For My Family

For My Family
172



Susah payah gadis itu menghentikan tangisannya. Sesekali kepalanya menyentak, sesenggukan itu masih membuat dadanya sesak.


Ferdi tersenyum lembut, menepuk sebelah pipi Sasy yang tidak terluka.


"Hei, walau belia harus tetap kuat. Kalo gak mau cerita, jangan berbuat bodoh. Mengerti?"


Sasy hanya mengangguk. Satu tangannya mengusap pipi. Sedikit merintih karena lebam itu masih menyakiti.


"Kukompres pipimu, biar tidak terlalu bengkak saat masuk kelas nanti?"


Sasy melirik jam yang ada di pergelangan tangan.


"Ini udah mau masuk kelas, Kak. Bisa antar aku ke kampus aja?"


"Baiklah."


Seraya menanti Sasy membereskan buku-bukunya, Ferdi hanya memandangi wajah belia itu.


Masih tersentak-sentak. Dan itu membuat bibirnya terkembang. Satu jarinya merapikan rambut Sasy dan menyelipkannya di balik telinga.


Gadis itu terdiam, lalu tatapannya teralih pada Ferdi.


"Kenapa?" tanya Ferdi lagi.


Gadis itu berhambur ke dalam pelukan Ferdi. Memeluk sangat erat.


Dia benar-benar sedih karena keadaan rumah. Namun, jika karena itu Ferdi jadi lembut padanya, ia terima dengan senang hati.


Ferdi melepaskan senyumnya, satu tangannya mengacak puncak kepala Sasy. Lalu meletakan dagu di sana, memeluk bahu mungil itu erat.


"Ayo, sudahlah. Semua akan baik-baik saja. Jika ada yang tidak baik, ceritakan saja padaku. Datang ke kantorku kapan pun kau mau. Dengar?"


Kepala di dalam dekapan itu mengangguk. Walau masih tersentak-sentak, kini suasana hatinya lebih senang. Setidaknya ada dada tempat dia meluruhkan segalanya.


"Tapi sebelum ke kantor hubungi aku dulu. Jika aku tidak ada di sana, kamu datanglah ke kafe tempatku meeting. Pesan apa pun di meja yang berbeda, dan jangan mengacau. Apalagi mengusili segalanya."


Kepala gadis kecil itu kembali mengangguk. Membuat senyum Ferdi terkembang lebar.


"Boleh pesan apa saja?" tanya Sasy.


"Boleh."


"Pesan banyak-banyak, boleh?"


"Boleh."


"Kakak yang bayar, kan? Sebagian aku bungkus bawa pulang, boleh?"


"Iya, boleh."


"Jadi istri Kakak, boleh?"


Dahi lelaki itu berkerut, ia mencoba menarik bahu Sasy. Belia itu kembali memeluk badan Ferdi.


Ferdi terkekeh, terlebih saat kepala itu mengusap-usap di dadanya. Dia suka sesuatu yang manja. Dan bersama Nigar, dia seperti seseorang yang tidak dibutuhkan.


Perlahan perbandingan itu terus muncul di dalam benaknya.


"Kak."


"Hem."


"Boleh aku bertanya?"


"Katakan!"


"Kenapa Kakak melakukan ini semua?"


Ferdi terdiam, pelukannya di bahu Sasy merenggang.


Benar, untuk apa dia melakukan ini semua?


***


Satu tangan Arfi mencekal lengan Nigar yang akan keluar dari dalam mobilnya. Mengunci pintu itu.


Seketika dahi Nigar mengerut. Ia menoleh, melihat Arfi yang duduk di balik kemudi.


"Arfi, kenapa dikunci? Aku mau turun."


"Aku sudah mengantarmu, mana bayaranku?"


"Oh." Gadis itu merogoh tasnya.


"Khadijah, apa kamu pikir aku semiskin itu? Meminta uang darimu?" tanya Arfi sedikit kesal.


"Lalu?"


"Cium!"


Gadis itu menghela napas, ia menggeleng dan mencoba membuka pintu.


"Arfi, ayolah!" perintah Khadijah menarik-narik tuas pintu.


"Cium dulu baru aku buka."


"Arfi, Hazel sedang menungguku di sana."


"Aku tidak peduli!" Arfi menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Arfi."


"Khadijah," balas Arfi.


"Arfi!" panggil Khadijah lagi, kali ini lebih menekan.


"Khadijah!" balas Arfi lebih menekan.


Gadis itu mengusap wajah kasar, memutar bola mata malas.


"Arfi, ayolah. Ih, kamu udah bukan anak TK lagi."


"Tapi saat bersamamu aku ingin manja lagi."


Bibir ranum itu ingin tersenyum, semburat kemerahan menghiasi kedua pipinya. Bersama Arfi dia seperti seorang ibu yang mengasuh bayinya.


"Arfi, ayolah. Tak baik main cium-ciuman begitu. Buka!" perintahnya lagi.


"Cium. 2 kali saja." Arfi menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Arfi."


"3 kali. Ya, seperti biasa."


Gadis itu terdiam, dia menatap Arfi yang tengah memohon padanya. Perlahan bibirnya terkembang.


"Baiklah, berikan pipimu."


Lelaki berambut pirang itu tersenyum, lalu ia memalingkan wajahnya. Bibir gadis itu memayun, mencium lewat udara.


Entah kenapa, dari dulu Arfi selalu memintanya melakukan itu. Walau tidak bersentuhan, tetapi itu bisa membuat Arfi girang.


"Satu lagi." ketuk Arfi di atas bibirnya.


Gadis itu kembali memanyunkan bibirnya, kali ini lelaki itu mendekat dan mengecup dahi milik Khadijah.


Khadijah terdiam, detik kemudian ia mendorong dada Arfi.


"Arfi!"


"Aku bukan lagi Arfi yang dulu. Yang senang hanya karena ciuman semu yang kamu berikan. Aku tidak bisa seperti ini terus, Khadijah!"


"Maksudnya?"


"Putuskan! Atau aku yang akan memutuskan?"


Lelaki berambut pirang itu menghela napas, mengusap wajahnya kasar.


"Tidak ada. Kamu ingin aku jemput?" tanya Arfi lagi.


"Hem, tidak perlu. Aku yakin Pak Ardan akan menjemput kami nanti."


"Baiklah, hati-hati." Arfi membuka kunci mobilnya.


Lantas Mclarent oranye itu melaju dengan kencang meninggalkan perkarangan rumah sakit.


Sempat bertanya-tanya akan ucapan yang Arfi lontarkan. Maksudnya dia yang akan memutuskan?


Nigar menggelengkan kepalanya, ia menaikan tali tasnya dan berjalan memasuki rumah sakit.


Sampai di sana, tak sengaja ia bertemu dengan Kinara. Gadis itu telah berdiri lama di depan rumah sakit. Memerhatikan setiap canda tawa Arfi dan Nigar.


"Kinara? Kamu di sini?"


Gadis itu hanya tersenyum kecut, melihat ekspresi Nara, Nigar hanya menarik napas dan melanjutkan langkahnya.


"Aku sempat membandingkan diri denganmu dulu," ketus Nara.


Seketika langkah gadis itu terhenti.


"Apa yang membuat Pak Ferdi bisa sangat mudah membuka hatinya untukmu. Gadis yang sangat sederhana, dan kuakui memang sangat cantik."


Nigar membalikan badannya, melihat ke arah Nara. Maksudnya?


"Tapi sepertinya memang seperti itu. Bukan hanya Pak Ferdi yang terkenal dingin dan tidak tersentuh, bahkan sangat sulit dijamah hatinya. Bisa sangat mudah jatuh cinta padamu." Nigar membalikan badannya.


"Bahkan Pak Arfi yang terkenal playboy dan memiliki banyak wanita. Bisa terpaut dan menetap pada satu hati. Dan itu kamu lagi. Apa yang membuatmu begitu sempurna? Sampai diinginkan oleh dua lelaki hebat sekaligus?"


Nigar hanya diam, memerhatikan wajah Nara yang terlihat getir.


"Mungkin itulah kamu. Cantik dengan segala yang kamu miliki. Sampai kamu bebas mempermainkan dua hati sesukamu."


"Maksudnya?" tanya Nigar tidak mengerti.


"Jangan sok polos, Khadijah! Kamu mencoba membuka pintu hati Pak Ferdi, lalu melangkah pergi setelah masa lalumu kembali. Apa sementang kamu cantik, kamu berhijab? Segala perbuatanmu dibenarkan?"


"Nara aku tidak mengerti."


"Kamu menyakiti Pak Ferdi!" bentak Nara dan itu membuat Nigar terdiam.


"Jika memang kamu tidak memiliki hati mengapa harus membuat Pak Ferdi seterluka itu? Jika tidak suka kenapa tidak katakan saja? Kamu pikir enak? Mudah menahan rasa pada dia yang tidak menoleh walau sedikit saja?"


Nigar tertunduk, ia sadar memang tengah melukai Ferdi. Bahkan dia sempat bercanda dengan Arfi di depannya.


"Bukannya Pak Ferdi telah melamarmu lebih dulu? Lalu, setelah ada PaknArfi, kamu seperti mengeyampingkan dirinya? Kamu kejam, Khadijah."


Sepasang mata indah itu mengembunkan kaca. Ia menarik napas agar buliran itu tidak jatuh.


"Tidak perlu terlihat lemah di hadapanku. Karena aku bukan dua lelaki yang akan takhluk akan air matamu. Jika kamu menangis itu percuma."


"Aku tidak menangis untukmu," kata Nigar getir.


"Aku hanya menangis, ternyata ada yang terluka di balik sikapku. Kamu, menyukai Pak Ferdi, bukan?"


Nara terdiam, ia gelapan untuk menjawab pertanyaan Nigar.


"Maaf. Jika saja aku menolak Pak Ferdi lebih tegas. Mungkin kesempatanmu untuk bersama dia lebih besar."


"Cukup!" ucap Nara kasar.


"Aku sudah menikah. Dan tidak ada yang tersisa untuk Pak Ferdi."


Nigar hanya terdiam, satu tangannya mengenggam tali tas dengan sangat erat. Ingin berbalik, lalu gadis itu berkata lagi.


"Berhentilah menyakiti jika kamu tidak ingin tersakiti, Khadijah. Menggantungkan perasaan itu termasuk menzalimi seseorang."


"Aku tau."


"Lepaskan Pak Ferdi jika yang kamu cintai Pak Arfi."


"Baiklah," jawab Nigar melanjutkan langkahnya.


"Khadijah!"


Gadis itu menoleh.


"Sebelum kehilangan seharusnya kamu berjuang. Perasaan itu bukan hanya ditunggu perjuangannya. Tetapi juga diperjuangkan untuk mendapatkannya. Aku tau kamu tengah bingung, tetapi yang namanya bahagia itu diputuskan, bukan menunggu keputusan."


Bibir ranum itu terkembang, lantas ia mengangguk pelan.


"Terima kasih."


Gadis bermata indah itu melanjutkan langkahnya. Sempat menghapus pipinya yang luruh sebuah lara.


Nara menghela napas, sepasang tangan mendekapnya dari belakang. Gadis itu terkejut, lantas tersenyum saat menyadari siapa yang mendekapnya.


"Benarkah tidak ada lagi lelaki itu di hati istriku?" tanya Pedro mendekatkan kepalanya ke Nara.


"Maunya?" tanyanya lagi.


"Tentu saja aku ingin hati dan jiwanya istriku."


Nara tersenyum, membelai kepala Pedro yang menempel pada kepalanya.


"Apa kamu tidak terlalu kejam mengatakan itu padanya? Sepertinya dia terluka, kamu pun menzalimi dia, Sayang."


Kinara terkekeh, ia berbalik dan meletakan kedua tangan di atas pundak Pedro.


"Terkadang kita harus kejam untuk menyadarkan seseorang, Kak."


"Benarkah? Apa kamu memang tidak mendesaknya agar bisa kembali pada Ferdi? Dan meninggalkanku lagi?" tanya Pedro ketus.


Kinara memutar bola matanya.


"Hem ... bagaimana, ya?" tanya Nara kembali.


"Kinara Anjani!" tekan Pedro ketus.


Bibir gadis itu terkembang dengan lebar, lalu satu tangannya mengeluarkan selembar kertas.


"Apa ini?" tanya Pedro.


"Lihat saja sendiri."


Lelaki itu mengambil kertas yang ada di genggaman Nara. Membacanya perlahan, dan mata itu menatap Nara dalam.


"Kamu hamil?"


Gadis itu hanya mengangguk, teriakan Pedro menggema. Ia memeluk tubuh gadis itu. Senang dan girang.


Lalu kepala itu menunduk, mengelus perut rata Nara.


"Assalamualaikum, ini Dady, Sayang," sapa Pedro seraya menempelkan telinganya di perut Nara.


Gadis itu hanya tertawa, sesekali tangannya mengelus kepala Pedro yang menempel di perutnya.


"Nara."


"Hem."


"Pernikahan kita sudah tidak bisa ditunda lagi, atau bayi kita tidak bisa dilegalisasi."


"Baiklah, terserah Kakak saja."


Lelaki itu kembali menunduk, berulang kali menempelkan kepalanya di perut Nara setelah dia berbicara.


Gadis itu hanya tersenyum, siapa duga jika kesalahan itu bisa sangat indah.