For My Family

For My Family
186



Ucapan syukur dan hamdallah terdengar riuh memecahkan suasana setelah kata sah terucap oleh saksi yang menghadiri acara pernikahan Nara dan Pedro.


Lelaki keturunan Spanyol itu menoleh ke arah belakang. Senyum terkembang dari bibirnya melihat riuh para undangan yang datang.


Sementara, sepasang mata milik Nara tidak bisa lepas memerhatikan wajah Pedro, tersenyum dengan tatapan bahagia yang ditunjukkan pada dunia.


Gadis itu menundukkan pandangan, mengelus perutnya yang masih rata. Lalu tatapan teralih saat sebuah tangan terulur ke arahnya.


Pedro tersenyum, detik kemudian gadis itu menyambut tangan sang suami dan mengecupnya lembut.


"Terima kasih," lirih Pedro.


Nara hanya mengangguk pelan, balutan kebaya kombinasi berwarna broken white itu membuat wajahnya terlihat jauh lebih menawan.


Di jajaran kursi para tamu Ardan menghela napasnya panjang.


"Huuh ... akhirnya," katanya senang.


Itu, membuat Hazel menoleh.


"Kenapa, Mas? Kok, kayak Mas aja yang selesai nikah?"


Lelaki berkulit sawo matang itu mentoel pipi sang istri. "Akhirnya, sainganku berkurang satu."


Kedua alis wanita itu bertautan. "Saingan?" tanyanya heran.


"Iya. Bukannya selama ini dia juga menyukaimu, Sayang."


Hazel tersenyum kecut, ia melirik ke arah Yena.


"Ternyata selama ini Papamu cemburu, Sayang," bisiknya di telinga sang anak.


"Tentu saja aku cemburu. Jika bukan karena kesehatan Surya, apa kamu pikir aku rela melihat dia memasuki rumahku?" tanya Ardan ketus.


"Tapi yang manggil dia itu Mas. Aku gak pernah minta," sahut Hazel.


"Y-ya ... ya, memang aku. Tapi, itu karena aku tak ingin melihat kamu sedih," kata Ardan tak mau kalah.


"Benarkah?" tanya Hazel tak percaya. "Bukannya Mas sengaja meminta dia datang ke rumah, biar Mas juga lebih enak mengawasi kami berdua?" tanya Hazel mendelikkan matanya.


Ardan gelapan, ia mengangkat tubuh Surya, dan berkata.


"Anak Papa lapar, kan? Kita makan duluan, ya, setelah itu Bunda dan adik Yena baru makan."


Secepatnya Ardan ingin bangkit, satu tangan Hazel menarik lengan kekar itu.


"Mas sampek sekarang masih gak percaya bahwa aku mampu setia?"


Ardan menarik napasnya, "bukan tidak percaya padamu. Tetapi aku tidak percaya pada pria di dunia ini. Kamu memang setia, Hazel. Tetapi jika ada yang memaksa masuk di antara kita, bagaimana?"


"Jika ada wanita lain yang berusaha masuk di antara kita, bagaimana?" tanya Hazel kembali.


"Tidak akan pernah ada."


"Kenapa?"


"Karena aku sudah menutup segala pintu untuk orang lain, hanya ada kamu dan anak kita di dalamnya. Tidak akan ada yang lainnya."


"Jika Mas sudah menutup segala pintu, kenapa Mas harus khawatir. Bukankah aku sudah berada di dalam lingkupmu? Tidak ada yang bisa masuk, jika kamu tidak membukanya."


Ardan terdiam, ia memutar bola matanya.


"Benar juga. Istriku memang sangat pintar."


Gadis berdarah Turki itu tersenyum, ia menarik lengan sang Putra mendekat ke arahnya.


"Biar Surya aku yang jaga. Mas makanlah lebih dulu."


"Biar Surya makan sama aku, aku bisa."


"Iya. Ambil saja dulu makanannya, nanti kalo dia ikut, banyak maunya."


"Sepertimu?" tanya Ardan menggoda, gadis itu hanya tertawa. Satu tangannya menarik Surya dan mendudukkan di kursi kosong sebelahnya.


Memang takdir selalu mengikat keduanya, bahkan saat berada di balik meja hidangan prasmanan, lelaki beralis tebal itu berpas-pasan dengan sahabat karibnya.


"Alah ... Ferdi lagi, Ferdi lagi," gerutunya dan Ferdi hanya melirik sekilas.


"Di kantor Ferdi, di rumah Ferdi, di acara pun ketemunya dia lagi."


"Diamlah, Ardan. Berisik sekali," ketusnya geram dan itu membuat sang belia yang ada di depannya menoleh.


"Pak Ardan," sapa Sasy ramah.


Ardan hanya menaikan sebelah alis matanya, lalu tatapan matanya teralih pada sang lelaki dewasa.


Mengetahui tatapan mata Ardan, sepasang tangan Ferdi menyentuh kepala Sasy. Lalu memutar kepala belia itu agar tak lagi menoleh ke arah Ardan.


Lelaki berkulit sawo matang itu terbahak, sebelah tangannya tertumpuh pada bahu sang sahabat.


"Aku terkejut, kau membawa belia itu. Apa setelah ini aku akan menghadiri pernikahanmu?"


Ferdi berdecak sebal, sementara Sasy hanya mendundukkan kepalanya. Mendengar ucapan Ardan membut semu merah kembali menghiasi wajahnya.


"Sasy, jika sudah siap, tunggu aku di kursi tadi."


Setelah mengambil air, gadis itu berjalan kembali ke kursi mereka. Sedangkan lelaki berkacamata itu hanya melirik Ardan.


"Apa ini? Kau pun bahkan lebih posesif dari pada aku."


"Aku bukan posesif!"


"Lalu yang tadi apa?"


"Hanya malas dengan godaanmu, Ardan."


"Memang aku berkata apa?" tanya Ardan lagi.


"Kalo memang kamu tidak menggoda? Mana piringmu? Dari tadi kamu mengikutiku untuk apa?" tanya Ferdi kesal dan lelaku itu hanya menyeringai.


Bersamaan dengan sang putra yang berlari ke arahnya. Memeluk betis lelaki berbadan tegap itu.


"Hai, Surya," sapa Ferdi saat badan mungil itu terdekap di salah satu tangan Ardan.


"Dasar Papamu, tidak ingin kalah pada apa pun. Bahkan untuk menyaingi kembarannya, dia menikah mau yang langsung ada anaknya," ledek Ferdi sembari berjalan ke arah jajaran kursi.


"Hei, maksud perkataanmu apa?" tanya Ardan sedikit berteriak.


Melihat Ferdi yang masih berjalan dengan santai membuat bibir lelaki itu berdecak sebal.


"Awas saja kau. Lihat saja di kantor nanti."


***


"Arfi, sepertinya dewi fortuna tidak berpihak padamu," kata Dre lembut.


"Apa maksudmu?" tanya Arfi lemas.


Lelaki berambut pirang itu mendesah pelan. Kakinya mulai gemetar. Harus berapa lama lagi dia menempel di dinding bangunan. Terlalu lama seperti ini juga akan mengundang perhatian.


"Dre, coba lihat balkon mana yang pintunya sedang terbuka?"


"Apa? Jangan bilang kau mau melompati gedung?"


"Lalu aku harus bagaimana? Aku akan mati jika terlalu lama di sini."


"Tapi itu berbahaya, Arfi."


"Apa kau pikir seperti ini tidak berbahaya? Cepatlah, atau aku akan pingsan di sini!"


Lelaki itu memainkan jari-jari tangannya, mencari balkon yang terbuka dan suasana di dalamnya sedikit lengang.


"Lanta 12, gedung arah utara."


"Shit! Bahkan aku harus melompati sebanyak itu!" rutuk Arfi geram.


"Arfi, jangan gila," tahan Dre.


"Aku akan gila."


Lelaki yang tengah terduduk itu gelapan, tidak bisa melihat pergerakan Arfi yang hilang dari pengawasan cctv. Hanya bisa mendengar gerakan lelaki itu yang kini semakin tidak terdengar.


Lelaki bernama Dre itu mematikan laptopnya, menyimpan dan berlari ke sisi-sisi gedung. Dari bawah ia mencoba mencari keberadaan temannya tersebut.


Sedikit berlari, ia memerhatikan sisi-sisi gedung bangunan mewah itu. Lalu, terhenti saat melihat tubuh Arfi yang sangat kecil terlihat dari bawah.


Merayap di dinding dengan tangan yang meraba-raba sisi tembok. Sementara pijakan hanya sebatas jengkal kaki.


Dre menggeleng pelan, Arfi memang terkenal bandel dan nekat. Tetapi, tidak pernah terpikir bahwa dia seberani ini.


Saat berada di sudut bangunan, lelaki itu perlahan-lahan berjongkok. Meraba-raba sisi pijakan, lalu mencari pegangan untuk kedua tangannya agar nyaman.


Dipikirnya cukup kuat, lelaki itu menurunkan badannya perlahan. Lalu sedikit menoleh ke arah bawah, jarak yang lumayan jauh, membuat ujung kakinya tidak sampai pada pembatas yang lainnya.


Dua ujung sepatu ia rapatkan ke sisi dinding, perlahan ia melepaskan pegangan. Dan ....


Dre yang menahan napasnya melihat ulah Arfi. Darahnya ser-seran melihat ulah lelaki itu, terlebih saat satu kakinya limbung, lelaki di atas sana gamang dan kembali terjatuh, untung saja kedua tangannya cepat mencengkeram tembok pembatas.


Lelaki berambut pirang itu sekuat tenaga menahan tubuhnya yang melayang di sisi tembok. Sempat lemas saat tubuh itu tak berdiri seimbang.


Sekuat tenaga ia menarik badannya untuk kembali duduk di pembatas. Menarik napas yang memburu kencang. Seluruh tulangnya melemas, walau ia hanya bisa duduk sempit di sana. Tetapi ia harus menyiapkan mental untuk kembali memulai.


"Untunglah aku sering ikut Ardan gym. Jika hanya menarik badan ke atas, aku terbiasa."


"Kau benar-benar gila. Aku yang hampir mati melihat keberanianmu," kata Dre berdecak kagum.


Di atas sini lelaki berambut pirang itu tertawa kecut, menghapus peluh di dahinya. Lalu perlahan bangkit dengan meraba-raba sisi dinding.


"Aku dulu sering kabur dari lantai 5 saat disuruh ikut bekerja. Bisakah ini dikatakan keuntungan?"


Dre hanya menggeleng kagum, jika saja dia yang berada di sana. Mungkin saat duduk di sana ia sudah mati ketakutan.


Arfi mengibaskan tangannya, pegal dan juga memerah, masih ada empat lantai yang harus ia lewati. Dia harus bisa ke sana sebelum pintu balkon itu tertutup.


"Tunggu," tahan Dre saat Arfi ingin berjongkok lagi.


Lelaki itu melihat tampilan cctv dari layar gawainya.


"Ada balkon yang terbuka di lantai enam belas. Sisi selatan gedung, tetapi ada beberapa cctv dan ruangan itu berkaca."


Seulas senyum tercetak di bibir bungsu Erlangga tersebut.


"Kau yang paling tahu, ayo!"


Semangat lelaki itu melipir ke arah yang ditunjukkan sang kawan. Di bawah sini Dre mengikuti seraya memerhatikan keadaan dari kamera pengawasnya.


Saat badan itu mulai berada di balik dinding terakhir, langkahnya terhenti.


"Sebentar, aku akan merubah tampilannya."


Lelaki itu mulai kembali memprogam, mengopy tampilan hanya dari gawainya. Saat ini hanya terfokus oleh keselamatan Arfi, lelaki itu hanya menampilkan empat rekaman di layar ponselnya.


"Sebentar, aku akan menelpon beberapa nomor agar mereka sibuk."


Arfi hanya mengangguk, lalu telepon di dalam ruangan itu berdering secara bersamaan.


"Jalanlah, Arfi."


Bungsu Erlangga itu melompati besi pembatas, karena dinding kaca, besi di pembatas ruangan lebih lebar dan itu bisa membuat Arfi berlari dengan lebih kencang.


Sampai berada pada balkon, secepatnya lelaki itu mencengkeram besi-besi balkon, badan kekar itu langsung berpindah ke arah dalam balkon.


Dre hanya bisa menggelengkan kepala, kagum dan juga heran. Mengapa gerakan Arfi bisa segesit itu, padahal ia masih takut setengah mati.


Saat tubuh kekar itu ingin masuk. "Arfi, ada yang berjalan ke arah balkon."


Lelaki berambut pirang itu kelabakan, ia memeriksa kantung-kantung jeansnya. Lalu, mengeluarkan sebatang rokok dan menyesapnya pelan.


"Pak Arfi? Apa yang Anda lakukan di sini?"


Tangan yang sedang membakar rokok itu, terhenti. Lalu bibirnya tersenyum lembut.


"Merindukanmu," katanya seraya membuka kacamata, sebelah matanya berkedip, menggoda sang karyawan muda itu.


Gadis itu menggulum bibirnya, lalu jarinya menyelipkan rambut ke balik telinga.


"Kapan Anda ke sini? Kami, kok gak tau?"


"Bukannya kalian sedang sibuk mengangkat telepon tadi?"


"Hem, benar. Karena kami divisi humas, setiap hari harus ada yang dilayani."


"Baguslah, kalian telah bekerja keras. Tapi jangan lupakan untuk tetap merawat badan. Agar kecantikanmu." Arfi kembali mengedipkan sebelah matanya. Membuat pandangan wanita itu tertunduk.


"Tetap menawan seperti ini."


Gadis itu menggigit bibir bawah pelan, bersemu dan juga malu. Digoda oleh Arfi Erlangga, siapa yang tidak akan melayang.


Sementara Dre terkekeh di bawah sini. Erlangga memang terkenal dengan lelaki tampan dan juga penggoda sejati, bahkan Arfi mampu menggombali saat seperti ini.


"Cepatlah turun, jangan sampai ada yang curiga. Dan aku! Masih banyak pekerjaan dari pada harus mendengarkan celoteh menjijikanmu, Arfi."


"Baiklah," jawab Arfi lembut.


"Hah? Anda mengatakan apa, Pak?"


"Mengatakan, mungkin nanti malam aku akan memimpikanmu, Manis." Arfi mengedipkan kembali sebelah matanya, lalu ia tersenyum manis seraya memakai kacamata.


Berjalan ke dalam ruangan menuju ke arah lift. Sementara yang digoda masih bersemu merah. Hatinya melayang entah ke mana. Tak tahu, jika lelaki itu hanya menggoda agar tidak ada yang curiga.


Terkadang, bersikap penggoda bisa juga menyelamatkan di saat genting yang menengangkan.