For My Family

For My Family
160



Arfi bersiul mesra saat melihat Nigar berada di ujung tangga. Gadis berhijab itu menoleh, langkahnya menghampiri Arfi yang sedang berdiri di pintu balkon lantai dua.


"Mau ke mana?" tanya pria berkaus ketat itu. Kedua tangannya menarik Yena dari dalam dekapan sang gadis.


"Mau antar Yena ke Hazel. Aku rasa dia haus."


"Minta Bi Darmi siapkan susu formulanya saja. Jangan masuk."


"Eh, kenapa?" tanya Nigar bingung.


Arfi tersenyum nakal, badan tegap itu menunduk. Lalu berbisik pelan di telinga yang terbungkus hijab tersebut.


Mata Nigar melebar, ia melihat Arfi lamat. Detik kemudian semburat kemerahan menghiasi wajah cantiknya, gadis itu menggigit bibir bawahnya. Tertunduk malu, lantas kedua tangannya teremas.


Arfi terkekeh, ia menciumi pipi Yena dengan gemas. Melihat wajah malu-malu itu, rasanya geram sekali.


"Huum, seandainya Tantemu itu istriku. Sudah kukecup wajah tersipunya itu."


Nigar mendesis geram.


"Arfi, kamu berbohong, kan?" tanya Nigar sedikit kesal.


"Aku berani bersumpah, Sayang. Kalo kamu gak percaya, hem." Tunjuk Arfi menggunakan dagu ke arah pintu kamar Ardan.


"Palingan sampai sana kamu mendengar desahan mereka berdua."


Wajah gadis itu semakin memerah, ia melirik ke arah Arfi. Malu. Lantas ia menutupi kedua wajahnya, dasar Arfi.


Arfi semakin terkekeh, ia merubah posisi Yena yang ada di dalam dekapan tangannya. Menciumi pucuk kepala gadis kecil itu.


Mata sayupnya memandang ke arah luar jendela. Memerhatikan air hujan yang terus jatuh.


Harum bau badan Yena sangat menenangkan. Lelaki itu mendesah, memejamkan matanya.


'Aku berdosa pada papamu, Yena. Aku berdosa pada keluarga kecil kalian. Maafkan aku, maafkan Om yang manja ini,' batin Arfi.


Melihat Arfi yang melamun di depan jendela. Gadis itu berbalik, ingin pergi. Satu tangannya tercekal, pelan gadis itu melepaskannya.


"Mau ke mana?" tanya Arfi lembut.


"Aku mau berangkat kerja."


"Tidak usah kerja. Bagaimana jika hari ini kita bawa jalan-jalan Yena dan Surya?"


"Hem? Hujan-hujan begini?"


"Kan, kita naik mobil. Memang kenapa kalo hujan?"


"Tapi aku harus kerja, Arfi."


"Ngapain kerja? Hem?" Tunjuk Arfi ke arah kamar Ardan. "Bosnya saja di sana, enak-enakkan dia."


Nigar memejamkan mata, malu. Entah kenapa wajahnya memerah setiap kali Arfi menunjuk ke arah kamar Ardan.


"Lagian hujan-hujan begini mau ke mana?" tanya Nigar berusaha memalingkan rasa malunya.


"Ke mana saja. Berikan waktu untuk Kakakku dan Kakakmu berdua. Biarkan mereka menghabiskan waktu yang mungkin sulit terluangkan selama ini."


Gadis itu memutar bola matanya, lalu menatap wajah Arfi lekat. Lelaki itu menganggukkan kepalanya mantab.


"Tapi Mbok Darmi ikut, kan?"


Arfi tersenyum, ia memberikan Yena ke dalam dekapan sang gadis. Satu tangannya menarik kepala Nigar, mendaratkan sebuah ciuman di dahi putih itu.


"Arfi! Pintar sekali kamu mencari lengahku!" sungutnya kesal.


"Tentu saja Mbok Darmi ikut. Aku tau kamu, Nigar. Kamu tidak akan nyaman jika hanya berdua."


"Berhentilah menyentuhku, Arfi. Kenapa susah sekali memberitahumu?" sungut Nigar semakin kesal. Terlebih saat Arfi merasa tidak berdosa setelah menciumnya.


"Aku akan berhenti menyentuhmu. Dengan satu syarat."


"Apa?"


"Menikahlah denganku."


***


Wanita dengan dress putih itu turun dengan sedikit bingung. Menyisir ke segala arah, rumahnya terasa sangat lengang.


"Kok sepi?" tanyanya yang berada di ujung tangga.


"Nigar! Mbok!" panggilnya.


Sepasang tangan melingkari bahunya, dengan sebuah kepala yang tertumpuh pada bahu sempit itu.


Satu tangan Hazel terangkat, menyentuh rahang suaminya, membelai dengan lembut.


"Gak perlu dicari lagi, Sayang," bisik Ardan lembut.


"Arfi mengirimkan pesan, mereka pergi jalan-jalan."


"Ih, kok gak bilang aku sih? Yena bagaimana?"


"Bukannya dari tadi kamu sama aku, ya? Bagaimana mereka bisa memberitahumu?"


Ardan memutar badan mungil itu, kedua tangannya ia letakan di pinggang ramping Hazel. Berdiri berhadapan dengan sang istri.


"Hazel, maafkan aku."


Alis gadis itu bertautan. "Maaf kenapa?" tanyanya bingung.


"Selama kita menikah, aku bahkan tidak pernah mengajakmu bulan madu. Dari awal sampai saat ini, aku jarang sekali membahagiakanmu."


Bibir Hazel mengembang, sangat lebar. Sampai jajaran gigi dan kedua lesungnya terlihat dalam.


"Kita menikah dalam luka, Mas. Aku tidak pernah mempermasalahkan bulan madu atau apa pun itu. Dan untuk bahagianya, insyaAllah, saat ini pun aku sangat bahagia, Sayang."


Hazel menyentuh ujung hidung Ardan menggunakan ujung hidung miliknya. Gemas.


"Setelah semua masalah ini selesai. Kita akan cari waktu untuk jalan-jalan. Mungkin, kamu mau ke Turki? Aku dengar pesona kota seribu satu malam itu sangat indah."


Hazel menggulum senyumnya. "Terserah kamu saja, Mas. Asalkan Mas yang merencanakan, hal biasa akan menjadi sangat indah."


"Tentu saja, tidak ada yang seindah kamu, Sayangku."


Hazel menolak dada Ardan. "Alah gombal. Aku mau masak dan menyiapkan makan siang dulu."


Ardan buru-buru mencekal lengan gadis itu. Mengangkat tubuh mungil itu kembali ke lantai atas.


"Dih ... sombong banget, Pak?"


"Harus, dong. Bukannya wanita-wanita suka dengan itu semua?" tanya Ardan seraya memainkan kedua alis matanya.


Satu tangan Hazel menyentuh pipi itu, sebuah kecupan mendarat di pipi lelaki berkulit sawo matang tersebut.


"Aku sayang kamu, Mas," ucap wanita itu mendekap leher Ardan.


"Aku tau." Satu mata tajam itu mengerling nakal. Langkah tegapnya berjalan ke arah kamar.


"Kok, aku jadi nyesal, ya, ungkapin kata sayang? Masnya sok keren!"


Ardan menjatuhkan badan itu di atas kasur, meletakannya di bawah dekapan. Satu tangannya membelai lembut wajah sang istri.


"Jangan pernah menyesal, Hazel. Jangan pernah katakan kamu menyesal pernah mencintaiku."


Hazel mendesah pelan, ia membelai pipi lelaki itu.


"Aku hanya bercanda, Mas. Aku tidak akan menyesal, aku merasa beruntung memiliki kamu. Suami posesif dan aroganku. Aku merasa beruntung karena kamu sudah menjebakku."


"Berjanjilah bertahan denganku apa pun yang terjadi. Sungguh, meluluhkanmu itu sangat sulit, Hazel. Untunglah Yena hadir, di saat semua rasa lelah menghadapi sikap dinginmu hampir membuat aku menyerah."


"Benarkah? Aku pikir kamu tidak akan pernah menyerah, Mas."


"Aku mungkin tidak akan menyerah untuk mencintaimu, Hazel. Tetapi jika cintaku membuatmu menderita dan membuatmu menangis sepanjang waktu. Apakah aku sanggup menahanmu?"


Ardan menggeleng, ia membenamkan kepalanya di bahu Hazel yang ada di bawah dekapannya.


"Percayalah, Sayang. Hanya kamu, kamu yang mampu meruntuhkan segala egoku. Kamu yang mampu mendinginkan amarahku. Menyakitimu, sama seperti menyakiti hatiku sendiri, mulai saat ini. Pikirkan aku, Hazel. Pikirkan aku yang selalu mencintaimu dengan segala yang aku tanggung. Jangan menyerah, karena aku yakin, Gerald tidak akan diam saja."


Satu tangan Hazel membelai lembut rambut Ardan, ia mencium sisi kepala Ardan.


"Katakan seburuk apa kemungkinan yang akan terjadi, Mas. Kenapa akhir-akhir ini kamu menjadi lebih takut seperti ini?"


"Aku tidak tau, aku tidak mau memikirkannya."


Hazel menghela napasnya pelan. Ia mendorong badan Ardan, kini berganti dia yang berada di atas dada sang lelaki.


"Katakan, Mas. Seburuk apa? Jika kamu takut, maka aku akan ikut menanggungnya bersamamu, Mas."


Ardan memejamkan matanya, satu tangan memijat pangkal hidung. Sementara satu tangan yang lain mendekap Hazel dengan erat.


"Kamu, Surya dan Yena. Kita ... akan hidup satu rumah dengan Gerald Erlangga."


Napas Hazel tertahan, sekilas bayangan tentang rumah besar itu terbayang. Jika dia saja kesulitan beradaptasi dengan keluarga Erlangga, bagaimana dengan anak-anaknya?


Baiklah jika Yena, dia terlahir sempurna dan keturunan darah Erlangga. Namun, Surya?


Ardan kembali bangkit, menyadari sengalan napas sang istri. Lelaki itu terduduk dan menarik Hazel ke atas pangkuannya.


"Dengar, Sayang. Kali ini aku minta doamu. Karena kamu adalah istriku, bantu aku dengan doamu. Hanya itu, itu yang akan menyelamatkan kita."


Binar berwarna madu itu mulai berkaca-kaca. Getir ia meneguk salivanya.


"Kamu tidak akan membiarkannya, kan, Mas?"


Ardan menggeleng, ia menarik kepala Hazel dan menciuminya.


"Tidak akan, Sayang. Untuk itu, bantulah aku dengan doamu. Aku berjanji akan melindungimu, Surya, dan keluarga kita."


***


Iris di balik lensa itu menatap rinai hujan dari balik kaca jendela kantornya. Beberapa kali matanya terpejam, merasakan denyut hatinya yang kembali terasa menyakitkan.


Wajah belia itu, mengapa sangat terluka oleh ucapannya?


Lelaki itu membenamkan kedua tangannya di saku celana. Mengingat sepenggal kisah masa lalunya dengan Arsy. Ada rasa yang menjadi beban hingga saat ini.


Perasaan sesal akan sebuah rasa yang tidak terungkap. Mengapa ia yang dulu sangat tenang. Pikirannya terfokus akan masa depan dan membiarkan Arsy merasakan cinta sendiri.


Kini setelah gadis itu pergi, ia hanya bisa merutukki diri. Segala sikapnya selama ini, menjadi beban yang tidak pernah bertepi.


Andai dan terus berandai. Jika sedetik saja waktu terulang. Ia pasti akan mengungkapkannya dengan lantang.


Lelaki itu menghela napas, memerhatikan rinai hujan yang senantiasa menebarkan bau basah.


"Arsy, andaikan dulu aku tidak setenang itu. Pasti kamu akan berani mengungkapkan apa pun padaku."


Mata itu terpejam, mengingat kembali pias wajah yang selalu murung sebelum tragedi itu membuatnya terkubur.


Antara bayangan wajah Arsy yang selalu menangis berhadapan dengannya, dan wajah Sasy yang terluka akan sikapnya.


Sama-sama menyesakkan, sama-sama menahan lukanya sendirian. Arsy yang terluka dan tidak bisa mengungkapkan karena takut akan kenyataan. Dan Sasy, yang berani terus terang dengan perasaan, namun terluka oleh ungkapan yang menyakitkan.


Rumit memang, saat hati telah lebih dulu tersakiti. Mengetuknya akan sangat sulit dan rumit. Terlalu keras maka akan menjadi puingan, karena kerapuhan akan masa lampau menjadi beban yang menyesakkan.


Terlalu lembut juga tidak akan tertembus, sebab luka yang mengering. Membutuhkan energi yang lebih besar untuk mengobatinya.


Perlahan, luka yang ingin disembuhkan terpaksa harus dibuat berdarah lagi. Agar ada celah untuk membenamkan obatnya, ada celah untuk mengeluarkan sisa-sisa kepahitannya.


Jika tidak, maka apa pun tidak akan tertembus. Sekeras apa, luka yang mengering tidak akan pernah bisa diobati, karena darah yang melapisi di atasnya, adalah tameng untuk melindunginya.


Sama-sama sakit, pilihan itu ada. Ingin berdarah dan menyembuhkan setelahnya. Atau bertahan atas kekeringan yang tidak akan sirna.


Rasa takut akan sebuah prasangka yang telah lebih dulu mendominan segalanya. Percayalah, tidak akan ada yang berlari, jika langkah pertama tidak berani dijalankan.


Semua butuh awalan, semua butuh kepercayaan. Jika hari ini gagal, maka mulai lagi dari awal. Tidak peduli seburuk apa kegagalan, masa depan masih bisa ditata berulang-ulang.


Lelaki berkacamata itu mengusap wajahnya, entah bagaimana. Perlahan dia melupakan, bahwa ada hati yang dia perjuangkan, nyatanya dia tidak menginginkan.


"Andai waktu terulang, sedetik saja. Akan kuucapkan dengan lantang. Aku mencintaimu, Arsy. Sungguh, aku menyesal karena tidak memiliki keberanian itu."


🌹🌹🌹


Special akhir tahun gaes, cuma mau kasih info, padahal ini visual aku pake untuk si Gaza. Iya, Gaza, anak bandel yang acak2 servernya Abang Ardan tempo hari.



tapi kadang aku kalo lihat dia malah bayangin Arfi gaes, 😂😂😂


Gak tau kenapa, setiap lihat cowok ganteng, macho pake kaus ketat, bayangan selalu liar ke Arfi. 😂😂😂


Doain, semoga Author Kece berjodoh dengan Arfi ya 😍


Selamat Tahun Baru Semuanya