For My Family

For My Family
49



Hazel mengetuk daun pintu berwarna cokelat itu dengan lembut. Ia membuka pintu itu setelah mendapatkan perintah dari dalam.


Berjalan mendekati dua lelaki yang selalu dekat dengannya akhir-akhir ini.


"Hazel, kemarilah! Saya mau bertanya tentang pendapatmu tentang majalah, sebelum kita keluarkan," ucap Ferdi lembut.


Hazel mengangguk dan berjalan ke depan meja lelaki berkacamata tipis itu. Ardan bangkit dari kursinya, mempersilahkan wanita berbadan mungil tersebut duduk di tempatnya.


Serius, netra berwarna madu itu menatap layar datar di depannya. Jarinya memainkan mouse laptop untuk memindahkan halaman.


Sampai harum tubuh yang sudah mulai akrab di hidungnya itu menembus kepenciuman. Ardan menumpuhkan satu tangannya di ujung meja. Menundukan badannya menatap layar yang sama dengan istrinya itu.


Perlahan wajahnya mendekat, melihat ke dalam layar lebih lekat.


"Sepertinya ada kesalahan di halaman 22, benar tidak?" tanya Ardan memalingkan wajah ke arah Hazel.


Mata bulat itu melebar, bukan sekali ini ia menatap wajah lelaki bermata sayu itu dengan dekat. Tetapi kenapa kali ini wajah Ardan mampu membuat kerongkongannya kering seketika.


Perlahan wajahnya memanas, tatapan mata sayu lelaki itu mampu membakar jiwa. Membuat jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya.


Harum dari parfume lelaki itu membuat napasnya tertahan. Memompa oksigen sampai membuat dadanya naik-turun dengan sangat cepat.


Melihat Hazel yang terdiam sembari memandangi wajahnya tanpa berkedip. Ardan mengembangkan senyuman, memperlihatkan pesona yang lebih dalam.


"Kenapa? Baru sadar kalau aku ini gantengnya luar biasa?"


"Iya," jawab Hazel tanpa sadar. Detik kemudian ia memalingkan wajah.


"Eh ... bukan, itu, enggak maksudnya. Iya, gak ganteng sama sekali."


Ardan dan Ferdi terkekeh, melihat Hazel yang semakin memerah padam.


"Haduh ... kalian berdua ini. Tolong! Jangan menyiksa kejombloanku ini."


Ardan menegakan badannya, menyilangkan tangan di depan dada. Memandang tajam ke arah Hazel yang membelakanginya.


"Eh, Pak."


"Hem," jawab Ferdi.


"Mau gak kalau saya jodohkan sama seseorang?" tanya Hazel beralih pada lelaki berkacama tipis di depannya itu.


"Hem, sama siapa?" tanya Ferdi serius.


"Anda mau yang seperti apa?"


"Yang pasti tidak seperti kamu."


"Ha? Kenapa begitu?"


"Saya bukan satpam komplek depan rumah yang pandai menggoda. Kalau dapat gunung es sepertimu, lebih baik mundur alon-alon."


Ardan terbahak dan melemparkan gulungan tisu ke arah Ferdi.


"Sial! Yang kamu bilang satpam komplek depan rumah itu siapa?"


Hazel dan Ferdi menunjuk ke arah Ardan bersamaan. Lelaki itu kembali terkekeh, menangkupkan kedua tangan di wajah wanita itu. Menekan pipinya dengan kuat, gemas.


"Btw, saya serius loh, Pak," ucap Hazel lagi.


Ferdi hanya tersenyum dan menggelengkan kepala pelan. Tidak menjawab dan tidak menyikapi.


Ardan mengambil jemari Hazel, merematnya lembut. Sesaat Hazel melihat ke arah Ardan. Sebuah gelengan kepala dari lelaki itu, mencoba menghentikan percakapan ini.


"Ikut aku ke ruangan yuk, kangen. Ntar ada yang pingin lagi." Tarik Ardan di tangan wanita itu.


Walaupun bingung dengan sikap Ardan, tetapi Hazel tidak bertanya apapun. Hanya mengikuti langkah Ardan yang menariknya ke ruangan GM.


Menutup seluruh kaca di ruangan itu dengan gorden dan mendudukan wanita itu di atas pangkuannya.


Perlahan jari-jari kekar itu menyapu lembut anak rambut wanita muda itu.


"Jangan bicarain soal hati sama Ferdi. Dia kelihatan baik-baik saja, tapi dia tidak seperti itu sebenarnya," ucap Ardan lembut.


"Kenapa?" tanya Hazel bingung.


"Ada sesuatu di masa lalu yang masih dia simpan rapat. Ferdi, hanya berusaha menyamarkan saja, tetapi dia belum benar-benar sembuh sepenuhnya."


"Apa itu tentang yang dibicarakam pak Ferdi hari itu? Saling mencintai tetapi tidak memiliki?"


Ardan mengangguk lembut, jari-jarinya sibuk menyapu setiap inci wajah wanita di atas pangkuannya itu.


"Mas, mau gak cerita sedikit? Mungkin saja, aku bisa bantu dia. Soalnya--"


"Soalnya apa?"


"Ada seorang gadis yang suka sekali sama dia."


"Siapa?"


"Hem, rahasia. Ini rahasia para wanita."


"Baiklah, yang penting wanitanya bukan kamu. Aku tidak peduli siapapun itu."


"Kenapa dengan aku? Sudah terjebak cinta pria gila, harus lagi terjebak cinta pria berkacamata?"


Ardan terkekeh, ternyata sisi asli wanita yang selalu terlihat tangguh selama ini, seperti ini. Masih sama saja belianya dengan gadis muda pada umumnya.


"Baiklah, dengarkan aku. Ferdi itu, pernah punya masa lalu yang pahit dengan gadis belia bernama Arsy."


"Arsy?" tanya Hazel terkejut.


'Bukannya itu nama yang sama dengan yang mas Ardan sebut malam itu. Dan kalung itu, bukannya milik dia?' tanya Hazel dalam hati.


"Karena kecelakaan, Arsy pergi. Semenjak dia pergi, Ferdi juga tidak seperti dulu lagi. Dia selalu menutup hati dan tidak suka bergaul dengan wanita -wanita lagi."


"Mas, apa Arsy itu juga ada hubungannya dengan kamu?"


"Kenapa kamu tanya begitu?" tanya Ardan kembali.


"Tidak ada, aku hanya merasa. Kalau kalian bertiga saling berkaitan, benar gak?"


Ardan tersenyum sendu, menarik dagu wanita itu. Mencium bibirnya sekilas, lalu menurunkan Hazel dari atas pangkuan.


Ardan berjalan ke sisi jendela, menyingkap kain gorden dan memandang ke arah luar.


"Aku janji suatu saat nanti akan mengatakan ini dengan jujur padamu. Tapi tidak saat ini, aku belum bisa."


"Hem, aku mengerti."


Ardan menghela napasnya, memandangi kosong ke langit biru pagi ini.


Kenapa berat sekali rasanya? Sudah tujuh tahun berlalu, tetapi tragedi itu seperti baru saja terjadi.


Andai ia tidak membuat kesalahan, mungkin ia tidak akan kehilangan. Andai ia bisa lebih cepat mendengarkan, mungkin dia tidak akan pergi meninggalkan.


Ardan mengambil beberapa potong udang dan meletakan ke dalam piring Hazel. Menumpuk lauk makan siang di dalam piring wanita itu.


"Mas!" panggil Hazel sedikit menekan.


"Hm."


"Kenapa semua ditumpuk di piring aku? Mas pikir aku ini apa? Kerbau? Sekalian saja makanan dari meja sebelah Mas tumpuk juga di sini? Sekalian aku buka catheringan."


Ardan hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Menyuapi potongan daging ke dalam mulut istrinya itu.


"Kamu harus banyak makan, katanya mau cepat hamil?"


"Bukan cepat hamil, tapi malah cepat melar, tau, m-e-l-a-r!"


"Gak masalah, mau melar atau juga melebar. Yang penting tetap bisa goyang," goda Ardan sembari memainkan kedua alis matanya.


Hazel mencebik kesal, memakan setiap makanan yang ada di dalam piringnya. Membuat kedua pipinya mengembung karena kepenuhan.


"Puas! Hem? Puas?" tanya Hazel kesal.


Sementara Ferdi tak bisa berhenti terkekeh melihat dua pasutri gaje di depannya itu. Selalu bertengkar tetapi lebih terlihat perhatian satu sama lain. Unik sekali, lebih cocok dibekukan dan di simpan di meseum nasional.


"Hazel, Ardan itu lelaki berhati dingin sebelumnya. Jika dia memperhatikanmu berlebihan, itu artinya dia sayang sama kamu, beneran."


"Ha, aku tidak butuh perhatian lebaynya, jijik aku, Mas, sumpah, ini menjijikan."


"Mana menjijikan dengan kata-kata yang sering aku ucapkan setiap pagi? Hm?" tanya Ardan kembali mengoda.


Hazel memutar kedua bola matanya, bibirnya berhenti mengunyah.


"Kata-kata yang mana?" tanya Hazel bingung.


"Yang kubisikan setiap pagi."


"Memang pernah?"


"Selalu."


"Yang mana itu?"


"Coba ingat lagi, sebelum kamu bangun, aku selalu mengucapkannya di telingamu."


"Hem, masa sih? Apa?" tanya Hazel semakin bingung.


"Aku mencintaimu."


Pyuuur.


Hazel menyemburkan isi mulutnya seketika. Cepat tangannya meraih tisu untuk mengelap bibir.


Sedang Ferdi sudah terkekeh sembari memegangi perutnya. Tak tahan melihat ekspresi Ardan yang berubah suntuk seketika.


"Sumpah, Mas. Aku geli dengarnya," ucap Hazel mengendikan bahunya.


Ardan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Membuang pandangan ke sisi jendela.


Kesal sendiri saat reaksi Hazel di luar ekspetasi.


Mata lelaki itu memicing tajam, sementara dua orang di sebelahnya masih terkekeh sampai mengeluarkan air mata.


Braaak


Ardan menggebrak meja dengan kasar, membuat dua orang yang tengah tertawa itu bungkam.


"Hei, Sobat. Sabar sedikit, jangan marah hanya karena ekspetasi tidak sesuai realita," ucap Ferdi menenangkan.


"****!" umpatnya kesal.


Mata Ardan tajam menatap ke arah pintu kafe, wajahnya yang tenang seketika menjadi garang.


"Ada apa?" tanya Ferdi saat menyadari raut wajah Ardan yang sudah tidak seperti biasa.


"Arfan Erlangga di sini," ucap Ardan sembari menatap tajam lelaki berbalut jas berwarna navy yang sedang berdiri di ambang pintu restoran.


"Arfi juga di sini," sambung Ferdi saat melihat wajah lelaki yang lebih muda darinya itu berjalan di balik kaca restoran.


"Itu artinya, keluarga Erlangga memang di sini."


Seketika badan Hazel menegang, ia mengedarkan pandangan ke arah mata dua lelaki itu menatap.


"Apa kamu mau aku bawa Hazel kembali lebih dulu?"


Ardan menggeleng lembut, mengambil jemari tangan istrinya itu untuk dia genggam erat.


"Sudah saatnya, istriku bertemu dengan keluarga baru," ucap Ardan memalingkan mata ke arah Hazel.


Tampak wajah putih itu mulai memucat, pelipisnya mulai mengalir peluh keringat dingin.


"Mas, tapi--"


"Cukup pegang tanganku. Tenang, tidak ada yang akan menyakitimu ataupun anak kita. Aku janji, akan melindungimu."


Seuntai senyum menghiasi wajah putih lelaki berjas navy itu. Berjalan mendekati meja Ardan saat dua lelaki yang lainnya sudah bersama dengannya.


"Selamat siang, Pak Ardan," sapanya basa-basi.


Arfan tersenyum dan melirik ke arah Ferdi.


"Suatu kesempatan langka, bisa melihat Nyonya Ardan Erlangga, di sini," sambungnya melirik ke arah Hazel.


Bibirnya tersenyum lembut, tetapi tatapan matanya mampu mengintimidasi wanita itu.


"Bagaimana saya harus memanggil anda? Nyonya Ardan, atau Hazel Nazha?" tanya Arfan mulai sinis.


Jemari tangan Ardan mulai mengepal, retakan dari rahangnya mulai terdengar. Sontak badan kekar itu berdiri dengan tiba-tiba.


"Arfan, berhenti bersikap seperti ini. Aku punya kehidupan pribadi yang tidak perlu kalian ikut campur di dalamnya?"


"Apa ada yang salah? Aku hanya ingin bertemu istri dari kembaranku."


"Tapi caramu itu, norak!"


Sesaat, mata kedua lelaki itu beradu pandang. Sama tajamnya, sama mengerikannya, hanya saja Ardan terlihat lebih garang dengan alis tebalnya yang saling bertautan dan bulu halus yang menghiasi rahangnya.


Sebuah tepukan di bahu masing-masing menghentikan perang mata dua darah itu. Arfi menarik badan Arfan menjauh, sementara Ferdi merengkuh bahu Ardan.


"Sudah, kalian ini saudara. Kenapa selalu bertentangan seperti ini? Tidak seperti ini kalian sebelumnya."


Ardan tersenyum sinis dan memalingkan mata, menatap lelaki tua yang berdiri di antara dia dan kembarannya itu.


"Apa yang membuat tiga pebisnis Ibu kota menginjakan kaki ke sini?" tanya Ardan sinis.


"Untuk membawamu kembali ke Ibu kota."