For My Family

For My Family
184



Netra di balik lensa itu hanya bergeming menatap Sasy yang ada di depannya. Satu tangannya terangkat, merapikan juntaian rambut Sasy yang sebenarnya masih baik-baik saja.


Wajah belia itu memerah, terlebih saat sepasang mata itu menatapnya dengan intens.


"Satu sama!" kata Sasy dengan mengacungkan jari telunjuknya.


Ferdi menaikan sebelah alis matanya.


"Impas, kan? Tadi Kakak yang pegang tangan dan berbisik pelan. Sekarang gantian." Gadis itu menyeringai, memperlihatkan jajaran giginya. Berusaha tenang, walau dadanya mulai bergemuruh tak karuan.


Ferdi melepaskan senyumnya, ia menarik badan dan menggeleng pelan. Keluar dari dalam mobil hitam miliknya.


Sementara di dalam sini Sasy mengibaskan tangannya. Panas, udaranya menjadi sangat sesak saat Ferdi menatapnya sangat dalam.


Gadis itu menarik napas, dadanya berdegup dengan kencang. Itu semakin membuat keringatnya mengalir dengan deras.


Sampai pintu di sebelahnya terbuka, gadis itu meneguk saliva berat.


"Keringatmu banyak sekali? Apa kau sakit?" tanya Ferdi lembut.


Cepat-cepat Sasy menarik tisu yang ada di atas dashboard mobil.


"Enggak, enggak! Gak sakit!" jawabnya cepat.


Gadis itu segera turun, lalu kedua tangan mungilnya melingkari lengan Ferdi.


Matanya langsung tertuju pada gerbang pernikahan yang ada di depannya. Nuansa hijau putih dengan beberapa hiasan berbahan plastik mengindahkan gerbang itu.


Sepasang mata bundar itu berbinar, detik selanjutnya ia melirik ke arah Ferdi yang sedari tadi masih memerhatikan gelagatnya.


Pipi itu kembali memerah, merona saat menyadari lelaki itu masih memandanginya.


"Ada apa denganmu? Kenapa tingkahmu absurd sekali hari ini?" tanya Ferd bingung.


Gadis itu menggigit bibir bawahnya pelan, lantas menggoyang-goyangkan lengan Ferdi manja.


"Aku sedang bertanya padamu, Belia."


Sasy memejamkan matanya, menarik napas dalam.


"Aku hanya berpikir .... "


"Pikir apa?"


"Kalau Kakak membawaku ke acara begini, apa ... kita bisa disebut pasangan? Maksudku pasangan yang seperti ini?" tanya Sasy seraya menautkan kedua jarinya membentuk lambang cinta.


Ferdi menautkan kedua alis matanya. Lalu badan tinggi itu membungkuk, mendekatkan wajah ke sang belia.


"Menurutmu?" tanya Ferdi dan lelaki itu melepaskan pelukan tangan Sasy pada lengannya.


Berganti meraih jemari mungil belia tersebut dan mengenggamnya erat. Sedangkan gadis itu menggulum bibirnya, tersipu. Malu-malu langkahnya mengikuti Ferdi berjalan ke arah dalam.


Matanya terus memandangi jemari Ferdi yang erat mengenggam tangannya. Selama ini selalu dia yang lebih dulu bertindak. Apakah saat ini lelaki itu mulai berani memulai?


Gadis itu berteriak tertahan. Saat Ferdi menoleh ke arah belakang, gadis belia itu langsung berhambur ke dalam kedapan.


"Ada apa?" tanya Ferdi merenggangkan dekapan belia tersebut.


Sasy mendonggakkan wajah, seringai polos menghiasi wajah belianya. Senang rasa hatinya jangan ditanya?


Ketika kuncup layu yang kembali tumbuh, dengan semerbak harum bau yang berganti baru. Merekah dengan segala keindahannya, bagaimana rasa senang itu bisa dikendalikannya?


"Hei, ada apa? Ada serangga? Mengapa kamu berteriak?"


Sasy menggeleng pelan, bibirnya masih tersenyum dengan lebar.


"Bukan serangga yang menganggu, Kak."


"Lalu?"


"Serangan cinta dari, Kakak," jawabnya malu-malu."


Lelaki berkacamata itu kembali tertawa. Walau geli selalu digoda seperti ini, perlahan ia menyukainya.


"Kecil-kecil pintar gombal, ya," kata Ferdi geli.


"Kak."


"Hmmm."


"Apa rasanya datang ke acara seperti ini?"


"Apa, ya?" Ferdi memutar bola matanya. "Biasa saja."


"Setelah ini kalo ada rasa yang tidak biasa, bilang aku, ya."


"Maksudnya?"


"Kalo setelah ini Kak Ferdi ingin menikah, segera lamar aku, ya?"


"Hah?"


...***...


Arfi menutup kepalanya menggunakan topi jaket. Kacamata hitam yang ia gunakan tidak mampu menyamarkan wajah tampan itu.


Lelaki itu sesekali tersenyum, saat mendapati sapaan dari para karyawan di kantor pusat Erlangga Grup.


Mata di balik kacamata hitam itu menyisir ke sekeliling, menatap kamera-kamera pengawas yang terpasang di setiap sudut ruangan.


Di selipan telinganya ia sedang mendengarkan siasat seseorang.


"Bantu aku alihkan para pengawas monitor."


"Berapa lama?" tanya Arfi lirih.


"Selama yang kau bisa. Akan kucopy beberapa pengawasan dan mengamuflasekan tampilan."


Lelaki itu mengangguk, satu jarinya menekan angka ruangan tempat para penjaga mengawasi monitor cctv.


Berjalan dengan sesekali menarik napas. Walau dia telah mempersiapkan segalanya, tetap saja dia masih khawatir akan hasil akhirnya.


Satu kepalan mengetuk lembut pintu ruang pengawasan. Lelaki berseragam yang sedang duduk di sana memaling, saat mengetahui Arfi yang datang, dua orang itu langsung bangkit.


"Pak, Arfi. Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu penjaga di sana.


Lelaki itu mengerutkan dahinya, mencoba mencari ide untuk membuat mereka bergeser dari layar monitor.


"Ini, bisakah kalian bantu aku bagaimana cara mengatur tampilan kamera pengawas pada ponselku? Aku kehilangan sesuatu, dan aku bingung mengceknya." Lelaki itu mengeluarkan sebuah ponsel, memperlihatkan ke salah satu penjaga. Sementara yang satu lagi masih di depan sana.


Hatinya berdecak sebal, entah cara apalagi yang bisa ia pikirkan.


"Itu, sebentar aku pikir dulu. Mungkin, dua atau empat hari yang lalu."


"Kira-kira jam berapa?"


"Jika aku tau aku tidak akan bertanya!" ketus Arfi dan lelaki itu melirihkan kata maaf.


"Danis," panggil Arfi pada lelaki yang satu lagi.


"Ya, Pak."


"Bisa tolong mintakan OB untuk membawakan kopi. Aku rasa ini sedikit lama."


Lelaki yang diperintahkan langsung bangkit, berjalan ke arah telepon dan membelakangi layar monitor.


Sedikit mengambil jarak, Arfi berdehem pelan. Memberikan kode pada seorang lelaki yang berada di depan kantor Erlangga Grup. Duduk santai di bawah pohon besar, dengan menggerakan jari-jarinya untuk membantu Arfi.


"Arfi, tahanlah sedikit lebih lama. Ketahanan pelindung perusahaanmu sangat merepotkan," gumamnya dan Arfi hanya berdehem pelan.


Ia berjalan mendekati lelaki yang tengah memegang telepon itu.


"Katakan juga untuk membeli rokok," perintah Arfi dan lelaki itu hanya mengangguk.


"Untuk kalian juga."


Lelaki itu menyeringai, lalu mengangguk pelan.


"Sekalian pesan makan."


Lagi, lelaki itu hanya mengikuti ucapan Arfi.


"Apa kalian tidak pesan minumnya? Selagi ada aku, pesan apa yang kalian mau."


Lelaki itu hanya menatap Arfi, lalu setelah menyebutkan apa yang harus dipesan. Ia menutup teleponnya dan Arfi kembali berdehem pelan. Memberikan kode kepada sang kawan.


"Hanya tiga menit. Aku hanya bisa menghandle kamera pengawas ruangan dan juga koridor selama tiga menit."


Bungsu Erlangga itu menarik napas. "Telepon ponselku," lirihnya berjalan mendekati seorang pengawas yang masih mengotak-atik ponsel miliknya.


Lelaki itu terkejut saat panggilan masuk ke dalam gawai sang Bos. Secepatnya ia memberikan ke tangan Arfi.


"Ya, ada apa?" tanya Arfi berpura-pura setelah panggilan ia angkat.


Ia mengeluarkan dua lembar uang dan meletakannya di meja depan monitor.


"Baiklah aku akan segera ke sana. Katakan tunggu aku, ingat! Untuk menungguku!" katanya sedikit menekan, lalu teleponnya tertutup.


"Ini uang untuk bayar pesanan. Nanti aku akan kembali saat urusan selesai."


Tanpa menunggu jawaban lelaki itu berjalan sedikit tergesa. Menuju lantai tujuh belas tempat di mana kedudukan Gerald berada.


"Katakan, apa Papa dan Kak Arfan masih dalam meeting panjang?"


"Dari yang aku lihat mereka masih dalam kesibukannya."


Arfi terdiam, berulang kali dia menghela napas. Sampai bunyi pintu lift berdentang. Seketika jantungnya berdegup dengan sangat kencang.


"Dre," panggilnya lirih.


"Kau siap?" tanya lelaki itu dengan jari-jari yang sibuk mengetik keyboard laptop.


"3 menit. Ingat kau hanya punya waktu sesempit itu untuk mengopy semua berkasnya."


"I know."


"Are you ready?"


"Sure."


Satu jari lelaki muda itu berada di atas tombol enter. Dari layar datarnya ia memerhatikan Arfi yang masih berdiri di dalam lift.


"Go!" perintahnya seraya menekan tombol enter.


Mengubah tampilan layar monitor koridor, agar pergerakan Arfi tidak terekam cctv. Memang Arfi adalah lelaki manja, namun jika berulah. Maka dia memiliki segudang teman untuk berperang bersama.


"Tunggu!" tahan lelaki itu saat Arfi akan membuka kenop pintu.


"Aku belum mengubah kamera di dalam ruangan. Agar ada sedikit jeda lebih lama untukmu mengopinya. Tunggu aba-abaku."


Jari-jari itu kembali sibuk menekan tombol-tombol keyboard. Mengubah tampilan rekaman kamera yang terpasang di dalam ruangan Gerald.


"3 menit setengah, Arfi. Berjuanglah!"


Lelaki berambut pirang itu tersenyum. Langkahnya sigap berjalan ke arah laptop sang papa.


Secepatnya ia membuka tampilan-tampilan dokumen yang ada di sana. Matanya mencari secepat yang ia bisa.


Perlahan peluh-peluh keringat mulai membanjiri pelipisnya. Beberapa kali mata itu mengedip menjatuhkan keringat yang menganggu pandangannya.


Dua jari yang lainnya mengetuk meja, mencoba mencairkan ketegangan suasana. Nyatanya, malah bagaikan detik waktu menunggu eksekusi. Mendebarkan jantungnya.


"Arfi waktumu sempit."


"Cobalah cari siasat agar aku bisa lebih lama," ucap Arfi lirih.


Lelaki yang berada di luar itu mulai mencari cara, mengulur-ulur waktu Arfi dengan mengopy banyak rekaman pengganti.


Seperti menanti bom yang akan meledak kapan saja. Bahkan di sini pun lelaki muda itu mulai berpeluh. Memerhatikan gerakan Arfi dari rekaman yang sebenarnya.


Lalu sepasang iris itu teralih pada lift yang dikhususkan untuk para Direktur dan atasan.


"Arfi, apa yang kau lakukan?" tanyanya mulai resah.


Bibir tipis itu terkembang saat menemukan apa yang dia cari. Tangannya sedikit gemetar ketika ingin menyolokan flashdisk.


"Aku menemukannya," kata Arfi riang.


"Berapa lama untukmu bisa memindahkan datanya?"


"Empat menit."


"Tidak bisa! 2 menit. Hanya bisa dua menit, Arfi."


"Ayolah, mainkan sedikit lagi."


"Bukan masalah rekaman kameranya!" tekan lelaki itu mulai panik.


"Tapi Kakakmu sedang berjalan ke arah sana!"