For My Family

For My Family
95



"Aku sudah tak memiliki ayah lagi, hanya ada ibu dan beberapa adik di kampung. Jika memang ingin menikahiku, maka kamu bisa menjemput paman ke sini," jelas Nara pahit.


Pedro hanya mengangguk, jika pada orang lain pernikahan akan menjadi hal yang paling dinanti, bagi mereka hal ini adalah sesuatu yang akan mengekang diri.


"Kapan kamu akan ke kampungku?" tanya Nara lagi.


"Secepatnya, hari ini juga bisa."


"Apa?!" teriak Nara kaget. Wanita itu tergagap, bingung mau mengatakan apalagi. "Kenapa begitu cepat?" tanyanya.


"Bukankah lebih cepat akan lebih baik? Kita gak tahu apa yang akan terjadi nanti, bagaimana jika kejadian semalam menghidupkan benih di dalam rahimmu?"


Gadis itu meremat perutnya, sudah ternoda haruskah dia mengandung buah kesalahan itu? Oh Tuhan, mengapa? Haruskah sekejam ini takdir yang akan dijalani?


"T-t-tapi, tapi, bagaimana dengan orangtuamu, Dokter?" tanya Nara lagi.


"Orangtuaku? Tak ada masalah," jawab Pedro lembut.


"Lalu, apakah kamu tidak memiliki pacar atau orang yang kamu sukai?"


Pedro melihat ke arah Hazel, lamat dan juga dalam. Perlahan kepalanya menunduk, lalu menggeleng pelan.


Sama seperti Nara, cintanya telah kandas sebelum berkembang. Bedanya, Hazel sudah berulang kali ia lamar. Namun, yang menjadi jodohnya malah lelaki lain.


"Nara, segerakan menikah itu bukan hal yang buruk. Memang ini mendadak, tapi akan lebih baik sebelum ada janin di dalam kandunganmu. Jika sudah kelihatan dan kalian baru menikah, maka pernikahan kalian juga tidak akan sah, bukan?" ucap yakin meyakinkan.


"Tapi, Mbak. Banyak yang harus diurus, semua berkas dan dataku ada di kampung. Lalu, punya kamu, Dokter, bagaimana?"


"Aku akan menikahimu secara agama. Perlahan kita akan urus segala sesuatunya."


Gadis itu terdiam, ia duduk gelisah, serba salah dan tak tahu harus menjawab apalagi.


Hazel meraih jemari Nara yang terus diremat. Hazel tahu apa yang gadis itu rasakan, namun, semua memang harus berjalan seusai yang semesta tentukan.


"Nara, dengarkan aku. Tak semua kesalahan akan berujung penderitaan. Cinta bisa hadir saat ikatan itu terjalin. Ingat untuk tak menutup hati, sebab semua di mulai dari sini." Hazel meletakan tangannya di atas dada gadis itu.


"Buka matamu, buka telingamu dan rasakan yang hadir di sini. Jangan pungkiri apalagi membohonginya, tak semua yang kamu anggap buruk adalah keburukan yang sejati, mengerti?"


Gadis itu memandang wajah Hazel lekat, embunan yang ia tahan mulai luruh, melintasi wajah yang begitu teduh.


Tuhan membentuk cerita lain, saat cinta ia selipkan di dalam sebuah gumpalan darah. Tak ada lagi yang bisa memungkirinya, sebab manusia akan berjalan dengan apa yang hatinya perintah. Tak sepenuhnya, namun, sering kali nurani menjadi arah ke mana tujuan kaki akan melangkah.


Ingin berlari, sejauh apa? Sembunyi di balik lubang-lubang sempit dunia. Hatimu tak akan pernah mengingkari apa yang dicinta, mau itu salah atau pun benar. Karena sejatinya cinta tahu ke mana arahnya untuk berlabuh. Sejauh apa? Sebenci apa? Selama apa? Yang namanya cinta akan menemukan jalannya untuk tetap bisa bersama.


Pun sebaliknya, sekeras apa? Segigih apa? Kamu ingin mengingkari cinta. Ia tetap akan menunjukkan dirinya. Karena cinta adalah hal yang paling unik, tak akan bisa dimengerti lewat logika, pun ego kita. Kita hanya bisa mengerti ketika bisa merasakannya. Karena cinta, bisa membuat semesta tersenyum begitu indah karena kelembutannya.


***


"Mas." Hazel menyambut tangan Ardan, sesaat setelah lelaki itu memasuki pintu. Mencium pungung tangan itu takzim.


Setelahnya, bergantian lelaki itu yang mencium punggung tangan istrinya. Seperti itu setiap harinya.


"Kamu bisa buatkan izin cuti seminggu untuk Nara?"


Lelaki berjas hitam itu melirik, ia mengendurkan dasi di lehernya.


"Kenapa?"


"Ada urusan mendadak yang mengharuskan ia pulang kampung segera. Kamu bisa buatkan izinnya?"


"Sayang, aku ini GM, kenapa kamu menambah kerjaanku lagi untuk mengurus absensi karyawan?" tanya Ardan ketus.


"Aku tau Mas itu GM, lalu apa salahnya hanya meminta izin? Mas hanya tinggal katakan Kinara Anjani cuti seminggu, semua selesai! Tak ada yang berani melawanmu," jawab Hazel seraya menyilangkan kedua tangan di dada.


Ardan menyeringai lebar. "Apa temanmu itu memanfaatkan dirimu untuk bolos kerja?" tanya Ardan lagi


Hazel mencebik kesal, ia melilitkan tangannya pada lengan kekar Ardan.


"Ada masalah genting, Mas. Apa salahnya aku membantunya meminta izin? Lagian apa gunanya aku punya suami GM kalau masalah absensi saja tidak bisa diurus."


Ardan menarik ujung hidung Hazel kuat. Geram.


"Dengar Hazel, ada peraturan di perusahaan itu. Jika Nara ingin cuti dia seharusnya mengikuti prosedurnya, tidak bisa melaluimu. Memanfaatkan wewenangku, bagaimana jika yang lain berpikir aku ini pilih kasih."


"Cih ... kenapa dulu Mas menggunakan wewenang itu untuk mengikatku. Dasar picik!" Hazel melengos, menaiki anak tangga rumah besar itu. Memasuki kamar putra semata wayangnya.


Dahi lelaki itu berkerut, tak seperti biasanya Hazel peduli pada urusan perusahaan. Apa ... ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan?