
Ardan membongkar beberapa laci nakas yang berada di ruang baca milik Gerald. Sudah berjam-jam lelaki itu membongkar seisi ruangan. Namun, apa yang dicarinya masih belum ditemukan.
Lelaki tua dengan garis wajah mirip Ardan itu memasuki ruang baca. Melihat apa yang dikerjakan putranya tersebut.
"Apa yang kau cari, Ardan?"
"Beberapa berkas pengakuisisian dan merger perusahaan. Di mana Papa simpan?" tanya Ardan masih fokus dengan pencariannya.
"Untuk apa?"
"Sudah berikan saja," sungut Ardan.
Gerald menarik napas, walau tidak tahu maksud putranya, dia langsung memberikannya tanpa rasa curiga. Mata elang itu gesit membaca setiap kontrak yang ada, seulas senyum terbentuk di wajah garangnya. Bersama dengan ponselnnya yang berdering.
Ardan langsung menggeser layar setelah tahu siapa yang menelpon.
"Tebak, Boy. Apa yang aku dapatkan?" kata Evan sesaat setelah panggilan tersambung.
"Apa?" tanya Ardan semangat.
"Aku tidak bisa menjelaskan padamu lewat telepon, ayo kita ketemu."
"Baiklah. Kau ingin ketemu di kafe mana?"
"Ke rumahku saja, aku takut kau pulang nama nanti kalau ketemu di luar." Evan terkekeh, Ardan hanya bisa menggeleng lemah. Walau sudah lama berpisah dia masih hafal tabiat temannya itu.
"Sialan anak ini."
Panggilan terputus, cepat Ardan menyatukan berkas-berkas itu dan membawanya keluar.
"Ardan, mau ke mana kamu? Itu berkas asli!"
"Aku tau. Ada yang harus aku kerjakan."
"Ardan apa rencanamu? Beritahu Papa, kamu jangan seenaknya saja mengambil keputusan." Gerald terus mengikuti langkah Ardan, hatinya mulai tidak tenang. Kadang Ardan bisa senekat itu memang.
"Semua akan baik-baik saja. Papa cukup diam dan bermainlah dengan Yena." Lelaki berkulit sawo matang itu langsung meninggalkan Gerald. Tidak peduli lagi pada panggilan yang dilontarkan Gerald.
.
Lelaki dengan jaket navy itu menjatuhkan badan di sebelah Evan. Lelaki berbadan tinggi itu menggeser laptopnya, memperlihatkan data yang didapatkannya.
"Apa ini?" tanya Ardan tak mengerti.
"Ada kecurangan yang dilakukan keluarga firma hukummu."
Tajam tatapan mata itu menatap kembali ke dalam laptop, masih tidak mengerti.
"Anak tertua dari David Laurent sama sekali tidak memiliki kemampuan dalam bidang hukum."
"Maksudmu?"
"Ada seseorang yang berada di belakangnya selama ini. Mungkin saja, David sendiri."
"Aku masih tidak mengerti."
Evan menarik napas. "Sederhananya begini. Semua gelar yang Farhan dapatkan tidak sah, ada beberapa dokumen yang dibeli."
"Hah?"
"Seperti gelar hukum yang dimiliki misalnya," sambung Evan menjelaskan.
"Waow, bukankah ini pelanggaran hukum? Bagaimana bisa pakar hukum memainkan hukum seperti ini?"
Evan tertawa dan kembali sibuk mengetik layar laptopnya. "Dan masih banyak lagi data yang bisa menyudutkan mereka. Intinya mereka tidak akan bisa menekanmu. Karena jika ini terbongkar ke publik. Maka firma hukum mereka akan hancur."
"Maksudmu ini kelemahan mereka?" tanya Ardan lagi
"Tentu saja. Dan dari data yang kupelajari. Semua trik yang dihasilkan Farhan selama ini adalah hasil pemikiran ayahnya sendiri, David. Dia hanya sebagai boneka yang memainkan peran."
"Tunggu dulu, aku semakin tidak mengerti. Untuk apa mereka melakukan ini?"
"Tentu saja untuk mempertahankan nama. Apalagi?"
Ardan tercekat beberapa detik, menit selanjutnya dia menggeleng dan tertawa miris.
"Bagaimana bisa? Mereka adalah firma hukum."
"Tak ada yang benar-benar bersih di dunia ini, Ardan. Setiap orang memiliki celah, sekarang tergantung bagaimana orang itu bisa menutup rapat celahnya tanpa kelihatan oleh dunia."
"Lalu, bagaimana bisa kau mendapatkan ini semua, Evan? Apa ini kebenaran atau hanya isu belaka?"
Lelaki bernama Evan itu melirik, dia menggelengkan kepala.
"Kau lupa jika yang kutangani dulu siapa? Jika seperti ini saja aku tak mampu. Maka lebih baik aku mundur dari dunia hukum."
Ardan tertawa dan menggeleng, lantas ia menyerahkan beberapa berkas ke tangan Evan.
"Ini beberapa berkas perusahaan yang dipaksa untuk gabung ke Erlangga Grup. Kamu pelajari dulu, karena pasti mereka akan menekan dengan menggunakan berkas-berkas ini."
Evan mengambil tas yang disodorkan Ardan. Dibandingkan mempelajari berkas itu, dia malah tertarik mencari informasi yang akan menyudutkan lawan.
Ardan mendesis, ia memukul kepala Evan geram.
"Seriuslah sedikit!" sungut Ardan kesal.
Evan mencebik. "Aku tau. Kau tenang saja. Saat waktunya tiba semua akan baik-baik saja."
"Baiklah, aku mengandalkanmu, Teman."
Evan tak terlalu peduli, dia hanya melambaikan tangannya mengusir Ardan. Lelaki berkulit sawo matang itu kesal, ia memijak kaki Evan seraya berjalan keluar.
...***...
Santai lelaki itu memasuki teras rumah dengan tangan yang terbenam di saku jaket.
"Ardan."
Lelaki itu berhenti, berhadapan dengan kembarannya di depan teras.
"Kenapa kau tenang sekali? Kita tidak memiliki banyak waktu lagi."
"Aku tau. Dan aku sudah membereskannya. Kau cukup diam dan tunggu hasilnya."
Arfan terdiam, melihat gelagat Ardan yang sama sekali tidak goyang menghadapi masalah ini. Malah terlihat lebih santai.
"Kau serius?"
"Sure."
"Secepat ini?"
"Bukankah kau yang bilang kita terdesak?"
"Bagaimana mungkin? Aku mencari jalan keluarnya selama berbulan-bulan. Dan kau menyelesaikannya hanya dengan beberapa hari?" tanya Arfan tak percaya.
"Kau membual," sambungnya terkekeh geli.
Ardan menarik napas, merangkul bahu kembarannya itu memasuki rumah.
"Sudah kukatakan, jika harus bermain maka jadilah pengendali permainan. Bukan pengikut yang memenuhi segala keinginan lawan."
"Tapi bagaimana caranya?"
Ardan hanya mengendikkan bahu, memakai topi jaketnya berjalan memasuki rumah seraya bersiul.
Benar-benar tenang, sedangkan Arfan tidak tahu harus senang atau takut.
Kadang kepintaran Ardan terlalu licik untuk dipuji.
.
Lelaki dengan jaket navy itu langsung menarik tubuh sang istri yang berjalan ingin memasuki kamar Surya.
"Hem, dari mana saja? Mas sudah makan malam?"
Ardan menggeleng, memasang wajah melas memegangi perut.
"Lapar," adunya manja.
"Yaudah ayo turun biar aku panasi makan malam."
Lelaki itu langsung menjatuhkan kepala di bahu Hazel. Mengusap-usap manja di bahu sempit wanita beranak dua itu.
"Aku lemes, belum makan." Wajah itu semakin terbenam ke dalam bahu.
"Siapa suruh kelayapan terus?"
"Bawakan makanan ke kamar, dong," pinta Ardan manja.
Hazel menggeleng pelan, menarik kepala itu dan menyatukan antara dahi mereka.
"Dasar manja," kata Hazel mengedipkan sebelah matanya. "Yaudah, aku siapin makanannya dulu, ya."
Ardan mengangguk, sempat mengacak rambut Hazel sebelum gadis itu meninggalkannya.
Di ujung anak tangga pandangan wanita itu tertunduk saat harus berselisihan dengan Arfan.
Tak terlalu peduli, Hazel langsung menuruni anak tangga.
"Hazel Nazha," panggilnya dan seketika langkah itu terhenti.
Hening. Detik selanjutnya derap suara langkah menuruni anak tangga terdengar. Arfan berdiri selang dua anak tangga berhadapan dengan Hazel. Menyamakan tinggi dengan wanita mungil tersebut.
"Ada yang ingin Anda bicarakam dengan saya, Pak?"
Arfan hanya diam. Hening.
Setelah beberapa waktu Arfan tidak menjawab. Hazel menarik napas, bergeser beberapa langkah ke samping dan Arfan mengikutinya.
Bergeser lagi dan tubuh tinggi itu mengikuti. Hazel menarik napas, tersenyum seraya menatapi wajah itu.
"Maaf, Pak. Jika Anda tidak ada perlu sama saya. Biarkan saya lewat. Suami saya sedang menunggu."
Duk!
Hazel memundur, naik ke anak tangga di belakangnya saat Arfan tiba-tiba berlutut di hadapannya. Matanya tertunduk, jauh ke dalam.
"Entah bagaimana aku bisa menghadapimu sebagai seorang keluarga. Mengingat bagaimana aku pernah sepecundang itu. Aku ... malu."
Hazel kelabakan, panik. Bingung bagaimana menghadapi situasi ini.
"Pak, tolong Anda jangan seperti ini. Tidak enak jika Pak Presdir dan mama melihat," bujuk Hazel.
Arfan menggeleng.
"Maaf," sesalnya.
"Pak, kita bisa bicarakan ini. Tapi tolong Anda bangkit dulu. Bagaimana jika ada yang melihat dan salah paham?" tanya Hazel semakin bingung.
"Maaf karena aku telah membahayakan bayimu. Membuatnya terlahir prematur dan harus mempertaruhkan hidupmu. Sumpah aku tidak bermaksud, Hazel."
Hazel mencebik kesal, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Suasana yang semakin malam membuat rumah ini sepi.
Wanita itu memilih berbalik dan berlari ke arah kamar. Membuka daun pintu dan langsung melompat ke atas kasur.
Membuat lelaki yang tengah bersantai itu terlonjak kaget.
"Hazel!" pekik Ardan terkejut dan gadis itu malah terkekeh.
Detik selanjutnya seulas senyum terbit di wajah garang itu. Menarik kepala Hazel dan memainkannya gemas.
"Mana makananku?" tanya Ardan dan gadis itu malah melirik ke bawah.
Sebelah alis Ardan menaik, pelan ia menggeser duduknya dan menjatuhkan tubuh mungil itu di bawah dekapannya.
"Mulai nakal." Geram, lelaki itu menarik ujung hidung Hazel.
"Maaf, Mas. Di anak tangga ada Pak Arfan."
"Kenapa dengan dia? Apa dia masih berusaha menggodamu?"
Kepala itu menggeleng. "Tapi dia berlutut di hadapanku."
Seketika alis tebal itu bertaut.
"Dia ... terus mengucapkan maaf."
"Lalu?"
"Aku lari ke sini."
Ardan menarik badannya, kembali terduduk di sebelah gadis itu.
"Kenapa malah lari? Bukannya dia pantas melakukan itu untuk mendapatkan maafmu? Bagaimana juga dia telah melukaimu dan Yena. Jika mengingat itu aku pun masih sangat marah padanya?"
Sepasang binar madu itu menatapi wajah Ardan, lalu kepala itu berpindah ke atas pangkuan sang suami.
"Tak peduli sebesar apa kesalahan orang lain. Tapi meminta atau membiarkan dia bersimpuh di bawah kaki itu tidak benar, Mas."
"Tapi kesalahan dia kali ini sangat besar, Nazha."
"Aku tau. Tapi aku bukan siapa-siapa. Hanya manusia yang setara dengannya. Jika memang dia meminta maaf, maka kewajiban kita adalah memaafkan tanpa meminta banyak perlakuan. Jika memaafkan, namun meminta kita diagungkan. Apa bedanya kita dengan dia yang melakukan kesalahan? Bahkan di mata Tuhan kita jauh lebih hina dari dia. Setidaknya dia yang bersalah memiliki keinginan untuk berubah, sementara kita semakin meninggikan hati karena merasa lebih suci dari dia."
"Jadi ... kamu ingin memaafkan Arfan begitu saja?" Lembut usapan tangan kekar itu hangat membelai kepala Hazel.
"Sebenarnya kalau mengingat bagaimana menyakitkannya. Aku juga gak tau bisa atau tidak memaafkan Pak Arfan. Tapi jika dilihat sekarang, banyak hikmah dibalik semuanya. Jika saja Yena tidak lahir saat itu, mungkin Yena yang saat ini tidak akan bisa meluluhkan hati papamu, kan, Mas?" tanya Hazel menoleh ke arah sang suami.
Ardan hanya tersenyum dan mengangguk. Walau kadang hatinya masih keras mengingat kejadian yang menyakitkan, tetapi apa yang dikatakan istrinya tidak salah. Dan egonya mengingingkan untuk memahami. Walau ada logika yang tidak bisa menerima sepenuh hati.
"Ada banyak alasan atas apa yang kita rasakan. Menurutku, siapapun yang menyakiti kita, itu semua bagian dari takdir yang dirancang Tuhan untuk tujuan yang nyata. Sebagai pelajaran dan pengalaman."
Ardan tersenyum dan mengecup kepala Hazel gemas.
"Aku tau. Dan untuk masalah Arfan, aku akan mengikutimu."
Hazel tertawa dan berbalik. Memeluk pinggang Ardan seraya membenamkan wajahnya di perut Ardan. Detik selanjutnya dia tersadar.
"Eh, tapi Mas kan belum makan." Kepala itu mendongak, menatap wajah Ardan dengan sorot penuh penyesalan.
"Tapi malam ini aku ingin makan yang lainnya." Lelaki itu ikut merebahkan badannya, menyingkap rambut cokelat itu kebalik telinga. Lantas berbisik mesra.
"Aku merindukanmu, Nazha."
Wajah putih itu bersemu, malu-malu menatap Ardan, yang ditatap malah mengedipkan sebelah matanya. Menggoda.
"Aku pun merindukan, Mas. Lebih rindu."
💝💝💝
Malam gaes
Minal aidzin wal Faidzin buat yang merayakan. 😊😊
Duh ... author mau mohon maaf karena sebelum lebaran author udah sok sibuk banget sampek gak bisa megang naskah
bukan gak mau balasi komen, maaf ya. kalo emang mampu author kabulin keinginan buat crazy up tapi belum bisa janji.
terima kasih banyak2 buat yang sering komen, percayalah gaes walau di grup serin ribut karena penghasilan yang gak mengguntungkan, author tetap setia karena kalian semua.
Semua komentar kalian adalah bayaran berharga yang buat author tetap berkarya.
Thank's a lot gaes. Salam hari raya dari ujung indonesia ❤💗💖