For My Family

For My Family
252



Arfi menarik napasnya saat ferarri merah itu terparkir di sela-sela motor di depan sebuah acara hajatan. Lelaki itu menoleh sekali lagi ke arah istrinya. Meyakinkan dirinya agar sanggup melakukan ini.


"Khadijah, jangan, ya. Aku malu, Sayang. Aku bisa membelikan rendang sebanyak yang kamu mau, tapi jangan yang ada di hajatan orang, dong."


"Tapi aku pinginnya yang ada di hajatan orang, gimana, dong?"


"Emang apa bedanya, sih? Sama-sama dari daging, aku juga bisa minta chef di hotel bintang lima memasaknya untukmu. Tapi kumohon, Sayang. Jangan yang di sini, ya."


Gadis itu menundukkan pandangannya, sekali lagi melihat ke tempat acara. Teguk salivanya terasa berat, keinginan untuk menyantap makanan itu sudah terbayang-bayang di dalam kepalanya.


Dia menggeleng, mencoba memudarkan bayangan itu. Tidak masuk akal memang, tetapi mengapa keinginannya kali ini juga tidak terbendung?


Melihat ekspresi Nigar membuat Arfi mendesah pelan. Jarang sekali wanita itu mengutarakan inginnya dan sekalinya dia ingin, Arfi malah enggan untuk menurutinya.


Pelan lelaki itu membuka seatlbeltnya, menarik kacamata hitam di atas dashboard dan memakainya agar wajah tampan itu sedikit tersamarkan. Malu.


"Tunggulah di sini, aku akan meminta izin pemilik acara untuk memakan hidangannya."


Seketika bibir ranum itu mengembang lebar, mengangguk dengan antusias. Arfi terkekeh, menggeleng pelan seraya menutup pintu ferarrinya.


Lelaki berperawakan tinggi besar itu menyugar rambutnya sebelum masuk ke tempat acara, beberapa pasang mata menatapnya kagum. Demi apa keluarga yang melakukan hajatan bisa mengundang orang sekeren Arfi? Pikir mereka.


Lelaki dengan kaus ketat itu berjalan langsung ke depan, menyalami seorang lelaki tua dengan pakaian batik yang berdiri di dekat panggung pengantin.


"Siang, Pak. Bisa saya bicara sebentar dengan pemilik acara?" tanya Arfi mengembangkan ssnyumnya.


Sementara lelaki yang disalami hanya bergeming, menatapi Arfi kebingungan.


"Saya istri pemilik acara. Maaf, Nak siapa?" sahut seorang ibu dengan baju batik senada dengan lelaki yang disalami Arfi.


"Saya Arfi Erlangga. Begini, Bu. Istri saya ingin memakan rendang di hajatan orang, saya sudah menawarkan masakan di tempat lain dan dia tidak mau. Saya ingin minta izin, apa boleh kami makan di sini?" tanya Arfi sesopan mungkin, peluh di pelipisnya sudah menetes dengan deras.


Untuk pertama kalinya dia harus melakukan hal yang memalukan seperti ini. Mau bagaimana lagi? Semua hanya karena cinta di dalam hati yang kian bersemi.


Senyum merekah dari wajah tua wanita tersebut, dia mengangguk pelan seraya berkata.


"Apakah istri Nak Arfi sedang hamil? Biasa orang ngidam memang aneh-aneh saja keinginannya." Wanita itu tersenyum simpul dan menatap ke arah suaminya.


"Makanlah sebanyak yang kalian mau, kami mengizinkan," sahut lelaki yang tadi sempat disalami oleh Arfi.


Sementara lelaki itu hanya terdiam mematung, pertanyaan itu membuat jantungnya berdegup dengan kencang. Ada perasaan senang yang tak bisa dijelaskan oleh logika.


"Hamil?" lirihnya tersenyum sendu.


...***...


Tajam tatapan di balik kacamata hitam itu terus memperhatikan gerakan bibir Nigar yang tengah memakan hidangan acara. Dia belum berbicara pada Nigar soal tanggapan pemilik acara, tetapi jika melihat ulahnya, bisa jadi kalau gadis itu tengah berbadan dua. Tak mungkin rasanya gadis sesederhana dia mampu meminta hal aneh jika tidak ada sebabnya.


Mengetahui Arfi yang masih terdiam dengan piring makanan di salah satu tangannya membuat dahi Nigar berkerut.


"Kenapa nggak dimakan? Arfi takut makanan ini nggak bersih, ya?"


Arfi tersenyum simpul, membuat beberapa pasang mata gadis yang sedari tadi memperhatikannya, terpesona. Darah Erlangga memang sedikit berbeda, mereka mampu menggoda tanpa berbuat apa-apa.


"Aku juga tidak sesombong itu, Khadijah."


"Jadi kenapa nggak dimakan?"


"Entah kenapa, tapi rasanya hari ini kamu terlihat sangat memesona."


Seketika rona pada wajah Nigar tampak kemerahan, gadis itu tersenyum dengan sisa makanan di dalam mulut. Membuat dua pipinya mengembung, gemas.


"Arfi, berhentilah menggodaku," ketus Nigar malu-malu.


"Kenapa aku harus berhenti di saat menggodamu adalah menjadi hobi baruku?" Satu alis Arfi menaik, membuat pasangan mata yang sedari tadi memperhatikannya semakin terpesona oleh dirinya.


"Cepat habiskan makananmu setelah itu kita pulang?"


"Kenapa terburu-buru? Bukannya tadi kamu yang ingin sekali berburu rendang hajatan?"


"Aku tak suka jika suamiku dipandang oleh banyak mata para wanita."


Seketika Arfi mengedarkan pandangan matanya, melihat gadis-gadis yang berjajar duduk di balik meja hidangan. Terus memperhatikan dirinya semenjak pertama kali lelaki itu menginjakkan kaki di tempat acara.


Arfi membuka kacamatanya, menyelipkan di kaus yang dia kenakan. Bibir sedikit merah itu tersenyum simpul dengan kedipan mata menggoda mereka.


Seketika riuh para gadis di sana terdengar, Nigar menolehkan pandangannya. Melihat suaminya sedang asyik menggoda para gadis belia di sana.


"Arfi!" Lentik jemari gadis itu menarik kulit dada Arfi. Lelaki itu hanya terkekeh padahal sakit yang dia rasakan.


"Sumpah, Khadijah. Aku tidak sadar sama sekali kalau ada mata-mata yang memandangiku dari tadi."


Gadis itu menyilangkan kedua tangan di dada, ia buang wajah. Kesal.


"Jelas saja tidak sadar, Arfi yang dari dulu dikelilingi oleh banyak gadis sudah terbiasa dengan itu semua."


Arfi kembali terkekeh, terkadang melihat Nigar cemburu membuat hatinya berdecak senang. Setidaknya dia tahu kalau di dalam hati istrinya ada cinta yang tumbuh untuk dirinya.


"Seneng banget, sih, jadi pusat perhatian!" ketus Nigar masih membuang wajahnya.


Kedua tangan Arfi mencoba meraih ujung bahu Nigar, menatap wajah kemerahan itu geram.


"Kamu cemburu?"


"Enggak!"


"Dengar, Khadijah. Aku tidak sadar bukan karena aku terbiasa diperhatikan oleh mata-mata mereka. Tapi aku tidak sadar karena semenjak ada kamu, seluruh perhatian dan tatapan mataku hanya tertuju padamu. Aku tak peduli pada siapapun yang memandangku, tapi aku akan sangat marah pada siapapun yang menatapmu selain aku."


"Hem, dasar playboy. Kalau dia yang dipandang tak masalah, tapi kalau aku yang dipandang malah marah."


"Tentu saja! Karena kamu adalah milikku. Aku tak suka jika milikku menjadi konsumsi publik, aku tak suka berbagi, apa pun itu. Termasuk perhatianmu."


Nigar melepaskan cengkeraman Arfi pada ujung bahunya. Lantas, mengusap sudut bibir Arfi yang tidak kenapa-kenapa. Hanya ingin memperlihatkan kepada gadis-gadis di sana. Jika lelaki yang mereka kagumi adalah miliknya.


"Aku juga tak suka jika Arfi dipandangi oleh orang lain, jika aku bisa aku hanya ingin Arfi milikku saja."


Lelaki itu meraih jemari Nigar yang masih menempel di sudut bibirnya, mengenggam erat.


"Tentu saja aku milikmu. Tapi Khadijah, aku tidak bisa mengatur pandangan orang lain terhadapku. Itu adalah hak mereka dan milik mereka. Tapi aku bisa mengatur pandanganku hanya untuk siapa saja."


Lelaki itu tersenyum simpul dengan jemari yang menaut di jari-jari istrinya.


"Dan itu, hanya untuk kamu!"