For My Family

For My Family
46



"Nara," panggil Hazel lembut.


"Iya, Mbak."


"Lagi senggang?"


"Hem, tidak banyak yang harus aku kerjakan, sih. Kenapa?"


"Makan siang bareng aku, yuk!"


"Eh ... kok, tumben?" tanya Nara bingung.


Hazel melepaskan senyumnya, menampilkan sederet jejeran gigi kecilnya.


"Akhir-akhir ini aku sedang dalam suasana hati yang baik. Echa mana?" tanya Hazel mengedarkan pandangan, mencari gadis berbadan semampai itu.


"Echa, sudah keluar lebih dulu. Dia sudah dapat gebetan baru."


"Benarkah? Kenapa gak ada yang cerita?"


"Kayak mana mau cerita? Mbak Hazel juga kayak gak peduli lagi sama kita."


"Bukan gak peduli, tapi lagi sedikit ada urusan."


Hazel menarik lengan gadis berwajah manis itu, keluar dari divisi menuju kantin kantor sembari bercerita tentang gadis yang satu lagi.


Walau terbilang sudah pernah menikah, tetapi jarak antara umur mereka tidaklah jauh. Hazel yang menjadi ibu muda, masih sama seperti gadis seumuran dengannya.


Masih senang bergosip dan menggoda teman-teman dekatnya itu. Dua tahun lebih bersama, mereka bahkan bisa dikatakan terlihat akrab layaknya saudara.


Ferdi merentangkan tangannya saat dua gadis itu melewati dirinya di ambang pintu perusahaan.


"Hazel, kamu ikut saya makan siang!" perintah Ferdi langsung.


"Hah?" Wanita itu mengalihkan pandangannya, melihat ke arah Nara.


"Gak bisa! Saya mau makan siang sama Nara, Pak."


"Ini perintah!"


"Tapi--"


Nara melepaskan pegangan tangan Hazel di lengannya. Memaksakan bibirnya untuk bisa melebar dengan manis.


"Sudahlah, Mbak. Kita bisa makan lain kali. Jangan buat pak Ferdi kecewa." Nara langsung berlari kembali ke dalam.


"Tapi--" Belum siap Hazel berkata, gadis berwajah teduh itu telah lebih dulu pergi. Meninggalkannya dengan Ferdi berdua.


Hazel menatap ke arah Ferdi menggunakan ujung mata. Lelaki berkacamata tipis itu bersiul, membuang padangannya ke sisi kosong, agar matanya tak bertemu dengan istri sahabatnya itu.


"Apa pak Ardan yang meminta anda menjemput saya?"


"Menurut kamu?" tanya Ferdi tersenyum lembut.


"Apa ini? Makan dengan teman sedivisi juga gak boleh?"


"Mana saya tahu? Itu urusan kamu dan dia," jawab Ferdi lepas tangan.


"Saya gak mau!" Hazel berbalik, cepat tangan lelaki itu menarik lengan tangan Hazel.


"Hei, ikutlah. Jika suamimu melihat aku menyentuh kulitmu, maka besok aku bukan lagi Ferdi Firmansyah yang tampan dan menawan ini."


Hazel menyunggingkan sebelah bibirnya, tidak Ardan ataupun Ferdi, kenapa mereka narsis sekali?


"Tunggulah, saya mau ke toilet sebentar," pinta Hazel melepaskan pegangan tangan Ferdi.


"Jangan kabur, atau nanti saya yang menjadi almarhum dibuat oleh suamimu."


"Hem," jawab Hazel malas.


.


Nara menghempaskan air di dalam wastafel, perlahan airmata luruh dari salah satu matanya. Sakit sekali saat cinta namun harus terpendam seperti ini.


"Kenapa? Kenapa harus mbak Hazel yang disukai Pak Ferdi?" tanya Nara sendiri.


Gadis itu menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. Entah bagaimana menjelaskannya, ia jengkel tetapi tidak bisa marah.


"Aku tidak bisa mengalah, tetapi aku juga tidak bisa menyerah. Karena wanita itu mbak Hazel, bahkan ingin marah juga gak bisa."


Gadis itu menghapus buliran yang sempat menyapa pipi dengan punggung tangan saat ada gadis lain yang masuk ke dalam toilet. Merapikan make-upnya sebelum keluar dari dalam toilet.


Sebuah peraduan heels keluar dari dalam bilik toilet, Hazel memijat pelipisnya pelan. Kenapa malah jadi salah paham begini?


Ia tidak tahu jika Nara menyimpan perasaan pada sahabat suaminya itu. Mau ikut campur juga tidak bisa, bagaimana juga, Ferdi tetaplah atasannya.


Namun tetap berdiam seperti ini juga tidak mungkin. Seperti menelan simalakama, entah bagaimana meluruskannya?


"Nara, maaf. Tetapi untuk saat ini, aku hanya bisa menyakitimu untuk menutupi status ini."


Hazel berjalan cepat menuju parkiran mobil, sudah ada suami dan temannya yang menunggu di dalam mobil hitam itu.


"Aku pikir kamu mau kabur," ucap Ardan saat wanita itu memasuki mobil.


"Akan lebih baik jika aku bisa kabur dari hidupmu itu," jawab Hazel ketus.


Ferdi menahan tawanya, entah kenapa ada saja hal lucu saat melihat Ardan dan Hazel berada dalam satu ruangan.


Seperti kucing dan tikus, terkadang bertengkar namun di sisi lain saling menggoda satu sama lain.


"Mas."


"Hm."


"Memang tidak bisa ya, kalau makan siang gak bawa aku?"


"Kalau aku mau bawa kamu, ada masalah?"


"Ada!"


"Apa?"


"Tapi aku suka."


Hazel mencebik, ia menyilangkan kedua tangan di depan dada. Memandang ke sisi jendela mobil.


Ia memang tidak bisa menang jika beradu argumen dengan lelaki posesif itu. Tetapi ia juga tidak ingin terus-terusan menjadi pusat kesalah pahaman.


Kenapa dia selalu saja berada di posisi ini? Posisi yang tidak mampu menjelaskan, tetapi selalu menyakitkan.


"Lain kali kalau mau makan siang, chat aku saja. Jangan terus buat karyawan salah paham dengan hubungan aku dan pak Ferdi."


"Maksudmu?" tanya Ferdi dan Ardan serentak.


"Mereka, sudah mengira kalau aku dan pak Ferdi ada hubungan luar."


"Apa?" tanya Ardan tak percaya.


Ardan menatap tajam ke arah lelaki berkacama tipis itu. Menyadari tatapan mata Ardan, Ferdi menghela napas dengan berat.


"Jangan salahkan aku, salahmu sendiri," ucap Ferdi mengelak.


"Benar! Salahmu!" sambung Hazel ketus.


"Kenapa aku?" tanya Ardan tidak terima.


"Kenapa mencolok sekali? Seperti tidak akan bertemu saja. Di rumah juga bisa makan malam bersama, kenapa harus makan siang juga bersama?"


"Karena kalau tidak melihat kamu, aku bisa terserang penyakit, Hazel," goda Ardan lembut.


"Penyakit apa?" tanya Hazel malas.


"Penyakit rindu."


"Guubbraaak!" jawab Ferdi, geli.


Hazel menggigit bibir bawahnya pelan, ingin tersenyum namun ia tahan. Malu kalau sampai Ardan tahu, ia mulai goyah oleh godaan receh suaminya itu.


"Dasar gila," ucap Hazel sedikit tertawa.


"Gila juga itu karena kamu."


"Kenapa aku?"


"Kenapa pesonamu begitu membuat aku tergila-gila?"


Ferdi terkekeh, menggelengkan kepalanya. Tak tahan oleh gombalan lelaki di sampingnya itu.


"Ardan, kini aku tahu kenapa cewek selalu jatuh ke dalam dekapanmu, Kawan."


"Diamlah!"


"Ribuan wanita, bertekuk lutut dengan Ardan Erlangga, si mulut tajam tapi gombalannya aduhai, ha ha ha."


"Kubilang, diam!"


"Ha ha ha, aku mau lihat, gombalan seperti apa yang bisa menembus gunung es ini."


"Gunung es?" tanya Hazel bingung.


"Iya, gunung es yang mampu membekukan hati seorang Ardan Erlangga, bertobat dari hobinya bermain-main dengan wanita seksi." Ferdi memainkan kedua alis matanya, menggoda Ardan yang mulai memerah saat kartunya dibuka oleh sahabatnya itu.


"Diamlah, Ferdi!" Ardan mencebik kesal, menatap Ferdi dengan sudut mata.


"Ardan, katakan! Apa ini karma yang Tuhan berikan? Dulu kamu yang membuat wanita menjadi bucinmu, sekarang kamu adalah bucinnya dia. Ha ha ha," ledek Ferdi, terkekeh.


"Diam, atau kukutuk kau jadi adik iparku selamanya!" teriak Ardan kesal.


Detik kemudian ia menutup mulutnya, tanpa sengaja, perkataan yang sering dia ucapkan tujuh tahun lalu keluar.


Terlihat wajah lembut Ferdi yang awalnya tersenyum langsung berubah sendu.


Menyadari perubahan suasana di antara dua lelaki dewasa itu, membuat Hazel penasaran. Tidak Ardan ataupun Ferdi, keduanya terdiam dan saling masuk ke dalam pikiran masing-masing.


"Pak Ferdi, kamu baik-baik saja?" tanya Hazel penasaran.


Ferdi menghela napas dan menelan salivanya berat.


"Kamu tahu kutukan yang paling kejam itu, apa, Hazel?"


"Hem, maksudnya?" tanya Hazel semakin bingung.


"Ditakdirkan untuk saling mencintai, tetapi tidak bisa saling memiliki."


Ardan langsung melihat ke arah Ferdi, memperhatikan wajah lelaki itu yang mulai memerah padam.


Antara menahan kesedihan dan juga kemarahan. Walaupun ia tidak pernah menampakan lukanya selama ini, tetapi lelaki itu masih terlalu sensitif dengan beberapa kenangan di masa lalu.


"Maaf," lirih Ardan lembut.


Ferdi menatap Ardan sekilas, lalu bibirnya tersenyum pahit.


Mendengar ucapan Ardan, Hazel semakin bingung. Penasaran, namun ia tidak berani bertanya. Ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua, ada luka yang berusaha untuk disimpan rapat.


Namun mendengarkan ucapan Ferdi, membuat ia ingat dengan almarhum suaminya.


Entah kenapa perkataan itu terdengar begitu menusuk di dalam hati.


Terkadang kita memang tidak mengerti dengan apa yang sudah tertulis. Takdir indah dan menyakitkan bisa saja saling berkaitan.


Membentuk sebuah kenangan yang menjadi akar dari luka yang tidak pernah terselesaikan.


Dan, apa itu cinta, jika tidak bisa bersama? Bukan cinta, tetapi keinginan. Karena cinta yang sesungguhnya tetap akan ada meski raga tidak lagi bersama.


Hukuman yang paling pedih adalah, saat kita ditakdirkan saling mencintai, tetapi tidak bisa saling memiliki.


Bukan karena tidak berjodoh, tetapi karena hati pernah jatuh pada tempat dan waktu yang tak semestinya.


Jatuh cinta berdua, namun hanya satu orang yang membangunnya. Sakit? Bukan. Lebih tepatnya, rela, karena indah bukan hanya sekadar bersama berdua.