For My Family

For My Family
100



"Maaf, karen kesalahan internal. Bisakah kita menunda rapatnya dulu?" tanya Ferdi berlagak sungkan. Padahal memang inilah yang ia harapkan.


Sebagian Direksi keluar seraya menggelengkan kepala, menatapi Arfan dengan tatapan tidak suka. Mereka tak melihat kalau GM itu menggoda wanita.


Sebagian lagi mencoba mengerti, mungkin perebutan jabatan juga bisa memicu perang saudara itu. Nyatanya, mereka memang terpecah karena urusan asmara.


Saketika ruangan menjadi sepi, hanya tersisa tiga manusia yang selalu bersiteru itu, Ferdi dan juga Nana.


Gebrakan tangan Gerald cukup membuat lelaki berkacamata itu mengelus dada. Sementara dua kembar itu hanya saling menatap, sengit dan tajam. Saling menantang dan tak ada yang mau mengalah.


"Ardan! Arfan!" teriak Gerald saat gebrakan tangannya tak dihiraukan.


"Kalian itu waras?" tanya Gerald lagi. "Rapat ini hancur gara-gara ulah kalian berdua. Sampai kapan? Kapan kalian berdua bisa berhenti bersitegang?"


Ardan hanya diam, matanya tak lepas dari kembarannya itu.


"Jangan tanyakan padaku. Jelas, yang memulai bukan aku," ucap Ardan enteng.


Arfan terkekeh, ia menggeleng kepala pelan. "Dari mananya yang bukan kamu?" tanya Arfan sengit.


"Dari awal memang kamu yang memulai, Dan. Dari dulu sampai sekarang, hati Ferla masih terbagi. Setelah tujuh tahun, kami punya tiga anak. Tiga, Dan!" tekan Arfan ketus.


"Selama itu pula Ferla sering salah menyebut namamu!" bentaknya lantang.


"Lantas salahku di mana? Kamu yang gak mampu membuatnya mencintaimu? Salahku?" tanya Ardan tengil.


"Dasar bajing*n tengik. Sombong sekali gayamu," ucap Arfan menahan gemelatuk rahangnya yang semakin mengeras.


"Sudahlah, ini sudah sangat lama. Apa kalian gak bosan bertengkar hanya karena wanita? Kalian itu saudara, Boy!" sungut Gerald.


"Aku gak bertengkar, Pa. Dia saja yang sensi melihatku. Tak ada yang memintanya menemuiku, aku juga sudah menjauh. Dia aja yang terus cari-cari masalah. Dia yang gak becus jadi suami. Salahku juga?" Ardan menggeleng pelan. "Dasar payah!" sambungnya lagi.


Itu, mampu membuat Arfan kembali mengepalkan tangannya. Sayang tinjuan itu tertahan oleh tangan kekar Ardan. Kuat, ia menghempaskan tumbukan tangan Arfan.


"Jangan banyak kali membuatku cacat, nanti istriku cemas." Santai, Ardan bangkit dari kursinya dan membetulkan jasnya.


Seperti tak berbuat dosa, lelaki berkulit sawo matang itu berniat keluar. Kembali terhenti sebelum meraih gagang pintu.


Badan itu berbalik, memandang Gerald dan Arfan bergantian.


"Twins, dua keponakanku perempuan. Kau tak menyanyanginya tak apa, tapi aku peduli pada masa depan mereka. Jangan rusak anak gadis orang jika kau tak ingin anakmu mendapatkan perlakuan yang sama."


"Apa maksudmu?" tanya Arfan tak mengerti.


"Jangan berlagak. Aku tau kau bermain api dengan Nana. Tanggung jawablah, jangan jadi pecundang yang lari dari tanggung jawabmu."


Seketika Gerald menajamkan matanya, menatap sinis ke arah Arfan. Lelaki itu mulai terlihat gugup, ada kesalahan yang terhukum lewat pandangan pria tua itu.


"Apa yang sudah kau lakukan pada gadis itu?" tanya Gerald sengit.


Arfan menudukkan pandangannya, ia meneguk saliva dengan berat. Sama dengan gadis yang bernama Nana itu. Hanya bisa tertunduk dalam dengan jari yang saling meremat.


"Arfan jawab!" bentak Gerald.


"A-aku ... aku tidak melakukan apa pun, Pa."


Ardan terkekeh mendengar ucapan kembarannya itu.


"Sayang sekali kau butuh banyak belajar untuk menipuku, Twins."


"Apa maksudmu?" Kini lelaki tua itu beralih menatap putra sulungnya.


"Bahkan istriku saja masih memerah saat telinganya diembus. Seorang gadis bisa begitu tenang saat digoda?" Ardan berjalan mendekat dan membisikan sebuah kalimat.


"Itu artinya dia membutuhkan sentuhan yang lebih dalam untuk menaika sebuah hasrat." Ardan tersenyum sinis, tangannya menepuk bahu kekar kembarannya itu keras.


"Sudah terjadi anak sebelum akad sekali, jangan sampai terjadi dua kali. Kurasa ... Papa sudah terlalu tua. Jangan terlalu menyiksanya dengan aibmu, Kembaranku."


Gemelatuk itu semakin nyaring terdengar, mata Arfan semakin memerah dengan kepalan tangan yang siap meluncur kapan saja.


"Jangan sebajing*an ini, Ardan. Aku juga masih saudaramu." Rahang itu semakin mengatup keras.


Sengit tatapan Ardan, menantang amarah itu untuk terus berkobar.


"Kau lupa, aku pernah mengatakan dengan jelas untuk tak memasuki ranah pribadiku. Kau mencoba menyakiti istriku. Sayangnya, aku tak sepecundangmu yang menyerang melalui perempuan."


"Enyalah kau, Ardan!"


Bugh ....


***


Hazel menegakkan badannya, mengatur napas yang sering kali tersengal karena kandungan yang terus membesar. Tanganya mengelus perut yang kian membesar.


"Kram lagi?" tanya Mbok Darmi.


Hazel tersenyum dan mengangguk pasrah.


"Kadang Mbok heran, Nduk. Saat hamil Surya kamu kok gak pernah kram dan kontraksi. Padahal kamu sendiri, gak ada Iqbal. Sekarang kok rewel? Dikit-dikit kram, kontraksi, padahal semua gizi tercukupi, kan, ya," ucap wanita berbadan bulat itu.


Hazel hanya tertawa, ia membenarkan letak bantal agar punggungnya bisa bersandar dengan nyaman.


"Allah itu maha adil, Mbok. Dulu aku gak bisa ngeluh dan manja. Sekarang Mas Ardan harus menanggung semuanya."


"Huum, tapi Mbok juga mensyukuri, setelah semua yang kamu lewati. Kamu mendapatkan pria yang baik, Hazel. Sabar dan juga tanggung jawab, bukan hanya padamu, juga sama anakmu."


Mendengar ucapan wanita itu, Hazel hanya tersenyum lebar. Matanya memandangi putranya yang sudah pulas tertidur di pangkuan Mbok Darmi.


Sudah selama ini menikah dan ia tidak menemui bahwa lelaki itu hanya bersandiwara ataupun berpura-pura. Dia tulus, dan itu membuat gadis itu percaya. Bahwa Ardan benar-benar bisa menerima putranya.


Hazel menghela napas panjang, ia menyandarkan punggung di sisi belakang.


"Mbok," panggilnya lembut.


"Ya."


"Pulanglah, Surya pasti lelah. Kasian dia kalau terlalu lama di rumah sakit, Mbok."


"Tapi kamu bagaimana, Hazel? Nak Ardan, kan, masih belum pulang."


Wanita berbadan gempal itu mengelus dahi putra Hazel lembut. Memperhatikan wajah lugu bocah itu terlelap semakin dalam. Memang, sesekali ia berbalik, tak tenang dan juga tak nyaman.


"Mbok."


"Tapi Mbok juga khawatir sama kamu, Hazel. Bagaimana jika Nak Ardan masih lama kembalinya?"


"Aku gak masalah, Mbok. Aku baik-baik saja. Lagian apa yang bisa terjadi? Banyak Dokter dan juga suster di sini."


Bergeming, wanita paruh baya itu memandang Hazel penuh iba. Bagaimana juga, baginya gadis berdarah Turki itu sudah seperti anak kandungnya sendiri.


"Mbok, kasihan Surya. Dia butuh istirahat yang nyaman di rumah. Aku mohon, Mbok. Titip anak aku, ya," pinta Hazel manja.


Wanita itu kembali terdiam, perlahan ia mengangguk pelan. Mengukir senyuman indah di wajah gadis bermata madu tersebut.


Mbok Darmi mengangkat Surya, membawanya ke luar ruang rawat inap Hazel, lalu menghilang di balik pintu.


Wanita itu kembali menghela napas, melihat ke arah pintu ruangan. Sepi, sendiri lagi. Namun saat ini, ia harus bisa mengalahi ego sendiri. Ada hal-hal yang mesti diurus, dan itu tak selalu tentangnya.


Sebuah pesan masuk ke dalam gawai Hazel. Wanita itu membukanya dengan cepat, hanya sebuah kalimat, bisa membuat ia kembali tersenyum manis.


[Apa Mbok Darmi masih ada di sana?] Pesan masuk dari nama 'My Husband' yang ia simpan.


[Ya.] Jawaban singkat ia berikan.


[Bohong!] Balasan itu mampu membuat kedua alis gadis itu bertautan.


Baru ingin membalas, pintu kamar sudah lebih dulu terbuka. Lelaki dengan kemeja marun itu kembali dengan menenteng jas di salah satu tangannya.


"Kamu kok sudah kembali, Mas?" tanya Hazel riang.


"Sudah kukatakan, aku hanya pergi sebentar. Dan kamu! Berani berbohong padaku."


Hazel hanya terkikik, "Maaf, aku hanya tak ingin membuatmu khawatir."


"Jangan lakukan itu lagi, Hazel. Dosa!" tegas Ardan setengah bercanda.


Ardan menjatuhkan badanya di atas sofa. Meletakan kepala di atas sandaran, menutup mata perlahan.


Melihat wajah Ardan yang begitu kusut, wanita itu sadar. Ada hal yang membuatnya begitu lelah. Hazel lebih memilih diam. Membiarkan sang suami istirahat sejenak.


Ardan mendesah panjang, dengan usapan kasar menyapu wajah. Baru Hazel sadari, ada pecahan luka di subut bibirnya.


"Mas, bibirmu?" tanya Hazel cemas.


Ardan melirik, "Kenapa? Kamu rindu sapuan bibirku?" tanya Ardan mengerling nakal.


Seketika wanita itu memutar bola matanya malas. Kesal, saat kecemasannya dibalas godaan oleh suaminya.


"Aku bertanya serius, Mas," sahut Hazel ketus.


Ardan bangkit dan berjalan mendekati gadis itu. Membungkukkan badannya untuk menyejajarkan wajah mereka.


Jari Ardan mengetuk lukanya, disambut oleh sentuhan lembut jari wanitanya.


"Ini kenapa, Mas?" tanya Hazel cemas.


"Butuh kecupan, Sayang," jawab Ardan menggoda.


Bibir mungil itu mengerucut panjang, tak suka jika pertanyaannya diabaikan.


"Hem." Ketuk Ardan di sudut bibirnya.


Tak ingin berbedat, wanita itu mendekatkan wajahnya. Disambut ciuman hangat dari bibir yang tengah terluka itu. Detik kemudian ia melepaskannya.


Kedua tangan kekar itu menangkup di pipi cubby Hazel. Menahan kepala gadis itu agar tetap menempel di dahinya.


"Ingat apa yang pernah aku katakan padamu?"


Gadis itu menautkan kedua alisnya. "Yang mana?" tanyanya bingung.


"Cukup peluk aku saat aku kelelahan. Cium aku saat aku kesusahan. Dan tetaplah di sisiku saat semua meninggalkanku, Hazel. Asal ada kamu, aku masih bisa hidup dengan baik. Entah kakiku terpisah dari raga atau mau tanganku tinggal sebelah. Aku akan selalu baik-baik saja, asal ada kamu."


Hazel mengecup bibir itu sekilas, lalu melepaskan tangkupan tangan Ardan. Ia menarik pinggang Ardan dan membenamkan wajah di perut lelaki tersebut.


"Bicara apa sih, Mas? Aku mau jiwa dan ragamu utuh, tanpa kekurangan apa pun," ucapnya manja. Tangannya semakin meililit dengan kuat.


"Kalau tanganmu tinggal satu nanti siapa yang bekerja cari uang?"


"Kamu," jawab Ardan enteng.


"Ish ... gak mau!"


"Kok, gitu?"


"Mending aku cari suami kaya yang baru lagi. Biar aja kamu jadi gelandangan sendiri."


Ardan melepaskan pelukan Hazel, tangannya menarik ujung hidung gadis itu, geram.


"Oh ... begitu! Jadi kalau aku gak sempurna lagi kamu gak mau?"


"Enggak!"


"Dasar gak setia kamu," balas Ardan membalikkan badannya. Memunggungi gadis itu dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada.


Hazel terkikik, kembali tangannya melingkari perut Ardan. Kali ini dari belakang.


"Untuk itu kamu harus tetap sempurna agar aku tetap setia, Mas. Tetap harus kuat agar hati lemah milikku tetap memiliki sandarannya. Tetap harus baik-baik saja, agar lukaku tak kembali berdarah. Karena kamu adalah penopangku, bagaimana aku bisa hidup jika penopangku rapuh?" Hazel mengusap-usap wajahnya di sisi pinggag belakang Ardan. Mencium harum tubuh lelaki itu yang sangat menenangkan.


"Karena aku selalu membutuhkanmu, maka aku yang akan lebih dulu terluka saat kamu kecewa. Dan aku, yang lebih dulu mati saat kamu tersakiti, Mas."


Ardan melepaskan senyumnya, menikmati pelukan hangat dari sang istri. Rumah bisa menjadi tempat yang paling teduh saat istri bisa menjadi iar yang jernih.


Melegakan saat kegundahan melanda, meluruhkan saat amarah membara. Dan membersihkan saat kotoran mulai menghampiri.


Itu semua, hanya ada saat hubungan berjalan atas kasih dan mengerti. Sebab cinta saja tak cukup kuat untuk sebuah pondasi, jika tidak dibarengi oleh percaya dan saling memahami.


Dua hati diciptakan untuk saling mencintai, pernikahan dibutuhkan untuk saling melengkapi. Dan percaya, dibangun ketika rasa cinta dan kasih dilandasi oleh pengertian dan komunikasi. Karena cinta, bisa kehilangan arah saat dia dilapisi ego berbalut ambisi.