
"Saya tidak bermaksud begitu."
Ardan tersenyum getir, melepaskan Hazel dari dalam dekapannya.
"Tidak bermaksud begitu? Jadi bagaimana? Hm?" tanya Ardan kesal.
"Dari awal, kamu memang tidak pernah menganggap saya kan? Saya ini siapa? Apa kamu peduli?"
"Maaf, tapi ini masalah pribadi saya. Saya tidak ingin orang lain ikut campur."
Ardan kembali meraih lengan tangan Hazel, menempelkan kembali badan wanita itu di sisi tembok. Mengurungnya dengan jarak yang lebih dekat.
"Saya suami kamu! Suami kamu, Ezgi Hazel Nazha."
"Saya tahu. Tetapi anda baru menjadi suami saya hari ini."
Ardan tersenyum dan mengacak rambutnya. Ia benar-benar kesal dibuat oleh wanita ini. Terus terang ia kehabisan akal untuk berhadapan dengan istrinya itu.
Ardan membuka daun pintu ruangan dengan kasar, menutupnya dengan sedikit membanting.
Meninggalkan Hazel srndiri di sana, amarahnya kembali berkobar. Tetapi ia tidak bisa melampiaskannya.
Mbok Darmi mendekati Hazel, perlahan ia mengelus pundak Hazel lembut.
"Ada apa? Kalian baru saja menikah, kenapa malah bertengkar?" tanya mbok Darmi pelan.
"Biarkan saja. Emosinya memang tidak stabil, Mbok. Nanti dia juga akan ke sini dengan sendirinya."
Hazel tersenyum dan mengelus pipi mbok Darmi lembut. Mencoba menutupi segala luka yang ia terima hari ini.
Hazel menarik sebuah kursi, duduk di tepi ranjang putranya itu. Perlahan jari kurusnya mulai menyentuh kulit pipi Surya.
Bermain-main pada kulit wajah Surya yang begitu lembut.
"Ada yang sakit, Nak? Katakan pada Bunda jika kamu tidak nyaman ya," ucap Hazel sedikit tersenyum.
"Hazel," panggil mbok Darmi lembut.
"Hem."
"Bisa kita keluar sebentar?" ajak mbok Darmi lembut.
Hazel mengangguk, ia menyingkap gaunnya dan berjalan mengikuti langkah mbok Darmi keluar ruangan.
"Ada apa, Mbok?"
"Apa ... sebaiknya kamu pulang saja dulu. Ganti baju, kamu tahu Dokter Pedro pernah menaruh hati padamu. Akan canggung saat ia melihat kamu dalam pakaian seperti ini."
Hazel menghela napasnya, ia terduduk di antara jejeran kursi di depan ruang perawatan.
"Kita sudah tidak ada tempat untuk pulang, Mbok," jawab Hazel lemas.
"Maksudnya?" tanya mbok Darmi mendekat.
"Tadi saat aku pulang, mama Luna ada di rumah. Aku gak tahu darimana dia dengar kabar aku menikah. Dia ... mengusir kita semua," jawab Hazel pasrah.
"Ya Allah, Hazel. Kenapa ada wanita sekejam dia. Mbok selalu kesal setiap kali dia memperlakukanmu dengan buruk."
Hazel tersenyum dan menggelengkan kepala. Menyandarkan kepala ke sisi tembok ruangan.
"Bukan salah mama Luna, Mbok. Aku sudah pikirkan, saat aku menikah lagi. Maka sudah menjadi resikoku diperlakukan seperti ini. Bagaimana juga, aku telah mengkhianati anaknya." Hazel tersenyum, namun air dari matanya mengalir.
Mbok Darmi menghela napas, ia menarik bahu Hazel untuk ia peluk. Selain mendampingi Hazel, ia tidak bisa melakukan apapun.
Hanya inilah yang bisa ia berikan untuk wanita muda yang sudah seperti anak kandungnya itu.
Perlahan Hazel mendekap erat tubuh gempal mbok Darmi. Entah harus berapa banyak lagi ia mengeluarkan airmata. Rasanya semuanya semakin berat saja.
Bukannya berkurang, bebannya makin bertambah sekarang.
Sedang, Ardan meremat kuat tali kantungan yang ia bawa. Walaupun ia marah, tetapi ia sadar kalau wanita itu belum ada memakan apapun dari pagi tadi.
Ia menyesal, kenapa ia baru sadar saat ini? Bahkan ia sama sekali tidak pernah bertanya apapun tentang kehidupan istrinya itu.
Bertanya tentang pribadi ataupun hal-hal yang terjadi di sekitar Hazel selama ini.
Setelah Hazel berhenti menangis, Ardan kembali melanjutkan langkahnya. Mendatangi dua wanita yang sedang duduk berdua itu.
Ardan menyodorkan sebuah paper bag ke hadapan Hazel.
"Ganti bajumu dengan ini, gaun itu tidak terlalu nyaman. Kamu bisa mati kepanasan nanti."
Hazel mendongakan kepalanya, perlahan ia mengambil paper bag itu dan melihat isinya. Sebuah piyama berwarna merah muda dengan corak hewan panda di seluruh kainnya.
"Terima kasih," ucap Hazel lembut.
Ardan kembali menyodorkan sekantung kresek ke hadapan Hazel.
"Ini, makanlah dulu. Dari tadi, kamu tidak memakan apapun. Kamu baru sembuh, bagaimana bisa kamu selalu menyiksa badan seperti ini?"
Hazel mengambil kantungan itu dan mengeluarkan beberapa makanan yang dibawa oleh Ardan.
"Mbok juga belum makan kan? Ayo makan sama aku di dalam," ajak Hazel lembut.
***
Ardan mengembuskan beberapa kali asapnya dari bibirnya ke atas, menikmati sesapan demi sesapan nikotin beracun itu.
Setelah beberapa waktu berada di balkon kamar, ia kembali masuk ke dalam ruangan. Melihat Hazel yang sedang menumpuhkan dagunya di pagar pembatas kasur putranya itu.
Memandangi wajah itu dengan sedikit tersenyum.
Perlahan Ardan mendekat, menarik sebuah kursi dan duduk berhadapan dengan Hazel.
"Siapa namanya?" tanya Ardan memalingkan pandangan ke arah anak lelaki itu.
"Surya. Surya Sandyka."
"Tiga tahun lebih," jawab Hazel lembut.
"Selain angelmam syndrom, apa yang dia derita?"
"Skoliosis konginetal."
"Kelainan tulang belakang?" tanya Ardan sekali lagi.
Hazel menganggukan kepalanya, ia menghela napas dan menegakan posisi duduknya.
"Apa ... uang dua ratus juta itu untuk biaya perawatan dia?" tanya Ardan langsung.
Hazel terdiam, menatapi wajah lelaki yang ada di hadapannya itu.
"Kenapa kamu gak pernah bilang? Seandainya kamu bilang, saya tidak akan memintamu melakukan ini."
"Dia anak saya, saya adalah Bundanya. Saat dia sakit, maka kewajiban saya untuk menyembuhkannya. Jadi, untuk apa saya mengiba ke sana-sini?" tanya Hazel sendu.
Hazel mengambil jemari mungil Surya, meletakannya di pipi mulus miliknya. Perlahan bibir mungilnya melebar, tersenyum lembut dengan kedua lesung pipi yang ia perlihatkan.
"Saat keluarganya saja tidak mau mengakuinya. Bagaimana saya bisa berpikir, jika orang asing akan peduli pada kami?"
Perlahan Ardan menundukan pandangannya. Kenapa ia bisa sepicik ini? Ia bahkan sempat mengira Hazel sama dengan wanita pada umumnya, takhluk oleh jabatan dan kedudukan seorang lelaki.
Padahal saat itu ia sudah berniat ingin membantu tanpa meminta apapun. Tetapi kenapa hanya karena Hazel menyetujuinya, ia mengubah niat baiknya?
Ardan mengusap wajah kasar. Menghela napas dengan berat.
"Maafkan saya, Hazel. Selama ini saya hanya terfokus pada dirimu. Tetapi saya tidak pernah bertanya apapun tentang orang-orang di sekelilingmu."
"Tidak masalah. Saya, juga tidak pernah berharap untuk diperhatikan oleh orang lain. Karena ... perhatian orang lain hanya akan membawa saya ke dalam masalah yang lebih besar lagi."
Ardan tersenyum, tangannya menyentuh pucuk kepala Hazel dan mengelusnya dengan lembut.
Terus terang ia merasa kecewa pada dirinya. Kecewa karena sikap angkuh dan obsesinya telah membawa Hazel dalam takdir rumit itu.
"Hazel, seandainya saya mengetahui ini dari awal. Mungkin, saya tidak akan memaksamu untuk menikahi saya."
Hazel melihat ka arah Ardan. Memandangi wajah Ardan yang terlihat begitu teduh, tidak seperti biasanya. Ia sangat angkuh dan posesif, kadang amarahnya juga sangat merepotkan.
Hazel membuka laci buffet yang ada di sampingnya, mengeluarkan sebuah kartu dan memberikannya ke tangan Ardan.
"Saya sudah mengambil sebanyak dua ratus juta. Silahkan ambil kembali kartu anda," ucap Hazel lembut.
Ardan memandangi kartu yang ada di tangan Hazel. Tanpa Hazel bilang, ia tahu bahwa Hazel memang menggunakannya senilai itu. Bahkan satu sen pun ia tidak mengambilnya lebih.
Kenapa? Masih ada wanita sejujur dia di dunia ini?
"Simpanlah. Bagaimana juga kamu adalah istri saya, sah menurut hukum dan agama. Itu artinya saya wajib menafkahimu dan memenuhi kebutuhanmu."
Hazel menggelengkan kepalanya dan mengambil tangan Ardan. Memberikan kartu itu secara paksa ke telapak tangan Ardan.
"Saya sudah katakan. Saya hanya akan mengambil dua ratus juta dari kartu ini. Saya tidak akan mengingkari perkataan saya," jawab Hazel keras kepala.
"Baiklah." Ardan mengambil kartu ATM yang disodorkan Hazel. Memasukannya kembali ke dalam dompet dan menggantinya dengan ATM yang lain.
"Ambil ini, kamu saya izinkan memakainya sebanyak yang kamu mau. Karena saya, adalah suami kamu," jelas Ardan tegas.
"Tidak perlu, saya masih punya uang sendiri. Saya tahu anda suami saya saat ini. Tetapi kita hanya menikah karena perjanjian itu, jadi saya tidak akan merepotkan anda."
Ardan memandamgi wajah Hazel, entah kenapa. Rasanya ia sangat ingin memeluk badan wanita itu. Walaupun Hazel tidak memperlihatkannya, namun dari raut wajahnya ia sangat ingin menangis.
Mungkin ada beban berat yang selama ini ia pendam sendiri. Berusaha menahannya di pundak kecil itu.
'Aku tidak peduli lagi pada perjanjian itu, Hazel. Sumpah demi apapun, aku ingin kamu terus menjadi istriku dan berada dalam dekapanku.'
Ardan menghela napas, ia bangkit dari kursinya perlahan.
"Baiklah, saya harus pulang. Besok pagi masih ada rapat yang harus saya pimpin."
Hazel menganggukan kepalanya, Ardan tersenyum dan berjalan menjauh perlahan. Berniat meninggalkan ruangan itu.
"Hem, Pak," panggil Hazel menghentikan langkah Ardan.
"Kenapa?"
"Bisakah ... malam ini, saya tinggal di sini?" tanya Hazel hati-hati.
Ardan kembali tersenyum dengan lembut, berjalan mendekati buffet kasur Surya. Menuliskan sebuah alamat dan enam digit angka.
"Kamu boleh di sini sampai anakmu sembuh. Setelah itu, kamu harus pulang ke alamat ini." Ardan menyerahkan kertas itu ke tangan Hazel.
Hazel membaca alamat itu dengan seksama. Walau ia bukan orang dari daerah sini, tetapi ia tahu. Alamat yang ditulis Ardan adalah salah satu perkomplekan mewah di kota ini.
"Lalu, angka ini?" tanya Hazel menunjuk angka di bawah alamat yang ditulis oleh Ardan.
Ardan mencepit sebuah ATM di antara dua jari tangannya. Tersenyum sembari memainkan kedua alis matanya. Meletakan di atas buffet berwarna putih itu.
Ardan mengelus pucuk kepala Hazel dan menciumnya lembut.
"Jaga kesehatanmu, Hazel. Saya akan sering ke sini saat senggang. Jangan malas makan, ya," ucap Ardan lembut.
Hazel menganggukan kepalanya perlahan. Ardan tersenyum dan menundukan badannya, menyamakan wajahnya dengan wajah Hazel.
Ardan menarik dagu Hazel dan mencium bibir wanita itu sekilas. Mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Hazel.
Sementara Hazel hanya diam tanpa bereaksi apapun. Ia hanya menatap Ardan dingin.
"Putramu akan baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir, karena jika kamu yang sakit. Maka saya yang akan terluka."
"Pergilah, saya malas digoda oleh anda," usir Hazel dingin.
Ardan tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Entah kenapa? Semakin Hazel bersikap dingin semakin ia senang untuk menggoda.
"Saya pergi. Jaga diri, istriku."