari ke arah kamar mandi, memuntahkan isi perut yang sudah tidak ada sama sekali.
Wanita itu menghela napas, menegakan badannya yang sempat membungkuk untuk mengeluarkan beban perutnya.
Tangannya menghidupkan keran air, membasuh wajah yang semakin terlihat memucat.
Badannya terasa semakin lelah, saat ia mengetahui sedang berbadan dua.
Hazel kembali ke mejanya, perlahan jari-jarinya meraih beberapa kantungan yang ada di atas meja. Beberapa macam asinan buah dan juga jeruk Mandarin yang sangat menggungah selera.
Ia meneguk liurnya, merapikan kantungan itu dan duduk di balik komputer.
Perlahan ia menaikan pandangan, tanpa sengaja matanya beradu dengan mata pria di sana.
Ardan yang sedari tadi memandanginya dari balik kaca, tersenyum tipis saat mata istrinya menatap ke arahnya.
Hazel mencebik kesal, ia memalingkan wajah. Tak lama kembali melirik asinan buah yang terletak di atas meja.
Selera sekali melihat benda-benda di atas meja. Tetapi terlalu angkuh untuk memakannya.
Beberapa kali ia menghela napas, mulutnya semakin terasa kering. Terlebih lagi saat aroma asinan buah itu mengusik penciumannya.
Hazel membereskan plastik itu, sebuah memo yang baru ia sadari ada di bawah makanan itu.
'Kalau sudah tidak sanggup lagi, jangan dipaksakan bekerja. Pulanglah, atau mau aku antar pulang?'
Hazel melirik ke arah Ardan, lelaki itu menganggukan kepala. Hazel menghentakan kepalanya, membuang pandangan dari pria tersebut.
Tangannya menarik seluruh kantungan itu dan membawanya ke ruangan paling pojok. Meletakan dengan sedikit membanting di atas meja Ferdi.
Lelaki berkacamata itu mengkerutkan dahi, ia memeriksa setiap kantungan yang di bawa Hazel ke depannya.
"Apa ini?" tanya Ferdi penasaran.
"Itu makanan yang dibeli mas Ardan."
"Kenapa kamu bawa ke sini?"
"Saya numpang makan di sini ya, Pak."
"Eh?" Ferdi terkejut, tak lama ia menggeleng.
"Hei, kamu pikir ini ruangan apa? Saya Direktur kamu, Hazel."
"Tapi anda juga teman suami saya kan, Pak."
"Terus apa hubungannya dengan makan di sini?" tanya Ferdi bingung.
"Soalnya di sana, ada yang terus memandangi saya tajam, Pak. Seakan-akan saya punya hutang saja," ucap Hazel sembari memasukan makanan itu ke dalam mulutnya.
"Tetapi memang kamu punya hutang sama dia, kan?"
Hazel mengerucutkan bibirnya, ia menganggukan kepala.
Ferdi mengendikan bahunya, perlahan jari-jarinya ikut membuka kantungan-kantungan itu. Selera dengan makanan yang dibawa istri sahabatnya itu.
"Saya boleh minta?" tanya Ferdi yang ikut meneguk liurnya saat melihat Hazel makan dengan lahap.
"Ambil saja, jika diracuni, kita akan mati berdua," balas Hazel terkekeh.
"Mati berdua juga tidak buruk." Ferdi ikut memakan asinan yang diberikan Ardan.
Asyik menggosipkan lelaki yang saat ini sedang memanas dibalik pintu ruangan Direktur, mendengarkan percakapan istri dan sahabatnya itu yang sesekali terbahak dan terkekeh saat menggibahi dirinya.
Ardan menggeretakan rahangnya, menumbukan kepalan ke sisi tembok.
"Sial! Sejak kapan mereka berdua akrab begini?" umpatnya kesal setengah mati.
***
Langkah kecil itu kembali berlari, memuntahkan isi perutnya di dalam wastafel kamar mandi.
Ia kembali dengan napas yang sedikit memburu, menyandarkan kepala di sofa karena tubuhnya semakin lemas.
Menit kemudian, ia kembali berlari. Memuntahkan kembali angin dari dalam perutnya itu.
Ardan menghela napas, ia menggelegkan kepala. Bahkan sampai saat ini, Hazel masih diam dan sangat dingin kepadanya. Hampir tidak pernah berbicara walaupun mereka dalam ranjang yang sama.
Ardan menarik jaketnya, mengambil kunci mobil dan memacunya membelah jalanan malam.
Membeli beberapa perlangkapan di supermarket setelah men'googling beberapa hal di layar pipihnya.
Ia meletakan beberapa kantungan plastik besar di atas pantry, sibuk mencari kotak di dalam sana. Tak lama ia mengeluarkan sebuah susu dari dalam plastik dan membaca cara penyajiannya dengan seksama.
"Nak Ardan mau minun susu?" tanya mbok Darmi saat melihat Ardan serius membaca tulisan kecil di belakang kotak susu.
"Tidak, saya tidak suka susu. Saya googling di internet, katanya susu bisa meredakan mual pada ibu hamil."
Mbok Darmi tersenyum, ia mengeluarkan beberapa barang yang Ardan letakan di atas pantry tadi.
"Mau buat susu untuk Hazel ya? Sini biar Mbok saja."
Ardan menggeleng, ia mulai mengeluarkan gelas dari dalam almari atas.
"Tidak usah, Mbok. Saya saja bisa, kok."
Lelaki itu mulai menyendoki bubuk berwarna cokelat itu. Memasukan air sesuai takaran yang tertera di sana.
"Kok tahu, Hazel sukanya susu cokelat?"
"Saya gak tahu, tapi beberapa ibu hamil yang komentar di internet, mengatakan rasa cokelat lebih membantu dibandingkan vanila. Saya coba saja."
Mbok Darmi kembali tersenyum, sebenarnya sisi Ardan ini sangat lembut. Kadang ego keduanya saja yang membuatnya menjadi sangat kasar.
"Nak Ardan, mau Mbok kupasi buah-buahan ini?" tanyanya lagi.
"Saya gak perlu, Mbok. Saya beli ini semua untuk Hazel. Nanti Mbok tanya saja sendiri padanya, saya naik dulu."
Ardan menaiki anak tangga rumah dengan segelas susu cokelat di tangannya. Membuka pintu kamar, tetapi tidak mendapati wanita itu di sana.
Ia menghela napas, meletakan gelas itu di meja depan sofa. Kembali sibuk pada kerjaan yang sempat ia tinggal demi keperluan istrinya tersebut.
Hazel menghapus sudut bibirnya, kembali duduk di atas sofa sembari memainkan benda pipih di tangannya.
Wanita muda itu tersenyum dan mengangguk pelan. Perlahan tangannya mulai memakan isi piring itu, matanya sibuk memandangi gawai yang ada di tangan.
Senyum mengembang di bibir tipis lelaki itu saat melihat pantulan Hazel dari laptopnya. Memakan dan meminum susu yang diberikan, walau masih harus bolak-balik ke kamar mandi dan kembali memuntahkannya.
Ardan menghela napas, menggelengkan kepala pelan.
"Kamu, lagi dan lagi, tersiksa karena aku."
***
Hazel menggigit ujung jarinya, mata berwarna madunya lekat memandangi acara yang ada di salah satu channel televisi.
Tegukan saliva terdengar kian membesar saat acara itu memperdetail tampilan makanan yang sedang disantap oleh host acara.
Ardan yang menyaksikan wanita itu hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala.
Jelas sekali kalau ia sedang menginginkan makanan itu, tetapi sampai saat ini dia masih saja angkuh dan lebih memilih memendam keinginannya sendiri.
Tidak pernah meminta dan tidak pernah mengatakan keinginannya. Hanya diam dan menerima apa yang Ardan berikan.
"Hazel," panggil Ardan mendekati wanita itu.
Mata bulat itu masih memandangi acara dengan lekat, menggigit ujung jari tangannya, dengan sesekali meneguk liurnya.
Sangat berselera dengan dessert yang sedang dibahas di acara televisi itu.
Ardan kembali tersenyum, hanya bisa menghela napas saat ego wanita ini lebih besar dibandingkan inginnya.
"Hazel," panggilnya lebih keras.
"Hah?" Hazel memalingkan mata, melihat Ardan yang berdiri di belakang sofa.
"Aku mau ngegym, kamu ingin aku belikan sesuatu?" tanya Ardan lembut.
Wanita itu menggeleng, tetapi matanya memandangi makanan yang ada di dalam acara tersebut.
"Yasudah, aku pergi ya."
Hazel mengangguk, bibirnya mengerucut panjang setelah lelaki itu hilang dari pandangan.
"Aku ingin makan itu. Brownies es krim dan gado-gado bumbu kacang."
Hazel menghentakan kedua kaki di lantai. Menjatuhkan kepala ke atas sandaran sofa dan menghela napas panjang.
"Hamil pertama tanpa mas Iqbal, hamil kedua ada mas Ardan tapi tetap saja dingin dan tidak pengertian," gerutunya geram.
Perlahan ia meletakan jari di ujung bibir, memandangi langit-langit rumah sembari berpikir. Entah apa yang dipikirkannya, namun ia tetap berada dalam posisi yang sama selama satu jam.
Sebuah kantungan diletakan di atas meja depan Hazel melamunkan pikirannya. Bahkan ia tidak sadar saat ini Ardan ada di dekatnya.
Melihat Hazel yang larut dalam pikirannya, Ardan berjalan ke belakang sofa. Menumpuhkan kedua tangan di sebelah kepala Hazel dan menatap binar mata berwarna madu yang saat ini ada di bawahnya.
Perlahan aroma maskulin yang lama tidak tercium kembali memasuki rongga hidung. Hazel tersadar, matanya langsung menatap binar mata sayu lelaki yang ada di atasnya saat ini.
"Mas Ardan, kapan pulang?" tanyanya lembut.
"Baru saja, kamu tidak mau makan apa yang aku bawa pulang?"
"Apa?"
Ardan menaikan dagunya, menunjuk kantungan itu dengan gerakan kepala. Wanita itu membetulkan posisi duduk, ia meraih kantungan itu dan melihat isinya.
Bibirnya mengembang dengan lebar, ternyata Ardan cukup peka untuk ukuran seorang pria.
Perlahan tangan lelaki itu meraih puncak kepala Hazel. Mengacak helaian rambut cokelatnya dengan sedikit gemas.
"Kalau kamu ngidam, kenapa tidak mengatakannya? Itu anak aku juga, aku wajib menafkahinya walau masih dalam kandungan."
"Hem, aku masih marah sama kamu, Mas."
"Sampai kapan?"
"Sampai negara api tidak lagi menyerang."
Ardan terkekeh, ia melompati sandaran sofa dan menjatuhkan bokong di sebelah istrinya.
"Maaf, Hazel. Aku sudah melukaimu."
"Hem, maaf. Terlambat."
"Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali, kan?"
"Lebih baik tidak usah diucapkan kalau Mas masih niat mengulanginya."
Ardan kembali menyentuh pucuk kepala wanita itu. Memandangi wajah cantik wanita itu yang sedang menggigit sendok es krimnya.
"Aku tahu, aku egois. Aku angkuh dan juga kasar padamu. Tetapi aku hanya merasa bingung."
"Bingung kenapa?"
"Bingung harus memperlakukanmu bagaimana?"
"Kamu itu susah ditebak, Mas. Kadang baik, kadang jahat. Kadang lembut, tetapi juga sangat kejam. Membuat aku benci saja terhadapmu."
Ardan tersenyum lembut, matanya teralih pada perut rata wanita itu.
"Boleh aku pegang perutmu?"
"Hem, masih bisa sopan, ya? Bahkan kamu tega memperkosaku saat itu."
Ardan menundukan pandangannya, ia meneguk saliva yang mulai terasa pahit.
Perlahan ia menjauhkan tangannya dari atas kepala wanita itu. Pergi meninggalkan Hazel sendiri di ruang tengah.
Wanita itu memalingkan matanya, melihat punggung berbalut jaket abu-abu gelap itu berlari menaiki anak tangga.
Perlahan ia menghela napas, menggelengkan kepala, pelan.
"Sampai kapan, Mas? Aku dan kamu masih harus terbalut oleh ego masing-masing?"