For My Family

For My Family
50



Bibir tipis itu ditarik sebelah, sehingga membentuk senyuman sinis di wajah manis pria beralis tebal itu.


"Pulang? Ke Ibu kota? Maaf, aku tidak punya waktu senggang untuk ke sana."


"Ardan, mamamu kecewa dengan sikapmu ini, Nak. Bagaimana kamu bisa menikah tanpa memberitahu keluarga?" tanya Gerald berusaha mengalah.


"Lalu, jika aku memberitahu lebih dulu, akankah kalian merestuiku atau--" Ardan menajamkan tatapan matanya ke arah Arfan.


"Memutuskan hubunganku dengan wanita ini?" sambungnya sinis.


Arfi tersenyum lembut dan berjalan mendekati Kakaknya itu. Merangkul bahu besar milik Kakak tertuanya tersebut.


"Kak Ardan, kenapa jadi tegang seperti ini? Kita ke sini untuk makan siang. Ayo duduk dan makan lagi," bujuk Arfi lembut.


Ardan kembali tersenyum sinis, ia mengambil tas Hazel yang ada di kursi dan menarik tangan wanita itu.


"Aku sudah selesai. Permisi!" tekannya sembari menarik tangan wanita itu menjauh.


Terlihat dua lelaki dewasa itu mengambil napas yang memburu kencang. Menahan amarah yang terlanjur tertantang.


"Arfan, kamu kenal wanita itu?" tanya Gerald memandangi punggung wanita yang sedang berjalan dengan putranya itu.


"Aku tahu."


"Siapa dia?"


"Salah satu karyawan kontrak di Green Kosmetik. Aku tahu, karena dia adalah karyawan terbaik di divisi promosi."


"Oh, jadi seperti itu? Cinta antara Bos dan bawahan ya?" Gerald tersenyum sinis, ternyata kali ini wanita yang menjadi retaknya hubungan dia dan Ardan semakin parah, hanyalah wanita biasa.


"Setahu aku, dia bukanlah gadis."


"Maksudnya?"


"Dia ... ibu dari seorang putra."


"Maksudnya janda?"


Arfan menganggukan kepala.


"Yang benar saja? Sebenarnya mau anak ini apa?" Gerald mengusap kasar wajah tuanya. Menghela napas agar jantungnya tidak bekerja terlalu cepat.


"Tapi jika dia masih Hazel yang dulu. Dari sikapnya, bukan dia yang mengejar tetapi Ardan yang mendekati."


"Maksud kamu apa?" tanya Gerald dengan nada yang sedikit meninggi karena amarah.


Bibir lelaki berkulit putih itu melengkung dengan lebar. Bukannya indah, malah terlihat semakin mengerikan.


"Aku kenal siapa kembaranku, dan sedikit mengenal wanita itu. Jika memahami sifat Ardan, dia hanya ingin bermain, dan wanita itu terperangkap dalam permainannya."


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Akankah kita paksa dia dengan uang?"


"Tidak! Wanita ini hanya korban. Biar aku yang membereskannya, cepat atau lambat. Ardan akan kembali ke dalam genggaman kita."


"Papa serahkan masalah ini denganmu, Arfan."


Arfan tersenyum dan mengangguk dengan pelan.


Sementara Arfi yang melihat senyum di wajah kakaknya itu mulai acuh. Bukannya senang, ia malah lebih takut saat melihat Arfan seperti ini.


Entah kenapa? Tetapi kembar yang sangat akrab ini bisa terpecah. Sahabat yang saling berbagi, kini saling berperang.


Hanya karena sebuah kesalahan di masa lalu, membawa tragedi panjang yang entah kapan akan selesai.


Ia, hanya bisa diam. Tidak menonton tetapi juga tidak ikut berperan. Tidak tahu harus bagaimana, tetapi ia juga mulai lelah dengan intrik dari keluarga mereka.


.


Hazel melepaskan rangkulan bahu Ardan saat berada di parkiran kafe. Menghentikan langkahnya untuk memasuki mobil.


"Ada apa? Kamu masih lapar?" tanya Ardan saat Hazel berhenti tiba-tiba.


Hazel menggelengkan kepala, ia menatap Ardan dengan raut wajah sendu.


"Mas."


"Hm."


"Ayo kembali ke dalam."


"Hah? Untuk apa?" tanya Ardan terkejut.


"Di sana keluarga kamu, kan? Aku belum sempat menyapa Papa kamu dan juga saudara kamu. Ayo kita sapa dengan cara yang lebih baik."


Ardan terkekeh, namun bukan seperti senang. Lebih terlihat miris.


"Apa kamu pikir, kamu bisa menyapa mereka secara baik-baik? Mereka terlihat jinak, Hazel. Tetapi mereka lebih mengerikan dari singa yang kelaparan."


"Tapi bagaimana pun juga mereka keluarga kamu, Mas."


"Walaupun mereka keluarga aku, apa kamu pikir aku akan membiarkanmu mendekati mereka? Ha?" tanya Ardan mulai garang.


"Tapi aku tidak ingin seperti ini. Bagaimana jika hubungan kalian pecah karena aku?"


"Itu biar menjadi urusanku!" tekan Ardan, tidak suka.


"Tapi, Mas--"


"Diam!"


Melihat Ardan dan Hazel yang mulai bersitegang, Ferdi merengkuh bahu kekar lelaki itu dan memasukannya ke dalam mobil.


Lelaki berkacamata tipis itu menghela napas, ia melihat Hazel dengan raut wajah bingung.


"Hazel, jangan dibahas dulu. Saat ini Ardan sedang panas, biarkan dia tenang dulu, oke."


Hazel ikut menghela napas, perlahan kepalanya mengangguk.


Lelaki berwajah teduh itu membuka pintu mobil, mempersilahkan wanita yang ada di depannya masuk ke dalam.


Dari spion Ferdi melihat Hazel yang membuang pandangannya ke luar jendela. Sama dengan lelaki yang ada di sebelahnya, hanya menekuk wajah dan menyilangkan kedua tangan di dada.


"Ardan, kamu mau balik ke perusahaan atau aku antar pulang?" tanya Ferdi memecahkan suasana.


"Balik keperusahaan," jawabnya ketus.


"Balik keperusahaan!" tekan Ardan sekali lagi.


Lelaki itu kembali menghela napas, kenapa? Tiba-tiba suasana yang tadinya sangat indah berubah seperti ini.


Terkadang, kebahagiaan yang terlalu indah juga mengerihkan pada akhirnya.


***


Sapaan lembut dan senyuman dari setiap orang yang bertemu lelaki itu, masih terus berlanjut hingga saat ini. Walaupun ia bukan lagi atasan perusahaan, namun pesonanya masih sangat kuat.


Arfan berjalan ke arah divisi promosi, memalingkan mata ke arah ruangan GM. Kembali sebuah senyum menghiasi wajahnya saat tidak melihat Ardan di sana.


"Hazel, ikut saya."


Seketika Hazel berdiri, menundukan pandangan sembari meremat jemari.


"Jangan takut, saya hanya ingin berbicara denganmu. Ngopi?" tanya Arfan lembut, tetapi entah kenapa, suara lembutnya itu terdengar menusuk.


"Em, saya-saya, masih harus buat konsep majalah, Pak," jawab Hazel takut.


Arfan melebarkan bibir tipisnya, ia menarik pergelangan tangan wanita itu keluar dari meja.


"Ikutlah, atau kamu memang lebih suka banyak salah paham yang terjadi di antara kita?" bisik Arfan tepat di telinga Hazel.


Beberapa mata mulai berbisik, desas-desus miring mulai terdengar.


Wanita itu menggigit bibir bawah, menatap Arfan dengan sudut mata.


"Baik," jawab Hazel mengalah. "Saya harus pergi ke mana?"


Wajah lembut lelaki itu kembali terhias senyum. Tangannya terulur, menyentuh pucuk kepala wanita muda itu.


"Good. Kita ngopi di kedai kopi depan, mau?"


Hazel menarik tasnya dan berjalan meninggalkan Arfan di sana. Mengencangkan kakinya agar lelaki berbadan jangkung itu tidak berjalan sejajar dengannya.


Dua gelas kopi tersaji, dengan kepulan asap yang memenuhi ruangan. Memberikan aroma ketenangan dari kafein yang terkandung di minuman berwarna hitam tersebut.


Lima belas menit, Arfan hanya diam sembari memandangi wajah cantik wanita yang ada di hadapannya saat ini. Jari tangan mengetuk meja mengikuti suara detikan jam, seperti memberikan nada untuk sebuah eksekusi dan menjatuhkan hukuman.


Hazel menghela napas, matanya membalas tatapan pria berwajah putih itu lebih tajam.


"Kenapa membuang waktu hanya untuk diam? Jika anda tidak ada perlu, saya permisi." Hazel bangkit dari kursinya dan berniat pergi.


"Apa yang Ardan janjikan padamu?" tanya lelaki itu menghentikan langkah Hazel.


"Maksud anda?" tanya Hazel berbalik.


Arfan tersenyum, tangannya meraih gelas kopi itu dan mesesapnya perlahan.


"Apa yang Ardan berikan sebagai imbalan permainan? Apakah kamu hanya korban, atau kamu juga partner mainnya?"


Hazel tersenyum sinis dan menggelengkan kepala.


"Saya pikir hanya ada di dalam sinetron, jika keluarga kaya akan menyuap kekasih putranya. Ternyata, dalam realita juga ada ya? Picik sekali kehidupan kolongmerat ini."


"Jangan terburu-buru menghakimi, Ipar. Aku tidak membawa uang atau apapun untuk menukar cinta kalian. Ups ... atau lebih tepatnya permainan kalian."


"Katakan dengan jelas, anda mau saya bagaimana?" tanya Hazel ketus.


"Duduklah, dulu. Kita belum sempat bersapa di awal pertama jumpa sebagai keluarga. Hm." Arfan mengulurkan tangan, meminta Hazel untuk kembali duduk di kursi kosong depannya.


Menghela napas, wanita bermata madu itu kembali duduk di kursinya tadi.


"Aku kenal kembaranku itu seperti apa. Selama hidupnya dia hanya bermain dengan para wanita. Tetapi sepertinya permainan kali ini sangat menarik sampai dia harus menikahimu, apa kalian tertangkap aparat desa?"


"Apakah janda seburuk itu di mata anda?" tanya Hazel sinis.


Arfan terkekeh, ia menegakan duduknya dan kembali mensesap gelas kopinya.


"Aku tahu kamu wanita seperti apa sebelumnya, Hazel. Kamu bukan wanita yang banyak bicara, kamu juga tidak pernah peduli pada gosip di perusahaan. Kamu juga tidak pernah terikat oleh gosip apapun selama ini. Aku terkejut, kenapa Ardan memilihmu sebagai permainannya. Mungkin, kamu cantik. Tetapi mantan pacar Ardan selama ini tentu banyak yang lebih cantik."


Entah kenapa, ada gumpalan darah dalam badan yang terasa seperti diremas saat mendengar ucapan saudara sekandung suaminya itu.


"Apa Ardan memaksamu untuk mengikuti permainan ini? Dia mengancammu? Apa yang kamu dapatkan dari permainan ini?" tanya Arfan.


Hazel menelan salivanya yang terasa pahit. Tidak salah, memang pada awalnya pernikahan ini adalah permainan, sebuah janji yang mengikatnya pada hutang.


"Apa Ardan memberikan fasilitas dan kemewahan? Atau dia memberikanmu sentuhan?" tanya Arfan lagi.


"Apa yang anda inginkan?" tanya Hazel ketus.


"Apalagi, jika bukan memintamu untuk menghentikan permainan ini dan tinggalkan saudaraku itu."


"Maaf, saya tidak bisa."


"Kenapa? Belum puas? Masih ingin sesuatu yang lebih. Katakan saja, bukan hanya Ardan, aku juga bisa memberikannya padamu."


Hazel tersenyum pahit dan menggelengkan kepalanya.


"Jika anda hanya ingin saya meninggalkannya, jangan takut."


Sebuah langkah besar terhenti saat mendengar ucapan dari bibir wanita itu. Ardan memundurkan langkahnya, menempelkan bahu pada pilar kafe.


"Saya tidak tahu apa yang anda maksud. Tetapi jika anda mau saya meninggalkan mas Ardan. Jangan khawatir, saat saya dan mas Ardan sudah selesai, maka aku akan pergi tanpa membawa apapun. Dan anda, tidak perlu mengucapkan kata rendahan untuk menyakiti saya."


Hazel mengambil tasnya dan kembali bangkit. Langkahnya kembali terhenti, ia mengalihkan pandangan matanya, melihat wajah Arfan yang begitu datar.


"Apapun yang anda pikirkan tentang saya. Terserah, tapi saya mohon. Jangan dekati saya lagi, karena tanpa anda minta. Saya akan pergi, jika waktunya tiba."


Hazel melanjutkan langkahnya, keluar dari kedai kopi itu dengan sedikit tergesa.


Ardan menjatuhkan kepalanya ke pilar kafe. Ada gumpalan yang terasa sangat sakit di tubuhnya, mendengar ucapan Hazel yang masih ingin pergi setelah apa yang mereka lalui.


Kenapa sakit sekali? Ia berpikir bahwa Hazel sudah cukup kuat untuk bertahan dan menentang keinginan keluarganya. Namun dugaannya salah, dari awal, wanita itu memang hanya menganggapnya suami perjanjian.


Melayani sebagai pihak kedua dari perjanjian itu. Bukan sebagai istri pada suami.


'Kenapa perih sekali?' Ardan meremat dada kirinya, saat gumpalan daging itu kembali terasa perih.


'Tuhan ... sesulit inikah mencintai makhluk-Mu?'