
Sebuah langkah dengan heels tinggi mendekati lelaki yang tengah mengancing kemejanya. Mencoba jas putih yang akan membalut tubuh tegapnya di acara akad nanti. Sepasang mata di balik lensa itu terpaku saat melihat pantulan tubuh mungil gadisnya dari dalam kaca.
Kebaya putih yang membalut badannya terlihat sangat anggun, dengan tatanan rambut sederhana. Namun, pesona yang hadir malah membuat ia terlihat sangat sempurna.
Sasy mengembangkan senyuman saat menyadari lelaki yang ada di depannya terpaku.
"Bagaimana menurut, Kakak?" tanyanya tersipu malu.
Ferdi tersenyum simpul, berbalik dan menghampiri gadis mungil itu. Merapikan hiasan rambut milik gadisnya, lalu berkata. "Sangat sempurna."
Gadis kecil itu menggigit bibir bawahnya, malu-malu ia menaikan pandangan.
"Kakak juga sangat tampan."
"Tentu saja. Jika tidak, mana mungkin gadis kecil sepertimu bisa terpesona."
Sasy terkekeh, kedua jarinya mencengkeram sisi jas yang Ferdi kenakan. Menarik tubuh kekar itu agar sedikit merapat. Kepala itu mendongak, tersenyum manja.
"Kenapa?" tanya Ferdi dan gadis itu menggeleng. Menjatuhkan kepala di atas dada.
"Hanya bersyukur."
"Bersyukur?"
Gadis itu mengangguk pelan. Menarik napas dan perlahan genggaman tangannya di sisi jas Ferdi menguat.
"Bersyukur karena semesta mempertemukan kita. Aku pikir selamanya Kakak adalah lelaki yang takkan pernah bisa kugapai."
Lelaki berkacamata itu hanya bergeming, memerhatikan ekspresi sang gadis dari dalam pantulan cermin di depannya.
"Sasy, yakinkah kamu tidak akan menyesal menikah semuda ini?"
Seketika gadis itu mendongak, melihat Ferdi dengan tatapan tak suka.
"Jangan bilang kalau Kakak masih ragu dengan pernikahan kita?"
"Bukan ... bukan itu maksudku."
"Kak, aku tau. Sulit buat Kakak untuk percaya sama gadis belia seperti aku. Walaupun aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya, tapi aku yakin kalo bersama Kakak aku akan bahagia."
Ferdi menarik napas, ia meleraikan pelukan Sasy dan memegang kedua ujung bahu mungil itu. Sedikit menunduk untuk menyamai wajah sang belia.
"Sasy, aku hanyalah lelaki biasa. Suatu saat aku pasti akan melakukan hal-hal yang akan membuat kamu kecewa. Lalu, apakah kamu pernah mimikirkan ini? Apa yang akan kamu lakukan jika aku mengecewakanmu?"
Gadis itu tertunduk, seperti ragu-ragu. "Aku rasa aku akan bisa memaafkan selama orang itu, Kakak."
"Kenapa?" tanya Ferdi tegas.
"Karena orang itu adalah Kakak."
"Hanya karena itu?" tanyanya lagi dan Sasy mengangguk dengan cepat.
"Lalu, bagaimana kamu bisa menghapus kecewa yang lebih dulu dirasa? Apa memaafkanku bisa membuat perasaan kembali ke semula?"
"Tidak akan ada pengulangan yang sama."
"Lalu, kenapa kamu berani mengambil keputusan menikah muda?"
"Karena Kakak adalah orangnya."
Ferdi memejamkan matanya, jika biasa mendekati pernikahan perasaan akan bimbang. Itulah yang dia rasakan saat ini. Terlebih mendengar penuturan Sasy yang sangat terobsesi padanya.
"Sasy, pernikahan dalam dunia nyata itu bukanlah ending bahagia. Dalam dunia nyata, pernikahan adalah step di mana tingkatan ujian hidup akan berjalan lebih susah. Menikah tidak seindah yang kamu bayangkan, tetapi juga tidak seburuk yang kamu takutkan."
"Aku tau dan aku rasa semua akan baik-baik saja saat aku menjalaninya bersama Kakak."
"Karena aku orangnya?"
Sasy mengangguk dengan cepat.
"Bagaimana jika sikapku berubah padamu suatu saat nanti?"
"Asalkan itu tetaplah Kakak. Maka aku akan menerimanya."
Ferdi menarik napasnya, melihat seraut wajah belia itu lamat-lamat.
Untuk beberapa detik mereka hanya saling beradu pandang. Mencoba meyakinkan hati masing-masing dengan perasaan yang saat ini datang.
Ferdi tertunduk, perlahan cengkeraman tangannya di bahu Sasy mengendur dan terlepas. Berbalik, seraya mematut diri kembali ke cermin.
"Kak," panggil Sasy, Ferdi hanya melirik sekilas. Kembali fokus merapikan pakaiannya.
"Aku pernah mendengar, saat kita memutuskan untuk menikah. Maka menikahlah karena dia orangnya, bukan karena kita mencintainya."
Seketika gerakan Ferdi terhenti. Menoleh ke gadis mungil yang ada di sebelahnya.
"Karena suatu saat cinta bisa hilang dan memudar, lalu alasan mengapa kita menikahi dia juga akan hilang. Aku tidak ingin seperti itu, Kak. Karena pernikahan bukan hal yang bisa dimainkan, aku berani bertaruh karena lelakinya itu Kakak. Alasan kenapa aku mau menikah muda adalah Kakak, bukan cinta ataupun obsesiku pada Kakak."
"Lalu, bagaimana jika aku tak sebaik yang ada dalam anganmu? Apa kamu akan meninggalkanku?"
"Lalu bagaimana jika kekuranganku lebih banyak dibandingkan Kakak. Apa Kakak akan meninggalkanku?" tanya Sasy kembali.
Ferdi meneguk salivanya, memerhatikan wajah belia itu lamat-lamat.
"Aku rasa kekurangan tidak akan pernah menjadi alasan kenapa aku harus meninggalkan."
"Lantas bagaimana Kakak bisa berpikir kalau aku akan berubah hati hanya karena kekurangan yang Kakak miliki?"
"Karena kamu masih terlalu muda, Sayang. Akan ada banyak hal yang kamu temui di masa depan nanti. Salah satunya, mungkin lelaki yang kamu anggap lebih dariku."
"Lalu, apakah di masa depan Kakak juga tidak akan bertemu dengan wanita yang jauh lebih sempurna dariku?"
Lagi-lagi lelaki itu hanya diam, entah sejak kapan? Gadis kecil yang dia kenal manja dan banyak ulah ini bisa berpikir seperti ini.
Mungkin, memang dia yang belum terlalu memahami isi kepala gadis ini. Seulas senyum tercetak dari lelaki berwajah teduh itu. Ia memutar badan kembali berhadapan dengan Sasy.
"Bagaimana jika aku terpaut akan gadis itu?"
"Lalu, bagaimana juga jika aku didekati lelaki lain?"
"Jawab pertanyaanku, jangan hanya mengembalikan kata-kataku."
"Apa yang menjadi jawaban Kakak, itulah jawabanku. Karena saat memutuskan menikah kita adalah satu rasa, apa yang aku rasa Kakak akan merasakan juga. Apa yang Kakak jaga, maka aku akan menjaga. Karena walaupun dua tubuh, kita tetap satu hati."
Tawa pecah dari lelaki berkacamata itu, memang kalau urusan menggodai, jauh dia akan kalah dibandingkan belia itu.
"Baiklah, kalau begitu jangan menyesal."
"Tidak akan!"
"Kamu yakin?"
"Tentu saja."
"Baiklah, kita lihat setahan apa kamu di malam pertama?"
"Eh?" Seketika Sasy melihat ke arah wajah Ferdi. Meneguk salivanya berat.
"Jangan melupakan, bahwa bagian dari pernikahan adalah ranjang."
Berulang kali kelopak mata gadis itu mengerjap dengan cepat. Jantungnya hampir lompat saat sepasang tangan Ferdi menangkup di pipi gembilnya.
"Apa kamu pikir menikah hanya untuk bisa tinggal bersama tanpa melakukan apa-apa?" tanya Ferdi seraya mengedipkan sebelah matanya.
Seketika mata Sasy membelalak dengan lebar, terlebih saat wajah Ferdi semakin dekat dan embusan napas itu mulai terasa hangat menyapu wajah.
Saat jarak di antara mereka hanya bersisa satu embusan napas.
Sreeek!
Sasy menarik kain pembatas yang ada di ruang feeting. Secepatnya gadis itu berlari, meninggalkan Ferdi yang masih berdiam dengan mata terpejam. Lelaki dewasa itu terkekeh, kembali menegakkan badan seraya menggeleng pelan.
Menggoda calon istrinya kini menjadi hobi baru yang sangat ia sukai. Terlebih dengan tingkah polos Sasy.
Sementara, di dalam ruang ganti Sasy menekan dadanya, ngos-ngosan menarik napas terengah. Jantungnya hampir melompat keluar karena perubahan sikap lelaki berkacamat itu.
"Tuhan ... Tuhan! Aku bisa gila!" pekiknya tertahan.
Di luar, Ferdi tertawa terpingkal mendengarnya.