
Hazel mengeram tertahan, dengan cekalan tangan yang semakin kuat meremat perut bagian bawahnya.
Gadis itu menangis, terisak dengan punggung yang menempel rapat di rak.
Sementara Arfan hanya terdiam, gadis itu terus menolak pertolongannya. Memang dia ingin menyakiti hati istri kembarannya itu. Tetapi, dia tidak berniat untuk menyakiti bayi yang tidak berdosa itu.
Serak suara tangisan itu mengundang salah satu karyawan di sana.
"Astagfirullah ... Pak!" seru gadis berseragam merah itu mendekat.
"Kenapa Anda biarkan saja istri Anda pendarahan? Segera bawa dia ke rumah sakit, Pak."
"Siapa yang sudi menjadi istrinya?" sungut Hazel ketus. Mata berlapiskan embun itu memandang penuh kebencian.
Entah itu pada wajahnya, atau pada perlakuannya.
"Mbak, Mbak lagi pendarahan. Jangan bertengkar," ucap gadis itu lagi.
Hazel meremat rak-rak itu, berjalan tertatih dengan erangan yang masih tertahan.
"Hazel, biar aku bantu," tawar Arfan lagi.
"Jangan sentuh aku!" tepis Hazel kasar. Mata itu melirik tajam, perlahan gadis itu terduduk. Lemas, terlebih saat cairan putih kental itu semakin deras keluar.
Arfi membuka kacamatanya saat masuk ke dalam mini market. Mendapat perintah dari sang Kakak agar dia segera menjemput Kakak Iparnya yang sedang berbelanja.
"Mas, apa wanita hamil dengan dress biru masih ada di sini?" tanyanya pada pria penjaga kasir.
"Hem, saya kurang perhatian. Coba Mas cari di lorong saja."
Baru akan berpaling, suara barang-barang jatuh membuat dua pria itu bergerak ke arah sumber suara.
"Astaga! Hazel!" pekik Arfi ketika melihat gadis mungil itu mencoba cari tumpuan untuk berdiri.
Sedang lelaki berjas navy itu hanya terpaku tak jauh dari Hazel tertatih. Langkah besar itu berlari, langsung berjongkok saat melihat bercak darah bercampur cairan putih menjelajahi lantai.
"Kamu kenapa?" tanya Arfi panik.
"Arfi, tolong. Ketubanku pecah."
Seketika kepala lelaki muda itu mendongak, melihat sang Kakak dengan tatapan tajam.
"Keji sekali kau, Kak. Menyakiti sampai seperti ini. Masihkah kau manusia?" tanya Arfi sinis.
Yang ditanya hanya diam saja, jantungnya berdegup dengan sangat cepat. Ada kekhawatiran yang sama ia rasakan saat ini.
Lelaki yang lebih muda itu menggeleng. "Sumpah, haruskah aku masih mengakui lelaki sepertimu itu Kakakku?" sengit Arfi.
Cekalan tangan Hazel yang begitu kuat pada lengannya membuat lelaki muda itu berpaling. Tangannya sigap menggendong tubuh mungil itu berlari keluar.
Memasukan ke dalam mobil sport hitam milik Ardan. Bergetar, bahkan tangannya kesulitan mengaitkan seat belt di badan Hazel.
"Ah, sial, sial!" rutuk Arfi geram sendiri. Ia terlalu panik, terlebih saat Hazel terus mengeram tertahan, kesakitan dengan banyak darah mengaliri kulit putih kakinya.
Jarinya terus meremat perut, dengan kepala yang terus menggeleng, gelisah. Beberapa kali isakan terdengar dalam, terlihat dari badannya yang bergetar. Lagi, gadis itu berusaha sekuat tenaga menahan.
Klik.
Akhirnya, Arfi tersenyum dan langsung memasuki kemudi. Jangan tanya kecepatannya, karena hanya butuh tujuh menit untuk jarak tempuh empat kilometer jalanan raya.
Tangan kekar itu mengangkat iparnya, berlari memasuki gedung bercat putih itu.
"Dokter, tolong! Dia pendarahan!" teriak Arfi lantang.
Dua wanita berseragam putih mendekati, menuntun agar lelaki tampan itu meletakan Hazel di atas bangsal. Lalu ia keluar, menghela napas dan mengusap dahi yang keringatan.
Baru ia sadari jika setengah kemejanya basah dan juga kena bercak darah. Lelaki itu membuka kemejanya, meninggalkan kaus tipis sebagai dalaman.
Beberapa suster yang lewat cekikikan memandangi tubuh itu. Tak kalah dari Kakaknya, Arfi juga terlihat tampan dan keren, terlebih dia sedikit bergaya dengan sebagian rambut yang berwarna pirang.
"Maaf, bisa saya bicara dengan keluarga pasien?" tanya seorang perawat ke Arfi.
Segera lelaki itu berdiri, menyejajarkan badan dengan suster muda itu.
"Iya, ada apa?" tanya Arfi.
"Masuklah, Dokter Abel ingin bicara."
Lelaki itu menurut, mengikuti langkah sang Suster menemui Dokter muda yang ada di dalam.
Terdengar suara Iparnya itu tengah mengeram kesakitan. Sesekali isakan terdengar di sela erangan rasa sakitnya.
Dokter wanita itu menghela napas ketika melihat Arfi di depannya.
"Ketubannya sudah pecah, kami akan menyuntikkan rasangan agar dia segera melahirkan."
"Apa?" tanya Arfi kaget. "Tapi kandungan dia belum cukup usia, kan?"
"Karena itu kami minta izin keluarga sebelum melakukan tindakan. Kita harus segera bertindak, agar bayi dan ibunya bisa selamat dua-dua."
"Tapi saya bukan suaminya, saya ... saya gak bisa ambil keputusan."
"Segera hubungi suaminya, kita gak punya banyak waktu lagi. Atau nyawa ibunya dipertaruhkan."
Lelaki itu merogo saku-saku di celananya, sayang yang dia cari tak ada.
"Ah, sial! Kenapa saat seperti ini ponselku malah tertinggal?" rutukknya lagi.
Mata itu memaling, dari sini ia bisa melihat wajah Hazel di sela-sela kain penutup yang tersibak.
Pucat, dengan peluh keringat yang membasahi wajah. Pasti, bercampur dengan air mata.
Sedih dan juga miris, perang saudara itu melebar bukan pada ranahnya. Saat ini, malah orang yang tak berdosa menanggung imbasnya.
"Tolong lakukan saja apa yang terbaik, saya akan menjemput suaminya. Jika saya terlalu lama, lakukan saja tindakan yang diperlukan. Tak perlu menunggu lagi."
Dokter wanita itu mendesah panjang, lalu kepalanya mengangguk. "Baiklah, tapi kami juga butuh tanda tangan suaminya."
"Saya akan cepat kembali."
Arfi berlari ke arah parkiran rumah sakit. Melajukan Mclaren hitam itu ke perusahaan Kakaknya.
"Kak Ardan, gawat!" teriaknya saat memasuki ruangan GM itu.
Hanya ada dua lelaki di sana, Ardan dan Ferdi.
"Ada apa, Arfi?"
"Hazel, dia pendarahan dan akan segera melahirkan?"
Seketika Ardan terlonjak, ia berjalan ke arah Arfi dengan tergesa.
"Apa yang terjadi? Tadi pagi dia masih baik-baik saja."
"Aku gak tau! Dokter bilang dia akan melahirkan karena ada yang pecah! Ah, aku tak tau apa itu. Cepatlah, Kak. Jangan terlalu banyak bertanya," celetuknya kesal.
Ardan menarik jasnya, sedikit berlari menyusuri koridor kantor. Diikuti dua lelaki itu di belakanganya.
Entah terlalu panik atau memang bukan waktunya. Arfi melewati meja Khadijah tanpa menoleh sedikitpun.
Tak terlihat oleh matanya gadis itu ada di sampingnya. Sedikit saja, maka matanya akan menemukan apa yang dia cari selama ini.
Sayang, terkadang apa yang dekat. Belum tentu terlihat.
Sedang, mata gadis itu melebar, kaget saat melihat Arfi yang berjalan bersisian dengan Ferdi dan juga Arfan.
Iris itu memperhatikan badan tegap berbalut kaus itu pergi. Menghilang di balik pintu. Langkahnya mengikuti lelaki itu, sampai ia tertahan di depan jendela. Memerhatikan Mclaren hitam itu melaju pesat, meninggalkan parkiran kantor.
"Allah ... apa ini? Kenapa Engkau mendatangkan dia setelah aku istikharah untuk cinta yang lainnya?" lirih Khadijah bingung sendiri.
"Dan apa yang ingin Engkau tunjukkan? Jika ternyata mereka berdua saling berhubungan? Permainan takdir yang menyakitkan? Bisakah Engkau mengeluarkan aku dari dalamnya?"
***
Decitan suara sepatu yang terhenti tiba-tiba. Ardan langsung berhambur ke dalam. Menjumpai Dokter kandungan yang selama ini memeriksa perkembangan buah hatinya.
"Dokter! Dokter, apa yang terjadi?" tanya Ardan cemas.
Mata wanita itu melirik ke arah Ardan. Desahan panjang ia perdengarkan.
"Kami sudah menyuntikkan rangsangan agar Hazel segera melahirkan."
"Apa? Tapi kandungan istriku baru tujuh bulan," ucap Ardan tak terima.
"Tapi ketubannya sudah pecah. Bayinya juga sudah berada di jalan rahim."
"Bagaimana mungkin?" Ardan mengusap kasar wajahnya, lantas ia menggulung lengan kemeja dan mendekati ranjang istrinya.
Wanita itu masih mengeram, tangannya meremat sisi ranjang. Sakit dan juga gelisah.
Ardan meraih jemari itu, kasar,wanita itu menepisnya. Lalu pandangannya teralih pada sisi kosong.
"Keluarlah, Mas. Aku tak ingin melihatmu di sini," usirnya ketus.
"Hazel, apa yang terjadi?" tanya Ardan cemas.
Wanita itu tak lagi menjawab, hanya air mata yang melintasi wajahnya. Embunan itu terus memenuhi netra, memburamkan pandangan mata. Saat ini, yang terlihat hanya bayangan bagaimana Ardan menggoda Nana.
Tersenyum, tertawa dengan begitu mesra.
Perlahan tubuh lemah itu bergetar, sakitnya kenapa lebih terasa di hati? Nyeri, sesak, dan ... entah.
"Sayang," panggil Ardan cemas. "Sayang lihat aku, Hazel," perintah Ardan lembut.
Wanita itu hanya memejamkan mata, meluruhkan air matanya. Sakitnya bukan lagi pada kandungan, tetapi pada ulu hati yang terobek sayatan kepercayaan.
Dia telah menyerahkan hati dan juga kepercayaannya. Tahu apa yang sakit itu?
Ketika kepercayaan itu pecah bersama cinta yang menusuk hatimu. Bukan karena dia yang menyakiti, tapi karena cintamu yang terlalu dalam. Sedikit saja kesalahan, dia bisa menghukum sangat kejam.
Cinta itu bagaikan pedang di dua sisi. Terlalu cinta akan membuatmu sangat bahagia. Tetapi juga bisa membuatmu amat terluka.
Itu sebabnya, jangan berlebihan. Cukup pada takaran.
Wanita itu kembali mengeram, kali ini sangat kuat karena punggungnya sedikit terangkat. Seperti ingin mengejan, tapi tertahan.
Wanita berjas putih itu mendekat, lalu pandangannya teralih pada Ardan.
"Pak Ardan, bisakah kita melakukan secar?"
Dahi itu berkerut, tatapannya nanar melihat kesakitan yang wanitanya rasakan. Pelan, kepalanyaa mengangguk.
"Ya. Lakukan saja apa pun itu yang bisa menyelamatkan nyawa ibunya." Mata Ardan terus menatapi wajah kesakitan itu.
Hal yang sama ia rasakan di dalam sini, terlebih ketika sang Istri tak sudi memandangnya lagi.
"Selamatkan ibunya, bahkan jika harus mengorbankan bayinya."
Seketika tatapan wanita itu berpaling. Melihat Ardan sinis, tentu dia tak akan setuju dengan ucapan suaminya itu.
"Baik. Kami akan menyiapkan ruangan segera."
Dokter itu segera berlalu, mempersiapkan segala yang diperlukan.
Ardan tersenyum getir, ia mendekat dan membelai dahi wanitanya lembut. Menciumnya. Kepalanya tertumpuh pada dahi gadis itu.
Satu air lolos dari mata elang itu, hal yang tak pernah Hazel lihat selama ini. Biasa, lelaki itu sangat kuat pada apa pun itu.
"Kenapa bisa seperti ini, Sayang? Jangan buat aku cemas. Bertahanlah," ucapnya lembut. Lagi, bibir itu mendarat di dahi Hazel.
Gadis itu masih gelisah, sakit, nyeri, sesak, entah bagaimana menjelaskannya. Karena saat ini yang terluka ada pada dua bagian.
"Kuat, Sayang. Ada aku di sini."
"Aku akan kuat jika kamu pergi dari sini, Mas," balas Hazel ketus, di sela erangannya yang tertahan.
"Maksudnya?" tanya Ardan tak mengerti.
"Setelah bayi ini lahir, ceraikan aku."