For My Family

For My Family
31



Ardan menutup pintu mobil setelah memasukan barang-barang Hazel ke dalam bagasi mobil.


Melihat Hazel yang memandamg kosong ke depan tanpa memakai seatbeltnya.


Perlahan Ardan menarik seatbelt yang ada di sebelah Hazel. Mengikatnya pada tubuh istrinya tersebut.


"Menagislah jika kamu ingin menangis," ucap Ardan lembut.


Hazel tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya. Masih memandang kosong jalanan yang ada di depannya melalui kaca mobil.


Ardan menghela napas, menarik sebuah tisu yang terletak di atas dashboard mobil. Perlahan tangannya terulur, mengelap sedikit bekas darah yang ada di sudut bibir Hazel.


"Apa masih sangat sakit?" tanya Ardan lembut.


Hazel menggelengkan kepalanya, perlahan genangan kaca itu terlihat menutupi netra mata. Bahkan beban itu akan tumpah jika ia mengedip sekali saja.


"Saya tidak akan bertanya apapun padamu. Jadi, silahkan jika kamu ingin meluapkannya di sini."


"Tidak perlu. Saat saya menikahi anda. Saya sudah memutuskan, bahwa saya tidak akan memiliki hati yang lemah lagi. Saya, tidak akan menangis hanya karena terluka ataupun disakiti oleh mereka."


Ardan terdiam, kenapa perkataan Hazel seperti sedang menyinggung dirinya.


Mengatakan bahwa akar dari semua penderitaan ini adalah karena dia yang menikahi dirinya.


Tanpa banyak bertanya lagi, Ardan memacukan mobilnya kembali ke rumah miliknya itu.


Tak banyak bicara, ia hanya meletakan barang-barang Hazel di lantai bawah. Membiarkan Hazel membereskan semuanya.


Walaupun ia dari awal hanya berniat mengejar Hazel yang terus menarik dirinya. Kini ia sama sekali tidak merasa senang ataupun puas.


Karena semakin banyak kenyataan hidup Hazel yang terbuka dan ia saksikan dengan mata kepala sendiri. Maka semakin besar pula rasa bersalah yang timbul dalam nuraninya.


Bersalah karena pernah berpikir untuk memeprmainkannya. Mengikatnya dengan takdir yang menyakitinya setiap detik, setiap saat, kapanpun itu.


Menjadikan kehidupan wanita itu, lebih berat dari sebelumnya.


Ardan membuka laptopnya, mencoba beralih fokus pada pekerjaan.


Ia terlambat mengetahuinya, semua kenyataan ini terungkap saat Hazel telah sah menjadi istrinya.


Niat hati ingin menjebak Hazel ke dalam dekapannya. Saat ini malah ia yang terjebak oleh permainan takdir itu sendiri.


Tidak bisa berhenti, bahkan memulai lebih sulit untuk dijalani. Tidak mungkin meninggalkan wanita itu sendiri, setelah apa yang ia alami. Maka perceraian akan menjadi derita baru yang harus ia rasakan lagi.


Ardan menyentuh sudut dahinya, sebenarnya kenapa? Kenapa ia bisa masuk ke dalam takdir rumit ini.


Entah dia yang memaksa masuk, atau memang takdir yang menjeratnya di awal. Membuat dirinya terus tertarik semakin dalam jatuh pada perasaan.


Entahlah, saat ini tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain mengikuti alur permainan.


***


Hazel memandangi langit-langit kamar, tangannya lembut menepuk bokong putranya yang sedang tertidur tengkurap di atas badannya.


Setelah lelah bermain sehabis makan tadi, kini putranya lelap memasuki alam mimpi.


Perlahan Hazel meletakan Surya di tengah kasur besar itu. Menumpuhkan kedua siku di atas kasur untuk tumpuhan dagu agar ia bisa memandangi wajah putranya yang sedang tertidur.


Rasanya tenang sekali, saat ia bisa menghabiskan banyak waktunya bersama Surya. Melihatnya tertidur dan bercanda. Merasakan detak jantungnya yang berdetak senada mengikuti ritme jantungnya.


Rasanya sudah lama sekali ia tidak sedekat ini dengan anaknya itu.


"Hazel, ini sudah malam. Kapan kamu berhenti memandangi Surya dan pergi tidur?" tanya mbok Darmi lembut.


"Iya, ini juga mau tidur."


Hazel menarik selimutnya dan mulai membaringkan badan di sebelah Surya.


"Bukan di sini. Tetapi bersama suamimu," ucap mbok Darmi menahan tangan Hazel yang ingin menarik selimut ke atas dadanya.


Hazel terdiam, perlahan ia duduk di atas ranjang. Menggenggam erat ujung selimutnya.


"Mbok."


"Kenapa?"


"Malam ini aku akan tidur di sini," lirih Hazel sendu.


Mbok Darmi menghela napas dan duduk di sebelah Hazel. Mengelus helaian rambut cokelat wanita itu.


"Hazel, saat ini kamu bukan lagi hanya seorang ibu. Tetapi kamu seorang istri. Kamu punya tugas yang lainnya, Nak."


"Tapi, Mbok--"


"Hazel, kamu bukan lagi anak gadis remaja yang baru pertama kali menikah. Kamu sudah dewasa, tidak perlu lagi Mbok jelaskan padamu, kan?"


"Aku tahu, Mbok. Tapi aku tidak ingin pergi ke sana."


"Ingin, tidak ingin. Itu sudah harus kamu lakukan sebagai baktimu pada dia, Hazel. Si Mbok pikir, dia juga bukan lelaki yang buruk. Selama ini dia tidak pernah memaksamu untuk pulang, dia membiarkanmu meninggalkannya di minggu-minggu pertama pernikahan kalian. Mau sampai kapan hubungan kalian berjalan seperti ini? Lama-lama dia juga akan bosan terus menunggumu, Hazel."


Hazel hanya diam, menundukan pandangannya ke bawah. Perlahan ia memejamkan matanya, walau pada akhirnya ia harus menyerah. Tetapi ia belum siap untuk menyerahkannya saat ini.


"Tapi, Mbok. Aku tidak bisa, hatiku tidak ingin mendekat padanya."


"Hazel, walaupun si Mbok gak tahu alasan kamu menikahinya. Tetapi seharusnya kamu sadar, lelaki itu menikah untuk menjaga dirinya. Jika dia tidak mendapatkannya dari istrinya dan mencari yang lain di luar. Maka semua dosa akan tertanggung padamu, Nak."


Hazel mengerutkan dahinya, melihat wajah teduh ibu angkatnya itu. Mbok Darmi tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Perlahan Hazel turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu kamar. Ia kembali membalikan badannya, melihat Surya yang tertidur di atas kasur.


Hazel menghela napas dan membuka pintu perlahan. Berjalan ke arah kamar suaminya itu.


Langkah Hazel terhenti di depan pintu kayu jati kamar Ardan. Ia mengenggam jemarinya, bersiap untuk mengetuk pintu berwarna cokelat itu.


Belum sempat jarinya bersentuhan dengan kayu, Hazel sudah kembali menurunkannya. Entah kenapa, tetapi ia enggan untuk masuk ke sana.


Hazel menghela napas sedikit berat, perlahan ia duduk dan melipat kedua kakinya. Meletakan kepala di atas kedua lutut.


Walaupun perjanjian ia dan Ardan tidak berakhir hanya di pernikahan. Tetapi rasanya berat ingin melangkah ke dalam sana.


Ia tidak sanggup melakukannya, ia tidak tahu harus bagaimana menahannya. Padahal ia tahu, semakin lama menundanya, maka semakin lama pula ia harus tinggal di sisi lelaki itu.


Ardan merenggakan otot badannya, lelah berjam-jam duduk di depan laptopnya. Entah kenapa, bebannya terasa berat akhir-akhir ini.


Mungkin karena ia terlalu banyak berpikir.


Ardan melihat jam di dinding kamarnya, sudah lewat dari tengah malam. Pandangannya beralih pada pintu kamar miliknya, tidak ada ketukan ataupun yang masuk dari sana.


Mungkin Hazel tidur bersama putranya, menemani anaknya yang masih dalam pemulihan pasca operasi. Pasti berat mengurus seorang putra sendirian. Bagaimana juga, ia hanyalah seorang wanita pekerja kontrak dengan gaji standart.


Ardan menutup laptopnya dan meraih mug di sampingnya. Berniat mengambil air ke dapur sebelum tidur mengistirahatkan raganya.


"Hazel kamu kenapa di sini?" tanya mbok Darmi yang datang mendekati Hazel.


Ardan menghentikan gerakan tangannya yang ingin membuka pintu kamar saat mendengar suara mbok Darmi di luar sana.


"Jadi dari tadi kamu duduk di sini?" tanya mbok Darmi kembali.


Hazel tak menjawab, ia hanya diam dengan mata kosong memandangi marmer kilat lantai rumah ini.


"Apa suamimu tidak membukakan pintu?"


Hazel hanya diam, mendekap erat kedua kakinya untuk menahan rasa dingin yang sedari tadi terus menusuk kulit badannya.


Mbok Darmi menghela napas saat tidak mendengar jawaban apapun dari bibir Hazel. Ia menarik tangan Hazel dan membedirikan wanita muda itu secara paksa.


"Biar Mbok yang ketuk pintunya, siapa tahu dia belum tidur di dalam."


Hazel menahan tangan mbok Darmi yang ingin mengetuk pintu kamar Ardan. Menggelengkan kepala dengan meneteskan cairan dari bening mata indahnya.


"Jangan, Mbok," tahan Hazel lembut.


"Jangan ketuk pintunya," sambungnya sendu.


"Kenapa? Apa kamu ingin tidur di depan pintu semalaman?"


"Tidak masalah. Di mana pun aku tidur, itu tidak masalah. Tetapi aku tidak bisa melakukannya, Mbok."


"Hazel--"


"Aku tidak sanggup. Aku tidak sanggup, Mbok." Hazel menarik badan mbok Darmi dan membenamkan wajahnya di atas bahu wanita gempal itu.


"Aku tidak sanggup jika harus melakukan itu. Aku tidak sanggup untuk mengkhianati mas Iqbal, Mbok. Bagaimana bisa? Aku melakukannya dengan orang asing yang sama sekali tidak aku kenal lebih dari sekadar namanya saja?"


Hazel menangis terisak, melepaskan air matanya yang kian dalam dan menjadi sesegukan yang terdengar ke telinga Ardan.


Ardan mengusap wajahnya kasar, menghela napas sembari mendengar isakan tangis Hazel yang kian mendalam.


"Aku takut," ucap Hazel parau.


"Takut kenapa, Hazel? Berhentilah untuk berpikir yang tidak-tidak. Tenanglah, Nak."


"Takut jika sampai membayangkan mas Iqbal yang ada di dalam sana. Aku takut, takut salah menyebutkan nama mas Iqbal saat memanggil namanya. Aku takut, mengira dia adalah mas Iqbal saat aku menatap matanya. Aku takut, aku takut mengkhianati mas Iqbal dan aku takut membuat hatinya terluka."


Hazel semakin mengencangkan dekapannya, membiarkan suara sesegukannya membesar memecahkan keheningan malam.


"Aku masih sangat mencintai mas Iqbal, Mbok. Sangat--" Hazel mengambil napas dengan berat, menahan sesegukan yang semakin membuat badannya bergetar.


"Aku merindukan dia, Mbok. Aku merindukan mas Iqbal. Bagaimana bisa? Aku tidur dengan lelaki itu, saat aku terus dan terus, merindukan mas Iqbal?"


Ardan menahan napasnya, entah kenapa sakit sekali saat mendengar pernyataan Hazel. Bahkan ia tidak mau menyebutkan namanya.


Ardan kembali ke kasurnya, meletakan gelasnya di atas buffet.


Memandangi pintu itu dengan lekat.


Padahal, ia dan Hazel berdiri sangat dekat. Hanya berbatasan sebuah kayu yang bisa ia buka kapan saja.


Tetapi kenapa? Jarak ia dan Hazel terasa lebih panjang dari apapun. Hazel, bagaikan sesuatu yang bisa ia raih tanpa bisa ia sentuh.


"Hazel, haruskah aku melepaskanmu?  Di saat aku telah mendekapmu?"