
Ardan menghela napasnya, ia mengusap wajah kasar. "Gak bisa dong, Fer. Perusahaan ini aku perjuangin sekuat tenaga, bukan cuma uangnya, tapi juga masalah waktu, berapa banyak waktu kamu terbuang untuk berjuang demi perusahaan ini," tahan Ardan lembut.
"Sumpah aku lelah, Dan. Capek, ditambah lagi masalah yang gak pernah surut. Ini bukan cuma masalah pekerjaan, tapi juga perang antara kamu dan Gerald. Lalu aku? Bagai berdiri di ambang pertentangan kalian."
"Lelah boleh, tapi menyerah jangan. Ini impian kita. Sorry, Kawan, untuk masalah yang aku buat semakin runyam. Tapi kita masih bisa bertahan, aku bisa!" bela Ardan mantap.
"Caranya?" tanya Ferdi ketus. "Laporannya ada pada Nara, sekarang bagaimana kita bisa presentase kalau filenya gak ada?" sambungnya kesal.
Ardan diam, hening beberapa saat. Keduanya masuk ke dalam pikiran masing-masing. Berusaha memikirkan cara agar mereka memiliki jalan keluar.
Sampai suara ketukan dari balik pintu terdengar, serong gadis cantik masuk mendekati dua lelaki itu.
"Pak Ardan, Pak Ferdi, kalian berdua ditunggu di ruang meeting untuk rapat tahunan." Gadis berambut pirang itu tersenyum.
Seulas senyum sinis tersunging di bibir lelaki berkacamata itu. Setelah sekretarisnya keluar, Ferdi menatap Ardan.
"Aku tau caranya, Dan." Seringai kekejaman tercetak di bibir lelaki itu. Ardan yang melihat senyum itu paham maksudnya. Kali ini cara Ferdi pasti mejengkelkan.
***
"Aku gak mau!" terik Ardan ketus.
"Ardan, apa kita punya cara lain?"
"Tapi gak gitu juga, Fer. Istriku sedang inap di rumah sakit. Kamu mau aku menggoda Nana? Yang benar saja?" Ardan membuka pintu Direktur itu dan berjalan meninggalkan Ferdi di belakang.
"Lantas apakah rapat ini bisa berjalan? Data grafik memang ada padamu, tetapi detil penjualannya ada pada gadis itu. Menurutmu apa kita bisa menang hanya dengan data grafik tahunan?"
Seketika langkah Ardan terhenti, tepat di depan ruangan rapat. Ia melirik ke arah Ferdi. Terdiam sejenak, sampai sebuah baki hampir terjatuh dan megarah pada Sekretaris Direktur tersebut.
Sigap Ardan menarik lengan Nana yang berada di dekat Ob tersebut, menempelkan badan gadis itu di kaca ruang rapat. Menghalau cairan yang tumpah dari baki itu agar tak mengenainya.
Nana terdiam, netranya memandang Ardan yang ada di depan dengan binar kagum. Harum tubuhnya sangat menenangkan, apalagi rahang tegas yang dia miliki sangat menawan.
Saat Ardan memalingkan wajahnya ke arah Nana, ia menadapati iris gadis itu menatapnya dengan lekat. Lelaki itu terdiam, memperhatikan wajah gadis itu juga.
'Sudah begini, sekalian godai saja, lah,' batin Ardan.
Perlahan bibir lelaki itu mengembang, memperlihatkan jajaran giginya dan sebuah ginsul di sana. Pesona yang kuat dan dalam.
"Hati-hati, bagaimana jika kopi panas itu menumpahi kulit putihmu, Cantik," goda Ardan genit.
Sedang, Ferdi hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
'Dasar Penggoda, tadi masih bertekak ingin setia. Sekarang malah nunjukin siapa dia. Penggoda, ya, tetap saja Penggoda,' batin Ferdi mengumpat.
Sementara ada mata yang memerah dalam sini. Tangannya terkepal, mencoba meredam amarah yag tertantang untuk berkobar.
Ardan membukakan pintu untu gadis itu, saat Nana kembali menatapnya, Ardan mengedipkan sebelah matanya. Menggoda Sekretaris Ferdi tersebut.
Gadis itu menggulum senyum, menyingkap rambut ke balik telinga. Bersemu, walau ia sadar lelaki yang menggodanya adalah lelaki beristri.
"Maaf, menunggu lama," ucap Ardan ramah. Tangannya menarik salah satu kursi dan mempersilakan Nana untuk duduk di sana. Sedang ia duduk di sebelahnya, mendekat, membuat Arfan yang ada di depannya semakin memanas.
Ferdi langsung berdiri di depan, membuka acara rapat itu agar rencana dia dan Ardan tidak ketahuan.
Jari kekar itu mencolek bahu Nana lembut, gadis itu menoleh. Ardan memainkan matanya, tersenyum untuk kembali menggoda.
Ferdi mencoba menahan tawanya, dalam hati ia selalu berkata, 'Meledaklah, cepat meledak!'
Sementara sang Kembaran sudah mati-matian menahan amarah yang terus ditantang. Mereka berdua memahami watak Arfan, dia akan sangat benci ketika mainannya diganggu, dan Ferdi menggunaka cara ini agar keributan terjadi.
Ardan menyentuh ujung rambut Nana, memainkan di ujung jarinya. Ketika wanita itu memalingkan wajah, Ardan menariknya lembut. Dia, benar-benar tahu cara menakhlukan wanita.
Gadis itu tersenyum dengan guratan merah menghiasi wajah. Pelan, jarinya mencubit lengan Ardan manja.
Itu, berhasil menciptakan gemelatuk di gigi Arfan. Dadanya mulai naik-turun dengan sangat cepat. Menahan amarahnya yang kian membesar melahap jiwa.
Ia menanti waktu agar Ardan segera tampil ke depan menggantikan Ferdi memimpin rapat. Sayang, Direktur itu sengaja mengulur waktu agar dia tetap panas oleh perbuatan kembarannya.
"Na," panggil Ardan, mesra.
"Ya, Pak."
Pelan gadis itu menggigit bibir bawahnya, melirik ke arah Ardan dengan tatapan manja.
Tak tahan lagi, Arfan berdiri tiba-tiba dengan wajah yang memerah.
"Maaf, saya ada kepentingan lain," pamit Arfan ketus.
Melihat Arfan yang memilih pergi di bandingkan menghajar Ardan, cukup membuat lelaki berkacamata itu panik. Kalau Arfan pergi, artinya rapatnya masih tetap berjalan.
"Mau ke mana? Sebagai CEO sementara, seharusnya kamu tetap tinggal untuk melihat performa perusahaan kami, bukan?" tahan Ardan.
Tangan yang sudah memegang gagang pintu itu terlepas, lantas ia berbalik da memandang Ardan sengit.
"Arfan, ada apa denganmu? Duduklah, jangan pergi tanpa seizinku," perintah Gerald tegas.
Tak bisa melawan, lelaki itu kembali duduk. Matanya masih memandangi wanitanya yang kini tertunduk.
Nana menyadari kepergian Arfan karena ulahnya. Untuk itu ia berusha untuk tidak lagi tergoda oleh Ardan. Walau sebagai wanita, ia memang lebih mengagumi suami Hazel itu.
Bukan hanya tampang, tapi juga kecerdasan dan juga jabatan yang ia miliki jauh lebih menggoda hati.
"Cantik, kenapa menunduk terus? Aku ada di sampingmu, bukan di bawahmu," bisik Ardan lembut.
"Pak, mohon jangan seperti ini. Kita sedang rapat."
"Yang mengatakan kita sedang bercinta siapa?"
Nana mengigit bibir bawahnya kembali, melirik Ardan. Seketika lelaki itu terseyum manis. Sangat menawan dengan gigi ginsul itu.
"Sudah cukup!"
Braaak ....
Arfan menggeberak meja kuat. Seketika pandangan peserta rapat teralih padanya.
"Bagaimana bisa perusahaan ini mendapatkan pimpinan semenjijikan dia?" tanya Arfan memandang kembarannya itu sengit.
Sedang yang dipandangi mulai menyandarkan punggung di kursinya. Tersenyum tipis saat umpannya termakan sempurna.
"Arfan apa yang kamu katakan?" tanya Gerald bingung.
Mata Arfan semakin memerah tajam, gemelatuk giginya nyaring terdengar. Dengan kepalan tangan yang semakin kuat.
"Bahkan di tengah rapat dia masih bisa menggoda Nana, Pa!" teriak Arfan seraya menunjuk Ardan.
"Aku?" tanya Ardan tak berdosa. "Kapan aku menggodanya?" sambungnya polos.
"Jangan banyak membual, sungguh aku muak melihat ulahmu, Ardan!"
"Arfan! Ardan! Hentikan!" teriak Gerald lebih lantang. "Kalian ini penerus saya, apa kalian tidak malu bertengkar hanya demi wanita? Kalian lupa kalian itu sudah beristri."
Ardan menyilangkan kedua tangan di dada, sengit pandangan itu menantang tatapan kembaran yang ada di depannya.
"Aku tidak lupa. Dan aku ... sangat menyanyangi istriku. Semesta tau itu, mungkinkah aku sudi menggoda wanita seperti tuduhanya?" tanya Ardan sinis.
"Jadi yang kau lakukan dari tadi apa? Ha?" tanya Arfan semakin geram.
"Hanya bermain-main dengan mainanmu," jawabnya enteng.
"Sialan!"
Bugh ....
Entah sejak kapan Arfan berlari ke arah Ardan. Kini sudut bibir lelaki berkulit sawo matang itu mengeluarkan darah.
Gerald menangkupkan tangannya di depan dahi. Pusing saat amarah dan ego kedua lelaki ini terus berlanjut pelik. Bahkan tak bisa lagi ditutupi di depan publik.
"Hentikan!" teriak pria tua itu kesal. Ia memandangi Ferdi, meminta agar Direktur itu mengundur rapatnya, sampai urusan dua bocah itu selesai.
Ferdi tersenyum tipis, upayanya menggagalkan rapat berhasil. Sedang, Ardan semakin kesal saat melihat senyum di wajah lelaki berkacamata itu tercetak dengan jelas.
'Dasar Kawan sialan. Dia senang saat aku menjadi tumbalnya. Aku benci saat pikiran piciknya mulai timbul di otak kecil itu. Menjengkelkan, bukan? Sialan Emang!' rutuk Ardan, geram setengah mati.