For My Family

For My Family
128



Hazel memandangi wajah berbalut hijab itu lamat-lamat. Menyentuh alisnya, matanya, hidung dan juga bibir.


Semua masih sama, hanya saja Nigar telah tumbuh menjadi gadis yang sangat memesona.


Ardan meletakan dua cangkir teh hangat di atas meja ruangannya, membuka jasnya, lalu menggulung lengan kemeja itu.


"Jadi, dia benar adikmu?" tanya Ardan kaget.


Hazel menoleh, kepalanya mengangguk dengan cepat. Kedua jemarinya menggenggam erat tangan Nigar.


"Jadi yang Mas bilang mirip aku dia? Nigar Hatice Sezin."


"Tunggu dulu. Bukannya di ijazahmu tertera Khadijah Bagaskara?" tanya Ardan lagi.


"Benar Khadijah. Kenapa aku gak pernah berpikir bahwa kamu memakai nama Indonesiamu, Nigar?"


"Maksudnya?" tanya Ardan, kali ini Ferdi juga ikut bertanya.


"Hatice, itu berarti Khadijah dalam bahasa Indonesia, Mas."


Ardan mengusap wajahnya, lalu mata teralih pada Ferdi yang duduk berhadapan dengannya.


Kalau Nigar adalah adik kandung Hazel. Itu artinya hubungannya dan Arfi sudah tidak mungkin.


Entah ini takdir atau memang jalan Tuhan. Khadijah, bukanlah pilihan tepat untuk adiknya.


"Nigar, jika kamu di sini. Lalu Omer? Ayah, Bunda?" tanya Hazel riang.


"Omer ada, saat ini dia menjadi warga negara Turki, Hazel."


"Kenapa?"


"Dia melanjutkan kuliah di sana. Dan dia ... ingin kembali ke Izmir. Sesuai keinginan Ayah."


"Lalu di mana ayah?" tanyanya lagi.


Gadis itu menundukkan pandangannya, terdiam. Lantas, kepalanya menggeleng pelan.


Kedua alis Hazel bertaut, mencoba memahami maksud gelengan kepala gadis itu.


"Nigar?"


"Ayah dan Bunda. Mereka meninggal malam itu, Hazel."


Tanpa di sadari satu air luruh dari binar berwarna madu tersebut.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Nigar? Siang itu, aku kembali, tetapi aku tak menemukan apa pun kecuali kulit kacang kenari dan bercak darah. Apa yang terjadi malam itu, Nigar? Ceritakan padaku," desak Hazel.


Gadis berhijab itu terisak, hal yang paling ia takuti selama ini adalah. Mengingat kembali rentetan peristiwa malam itu.


Membuka kepingan-kepingan masa lalu yang menjadi mimpi buruk dalam hidupnya selama ini. Seperti ada belengu, kelam masa itu masih sering menganggu.


Hazel mencoba menenangkan adiknya, mengelus pundak Nigar dengan sangat lembut.


"Saat ini ada aku di sini. Jangan takut, Nigar. Kita akan melewatinya bersama. Aku berjanji untuk tidak akan meninggalkanmu lagi."


Kedua tangan Nigar merengkuh bahu Hazel. Untuk sejenak, Hazel hanya membiarkan adiknya melepaskan segala bebannya. Tentang lara dan nestapa yang selama ini ditanggungnya sendiri.


Menangis pelan, lalu menjadi isakan yang kian mendalam. Sesenggukan yang membuat tubuh semampai itu bergetar dengan hebat.


"Kuatlah, Nigar. Kumohon, aku ingin tau apa yang terjadi."


Nigar mencoba menghentikan tangisannya. Menatap wajah Hazel, sendu. Benarkah semua akan baik-baik saja?


Hazel mengangguk, seperti paham apa yang ingin Nigar yakini.


Perlahan punggung tangan menyeka wajah. Lekat binar hitam itu menatap wajah sang Kakak.


"Malam itu, mereka datang. Seperti biasa, Bunda akan mengajak kami ke kamar," lirih, suara gadis itu sedikit sumbang. Masih tersisa isakan di sela-sela tarikan napasnya.


"Mereka?" tanya Ardan bingung.


"Para pemberontak," jelas Nigar lagi.


Gadis itu kembali menatap wajah Hazel yang duduk di sebelahnya. Menantikan ceritanya yang pasti akan membuahkan luka yang lebih dalam nantinya.


"Aku tidak tau apa yang terjadi pasti. Malam itu suara mereka memenuhi seluruh rumah. Riak tawa yang menggema, bahkan sampai sekarang aku masih mendengarnya."


"Lalu Bunda keluar untuk melihat apa yang terjadi. Sayup kudengar Bunda mengerang, lalu letupan tembakan terdengar dan tangis ayah yang menggelegar." Bibir ranum itu bergetar, dengan cairan dari matanya yang tak kuasa ia tahan.


"Mereka membunuh Bunda, Hazel."


Hazel melepaskan napasnya yang sempat tertahan. Ada ganjalan yang membuat dadanya terasa sesak seketika. Teremas, ada sesuatu di dalam dirinya sangat sakit saat mendengar kenyataan ini dibongkar.


Satu tangan Ardan menyentuh puncak kepala Hazel. Mengelusnya lembut, berusaha menenangkan melalui sentuhan.


"Omer berlari, dia mencoba menepel mereka dengan kacang kenari. Lalu satu laras panjang mengarah padanya. Terhenti, pelatuk itu tertahan oleh simpuhan kaki Ayah."


Tangan Nigar mulai bergetar, matanya menatapi Hazel lamat-lamat. Trauma akan kejadian malam itu masih sangat segar dalam ingatannya.


"Setelah itu ...." Nigar mengambil napasnya yang tergagap. Kedua tangannya semakin bergetar, kini tubuh berbalut gamis itu ikut gemetaran. Ketakutan.


Hazel mendekapnya, mencoba menenangkan sang adik yang berusaha membuka tabir rahasia kekejaman malam itu.


Yang selama ini masih menjadi misteri, ia cari. Mencoba mengumpulkan setiap kenangan dari cerita yang terdengar. Sayangnya, itu hanya menjadi beban yang acapkali menganggu lelapnya. Tidak tersusun, melainkan menjadi kelabu yang mengelayuti hidup.


"Setelah itu mereka menyadari ada aku. Mereka menyeretku ke hadapan Ayah. Melucuti pakaianku dan ... dan ... dan mereka menggilirku di depan mata Ayah, Hazel."


Ada yang menghantam dada itu, sesak, retak dan entah. Ia selalu berpikir, untunglah malam itu tak merenggut apa yang harusnya dijaga. Nyatanya, ada yang berkorban untuk itu semua.


Napasnya mulai memburu. Dengan tatapan nyalang menembus angan.


Hazel bangkit dengan tiba-tiba, tangannya terkepal dengan sangat kuat. Langkahnya tertahan, ketika tangan Ardan mencekalnya.


"Mau ke mana, Sayang?" tanya Ardan seraya menatapi seraut wajah yang memadam itu.


Untuk pertama kalinya, ia melihat wajah Hazel yang sangat mengerihkan. Padam, dengan pendar mata yang menyalakan kebencian.


"Akan kucari anak keturunan mereka, Mas. Dan akan kuseret para wanitanya untuk kujadikan jal*ng di jalanan sana!" teriak Hazel geram setengah mati.


"Enggak, Sayang. Tenanglah dulu, kita akan selesaikan ini, ya." Ardan memeluk tubuh mungil itu, membenamkan wajah Hazel di dada bidangnya.


Wanita itu mengeluarkan air matanya, tapi entah mengapa tangisannya tidak ada. Yang ada hanyalah, amarah yang kian membuncah.


Sementara Nigar semakin sesengukkan. Mencoba menghentikan tangisannya yang terlanjur dalam.


"Mereka ... sudah tidak ada, Hazel."


Wanita itu melepaskan dekapan Ardan. Kembali duduk di sebelah Nigar.


"Maksudnya?" tanya Hazel melunak.


"Tak tega melihatku, ayah mencoba menghentikan aksi mereka. Sayang, laras panjang juga mencabut nyawa Ayah di depan mataku dan Omer."


Nigar menarik napasnya, mencoba menghirup oksigen yang sangat sesak menembus rongga dadanya.


"Setelah itu, mereka membawa Omer, mencoba untuk menjadikan Omer bagian dari mereka. Meninggalkanku, sendiri di sana, rumah sunyi dengan banyak darah yang tumpah. Dingin, tanpa sehelai benang yang melindungiku. Aku terbaring, dengan jejak noda yang mereka tinggalkan padaku. Hanya bisa menangis, merintih, aku berusaha bangkit. Namun tertatih, melihat Ayah dan Bunda ada sebelahku tanpa nyawa."


Hazel menggigit bibir bawahnya dengan sangat kuat. Geram setengah mati mendengar cerita sang adik. Ternyata, apa yang selama ini dia pikirkan, masih tidak seburuk apa yang terjadi dengan kenyataan.


"Hazel." Ardan mencoba menyadarkan gadis itu, atau bibirnya bisa saja terluka karena gigitannya sendiri.


"Sekian lama aku terbaring, tidak tau berapa hari lamanya. Derap langkah kaki mendekat, ramai, dan itu semakin membuatku ketakutan. Aku mencoba merangkak, merayap, apa pun itu agar bisa menjauh. Lalu cahaya masuk menerangi seluruh ruangan gelap itu. Segerombolan manusia berseragam hijau mendekatiku, dan satu yang paling berwibawa di antara mereka melepaskan seragamnya untuk menutupi tubuhku." Nigar menghela napasnya.


"Dia, Regan Bagaskara, Jendral Angkatan Darat yang menjadikanku anak angkatnya. Memberikan namanya di belakang namaku dan Omer, dan dia juga yang berusaha menyembuhkan traumaku, membantuku menata ulang masa depan yang pernah lebur bersama bangkai-bangkai kenangan yang membusuk, mematikan jiwaku."


Hazel menangkupkan kedua tangannya di pipi Khadijah. Apa jadinya jika malam itu dia juga ada di sana. Mungkin, dia sudah menjadi gila.


Hanya mengetahui cerita dari para anggota saat itu saja sudah membuatnya fruatrasi. Cerita-cerita itu menghunjam dengan sembilu yang tertembus melukai.


Lalu, bagaimana bisa adiknya melewati semua itu?


"Maaf, Nigar. Maaf karena aku tidak mampu melindungimu dan juga keluarga kita."


Hazel menarik badan gadis itu, kembali merengkuhnya. Mendekap dengan sangat erat.


Kali ini tangisan yang pernah ia redam, meluap begitu saja. Lepas, ada perasaan lega dan juga hampa. Ada perasaan senang, tetapi dengan banyak luka yang tertinggal. Kelam masa itu, terkuak lebih busuk dari yang ia simpan selama ini.


Pilu, mengingat tragis kisah yang keluarga mereka alami. Hanya sebagai pendatang, lalu mengapa mereka dihakimi?


"Ayah Regan yang mengubur orangtua kita di perbatasan negara, Hazel. Lalu dia mencari segerombolan para binat*ng itu. Membawa Omer kembali, dan juga, nyawa-nyawa yang ia cabut melalui tangannya sendiri."