
Sedikit menghela napas, pria beranak dua itu terduduk dengan kepala yang jatuh ke atas sandaran kursi. Pedro buka kacamatanya, juga jas putih yang sempat dikenakan saat memulai terapi tadi.
"Lelah, ya?" tanya Pedro.
"Sangat." Jakun Ardan terlihat naik turun dengan cepat.
"Apa pekerjaanmu di luar sudah selesai?"
"Belum. Aku harus mengurus beberapa hal di sini. Mungkin dalam minggu ini aku akan pergi lagi ke sana."
"Maaf, jika hasil kali ini tidak terlalu memuaskan untukmu," sesal Pedro.
Ardan hanya tersenyum. Dia tahu mengobati takkan semudah itu. Selain sabar dan saling menguatkan hati, apalagi yang bisa dia lakukan?
"Ardan, beri aku izin untuk melakukan terapi lebih dalam lagi."
Kepala itu menoleh, mengerutkan dahi karena tak mengerti.
"Aku selama ini menahan diri karena dia adalah Nyonya Erlangga. Tapi, kini aku yakin bisa melakukannya dengan baik."
"Maksudnya bagaimana?"
"Singkatnya begini. Aku akan membuka semua luka tante Aulia. Meledakkan emosinya yang selama ini selalu ditahan dan dipendam sendirian. Mungkin ini akan terlihat sangat menyakitkan untuk kalian saksikan prosesnya, tapi aku ingin kalian mendampinginya."
Tajam tatapan itu menyanyup, memangnya ada lagi hal yang lebih menyakitkan dibandingkan melihat keadaan ibu yang melahirkan mereka terus terjebak imajinasi seperti ini? Selama bertahun-tahun dia hanya asyik berimajinasi sendiri.
"Lakukanlah! Kita tidak akan pernah tau sebelum mencoba."
***
Sepasang tangan langsung membentang saat Ardan membuka pintu kamarnya. Seulas senyum manis terukir indah, tubuh tegap itu langsung mendekap Hazel dengan sangat erat.
"Rindunya sama kamu, Nazhaku," katanya seraya menghunjami pucuk kepala Hazel.
"Apa anak-anak sudah tidur?" tanya Ardan di sela-sela hunjaman kecupannya.
"Sudah. Nggak tau kenapa anak-anak cepet banget tidurnya malam ini."
"Mereka sepertinya tau kalau Papa dan Bundanya ingin pacaran lagi. Mau kencan?"
"Apa Mas tidak lelah?"
"Sangat lelah. Karena itu aku ingin pulang di mana hatiku bisa istirahat dengan nyaman." Ardan lepaskan dekapannya dan menoel ujung hidung Hazel.
"Itu kamu." Wajah cantik Hazel bersemu, tersipu malu.
Ardan kembali mengecup dua pipi gembil itu, di mana semu kemerahan tampak indah dan menggemaskan paras cantik itu.
"Siap-siaplah, aku ingin mandi dulu."
Menuruti perintah sang suami, Hazel mulai memoles dirinya. Mematut diri di depan cermin berulang kali untuk mengecek tampilannya agar sesempurna mungkin.
Ardan yang baru keluar dari kamar mandi sedikit terkejut melihat tubuh mungil istrinya. Sangat cantik dengan drees sepanjang mata kaki dan lengan 3/4.
Menghindari sikap over protektif Ardan, Hazel lebih mencari aman menggunakan pakaian yang lebih tertutup. Daripada suaminya meracau dan mengomel, merusak mood yang sedang baik kini.
"Bagaimana bisa kamu berdandan secantik ini dalam waktu yang sesingkat itu?"
Bibir berlapiskan lipstik merah muda itu menggulum senyum.
"Aku cantik menurut, Mas?"
"Cantik, Sayang. Sangat cantik sampai aku tak bisa mengalihkan perhatian darimu."
Ardan tarik tubuh mungil itu ke dalam dekapan, baru ingin mencium bingkai indah di wajah Hazel, tertahan oleh tangan ibu dua anak tersebut.
"Pakai bajumu dulu, Mas. Aku mau kencan di luar, nggak mau kalau harus berubah kencan di kamar."
"Kenapa? Bukannya kencan di dalam kamar lebih indah di bandingkan di luar, ya?"
"Mas ...." Hazel mengerucutkan bibirnya, manja.
Ardan semakin gemas melihat ulah istrinya, dia lepaskan dekapan itu dan mengalah. Sebelum ucapan Hazel menjadi kenyataan dan kejutan yang sudah dia siapkan di luar. Batal.
Memilih mengendarai mobil sport hitamnya, Ardan membelah jalanan malam. Terbilang jarang dibawa keluar oleh sang suami. Binar-binar takjub di mata Hazel terlihat jelas saat dia menikmati pemandangan malam di ibu kota.
"Hazel, jangan buat aku malu dan merasa bersalah padamu, Sayang."
Hazel alihkan tatapannya dari kaca jendela.
"Maksud, Mas?"
"Tatapanmu itu, kelihatan sekali kalau aku jarang mengajakmu keluar malam."
Hazel terkekeh, dia kembali menatap ke luar saat mobil Ardan memasuki sebuah jembatan. Lampu yang terhias di pinggir jembatan membuat pemandangan semakin indah.
Beberapa kapal kecil terlihat tengah berlayar mengarungi sungai besar yang selama ini ada di ujung perbatasan ibu kota.
Menempuh perjalan yang lumayan jauh, Ardan mengajak Hazel untuk menikmati suasana malam di pinggir sungai yang menjadi daya tarik pinggiran ibu kota.
Walau tak seindah sungai Huangpu di Shanghai, namun gemerlap yang dihadirkan tak jauh berbeda. Beberapa gedung di pinggiran ibu kota dihiasi lampu warna-warni yang menambah pesona sungai saat kilapan sinar itu membayang di atas perairan.
"Wah ...." Sepasang kaki dengan wedges itu berlari tergesa menuju pagar sungai. Menatap lebih dekat sungai besar yang menjadi perbatasan ibu kota.
Ardan menggeleng mengikuti langkah kaki Hazel. Kali ini dia benar-benar merasa bersalah telah banyak mengabaikan istrinya selama tinggal di ibu kota.
Sepasang tangan kekar itu menumpuh di atas pagar. Mengurung istrinya yang masih takjub memandangi gemerlap kota di pinggir ibu kota.
"Kamu suka pemandangan di sini, Sayang?" bisik Ardan di telinga sang istri.
"Hem, indah, ya, Mas."
Baru saja mengatakan itu, tiba-tiba lampu di salah satu gedung mati. Gelap, dan itu mengurangi keindahan yang Hazel kagumi.
Tubuh mungil itu berbalik, dia tatap Ardan dengan ekspresi kecewa.
"Kenapa?" tanya Ardan menangkap kekecewaan itu.
"Lampunya mati, gelap, deh."
Ardan tersenyum, perlahan wajahnya mendekat. Menghapus jarak di antara keduanya. Setelah beberapa detik, Ardan lepaskan ciuman itu. Berbisik pelan di telinga Hazel.
"Selamat ulang tahun, Sayang."
Seketika mata Hazel melebar, baru akan mau mengatakan suatu hal tiba-tiba badannya memutar. Lampu gedung yang awalnya mati kini hidup, sebuah sinar menyala dari arah bawah langsung menaik ke atas. Seperti menciptakan gambaran kembang api. Sangat indah, sampai tubuh mungil itu terpatri. Takjub memandangnya.
Setelah pertunjukkan lampu itu selesai, keluarlah lambang hati dan tak lama hatinya terbelah menjadi dua. Tertulis nama Hazel Nazha di akhir pertunjukan lampu tersebut.
Ratusan pasang mata yang sempat menyaksikan itu bersorak gembira, seakan ikut merayakan hari kelahiran gadis berdarah Turki tersebut.
"Oh ... Sayang." Ardan tarik kepala itu ke dalam dekapan.
"Kenapa nangis? Kan, aku pulang mau buat kejutan."
Yang ditanyai semakin menjadi-jadi menangisnya. Ardan hanya bisa tertawa, membiarkan Hazel meluapkan ekspresinya.
Setelah terjeda untuk beberapa waktu lama, Hazel usap pipi dan meraih wajah Ardan.
"Apa Mas pulang hanya karena ulang tahunku?" tanyanya di sela isak yang tertinggal.
"Menurutmu?" tanya Ardan tak ingin menjawab.
Sebenarnya dia lupa jika hari ini tanggal ulang tahun istrinya, pas sampai di rumah dan melihat Hazel dia baru teringat. Untunglah masih punya waktu untuk menghubungi owner gedung itu agar menyiapkan kejutan dadakan.
Bibir mungil itu mengerucut. "Berapa banyak uang yang Mas habiskan untuk buat itu? Padahal asalkan Mas ingat saja itu sudah buat aku bahagia."
Ardan rapikan anak rambut yang keluar dari ikatan karena desau angin malam yang berembus pelan. Menyelipkan beberapa helai di balik telinga.
"Kenapa malah nanyain biayanya? Asalkan kamu suka, aku tak masalah."
"Bukankah saat ini Mas lagi kesulitan keuangan karena masalah perusahaan?"
"Karena itulah aku membuat kejutan untukmu."
"Hem?" Bibir merah muda itu memanyun, membuat Ardan semakin gemas karena sadar ini masih di tempat umum.
"Bukankah rezeki suami akan dilancarkan saat dia menyenangi istrinya?" Ardan balik badan itu dan mendekapnya dari belakang.
"Katakan! Kamu suka atau tidak?"
"Suka."
"Sama apanya?"
"Semuanya! Sama suami aku yang paling utama."
Ardan kecup puncak kepala Hazel dengan lembut.
"Tapi sayang, kan, Mas. Kita lagi butuh banyak materi saat ini."
"Jangan pikirkan itu, Hazel. Itu adalah tanggung jawabku yang tak perlu membebanimu."
"Aku hanya mengingatkanmu, aku cuma nggak mau Mas susah nanti karena buat ini hanya untuk ulang tahunku."
"Hanya katamu?" tanya Ardan tak suka.
"Eh?"
"Kamu itu segalanya, bukan hanya, Nazha! Dua anakku lahir dari rahimmu, kamu abdikan hidup untukku dan keluargaku yang tak ada hubungan darahnya denganmu. Bagaimana bisa kamu menganggap hanya dirimu yang berharga itu?"
"Itu semua kulakukan karena kamu telah memilihku menjadi istrimu, Mas."
"Dan aku melakukan semua ini karena kamulah yang sudah kupilih menjadi istriku, Sayang. Demimu, apapun akan kuusahakan dengan sekuat tenaga."
"Mas ...." Panggil Hazel manja.
"Hm?"
"Pengen cium!"
Ardan terkekeh, kini ungkapan rasa haru Hazel berbeda dari biasanya. Terkesan lebih manja, mungkin karena sempat terpisahkan jarak dan waktu yang lama.
"Tunggulah sebentar lagi."
"Hm?" Sebelah alis itu menaik, sementara tubuhnya terkunci dalam dekapan Ardan.
Sebuah kapal datang mendekati pelabuhan, Ardan genggam tangan mungil itu menuju tempat kapal bersandar.
Ardan bentangkan telapak tangan saat Hazel ingin menyeberangi pembatas kapal. Menyiapkan makan malam di atas kapal seraya menikmati angin malam dan bayangan indah lampu-lampu gedung yang menghiasi permukaan air.
Kembali membuat Hazel menangis. Dia pukuli badan Ardan, mencubit dan melakukan apa saja sangking gemasnya.
"Kok, aku malah disiksa?" protes Ardan tak terima.
"Abisnya sok romantis banget, sih?"
"Seharusnya kamu suka, ini malah suaminya disiksa. Nggak adil buatku."
"Hem, maaf." Hazel jatuhkan kepalanya di dalam dekapan Ardan yang ada di sebelahnya.
Meminta meja dengan satu kursi panjang sebagai tempat duduknya. Membuat pasangan itu lebih intens dalam menikmati suasana yang diciptakan indah sedemikian rupa oleh Ardan.
"Mas."
"Hm?"
"Sebenarnya seberapa kuat pundak ini? Kadang aku kagum padamu yang bisa menyortir segala masalah sampai tak tercampur aduk dan kamu selalu bisa menempatkan diri dan emosi yang berbeda saat di rumah. Denganku, dengan anak-anak dan keluargamu. Kamu selalu bisa mengimbangi emosi, aku kadang sangat salut padamu."
Mendengar itu Ardan hanya melepaskan senyumnya. Menyamankan pundak agar bisa menopang tubuh Hazel yang tengah bermanja padanya.
"Mas, terima kasih, ya. Karena kamu sudah memilih aku di antara banyaknya wanita yang mengagumi."
"Kenapa bicaranya melow begini, sih? Aku cape loh mikirin idenya biar kamu semangat, biar kamu bahagianya sampai lompat. Eh ... malah melempem dan mewek terus," ledek Ardan.
Hazel angkat kepalanya dan memandangi wajah Ardan lamat.
"Terima kasih sudah menjadi suami dan ayah yang hebat untukku dan anak-anak kita."
"Aku melakukan ini semua demi kita, Hazel. Tak perlu berterima kasih."
"Em .... " Hazel menggeleng dan kembali menjatuhkan kepalanya di dada Ardan.
"Aku tau ada penyesalan yang selalu Mas simpan tentang arti keluarga selama ini. Aku juga tau, banyak hal yang membuat Mas merasa gagal menjadi anak dan Mas nggak ingin menjadi suami dan ayah yang gagal lagi. Untuk itu aku berterima kasih, karena Mas sudah mau berusaha sekeras ini buat kami. Buat kebahagiaan kita, Mas jangan terus-terusan menyalahkan diri lagi, ya. Karena sebagai anak pun, Mas selalu melakukan yang terbaik untuk keluarga Erlangga."
Ardan raih tangan Hazel yang berada di atas dadanya mengenggam tangan itu dengan erat.
"Kehidupan akan selalu terus berubah, Mas. Jangan takut kalau pertarungan kali ini tidak bisa dimenangkan, apa pun hasilnya. Aku dan anak-anak adalah tempatmu untuk pulang. Mas sudah berusaha sebisanya, hasil akhir itu sudah menjadi keputusan Semesta. Jangan pernah salahkan dirimu lagi atas apa yang tak berjalan sesuai keinginan dan kemauan. Itu bukan karena Mas yang tak mampu, tapi memang begitulah jalan hidup yang harus kita tempuh."
Hazel angkat kepalanya, menatap Ardan dengan segala rasa yang dia miliki. Hazel tau Ardan akan memaksakan diri untuk segala hal. Dia tak pernah mengatakan lelah, dan selalu berusaha dengan mengorbankan dirinya.
"Aku di sini, selalu di sini. Di sisimu dan tak ingin pergi. Ingatlah, aku adalah tempatmu untuk berhenti berlabuh, tempatmu bertumpuh, dan tempatmu mencurahkan segala bebanmu, jangan pernah ragu memutuskan langkah apa pun yang Mas pikir akan baik."
Hazel raih sebelah pipi Ardan, memainkan antara dua ujung hidung mancung mereka.
"Tak peduli dunia akan berubah seperti apa? Aku tetaplah Hazelmu yang takkan pernah melepaskan dekapanmu. Miliki aku, sampai kapanpun kamu mau."