For My Family

For My Family
151



Ferdi mencekal lengan kurus itu lembut. Memindahkan badan mungil tersebut berhadapan dengannya.


"Mengapa ada di sini? Apa kamu tidak pergi kuliah?" tanyanya lembut.


Gadis itu memainkan bibir, melihat jam di pergelangan tangan mungilnya.


"Kuliah. Tapi ntar setengah sepuluh."


"Hem. Udah sarapan?"


Gadis itu menggeleng. Ferdi mendesah. Menarik lengan gadis itu menuju parkiran. Entah kenapa dia menjadi lebih peduli pada gadis kecil tersebut.


Setelah membeli dua kotak makanan, Ferdi memilih memberhentikan mobilnya di taman. Menghirup udara segar agar lebih leluasa menembus dadanya.


Gadis itu hanya duduk, tenang, memakan nasinya dengan sangat lambat.


"Kenapa kamu bisa ada di sana sepagi itu?" tanya Ferdi membuka obrolan.


"Em. Aku hanya tidak sengaja lewat. Ketemu Om Arfi."


"Bohong!" tuding Ferdi langsung. Dia bukan lelaki belia yang bisa ditipuin mentah-mentah.


Belia itu menggulum bibir, lantas matanya melirik ke arah Ferdi.


"Jangan nakal seperti itu, Sasy. Kamu masih terlalu kecil, jangan biasakan berbohong pada orang dewasa."


Sasy tertunduk. Tangannya meremat kotak makanan.


"Aku ingin ketemu Pak Ardan," jawabnya lemah.


"Untuk?"


"Mengadukan sikap Om Arfi."


Ferdi mendesah, memang anak kecil. Tingkahnya ya memang layaknya anak kecil.


"Kenapa mau diadukan? Memang dia masih belom mempertanggung jawabkan kelakuannya?"


"Sudah. Tapi terakhir kali, dia akan membantuku magang di perusahaan Kakak."


Ferdi membenarkan posisi duduknya. Memandangi wajah itu lamat-lamat.


"Kenapa ingin magang? Dunia pekerjaan itu melelahkan. Lagian harus ada izin dari kampusmu jika kamu ingin magang. Dan kamu baru di semester awal, bukan?"


Sasy mengangguk lemah.


"Jangan nakal. Kamu harus rajin belajar. Jangan pikiri magang dulu."


Gadis itu memanyun, dengan jemari tangan yang meremat sendok makan.


Melihat reaksi itu, ada rasa bersalah menjalari relung di kalbu. Bagaimana juga, dia memiliki dua adik perempuan yang sama saja tingkahnya.


Aneh, terkadang pemikiran remaja memang sangat nakal. Membuat pusing kepala orang.


"Memang kenapa? Kok ingin sekali magang? Hem?"


"Biar ada uang! Biar bisa sewa rumah dan bisa cari biaya makan."


"Kenapa? Bukannya kamu punya rumah?"


"Iya. Tapi aku gak ingin tinggal di rumah."


"Jangan seperti itu, Sasy. Tinggal sendiri itu susah. Apalagi kamu anak remaja? Apa kamu ingin hidup bebas tanpa aturan?"


Gadis itu menggeleng, dengan raut wajah yang semakin pias. Memendam lukanya sendirian.


"Aku cuma ingin bebas menggambar. Menuangkan apa yang ada di pikiran tanpa larangan dan kemarahan."


Satu alis mata Ferdi menaik. "Menggambar?"


Gadis itu mengangguk, lemas. Lalu, punggung mungil itu bersandar.


"Memang di rumah gak bisa?"


"Bisa! Kalo gak ketahuan. Kalo ketahuan aku pasti akan dimarahi. Itu kalo sama mama. Kalo ketahuan ayah ... pasti akan semakin dibenci saja."


"Benci?"


"Ya. Aku kadang benci saat memandangi diri dalam cermin. Andai aku lelaki, bukan, andai badanku lebih tinggi. Pasti aku bisa jadi tentara. Memang salah aku, kalo badan aku tidak bisa tinggi?"


"Memang harus, ya? Anak tentara juga jadi tentara?" tanya Ferdi bingung.


"Tapi ayah maunya begitu. Harus ada yang mengikuti perjuangannya menjadi abdi negara, katanya."


"Bagaimana dengan kakakmu?"


"Bang Ikram gak lulus jadi tentara. Sementara Bang Iqbal, dia adalah salah satu prajurit terbaik. Sayang, dia harus gugur di medan perang."


"Memang kalo badanmu bisa lebih tinggi, kamu gak takut mati di medan perang?"


Gadis itu menggeleng.


"Lebih bagus mereka mengantarkanku ke medan perang dan mati sebagai pejuang. Dibandingkan hidup seperti ini. Mematikan segala jalan dan juga impian. Belum lagi berjuang, udah mati duluan." Gadis itu mendesah.


"Memang kenapa kok gak dikasih menggambar?"


"Mama bilang menggambar adalah hobi yang akan menghancurkan impian. Tidak ada masa depan, karena menggambar tidak banyak menghasilkan uang. Mau jadi apa, katanya."


"Memang impianmu apa?"


"Menjadi komikus."


Ferdi tertegun, lamat ia memandangi wajah gadis itu. Bukan hanya sifat dan tingkah. Namun juga mimpi, mengapa bisa memiliki kesamaan?


"Asal di rumah, hanya di tanya kapan lulus kuliah dan menjadi pegawai di perusahaan swasta. Apanya yang mau lulus kuliah? Apa yang dijelaskan Dosen saja aku tidak paham. Tiap dapat nilai D, selalu kena marah. Gak seperti Bang Ikramlah. Gak seperti anak tetanggalah. Memang aku Bang Ikram? Memang aku anak tetangga?  Aku ya Sasy, mau gimana juga, ya tetap Sasy," cerocosnya panjang.


Ferdi tersenyum getir, satu tangannya meraih puncak kepala Sasy. Sedih melihat seraut imut itu terluka. Tidak lagi nakal dan ceria seperti sebelumnya.


Bibirnya ikut bergerak, ketika ia menarik napas berat dengan menyentak, menahan ingus agar tidak keluar.


"Memang sesuka itu menggambar?"


Gadis itu melirik, lalu mengaduk-aduk nasi di genggamannya.


"Mau suka pun apa bisa dibuat? Menggambar hanya membuat mama marah saja. Belom lagi Bang Ikhram dan ayah. Mau kuliah di jurusan managemen juga susah. Jangankan tentang hitungan dan pembukuan, caranya mengembangkan inovasi dan ide aja aku gak paham."


Gadis itu mendesah, pelan. Bibirnya memanyun.


"Startup, startup. Apanya yang startup? Yang ada perusahaan yang mau Bang Ikram kembangkan kolaps di tanganku."


Ferdi tersenyum. "Hei, bisnis juga tidak seburuk itu. Kelihatannya memang rumit. Tetapi jika kamu sudah ikut berkecimpung di dalamnya, kamu akan terbiasa dengan alurnya," jelas Ferdi lembut.


"Terbiasa itu kalo memang aku menguasai dan menyukai. Kalo gak suka, jangankan bisa menguasai, nyaman juga gak."


Ferdi mengelus sudut dagunya. "Tapi menurutku gambar itu lebih sulit. Bahkan lebih rumit, sedikit tau proses pembutannya dulu, bahkan untuk buat satu karakter saja sangat sulit."


Gadis itu tersenyum, seketika semangat dan keceriaan terpancar dari wajah imutnya.


"Walaupun susah, walaupun sulit dan rumit. Tetapi itu juga yang buat aku bahagia. Walau kadang prosesnya hampir membuat kepala pecah, atau detail gambar yang buat mata berkunang. Tapi hasil yang indah bisa membayar segalanya. Puas dan juga senang."


"Kenapa gak coba menyenangi bisnis juga? Seperti itu juga bisnis, kalo kamu lihat hanya dari luar, dia akan sangat membosankan. Tapi banyak yang menyenangkan di dalamnya."


"Hem. Kesenangan orang itu berbeda, Kak. Dan tidak semua orang bisa senang pada tempat yang bukan ranahnya. Ya ... kadang dihidup ini kita tidak memiliki pilihan. Hanya bisa mengikuti keinginan yang mengatur hidup kita untuk masa mendatang. Berlindung di balik kata masa depan yang cerah, memang kalo masa depan yang cerah bisa buat apa? Bahagia gitu? Sama aja kalo punya kesuksesan dan banyak uang tapi hidup terus terkekang. Terkekang sama kerjaan dan kehidupan. Lelah, bosan, gak ada warna. Hanya jalan dan terus jalan, lalu perlahan hobi dan kesenangan tenggelam. Punya anak dan melakukan hal yang sama ke anak. Gitu, kan?"


Ferdi terdiam, kasihan mendengar keluhan sang gadis kecil itu.


Pikirannya melayang, mengingat impian sang gadis pujaannya dulu yang tidak pernah mendapatkan dukungan.


Lebih beruntung, karena sekeras apa Gerald tidak menyukainya. Arsy tidak pernah dilarang menggambar selama pelajarannya tidak kacau.


Bahkan dia memiliki Kakak yang amat mencintainya dan memasang badan untuk melindunginya.


Hanya lalai sekali, dan dia memilih pergi. Ferdi mendesah pelan, ada yang sakit dan terluka. Namun, melihat Sasy ada rasa yang terobati. Setidaknnya, tingkah dan sifat yang menyerupai.


"Cepat habiskan makananmu. Setelah ini aku antar kamu ke kampus."


Seketika gadis itu menoleh, wajah piasnya berubah berbinar cerah.


"Benarkah?" tanya Sasy riang.


Ferdi mengangguk.


Gadis itu mengembangkan bibirnya, tangannya mencari sesuatu di dalam kantung plastik. Mengeluarkan sekotak susu dari dalam sana.


"Kok susu?" tanyanya bingung.


"Bukannya kamu ingin cepat besar. Harus banyak-banyak minum susu biar cepat tumbuh."


"Dih ... memang aku bayi?" gerutunya sendiri.


Ferdi tersenyum lembut, kadang bagusnya anak remaja. Moodnya yang akan cepat berubah. Bersedih tidak akan lama, jika ada hal yang bisa mengimbangi rasanya.


"Kak Ferdi."


"Hem."


"Terima kasih, loh." Sasy menggoyangkan kotak susunya. Lalu melanjutkan memakan sisa nasinya.


Ferdi mengangguk, memerhatikan wajah yang tengah memakan itu.


Gerakan bibirnya, meski tidak ada lesung di pipi gembilnya. Matanya yang lebih bundar, dan juga hidungnya yang tidak semancung keturunan Erlangga.


Terlebih, gadis ini tidak seputih kulit gadisnya dulu. Jelas sangat berbeda, dari garis wajah dan juga garis keturunannya.


Akan tetapi mengapa? Mereka memiliki sifat yang nyaris serupa. Bahkan impian dan juga hobinya.


Perlahan jantung yang tenang, mulai beriak. Saat bundar mata itu membalas tatapannya, lantas tersenyum dengan makanan yang mengembungkan pipi gembilnya.


Rasa yang telah lama diredam, perlahan mulai mencari pelabuhan. Nestapa yang bertahun-tahun lamanya dirasakan, kini menemukan titik menumpuhkan harapan.


Asa yang pernah lebur bersama dengan raga yang terkubur. Mendadak hadir dan menjelma menjadi bayangan yang ingin direngkuh.


Antara dia yang pernah mengisi hati, lalu pergi. Dan dia yang hadir, membawa segala kenangan dengan sifat yang sama.


Benarkah ini cinta yang sebenarnya? Atau semu hanya karena mereka memiliki tingkah yang sama?