
Arfi memarkirkan mobilnya di halaman rumah Ardan. Setelah selesai berdebat dan berdrama panjang. Akhirnya Nigar mengalah dan ikut pulang dengannya.
Sekarang di sini dia, tertidur di sebelah Arfi. Kepalanya tertumpu pada bingkai pintu, dan Arfi tidak tega untuk membangunkan.
Bingkai tipis di wajah tampan itu tersenyum. Perlahan kepalanya terjatuh di atas kemudi, memandangi wajah Nigar yang pulas mengarungi mimpinya.
Lelah, entah apa yang membuat gadis itu masih ingin bekerja. Padahal dia bisa saja menikmati hidup nyaman bersama Regan ataupun Hazel.
Bahkan jika gadis itu meminta, Arfi pun tak keberatan menanggung biaya hidupnya.
Akan tetapi gadis keturunan Turki tersebut tak pernah berpikir sepicik itu. Selagi dia bisa berusaha, tak peduli sesusah apa, dia akan tetap mengandalkan diri sendiri.
"Nigar, seandainya kamu tau sebesar apa aku menginginkanmu. Mungkinkah kamu akan memilihku?" tanya Arfi lirih.
Mata sayup itu masih memandangi wajah yang tengah tertidur di sebelah.
Tidak pernah berani menyentuh walau perasaannya semakin menggebu. Dia hanya menggoda, lalu bahagia saat semburat kemerahan itu menghiasi pipi sang wanita.
"Atau kamu yang akan memaafkan segala tindakan pengecutku sekali lagi?"
Satu tangan Arfi meraih jemari putih itu, melihat ukiran hena yang selalu tampak indah.
Matanya kembali menatap ke arah wajah. Perlahan jemari itu ia dekatkan ke bibir dan mengecupnya lembut.
"Sungguh aku sangat mencintaimu, entah bagaimana aku bisa meyakinimu. Percayalah apa pun yang kulakukan nantinya, itu hanya karena aku mencintaimu, Sayangku."
Tangan putih itu ia letakan di pipinya, sayup matanya menggenangkan kaca.
Arfi menarik napas, lalu satu jarinya mengelus pipi Nigar.
"Sayang, bangunlah. Jika kamu tidak bangun, maka akan aku cium," ucapnya pelan.
Pergerakan bola mata itu terlihat lemah, matanya masih terpejam. Lalu Arfi mengembalikan tangan Nigar pada posisi awal.
Bisa ngamuk dia kalau mengetahui Arfi kembali menyentuh kulitnya.
"Hei, Nigar. Bangunlah atau aku akan mengangkat tubuhmu," ucap Arfi sekali lagi.
Napas gadis itu tertarik panjang, lalu kepalanya bergerak pelan.
"Jam berapa ini, Arfi?" gumamnya pelan.
"Jam sebelas malam," jawab Arfi tersenyum.
Nigar membenarkan letak kepalanya, kembali masuk ke dalam mimpinya.
"Sayang, jangan salahkan aku yang akan menciummu jika kamu tak mau bangun."
"Hmmm," gumamnya lagi.
"Benar? Aku akan benar-benar menciummu, Nigar," kata Arfi sedikit keras.
Nigar membuka matanya, bibirnya terkembang saat melihat bayangan Arfi yang samar. Detik kemudian ia terkejut dan beringsut. Kepalanya terantuk tepi pintu.
"Aaauuuw."
Lelaki berambut pirang itu panik, ia menarik kepala Nigar dan mencoba melihatnya.
"Kamu tidak apa-apa? Kamu baik-baik saja."
"Arfi, lepaskan." Lembut Nigar mendorong dada Arfi.
"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit terkejut melihatmu." Gadis itu mengedipkan matanya, lalu membuka tuas pintu.
Berjalan gontai memasuki rumah Ardan. Dari dalam mobil Arfi tersenyum simpul.
"Sadar atau tidak sadar, kamu memang masih mencintaiku, Nigar. Bahkan saat tidur pun kamu masih bisa bergumam akan namaku."
Mata sayupnya masih memerhatikan tubuh Nigar yang perlahan menghilang di balik pintu rumah Ardan.
"Dan semakin membuat aku yakin untuk mengambil keputusan ini. Maafkan aku, Nigar. Maaf sekali lagi."
***
Plaaak
Satu tamparan mengenai wajah belia itu. Luna mendelik, melotot garang.
"Jam berapa ini? Kamu itu kuliah atau hanya main-main saja?" tanyanya seraya mengacakkan tangan di pinggang.
Sasy menyentuh pipinya yang memanas, mencoba menahan bulir-bulir yang akan tumpah.
"Maaf, Ma," jawabnya lemah.
"Nilaimu semua rendah. Kamu itu keluyuran aja kerjanya. Aku gak kuat lagi, Sasy. Tidak kuat untuk mendidikmu!"
Gadis itu tertunduk, perlahan ia terisak. Tertahan karena tidak ingin terlihat lemah.
"Sekali lagi! Sekali lagi kalau kamu pulang malam. Kamu tinggal saja di luar. Masuk sana!"
Jemari itu mengusap wajah, berlari memasuki kamarnya. Lalu tubuh itu beringsut di balik pintu.
Memang ada bayaran untuk semua rasa. Baru saja ia merasa sangat bahagia. Kini semua lebur bersama lara yang tercipta.
Ia lipat kedua kaki dan menyembunyikan wajah. Terisak dan perlahan menjadi tangisan yang kian dalam.
"Kenapa? Tidak Bang Iqbal ajak saja Sasy ke sana, Bang? Sasy lelah, sungguh sangat lelah," lirihnya terisak.
"Cuma Abang yang sayang Sasy, tapi kenapa Abang pula yang pergi? Itu semua karena Ayah, kalo aja Ayah gak jadiin Abang tentara, pasti Abang masih sama kita. Masih bahagia sama Kak Hazel dan Surya."
Gadis itu semakin menyembunyikan wajahnya dia dalam tangkupan tangan.
"Sasy kesepian, Sasy rindu Abang, rindu tawa Abang, rindu suara Abang. Rindu juga sama keluarga Abang yang dibuang Mama. Kalo aja Kak Hazel masih ada, pasti Kak Hazel bisa peluk Sasy, dan Sasy gak akan sendirian."
Praaank
Sebuah gelas jatuh saat tidak sengaja gadis bermata madu itu menyenggolnya.
Ardan mendekat, melihat pecahan gelas itu dan Hazel hanya terdiam di tepi ranjang.
"Sayang." Satu tangan Ardan menyentuh pucuk kepala Hazel.
Gadis itu tersenyum, ia berjongkok dan memunguti puingan kaca.
"Auwww," lirihnya saat melihat satu jarinya tertusuk pecahan beling.
"Pergilah, biar ini aku yang beresi."
"Em, enggak, Mas. Mas baru pulang, mandi aja dulu. Aku baik-baik saja."
Gadis itu terdiam di depan pecahan beling. Satu alis Ardan menaik melihat gelagat Hazel yang berbeda.
"Hazel," panggilnya lembut, gadis itu masih terdiam.
"Hazel Nazha."
Hazel terkaget, "ya."
"Kamu kenapa?" tanya Ardan.
"Gak apa-apa, Mas. Aku beresin ini dulu."
"Tinggalkan itu, duduklah dan aku akan mengobati lukamu."
Ardan menarik tubuh itu menjauh dari tempat beling, mendudukkan Hazel di tepi kasur.
Gadis itu hanya terdiam, entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdenyut, nyeri ketika nama Iqbal Sandyka terlintas dalam benaknya.
Tatapannya kosong, dengan kaca-kaca yang perlahan melapisi netra.
Ardan masih sibuk mencari kotak p3k. Setelah menggelung lengan kemejanya, lelaki itu berjongkok di bawah Hazel.
Melihat luka gadis itu, lalu mencoba menempelkan plesternya di atas luka.
Alis gadis itu saling bertaut, memandangi Ardan lamat-lamat dan perlahan ia terisak.
Ardan menatap Hazel, sedikit bingung melihat Hazel seperti linglung.
Gadis itu hanya menggeleng, isakan yang sempat ditahan semakin mendalam. Sesenggukan menahan luka kehilangan.
"Hazel," panggil Ardan cemas. Lelaki itu bangkit dan duduk di sebelah istrinya.
Menarik kepala Hazel ke dalam dekapannya. "Ada apa, Sayang? Kenapa?"
Gadis itu semakin terisak, kedua tangannya melilit di pinggang Ardan.
Tidak tahu mengapa? Tiba-tiba dadanya sesak saat angin membawakan bayangan Iqbal menyentuh kenangan.
Sesenggukan ia menyembunyikan wajah di dada bidang Ardan.
"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku," katanya terisak.
"Maaf kenapa, Sayang."
"Aku mengingat lelaki selain kamu, Mas."
"Siapa?"
"Mas Iqbal," jawabnya terisak.
Ardan terdiam, hatinya tergerus saat Hazel menyebutkan nama itu. Terlebih mengingat beberapa kali Hazel sering menangis dan salah menyebutkan nama.
Kedua tangan kekar itu mencoba menarik bahu Hazel. Kepala gadis itu menggeleng, mengeratkan dekapannya.
"Jangan, Mas. Maafkan aku, maafkan aku Mas, maaf Mas Ardan." Sesenggukan ia memecahkan beban.
Ardan menarik napas saat nama dia tersebut oleh Hazel.
"Aku tidak tau kenapa aku tiba-tiba bisa ingat sama Mas Iqbal. Sumpah aku tidak mau menyakitimu, tidak ingin melukai hatimu, maafkan aku Mas Ardan, maaf Sayang."
Ardan menarik bahu Hazel, lantas ia mengusap wajah itu.
"Dengar Hazel, terus terang aku masih cemburu mendengar nama itu. Aku benci mengingat kamu pernah menikahinya sebelum aku."
Hazel kembali memeluk badan Ardan. Menangis terisak di sana. Ardan kembali menarik napasnya.
"Tapi aku juga sadar jika dia sudah tiada. Hanya sebatas kenangan dan memang dia yang lebih dulu mengisi hatimu. Aku membencinya, tetapi posisi dia dalam hatimu itu adalah hakmu."
"Maaf, Mas."
"Aku memaafkanmu," kata Ardan.
Mengapa? Hatinya tidak bisa lengang saat melihat Hazel menangisi kembali mantan suaminya itu.
Ia cemburu, terlebih saat melihat air mata Hazel yang terluka mengingat kenangannya.
"Berhentilah menangis, Hazel atau aku akan marah padamu!" bentak Ardan.
Gadis itu mencoba menghentikan tangisannya. Ia menarik kepala dan menatap wajah Ardan. Sesekali kepalanya menyentak.
Wajahnya terlihat kacau, hidungnya memerah dan mata itu terlihat bengkak.
"Kumohon, jangan tangisi lelaki lain di hadapanku. Aku benci itu," kata Ardan.
"Aku benci jika harus berbagi air matamu dengan lelaki lain."
Ardan bangkit dan langkahnya tertahan oleh tangan Hazel.
"Mas," panggil Hazel. "Aku tau kamu cemburu. Tetapi bagian masa laluku masih tetap begitu. Masa laluku adalah milikku dan masa depan adalah milik kita, Sayang."
"Tapi aku tidak ingin ada bagian masa lalumu di masa depan kita. Itu tak adil buatku."
"Katakan, kamu memilih aku jujur akan rasa ini di depanmu atau menyimpannya di belakangmu?"
Dada Ardan bergemuruh, ia benci jika mengingat masa lalunya lagi.
"Aku tak ingin duanya."
"Tapi bagaimana bisa?"
"Harus bisa!" bentak Ardan.
Hazel tertunduk, perlahan tangannya terlepas dari lengan Ardan.
Lelaki itu menarik napas, tubuh yang lelah dan dihadapkan masalah yang menguji hatinya.
"Jika nanti Allah bertanya padaku, sama siapakah aku ingin menempati Surga itu," ucap Hazel tertunduk.
"Demi Allah, aku akan menjawabnya. Bersamamu, Ardan Erlangga."
Ardan terdiam, ia hanya memandangi Hazel yang terus tertunduk.
"Katakan, bolak-balik kamu menyebutkan namaku. Memang karena kamu sadar itu aku, atau kamu mencoba menyadarkan kenanganmu tentang aku."
Hazel mendongak, melihat wajah Ardan yang memadam.
"Mas meragukanku?"
"Aku hanya bertanya."
"Jika memang kamu meragukanku, lebih--"
"Hazel sudah pernah kukatakan jangan pernah meminta cerai sesulit apa pun keadaan yang dihadapi."
"Siapa yang meminta cerai? Mas bahkan memutuskan kalimatku!" bentak Hazel sedikit geram.
"Wallahi, Ardan! Saat ini yang kucintai adalah kamu. Dan yang kuinginkan adalah kamu. Hanya sebatas kenangan dan kamu cemburu berlebihan? Aku bahkan selalu berdoa, memohon pada Allah agar kamu ikhlas menukar jatah ribuan bidadarimu di Surga kelak demi aku. Dan berikan bidadarimu selain aku, pada Mas Iqbal."
"Hazel."
"Wallahi, Ardan! Aku hanya meingangatnya sesaat, mungkin Mas Iqbal ingin bertanya tentang kabar putranya. Dan kamu meragukanku?" tanya Hazel.
"Demi Allah, Ardan. Aku tak ada niat memintamu menceraikanku lagi. Wallahi, kenapa sulit sekali untukmu percaya padaku?"
Hazel bangkit, menyeka wajahnya dan berniat akan meninggalkan Ardan.
Lelaki itu menarik tubuh Hazel dan memeluknya erat. Mendekap seakan takut jika gadis itu akan menghilang.
"Aku hanya cemburu, Hazel. Aku tidak meragukanmu, percaya padaku."
"Apa rasanya jika aku tidak percaya padamu, Mas?"
Ardan diam, kedua tangannya memeluk perut Hazel semakin erat.
"Apa rasanya saat aku meragukanmu saat kejadian Nana dulu?"
Teguk salivanya memahit, mengapa kejadian lama harus diungkit?
"Sakit bukan? Ada yang tergerus dan rasanya seperti kebas, hatiku terluka, tetapi tidak berdarah. Hanya lebam, dan itu lebih parah karena tidak tau cara mengobatinya. Seperti itu bukan?"
Ardan menempelkan kepalanya di sisi kanan kepala Hazel. Menarik napas dan perlahan matanya terpejam.
"Aku salah. Aku hanya berusaha jujur padamu agar tidak ada luka terpendam yang lagi kusimpan. Bukankah Mas yang memintaku untuk berbagi? Apa pun itu."
"Percayalah aku hanya terlalu mencintaimu, Hazel. Aku hanya tidak ingin berbagi dirimu, walau itu hanya kenanganmu."
"Tapi Mas Iqbal bagian kenanganku, Mas. Mungkin dia akan terlupa, tetapi kenangannya tidak akan musnah. Ada Surya di antara kami, dan itu tidak bisa diingkari."
"Aku hanya mencintaimu, Hazel. Percayalah aku hanya sangat sayang padamu."
"Hatiku utuh untukmu, Mas. Tetapi ada satu posisi yang tidak akan pernah tersisi. Walau dia hanya menempati ruang terkecil dalam benak ini. Kumohon, Mas. Mas Iqbal sudah tiada, bisakah Mas melepaskannya?"
Ardan terdiam, ia membalik badan Hazel dan ibu jari itu menyeka wajahnya.
"Aku akan berusaha, insyaAllah."
Tangan kekar itu meraih kedua jemari Hazel, menciumnya lembut dan bibir itu tersenyum simpul.
"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku."
"Aku memaafkanmu, Sayangku."