
Mata elang lelaki berkulit sawo matang itu menatap lamat ke arah dua gadis yang ada di depannya.
Mendengarkan dengan seksama penjelasan yang sedang diucapkan oleh Nigar.
Sesekali tanganya membalik lembaran kertas yang ada di tangan. Memerhatikan setiap ucapan gadis berhijab itu. Bahkan, Nigar lebih lihai dalam pembentukan promosi dibandingkan Kakaknya.
"Kinara, bagaimana dengan stok barang di gudang?" tanya Ardan beralih pada gadis langsing di sebelah Nigar.
"Untuk saat ini--" Ucapan gadis itu terhenti saat terdengar suara ketukan dari balik pintu.
"Masuk!"
"Pak Ardan, ada yang mencari Anda?"
"Siapa?" tanya Ardan datar.
Seorang lelaki masuk ke dalam ruangan itu. Rapih, dengan jas hitam membalut badan sedikit gempalnya, terlihat gagah karena bidang bahu itu masih sangat kekar.
Satu alis Ardan terangkat, tidak pernah mengenal wajah pria paruh baya itu sebelumnya. Terlebih dengan sorot matanya yang sangat tajam, tetapi tidak menekan siapa pun yang memandang. Wibawa, dengan perawakan yang begitu gagah.
"Selamat pagi, Pak Ardan," sapanya ramah. Berat, bariton suara lelaki itu terdengar sangat tegas.
Mata gadis berhijab di depan Ardan melebar, jemarinya meremat baju dengan erat. Walau tanpa melihat Nigar sadar suara ini milik siapa.
"Pagi, maaf Anda?" tanya Ardan bingung.
"Saya mantan Jendral Angkatan Darat. Regan Bagaskara."
Mata Ardan memaling, menatap wajah Nigar yang mulai memucat. Dengan keringat dingin yang mengalir di pelipis matanya.
Lelaki itu berdehem pelan, tangannya membenarkan letak dasi dengan bibir yang mengembang. Perlahan ia bangkit dan menghampiri pria gagah yang masih menunggunya di ambang pintu.
"Silakan masuk, Pak Regan," sapanya ramah.
Bibir keriput itu melengkung, derap langkahnya berjalan menuju sofa ruangan GM.
Nigar memejamkan matanya, menghela napas yang sempat tertahan karena mendengar suara itu. Degup jantungnya berdebar, mengikuti derap kaki lelaki paruh baya tersebut.
Kedua jemarinya mengenggam ujung hijab semakin erat. Menyadari ketakutan yang dirasakan sang adik ipar, Ardan kembali mendehem pelan.
"Kalian berdua, kembalilah dulu."
Dua gadis itu memgangguk, serentak langkah mereka berbalik, berjalan akan meninggalkan ruangan Ardan. Sedangkan lelaki itu tersenyum lembut, mempersilakan mantan Jendral itu untuk duduk.
"Maaf, saya menganggu waktu Anda, Pak Ardan."
"Tidak juga."
Sorot mata mantan militer itu mengarah pada dua gadis yang akan keluar dari ruangan Ardan.
Saat langkah gadis berhijab itu menuju pintu, Regan berdehem pelan.
"Setelah menemukan Kakakmu, kau bahkan tak ingin melihat wajah ayah angkatmu lagi, Nigar?"
Gadis berhijab itu memejamkan matanya, kedua tangannya mengepal dengan kuat.
Mana mungkin, ayahnya bisa melepaskan dia begitu saja.
Nigar berbalik, berjalan menghampiri Regan. Gadis itu bersimpuh, terduduk di bawah kaki Regan.
"Ayah, im so sorry. I don't wanna hurt you. But ... but--" Nigar tertunduk, tidak sanggup menatap wajah tua itu lagi.
Wajahnya memang terlihat datar dan tenang, tetapi di balik itu semua. Ada kecemasan yang ia simpan. Tampak jelas dari sorot mata itu, rindu. Walau mereka hanya anak dan orang tua yang dipertemukan dalam peristiwa. Bukan dijodohkan dalam sebuah hubungan darah.
"I really miss my sister. Ayah, bukan aku tidak percaya padamu, hanya saja ...." Gadis berhijab itu menelan salivanya, kedua tangannya semakin meremat dengan kuat.
Membuat mantan Jendral itu mendesah panjang. Memerhatikan wajah putih anak angkatnya yang memerah. Ketakutan dan bingung untuk menjelaskan.
Regan mengancungkan jari telunjuknya, pelan ia mentoel ujung hidung mancung gadis keturunan Turki tersebut.
"Dasar anak nakal. Kamu adalah anak sulung Bagaskara. Apakah kamu pikir bisa pergi ke mana saja dan buat para pengawal kewalahan menjagamu?"
Nigar mengangkat wajahnya, menatap lelaki yang telah memberikan nama untuknya itu.
"Sudah Ayah duga. Kamu pasti nekat mencari berkas suami kakakmu itu di ruangan Ayah. Gadis ini!" Jari itu menarik ujung hidung Nigar. Membuat hidung mancung itu memerah.
"Maaf, Ayah," sesalnya pelan.
"Mamamu sampai masuk rumah sakit karena cemas memikirkanmu. Kamu ini, bisakah tidak membuat kami jantungan?"
Gadis itu terkejut. Sedikit tergagap untuk membuka suara. Mengembangkan senyuman di wajah tua Regan. Walau tidak lama bersama, tetapi dia sangat hafal dengan gelagat putrinya itu.
"Benarkah? Lalu, bagaimana keadaan mama sekarang?" tanyanya cemas.
"Pulanglah jika kamu ingin tahu keadaannya," bujuk Regan lembut.
Nigar kembali tertunduk, perlahan ia bangkit dan duduk di sebelah Regan. Satu tangannya melilit lengan lelaki tua itu erat.
Gadis itu tersenyum saat mata tua tersebut memerhatikan wajah cantik.
"Ayah ... itu."
Nigar menyeringai, jari-jarinya memilin sisi jas sang ayah.
Regan tersenyum, satu tangannya mengelus pucuk kepala berhijab itu.
"Dasar anak nakal ini. Apa kamu ingin kembali ke Kakakmu dan meninggalkan Ayahmu ini?"
"Bukan, bukan! Itu, sebenarnya aku ... aku." Mata gadis itu melirik ke arah Ardan.
Lalu, tatapan itu kembali teralih ke arah sang Ayah.
"Itu, karena ... aku ...." Gadis itu menunduk. Menarik napas dalam.
"Aku sudah menerima lamaran seorang pria!"
***
Sasy mematut dirinya di depan cermin. Berputar sekali, dua kali, tiga kali dan berkali-kali. Melihat dengan seksama detil bentuk tubuh mungilnya dalam balutan drees berlengan panjang dengan bawahan kembang. Merah, dan ditambahan belt yang melingkari pinggang rampingnya.
Ia mengeluarkan ponsel, bergaya, menjepret beberapa pose tubuhnya.
Sementara lelaki yang tengah duduk memerhatikannya berulang kali menggeleng pasrah.
Jungkir balik, dunianya kacau saat ia berhadapan dengan bocah kecil itu.
Arfi mendesis geram, sudah dua jam gadis itu memerhatikan dirinya dalam balutan drees merah itu.
Merutuk, memaki dalam hati. Jika suka kenapa tidak langsung membeli. Malah berpose, bergaya, berputar dan entah apa yang dilakukan di sana.
"Hei, Bayi Kecil! Apakah waktumu begitu senggang? Ha?" tanya Arfi geram. "Bisa-bisanya senarsis itu di toko orang," sungutnya kesal.
Sasy meletakan satu jarinya di depan bibir. Mengkode agar lelaki bertubuh tegap itu diam.
Tak peduli pada ocehan lelaki tersebut, gadis belia itu kembali berpose. Membuat amarah Arfi terbakar seluruhnya.
Sigap langkah itu menghampiri, mencekal lengan Sasy dan memutar badan mungil itu berhadapan.
"Heh! Bayi merah! Apa kau benar-benar ingin mengerjaiku? Jika kau suka kenapa tidak langsung membelinya? Buang-buang waktu, tau, gak?" ketus Arfi geram setengah mati.
Sasy menghentakkan kakinya, dia melepaskan cekalan tangan Arfi. Kedua tangan itu mengkacak di pinggang, mendonggak dengan tatapan nyalang untuk menantang.
"Heh, Om! Makanya jadi orang itu banyakin sabar. Saaabaaar!" balasnya sengit.
Arfi tersenyum sinis, ia ikut mengacakkan tangannya di pinggang. Membalas tatapan gadis kecil di depan.
"Heh! Makanya saat di sekolah itu belajar, Nona! Belajar! Entah itu belajar untuk menghargai waktu dan juga jangan buat malu!"
Sasy menolak dada bidang itu kasar.
"Apa maksud Om bilangi aku buat malu?" tanyanya sengit.
"Kalo kamu tau malu seharusnya sadar diri, dong! Dua jam cuma nyobain baju doang? Eh kamu pikir aku gak sanggup jika hanya membayar sepotong gaun ini? Lihat para karyawan toko ini, mereka sudah muak melihatmu di sini!"
"Memang kenapa kalo aku mau menginap di sini? Masalah buat, Om?"
Arfi tertawa kesal, ia menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kalo begitu. Selamat menginap, Nona," jawab Arfi lembut.
Lelaki itu membuka kacamata hitamnya. Memakainya dengan sedikit angkuh. Bibirnya menyunging sinis, lalu badan kekar itu berbalik. Meninggalkan Sasy di toko itu sendiri.
"Berhenti!" tahan Sasy.
Arfi menghentikan langkahnya, tidak menoleh. Hanya berdiam di ambang pintu toko.
"Kembali ke sini, Om! Aku belun selesai memilih baju!" perintahnya ketus.
Arfi terkekeh, pelan kepalanya menggeleng. Tidak ada siapa pun yang bisa memerintahnya. Terlebih hanya seorang anak kecil.
"Bukannya kau ingin menginap? Kenapa? Mau tidur bersama?" tanya Arfi sinis.
"Dih ... apa Om pikir aku inu gila?"
"Memang kamu sudah gila."
Wajah gadis kecil itu memerah. Kesal oleh jawaban yang diberikan oleh lelaki dewasa tersebut.
"Kembali ke sini dan pilihkan aku gaun, Om!"
"Apa kau pikir aku punya waktu? See you." Arfi melambaikan tangannya, memilih melanjutkan langkah.
"Berhenti!" tahan gadis itu lagi.
Tak mendengar ucapan Sasy, Arfi melanjutkan langkahnya tanpa berpaling.
"Aku bilang berhenti! Atau akan kutelepon Pak Ardan saat ini juga!"
Langkah itu terhenti, kepalanya memaling. Menatap gadis kecil itu sedang tersenyum penuh kemenangan. Dengan silangan kedua tangan di depan dada.
Arfi menahan buruan napasnya. Matanya menatap sinis ke arah gadis kecil itu. Kedua tangannya mengepal dengan geretakan rahang. Geram.
'Sudah cukup. Aku bukan anak kecil yang takut ancaman. Sasy, bersiaplah untuk mati!' rutuk Arfi dalam hati.