For My Family

For My Family
134



Ardan memalingkan kepalanya saat menyadari ada seseorang yang datang. Tangan kekarnya meraih Yena, mengangkat bayi mungil itu, lantas membawanya keluar.


Ferdi tersenyum, berjalan menghampiri Ardan yang berdiri di ambang pintu kontrakan Nigar.


"Aku mengantarkan mobilmu."


"Kenapa gak bawa sekalian ke kantor saja?"


"Aku takut kau perlu untuk menjemput, Hazel."


Ferdi menyerahkan kunci mobil, kini lelaki itu mengambil bayi cantik yang ada di dekapan Ardan.


Mencium aroma khas dari makhluk mungil benih sahabatnya itu.


"Matanya cantik, ya," ucap Ferdi seraya menatapi wajah Yena.


"Hem. Mata Hazel. Anakmu juga akan memiliki mata yang indah jika kau menikahi Nigar."


Ferdi menghela napasnya, ia berjalan ke arah luar. Diikuti oleh Ardan. Sengaja menjauh dari rumah kontrakan itu.


"Aku rasa. Aku mundur saja," ucap Ferdi lembut.


"Kenapa? Bukan hal yang mudah untuk kamu membuka hati, Fer."


Mata di balik lensa itu menatap ke arah dalam. Hanya terlihat bayangan dua wanita di balik tirai jendela.


"Adikmu buta mencintai Nigar, Ardan. Dan kurasa ... Nigar juga tidak menaruh rasa padaku."


"Hei ... ayolah. Berjuang sedikit untuk hatimu. Jangan secepat ini menyerah, Teman," balas Ardan seraya merangkul bahu kekar itu.


"Aku sudah berjuang. Mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Jika Dia tidak berkenan, untuk apa memaksakan."


Ardan tersenyum lembut, perlahan tangannya mencengkeram bahu itu. Lantas menepuknya pelan.


Satu jari Ferdi memetik bunga di pagar kontrakan Nigar. Menyelipkan di balik telinga bayi mungil yang ada di dekapan.


"Ardan."


"Hem."


"Bagaimana jika aku menunggu Yena saja."


Ardan terbahak, ia menggelengkan kepalanya pelan.


"Astaga, Bujang Tua ini. Apa kau segitu putus asanya? Bayiku baru berumur bulanan."


"Tak menjadi adik iparmu. Tak masalah menjadi menantumu, bukan?"


Ardan terkekeh, tangannya mengambil badan Yena dengan cekatan.


"Aku khawatir, kau adalah pedofil di balik wajah tenang itu."


"Sialan! Aku tidak sebajing*n itu juga, ya."


Riuh gelak tawa terdengar, beberapa kali jari Ferdi ingin meraih pipi gembil Yena. Namun, Ardan menjauhkannya.


Dua lelaki itu tertawa renyah, saling menggoda satu sama lain. Tanpa sadar, ada lengkungan yang tercipta di bibir gadis yang tengah menatap mereka berdua.


Tak tahu mengapa, ada desiran yang menyapa kalbunya ketika mendengar gelak tawa itu menggema.


Teduh, dan menenangkan. Ferdi tidak pernah memaksakan kehendaknya pada Nigar. Lelaki itu, bahkan menerima apa pun yang semesta suguhkan.


Menikmati, menjalani, tanpa mengeluh. Walau selalu ada bayangan kelabu yang menggelayuti hidupnya. Lelaki itu, entah bagaimana bisa menghadapi semuanya.


Sebuah sentuhan mengalihkan perhatian Nigar. Gadis itu berbalik, memandang sang Kakak yang tengah tersenyum ke arahnya.


"Apa ... kamu masih belum memutuskan? Jika tidak bersama Arfi, kenapa masih menggantungi harapan Ferdi?" tanya Hazel lembut.


Nigar menunduk, jemari tangannya memilin ujung hijab. Gamang, itu yang dia rasakan.


"Nigar," panggil Hazel lembut.


Gadis itu mendongak.


"Jangan terlalu lama. Kalo kamu tidak mau menerima keduanya, maka katakan dengan jelas. Jangan menggantung harapan siapa pun itu. Jika menolak maka katakan dengan baik, jangan lukai hatinya."


"Hazel."


"Hem."


"Menurutmu, Pak Ferdi itu lelaki yang seperti apa?" tanya Nigar lembut.


"Jika kau tanya dia seperti apa? Dia adalah lelaki yang hampir tanpa cela," jawab Ardan mencela pertanyaan Nigar.


Lelaki itu menghampiri keduanya, memberikan Yena ke dalam dekapan sang istri saat bayi itu mulai rewel.


"Jika kau ingin membandingkan Arfi dan Ferdi. Itu gak adil, Nigar."


Gadis itu menautkan kedua alis matanya. Tak mengerti oleh ucapan GM tersebut.


"Arfi tidak akan pernah bisa sebaik Ferdi, karena Arfi bukan lelaki yang terlahir dari keluarga susah. Arfi tidak akan bisa sesabar Ferdi, karena dia memang belum dewasa. Arfi, tidak akan bisa sebijak Ferdi, karena dia terbiasa hidup berfoya. Kau ingin lihat perbandingannya, maka Arfi akan kalah telak di bawah Ferdi. Tapi adikku, tak seburuk itu juga. Ada hal baik dalam dirinya, yang tak akan sebanding dengan Ferdi."


Gadis itu menunduk, genggaman tangannya di ujung hijab semakin mengerat.


"Ferdi memiliki kelemahan, pun juga Arfi. Mereka memiliki sifat dan sikap yang berbeda, jika kau hanya memilih yang paling banyak kelebihannya. Maka keduanya tetap banyak kekurangannya, sekarang yang kau ingini apa?"


Gadis itu bergeming, tak tahu harus menjawab apa.


Ardan tersenyum sinis melihat reaksi Nigar. Lelaki itu mengendurkan dasinya, membuat longgar lehernya.


"Tanyakan pada dirimu. Saat kau memilih pasangan, apa yang kau inginkan dari mereka? Jika kau ingin yang paling sempurna? Sudah cukup sempurna kah dirimu? Jika kau ingin yang bisa menerima dirimu, maka terimalah dia baik buruknya. Tak peduli bagaimana nantinya, dia yang kau pilih, seharusnya dia yang tak akan pernah kau sesali suatu saat nanti."


Ardan menghela napasnya, menyibak kain gorden. Melihat temannya yang ada di depan sedang menerima panggilan.


"Dia pernah terluka, bukan hal yang mudah untuk dia menata hatinya. Mencoba menerima hati yang baru, padahal dia masih terpaku pada cinta yang lalu."


Bibir tipis itu tersenyum, getir. Mengingat kegagalan dia yang tak mampu menjaga Arsy dulu.


"Nigar, bisakah aku minta tolong padamu?"


Gadis itu mendongak, menatap wajah Ardan lekat.


"Apa?"


"Jika kau tidak menerima dia. Bisakah kau tidak menggantungkan harapannya?"


***


Arfi mengacakkan satu tangannya di pinggang. Satu tangan yang lainnya menyentuh bibir.


"Tunggu dulu. Kamu? Sedang menembakku?" tanya Arfi bingung.


"Astaga! Hei, Adik Kecil. Kamu itu masih terlalu kecil, jangan sok-sokan main pacar-pacaran. Bahaya!"


Sasy memanjangkan bibirnya, ia menyilangkan kedua tangan di depan dada.


"Ish ... Om, siapa juga yang mau pacaran beneran. Maksud aku itu, Om pura-pura jadi pacar aku!"


"Hahahaha! Astaga! Apa kamu pikir kita ini lagi main drama?"


"Aku serius!" teriak Sasy geram.


Semakin membuat gelak tawa Arfi pecah. Geli, mendengar permintaan anak kecil ini.


"Sudahlah, kamu belanja saja. Biar aku temani, ya. Jangan minta yang aneh-aneh," ucap Arfi mencoba menghentikan tawanya.


"Ayolah, Om. Sekali saja, Om cuma harus temeni aku buat ke acara penerimaan mahasiswi baru. Setelah itu utang Om padaku, lunas."


Arfi kembali tertawa, kepalanya menggeleng lemah. Perlahan ia membungkuk, mendekatkan bibir ke telinga Sasy.


"Ogah!" ketusnya.


"Om itu masih ada utang sama aku. Apa Om gak mau tanggung jawab?"


"Tanggung jawab, ya, tanggung jawab. Tapi gak jadi pacar juga."


"Memangnya kenapa kalo jadi pacar aku? Cuma semalam juga!" bujuk Sasy.


Arfi menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Melirik ke arah Sasy dengan tatapan menggoda.


"Memang kenapa kamu ngebet banget pingin punya pacar? Cuma ke acara penerimaan mahasiswi juga?"


Kepala Sasy tertunduk, gadis itu menautkan kedua jemari tangannya.


"Abisnya mereka selalu ngejekin aku, Om. Katanya aku ini gadis gak laku, jomlo selama delapan belas tahun."


"Hahahahaha! Oh Tuhan! Kenapa masih ada makhluk unik ini di zaman secanggih ini?" ledek Arfi, tawanya semakin pecah.


Membuat wajah gadis itu memerah, menahan malu. Pelan, ia memainkan bibirnya. Lalu jari membenarkan letak ransel mungil di bahu.


Menyadari wajah gadis itu telah berubah, Arfi berdehem pelan.


"Hei, seleraku itu wanita-wanita seksi dengan body dan penampilan memesona. Untuk ukuran gadis kecil sepertimu?" Arfi menggaruk ujung dagunya.


"Apanya yang menarik?" tanya Arfi menatapi tubuh mungil itu dari atas sampai bawah.


Kedua tangan Sasy menutupi tubuh bagian depannya. Menambah gelak tawa Arfi yang kian memecah.


"Hei adik kecil. Tak perlu kau tutupi, dadamu memang belum tumbuh," ucap Arfi seraya mengacak pucuk kepala Sasy.


"Udah tumbuh, kok," jawab Sasy lugu.


"Apanya?" tanya Arfi lagi.


"Itunya," jawab Sasy.


Arfi tak bisa berhenti terkekeh, baru kali ini dia berhadapan dengan gadis lugu. Di ibu kota, bahkan sebagian anak SMP saja terbiasa dengan pakaian minim yang mengumbar kulit bahunya.


"Gak keliatan, tuh. Bantat kali!" ledek Arfi lagi.


Sasy menurunkan kedua tangannya. "Masa, sih?" Polos gadis itu mengintip dari kerah kaus longgarnya.


Arfi terpingkal, ia menghempaskan bokong di kursi halte. Tak tahan lagi, gadis kecil itu membuatnya lemas.


"Hei, sudahlah. Aku tak tahan lagi," ucap Arfi geli.


Sasy memanyun, kaki kecilnya berjalan menghampiri Arfi. Duduk di sebelah lelaki berambut pirang itu.


"Om, ayolah. Semalam saja," pinta Sasy seraya menarik ujung lengan kaus Arfi.


"Tidak!"


"Ayolah, Om. Aku mohon, ya," bujuk Sasy lagi.


"Aku tidak selera pacaran sama yang serba rata. Tak ada apa pun yang menggoda," jawab Arfi lagi.


"Enggak rata, kok, Om. Lihat, hidungku mancung." Gadis itu menyentuh ujung hidungnya.


Arfi kembali terkekeh, ia menarik ujung hidung itu, gemas.


"Bahkan hidungmu saja kecil. Di dirimu, apa tidak ada yang besar?"


"Ada!"


Sasy menelisik ke seluruh anggota tubuhnya.


"Jempol tanganku besar," jawab Sasy seraya memperlihatkan jempol tangannya ke depan wajah Arfi.


Lelaki itu menaikan kelingking tangannya. "Tapi masih besaran jari kelingking aku, tuh!"


Sasy memanyun, matanya menatapi jempol tangannya. Memang dia masih kecil, wajar saja kalau tidak ada yang bisa dilihat besar dari dirinya.


"Jadi Om gak mau ni?"


"Enggak!"


Sasy menghentakkan kakinya, gadis itu bangkit dan berjalan meninggalkan Arfi.


"Baiklah kalo begitu. Aku telepon saja Ardan Erlangga. Biar dia yang tanggung jawab atas utangmu, Om."


Mendengar itu membuat Arfi menoleh, gadis itu tengah menyalin kontak dari kartu nama ke ponselnya.


Arfi bangkit, mencoba meraih ponsel itu. Sasy lebih dulu menyadarinya, tangan kecilnya mencoba mengelak.


Menjauhkan ponselnya dari Arfi. Tak sadar, kedua tangan lelaki itu memeluk tubuh mungil Sasy dari belakang, sedangkan gadis itu terus membungkuk, menghindari tangan Arfi yang ingin meraih ponselnya.


"Berikan ponselmu!" ancam Arfi.


"Enggak! Aku mau menelpon Pak Ardan."


"Jangan! Dia sedang sibuk," ucap Arfi mencoba meraih ponsel itu.


Geram melihat Sasy yang terus membungkuk, kedua lengan itu terlilit di perut Sasy, memaksa gadis itu untuk tegak.


Sasy mencona memberontak, tangan Arfi erat memeluk tubuh mungilnya dari belakang. Satu tangan Arfi mencoba meraih ponsel yang terus Sasy hindarkan.


Menyadari tubuhnya yang semakin terkunci, Sasy memasukan ponselnya ke dalam kaus. Kepalanya memaling, melihat Arfi yang memeluknya di belakang. Lidahnya menjulur, mengejak Arfi yang sedang memadam. Wajahnya memerah.


"Sasy!" teriaknya kesal.


Kalah, ketika gadis itu menyembunyikan ponselnya di dalam dada.