
Arfan mengusap wajahnya kasar, ia menarik napas berat. Menatap wajah Ardan, frustrasi.
"Jadi aku harus bagaimana, Dan? Aku harus bagaimana menghadapi Ferla yang terus seperti itu?"
"Perbaiki segalanya, selagi mereka masih di sisimu. Jangan sia-siakan mereka. Karena saat mereka pergi, kau akan tau rasanya kehilangan keluarga itu bagaimana."
"Aku tidak tau. Harus dari mana semuanya dimulai?"
Ardan tersenyum, satu jarinya mengusap sudut bibir yang berdarah. Sedikit meludah saat amis darah itu memenuhi mulutnya.
"Berikan perhatianmu buat mereka. Berikan apa yang menjadi hak Ferla. Berikan waktumu, hubungan itu dibangun berdua. Mulailah membangunnya dengan menghargai apa yang mereka berikan padamu. Tidak perlu mewah, sedikit saja perhatianmu, itu cukup membuat mereka bahagia."
"Tapi, aku masih harus menghandle kerjaan di kantor pusat. Bukan hal yang mudah untuk meluangkan waktu "
"Hei, ayolah. Kau adalah CEO-nya. Kau bisa melakukan apa pun dengan memberikan perintah. Kau pun butuh tempat untuk kembali saat kau lelah dan penat oleh dunia kerja. Dan tempat itu adalah
... rumah."
Arfan terdiam, lagi dan lagi dia hanya bisa memikirkan. Lalu, membuka setiap kenangan yang pernah terlewatkan. Memang hubungan mereka tidak lebih dari sekadar rekan, bukan pasangan.
Yang saling melakukan tugasnya masing-masing. Atau bekerja sama untuk menyenangkan anak-anaknya. Namun, luput akan perhatian dan cinta.
Bahkan bagaimana mereka melewati malam-malam saja. Semua hanya berjalan atas hak dan kewajiban, tidak pernah hangat ataupun mendebarkan perasaan.
"Kalian berdua menikah memang karena kesalahan. Namun, bukan berarti hubungan kalian terus berjalan hanya karena kewajiban. Tidak seperti, Fan. Semua bisa berubah, asalkan itu dimulai dari dalam dirimu terlebih dahulu. Berubahlah demi dia yang kau cintai, berubahlah demi mereka yang menyanyangimu."
Arfan menarik napas, lantas menggeleng pelan.
"Aku tidak tau harus dari mana memulainya. Rasanya, aku dan Ferla memang tidak sedekat itu."
"Buatlah kencan berdua. Lakukan layaknya dia orang yang kau cinta. Percayalah, jika kau melakukan itu, kau pun akan merasakan dia juga mencintaimu. Hubungan itu butuh cinta untuk menjaganya, dan caranya, teruslah memberikan yang terbaik, meski hasilnya tidak sebaik yang kau harapkan. Berhentilah, fokus padaku dan orang yang kau benci, Arfan. Mulailah fokus pada dirimu, keluargamu, dan kebahagiaanmu, Teman."
Ardan tersenyum manis, menepuk pundak Arfan dan bangkit perlahan. Sebelum meninggalkan sang adik, dia sempat mengacak puncak kepalanya.
Berjalan ke arah dalam karena malam yang semakin larut. Arfan menjatuhkan kepala di atas sandaran kursi.
Memikirkan setiap perkataan Ardan, memang ada benarnya. Dia yang selama ini hanya fokus pada rasa iri dan benci. Sampai dia lupa untuk mencintai.
Mengapa? Setelah semua perbuatan buruk yang dilakukan. Ardan masih mau bersikap seperti ini?
Menasihati layaknya seorang kakak, memberikan saran layaknya seorang sahabat. Bahkan dia seperti melupakan apa yang pernah Arfan lakukan untuk menghancurkan dulu.
Perlahan hatinya mulai melunak, haru. Tak selamanya yang musuh tetaplah musuh. Terkadang, ada yang kita anggap lawan, malah dialah teman. Yang tidak akan pernah meninggalkan, meski kita telah melukainya berulang-ulang.
Perhatian Ardan teralih saat mendengar suara keributan di arah dapur. Lelaki itu melirik jam yang ada di dinding. Sudah pukul dua dini hari, siapa yang masih sibuk di dapur selarut ini?
Langkah yang akan menaiki anak tangga ia hentikan. Berjalan ke arah dapur, dan Hazel masih sibuk di sana.
"Hazel, sudah semalam ini apa yang kamu lakukan?"
"Oh. Aku lagi mau manasi air, Mas. Buat susu Yena, gak larut kalau pakai air dispenser." Tanpa melihat sang suami. Gadis bermata madu itu masih sibuk di dapur.
Ardan mendekat perlahan, langsung mendekap tubuh mungil itu dari belakang. Mengecup lembut tengkuk leher sang istri.
"Kangen kamu," bisik Ardan dan sang istri tersenyum simpul.
Satu tangan putihnya mengelus pipi Ardan. Detik selanjutnya, senyum itu memudar saat menyentuh sebuah cairan.
Hazel berbalik, melihat wajah sang suami yang sudah bengkak sebagian.
"Mas!" pekiknya terkejut, teriakannya membuat langkah Arfan yang baru memasuki rumah terhenti. Mengalihkan pandangan ke arah mereka.
Ardan hanya tersenyum, dengan sudut bibir yang kembali berdarah.
"Ish, Mas ini. Aku dengar dari Arfi katanya Mas di taman depan sama Pak Arfan. Terus kenapa masuk-masuk bisa begini?" tanya Hazel mengusap sudut bibir Ardan lembut.
"Sakit, Sayang."
"Kalau tau sakit kenapa malah berantem?" Geram, wanita itu menarik sebelah pipi Ardan. Lelaki itu hanya menyeringai, menahan sakit.
Hazel terkekeh, lalu dia berbalik, kembali melanjutkan kegiatannya menyeduh susu Yena. Hening, hanya suara peraduan perlatan yang terdengar.
Tak lama gadis itu terisak tertahan, satu punggung tangannya mengusap pipi. Ardan mendekati, mengusap kepala Hazel, lantas menariknya ke dalam dekapan.
"Maaf, Sayang. Udah buat kamu khawatir. Jangan nangis, dong."
Gadis itu semakin terisak, kali ini pecah. Terlebih saat Ardan mengucapkan kata maaf.
"Mas itu kenapa, sih? Selalu saja ngorbani tubuh begini? Mas itu gak mikiri, dadaku sesak liat wajah Mas begini. Sakit, Mas."
Ucapan itu membuat pandangan Arfan tertunduk. Cemburu, dan juga kesal. Namun, juga menyesal. Karena amarahnya, telah melukai sang Kakak. Ternyata, ada yang ikut terluka saat Ardan tersakiti.
"Iya, iya. Makanya obati, dong."
Gadis itu mengusap wajahnya di dada Ardan, melepaskan dekapan tangan kekar itu dan kembali melihat wajah sang suami.
"Sakit, gak?" tanya Hazel lembut.
"Banget," jawab Ardan manja.
"Aku ambil es buat kompres, ya." Gadis itu baru akan berbalik, sebelah lengannya tercekal.
Ardan membungkuk, satu jarinya mengetuk sudut bibir. Meminta sang istri untuk menciumnya.
"Mas ini." Kedua tangan itu tertangkup di pipi, mengecup lembut pelipis yang lebam. Lalu, berpindah ke sudut bibir.
Tidak melepaskan, Ardan menyambut ciuman itu. Mengurung tubuh Hazel di dalam dekapannya.
Arfan hanya tersenyum, menggeleng pelan melihat dua orang di sana.
Bagaimana bisa? Dalam keadaan apa pun, mereka membuat semuanya menjadi lebih indah?
Lelaki berkulit putih itu manarik napas, melanjutkan langkah. Menuju bekas kamarnya yang diisi oleh sang istri malam ini.
Pelan ia membuka pintu kamar, menutupnya selembut mungkin agar mereka yang terlelap tidak terbangun.
Dalam gelap sepasang mata pekat itu mengkilap. Memandangi wajah-wajah polos tiga wanita yang selama ini menghiasi hidupnya.
Kapan terkahir kali mereka tertawa bersama? Atau dia yang meluangkan waktu untuk makan malam berdua?
Rasanya semua itu sangat jarang terjadi, atau memang tidak pernah terjadi sama sekali?
Arfan mengelus lembut wajah putri sulungnya, mengecup pipi anak-anaknya. Lalu, menjatuhkan badan di sebelah Ferla. Memeluk tubuh itu erat.
Sedikit terkejut, melihat bobot sang istri yang semakin mengecil. Bahkan Ferla yang jarang berhias, semakin terlihat kucal semenjak melahirkan putra mereka.
Bukannya tidak menyewa pengasuh, tetapi ibu tiga anak itu lebih suka menyibukkan diri dengan anak-anaknya. Pelampiasan atas perhatian yang sangat jarang dia dapatkan.
"Ferla, maafkan aku. Bahkan aku tidak pernah sadar, bahwa tubuhmu sudah sekurus ini sekarang."
Lelaki itu membenamkan kepalanya di helaian rambut sang istri. Merasa menyesal, telah membuang banyak waktu hanya untuk mengabaikan meraka. Keluarga kecil yang dimilikinya.