
Gadis itu menyerahkan satu cup boba ke tangan Ferdi. Lelaki berparas teduh tersebut menarik napas, mengambil cup itu lantas meminum air dari dalam kemasan gelasan.
Mengatur napas yang masih ngos-ngosan. Untung saja tidak lama Shiba Inu itu datang, sang Tuan juga datang dan membawanya kembali.
Walau anjing piaraan, bukannya sakit juga jika digigitnya? Membayangkannya saja mampu membuat Ferdi bergidik ngeri.
Saat gadis itu duduk di sebelahnya, mata Ferdi menatap tajam. Dua jarinya kembali menjentik dahi sang gadis.
"Aku tidak habis pikir, kenapa bisa usil sekali, sih?" tanya Ferdi ketus.
Sasy mengusap-usap dahinya, bibir itu memanyun sembari menyedot boba miliknya.
"Abisnya aku bosan, Kak Ferdi lama banget nyampeknya, aku kan macam orang bego nungguin di halte sendirian."
"Alah, biasa juga selalu sendiri."
"Kok Kak Ferdi tau?" tanya Sasy polos.
Lelaki itu meneguk airnya dengan sedikit berat, ia memalingkan matanya. Bagaimana jika gadis itu tahu jika selama ini dia selalu memerhatikan diam-diam.
"Kak," panggil Sasy lagi
Ferdi mengusap kepalanya, ia bangkit dengan tiba-tiba.
"Eh, mau ke mana?" tanya Sasy lagi.
"Mau salat. Kenapa? Aku bukan manusia usil sepertimu!" balas Ferdi ketus.
Gadis belia itu memanyun. "Ikut, ntar kalo ada anjing lagi gimana?"
"Biar saja. Biar digigit sekalian." Lelaki itu berjalan meninggalkan Sasy, masih sangat kesal. Gara-gara gadis belia itu kausnya basah tak karuan.
"Ish, Kak Ferdi." Sasy menghentakkan kakinya, lalu ia bangkit dan mengikuti Ferdi menuju masjid di tengah kota.
Lelaki itu mengambil sebuah jaket dari dalam mobil, kepalanya memaling, menyisir sekeliling, dikiranya cukup sepi. Lelaki itu membuka kaus ketat yang melekat.
Mengelap sisa-sisa keringat yang menempel di kulitnya.
Di belakang sini bibir Sasy menganga, boba dalam genggamannya terlepas begitu saja. Terpatri dengan pemandangan yang Ferdi sajikan.
Tegap badannya, kulit yang bersih meski tak terlalu putih. Lelaki itu mengusap-usap kepalanya, menjatuhkan bulir-bulir peluh dari rambutnya.
Jika biasa Ferdi terlihat pintar dan dewasa. Saat ini dia malah terlihat keren dan sangat menggoda.
Cepat gerakannya memakai jaket berwarna navy itu. Lalu memakai kacamata yang sempat ia lepaskan sebelum membuka kaus.
Kepalanya menoleh, melihat Sasy yang masih terpaku berjarak lima meter darinya.
"Hei ... Kau salat tidak?" tanyanya.
Sasy mengangguk dengan cepat.
"Ayo, nanti ketinggalan."
Ferdi berjalan seraya mengacak rambutnya, tidak nyaman sebenarnya, namun mau bagaimana lagi, kausnya basah karena keringat.
Sasy masih terpatri, beberapa kali dia mengedipkan matanya. Lalu bibirnya terkembang lebar.
"Ya Allah ... roti sobek!" teriaknya.
***
Lelaki berambut pirang itu menepikan mobilnya di parkiran kantor. Menatap dari balik kaca Mclarentnya, memerhatikan Ardan yang masih berbicara pada bawahan.
Dia menghela napas, melihat rantang makanan yang dititipkan Hazel. Berulang kali dia menolak untuk mengatarkannya, namun Hazel terus memaksa.
Tak tega dan akhirnya dia mengalah, mengantarkan makan malam walau sebenarnya dia masih marah.
Lelaki itu turun saat melihat para bawahan yang tadi ada di ruangan Ardan keluar. Ia bawa rantang makanan itu dan berjalan ke ruangan sang Kakak.
Hari mulai gelap, dan sebagian karyawan masih ada di sana. Terkadang dia merasa iba, saat melihat usaha dan kerja keras Ardan untuk memisahkan anak perusahaan.
Pandangan mata Ardan memaling saat pintu ruangannya kembali terbuka.
Mata tajamnya menatapi Arfi yang berjalan menghampirinya, Bungsu Erlangga itu meletakan serantang makanan. Hanya diam dan berbalik untuk meninggalkan ruangan Ardan.
"Arfi," panggil Ardan.
Langkah itu terhenti. Ia hanya melirik sekilas.
"Kau sudah makan?" tanya Ardan lembut.
Arfi hanya diam, lalu ia melanjutkan langkahnya.
"Maukah kau menemaniku makan malam?"
Lelaki berambut pirang itu terus berjalan. Tangannya meraih kenop pintu, ia menghela napas dan terpejam.
Lalu kembali dan menghampiri Ardan.
"Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu untuk menemanimu, Ardan."
Bibir tipis itu tertarik, Ardan membawa jenjang rantangnya dan duduk di sofa ruangan. Membuka satu persatu, dan Arfi hanya memandanginya.
Sebenarnya dia juga tidak tega mendiamkan Ardan. Memang ada alasan mengapa Ardan bertindak seperti itu, namun apa pun alasannya dia belum bisa menerima.
Arfi hanya diam saat Ardan memasukan beberapa lauk makanan ke dalam salah satu wadah rantang. Lalu dia menyodorkan ke hadapan Arfi dengan bibir yang terkembang.
"Makanlah, aku tidak ingin mama salah paham saat melihatmu kurus di kotaku."
Arfi menarik napas, ia ambil wadah itu dan mulai memakan isinya. Hanya diam, sesekali melirik Ardan yang menikmati makanannya.
Seperti itu waktu berjalan, sampai lelaki berkulit sawo itu menuangkan teh jahe yang dibuatkan sang istri, ia menghirupnya lalu menyandarkan kepala di atas sofa.
Lelah dengan segalanya.
"Maaf," lirih Ardan. Matanya masih terpejam.
"Apa?" tanya Arfi.
"Maaf," ulangnya sekali lagi.
Arfi terdiam, untuk beberapa lama waktu hening berjalanan. Ardan mengusap wajahnya dan seperti mengambil posisi agar kepalanya bisa bersandar lebih lengang.
"Tak tau harus memulai dari mana, tapi aku hanya mau bilang maaf. Berulang kali aku telah menggerus hatimu." Ardan menarik napasnya, alasan dia memejamkan mata adalah, agar air matanya tidak tumpah.
"Aku memang Kakak yang buruk untukmu, Arfan dan juga Arsy. Aku anak yang tidak baik untuk mama dan papa, aku juga bukan sahabat yang baik untukmu, Arfan dan Ferdi. Maaf, aku memang seburuk ini."
Arfi tertunduk, ia usap sudut matanya dan berusaha untuk tidak ikut menangis.
"Aku tak tahu harus bagaimana menghadapimu. Maaf Arfi, jangan pernah mencontoh aku yang tidak berguna ini."
"Berhentilah mengatakan itu, Ardan. Apa kau pikir aku akan kasihan jika kau mengatakan itu?" tanya Arfi ketus.
Bibir Ardan tersenyum. "Tak apa. Semakin kalian membenciku itu lebih baik rasanya. Setidaknya aku hanya melindungi kalian dari jauh saja. Tak perlu susah-susah, apalagi berteriak untuk menyakitinya."
Arfi tertawa getir, ia bangkit dan menumbuk perut Ardan. Lelaki itu mengaduh, ia membuka mata dan benar saja, sebuah air lolos begitu saja.
Ardan tersenyum getir, dua tangannya terbentang. Lalu melambai seraya berkata, "sini!"
Si bungsu itu berhambur ke dalam pelukan sang Kakak, memeluk dan seperti biasa, dia akan leluasa menangis di pundak kekar itu.
"Kuatlah Bungsuku, ayo jangan menangis. Bukankah ada calon istrimu di sini?" tanya Ardan seraya menepuk kepala belakang Arfi.
"Cih, dasar! Bukannya kau pun sama?"
Ardan terkekeh, lalu dia menarik bahu Arfi dan menepuk pipinya lembut.
"Sampai kapanpun kau adalah prioritasku, Arfi. Belajarlah dewasa dan kendalikan amarahmu, Bocah."
"Kau yang seharusnya kendalikan amarahmu itu. Kau lebih parah."
"Aku mengatakan yang benar, kau ini." Satu kaki Ardan menendang Arfi, lalu lelaki yang lebih muda itu membalas dan gelak tawa pecah dari ruangan GM tersebut.
Dari balik kaca, gadis berhijab itu menunjukkan dua kelakuan iparnya kepada sang Kakak.
Hazel tersenyum, tak sia-sia usahanya untuk membujuk Arfi mengantarkan makanan. Nyatanya mereka hanya butuh waktu untuk menenangkan.
"Baiklah, Nigar. Kau pun cepat pulang, walau di sana ada Kakak iparmu, aku tak tenang."
"Iya. Aku akan kembali setelah menyelesaikan laporan ini."
"Jangan lupa makan, dan jangan kerja terlalu keras. Atau atasanmu akan kumarahi nanti."
Nigar tersenyum dan mengangguk, ia mematikan ponselnya. Saat akan menyimpannya, bersamaan dengan Arfi yang keluar dari dalam ruangan GM dengan sebuah map yang terbuka dan pulpen di tangannya
Nigar menunduk, kembali menatap layar komputernya dan seringai nakal tercetak di wajah Arfi.
Dia berjalan seraya membaca map yang ada di tangannya, berdiri di sebelah meja Echa yang bersebelahan dengan meja Nigar.
"Echa, namamu Echa, kan?" panggil Arfi.
"Iya, Pak."
"Periksa ini lagi, ada kesalahan data dalam pemasukan barang di gudang. Dan selisihnya lumayan banyak." Arfi meletakan map itu di atas meja Echa.
"Baik, Pak."
Arfi tersenyum, lalu badannya berbalik dan Nigar masih sibuk pada layar komputernya. Pulpen yang ada di tangannya dimainkan.
Lalu sengaja ia jatuhkan di bawah meja Nigar. Perhatian gadis itu teralih, ia melihat pulpen itu dan membungkuk.
Arfi berjongkok, saat jari lentik itu menyentuh pulpen. Dia pun ikut menyentuhnya. Memegang jari Nigar, lalu tatapan mereka bertemu.
Nigar terdiam, sementara Arfi mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda.
Secepatnya gadis itu bangkit dan kembali tegak. Di bawah sini, Arfi bersiul.
Saat Nigar menatapnya, satu jari Arfi menepuk bibir, lalu bibir itu menciumnya lewat udara.
Nigar menggulum bibirnya, menahan mati-matian untuk tidak tersenyum.
Lelaki berambut pirang itu bangkit dan membungkuk, menumpuhkan kedua tangannya di meja Nigar.
"Hei, Sayang. Tersenyumlah jika kamu ingin tersenyum," goda Arfi.
"Karena senyummu, membuat warasku menjadi gila berkepanjangan." Satu matanya berkedip, menciptakan semburat kemerahan di wajah Nigar.
Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Malu dan juga semu. Semakin hari rasanya semakin menggebu.
"Arfi pergilah, aku ingin pulang."
"Lalu setelah itu?"
Nigar membuka tangkupan tangannya di wajah.
"Tentu saja istirahat."
"Bagaimana jika kencan denganku dulu?" Lagi-lagi ciuman udara lelaki itu layangkan.
Gadis itu tidak tahan, jari-jari lentiknya menarik kulit perut Arfi.
"Berhentilah menggodaku, Arfi," sungutnya kesal.
Arfi mengaduh, matanya menyipit menahan sakit.
"Nigar, ini sakitnya luar biasa, beneran."
"Oh, ya? Sorry."
"Tapi tak sesakit saat kau meninggalkanku."
"Arfi!" teriak Nigar tertahan.
"Iya, Sayang."
"Berhentilah menggodaku dan pergi sana. Sana." Nigar memukul lengan Arfi dengan sebuah map.
"Baiklah. Aku akan pergi setelah satu kecupan."
Nigar terkekeh, ia memukuli Arfi dan menggeleng-geleng. Lelaki itu masih menggoda, sesekali jarinya mengetuk bibir dan pipi.
Kekehan itu lepas begitu saja, tak sadar jika sepasang mata tajam memerhatikan mereka berdua.
Ardan menarik napas, menghirup aroma jahe yang menenangkan.
"Sumpah aku geram melihat meraka." Ardan menyesap teh jahe buatan istrinya, satu tangannya terbenam di saku celana.
"Ferdi mencoba mengingkari hatinya, Nigar terlalu takut mengambil keputusan. Bagaimana jika kunikahkan masal saja?"
***
Pagi gaess ....
Lama tak jumpa author mau pamer dulu ah ... 🤭🤭🤭
ini Gaza, gaes. Al Gaza Khair, tapi bisa jadi Arfi juga 😁😁 . Mana yg suka aja dah
Jadikan gaes, author mau bilang, aacieeeh ... yang kena prank sama sistem NT. Bolak balik ada tulisan up tapi di buka zonk. 😂😂😂
Jadi author mau moon maap, karena author mau lahiran adek Gaza.
Jadi author lagi sibuk ngurusi adek Gaza, takut dia nakal dan obrak-abrik server abang Ardan lagi, jadi abang Ardan mesti ngalah dulu, upnya liburan dulu gitu 😁😁
Nah, jadi kan author mau setoran 20.000 kata dulu buat lahiran dia, makanya abang Ardan terlupa, buat yang penasaran dia lahirannya di mana, ntar kalo dah pasti author kasih info alamat lengkap deh. Biar gak salah alamat lagi
Jadi selama pembuatan Gaza, buat yang penasaran sama kisahnya Gaza ula la bisa japri wa author, ntar bakalan author kasih sepuluh bab pertama, baca dah tuh sebelum author up ke panti asuhan baru. Entar kalo udah up ceritanya gak bisa dibagi2
Tapi siapin mental dan hati, selain perbabnya panjang bener, Gaza nya juga ngeselin euy, ngenes pokoknya.
Buat yang mau, cekidot japri author kece badai, cuz author tunggu di KUA, eh WA gituh 😂😂😂