
Ardan melihat ke arah langit, awan hitam mulai terlihat memenuhi langit sore ini. Dengan beberapa kilatan yang mulai menyambar.
Lelaki itu menyapu helaian rambut yang sempat terbang terbawa angin. Memasukan badannya ke dalam mobil hitam.
"Sepertinya akan turun hujan," lirih Ardan memacu kencang mobilnya menuju restoran tempat perjanjiannya dengan client.
Hazel menadahkan tangannya, tetesan besar air itu mulai deras menimpahi tubuh mungilnya. Hentakan heels dan aspal terdengar bersambutan saat ia berlari mencari tempat teduh sementara.
Setelah jauh berlari, bukannya tempat teduh yang ia dapatkan, melainkan bajunya yang mulai basah dan sedikit tembus pandang.
Hazel mengencangkan langkahnya, menuju Halte yang tak jauh lagi dari tempatnya berlari.
Saat berhenti di lampu merah, Ardan memalingkan wajah melihat wanita dengan kemeja putih itu berlari melewati mobilnya.
"Hazel!" panggilnya cepat.
Ia meremat setir mobil dengan kuat, tak suka saat warna bra istrinya itu terlihat oleh orang lain.
Langkah wanita itu terhenti, berbalik dengan cepat, melihat ke arah sumber suara.
"Naik cepat! Bajumu tembus pandang!"
Hazel mengangguk, ia berlari menaiki mobil hitam itu. Sementara mata Ardan menelisik baju wanita itu.
Ia melemparkan jas ke arah wanita itu.
"Kenapa tidak mencari tempat teduh? Atau telepon saya untuk minta jemput?" tanya Ardan ketus.
"Maaf, Pak. Hujannya tiba-tiba, saya pikir tidak terlalu lebat. Tapi malah basah begini," jawab Hazel tersenyum kaku.
Ardan menggeleng, bagaimana jika ia tidak bertemu Hazel tadi? Pasti tubuh wanita itu sudah terlihat oleh setiap mata lelaki yang ada di jalanan sana.
Ardan memacu mobilnya ke arah berlawanan. Kembali ke rumahnya sebelum mengantar wanita itu ke tujuan.
Tangannya menekan saklar lampu rumahnya saat ia berada di depan pintu, tetapi tidak ada satupun cahaya yang hidup menerangi rumah besar itu.
"Sepertinya mati lampu, naiklah dulu dan ganti baju. Saya akan panaskan air untuk kamu mandi," ucap Ardan berjalan ke arah dapur.
"Tapi, Pak. Saya mandi air dingin saja tidak masalah."
"Saya yang masalah! Kalau kamu sakit bagaimana?" tanya Ardan ketus.
Hazel menghela napas, perlahan ia mengangguk, menaiki anak tangga rumah itu, menuju kamar mandi di kamar Ardan.
.
Sebuah handuk menutupi seluruh kepala Hazel saat ia baru keluar dari kamar mandi. Perlahan, sebuah tangan lembut mengelus kepala wanita itu. Mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Lembut gerakan tangan Ardan mengeringkan rambut wanita itu, matanya lekat memandangi wajah kecil yang berbalut handuk putih. Terlihat imut saat wajahnya terbungkus dalam handuk seperti ini.
"Saya sudah menelpon Ferdi, kebetulan ia makan di restoran dekat Rumah Sakit, dia akan mengantar Surya kembali ke sini," ucap Ardan lembut.
"Em, apa itu tidak merepotkan pak Ferdi?" tanya Hazel segan.
Ardan hanya tersenyum lembut, matanya terus menatap wajah kecil yang berbalut handuk itu. Kenapa wajahnya bisa seimut ini hanya karena ia terbalut handuk. Membuat Ardan semakin gemas saja.
Kilatan petir terlihat menembus kaca jendela kamar, sekilas lelaki itu memalingkan wajahnya. Menatap ke arah luar jendela yang semakin kacau dengan petir dan angin yang menghiasi sore ini.
"Sepertinya Ferdi tidak akan membawa anakmu sore ini. Melihat angin dan petir, pasti banyak pohon yang tumbang di kota," ucap Ardan kembali.
"Emh," jawab Hazel mengerucutkan bibirnya.
Ardan menghela napas, ia menekan sederet angka. Setelah beberapa detik, panggilan itu terjawab.
"Maaf, Ardan. Anakmu dan Mboknya aku bawa pulang dulu. Jalanan ditutup sementara, aku nekat membawa mereka pulang ke rumah karena tak tega melihat anakmu yang mulai tidak nyaman di rumah sakit." Suara dari seberang sana membuat jantung Hazel sedikit lebih tenang.
"Apa Surya baik-baik saja, Pak?" tanya Hazel cemas.
"Baik, dia sedang tidur saat ini. Tenang saja, saat jalanan dibuka kembali, aku langsung mengantarnya pulang."
Hazel menganggukan kepalanya dengan cepat, menghela napas lega.
"Terima kasih, maaf merepotkanmu, Kawan."
"Santai Ardan, seperti sama siapa saja. Aku matikan ya, aku masih belum mau mati muda kesambar petir gara-gara teleponmu." Ferdi langsung memutuskan panggilannya.
Hazel terkekeh, mendengar ucapan Ferdi membuat ia geli. Ardan kembali mengusap lembut kepala wanita itu, mengeringkan rambut basahnya menggunakan handuk kecil.
"Akhir-akhir ini kamu lebih sering tersenyum, Hazel," ucap Ardan lembut.
"Iya, Surya sudah tidak rewel lagi. Mungkin sakit di tulang belakangnya sudah tidak terasa lagi. Syukurlah, saya sedikit lebih tenang saat dia sudah mulai aktif seperti biasanya," ucap Hazel senang.
"Baguslah," jawab Ardan kembali sibuk pada handuk di kepala Hazel.
Lelaki itu kembali menatap keluar saat kilatan dari langit kembali menyambar. Melihat langit yang mulai terlihat gelap, padahal senja masih lama.
Sedang, Hazel terus menatap wajah Ardan lekat. Lembut usapan tangan Ardan, membuat seluruh tubuhnya menjadi hangat.
Tanpa sengaja mata mereka bertemu saat Ardan kembali memalingkan wajahnya. Menatap lekat dan dalam ke binar mata berwarna madu itu.
Tangan Ardan menarik kepala Hazel mendekat. Memandangi wajah bulat wanita itu lebih dekat, perlahan debaran jantungnya memompa dengan kuat.
Bibir lelaki itu kembali tersenyum, tangannya kembali mengusap kepala wanita itu.
"Pak," panggil Hazel lembut.
"Hm."
"Terima kasih." Bibir wanita itu kembali melebar, mencetak dalam kedua lesung di pipi chubbynya.
Menghapus jarak antara wajahnya dan wajah mungil wanita itu, terasa hangat napas Ardan menyapu lembut pipi Hazel. Deru napas hangatnya, begitu terasa, membangkitkan gairah yang selama ini tertidur lama.
Perlahan, bibir dingin itu mendarat di atas bibir mungil Hazel. Terdiam sejenak, sebelum menyesapnya pelan, memainkannya dengan sangat lembut. Tidak seperti bernafsu, lebih seperti menyalurkan rasa sayang.
Ardan menangkupkan kedua tangannya di pipi wanita berlesung pipit itu, menjauhkan bibirnya perlahan.
"Maaf, Hazel. Tetapi saya tidak bisa menunggunya lebih lama lagi," ucap Ardan parau.
Hazel menggigit bibir bawahnya pelan. "Saya mengerti," jawab Hazel tersenyum lembut.
"Kamu takut sama saya?"
Hazel menggelengkan kepalanya, perlahan ia melilitkan kedua tangannya di pinggang kekar lelaki itu. Mendongakan kepala untuk menatap wajah Ardan yang berada di atasnya.
"Tidak. Saya tidak takut sama anda," jawab Hazel tersenyum lembut.
"Mulai sekarang, biasakan gunakan aku dan kamu. Jangan terus menjadi asing buatku, Hazel."
"Baiklah, Pak."
"Jangan panggil saya Pak lagi, saya suami kamu, bukan Bapak kamu."
"Em." Hazel menganggukan kepalanya, mengeratkan pelukannya di pinggang lelaki berbadan tegap itu.
Menjatuhkan kepala di dada bidang lelaki itu. Mendengarkan detak jantung Ardan yang sama kencangnya dengan detak jantung miliknya.
Perlahan kedua tangan kekar itu mendekap erat tubuh mungil Hazel. Detik kemudian ia meleraikanya, menyetuh ujung bahu sempit wanita berlesung pipit itu, lalu turun ke ujung jemari Hazel. Mencium telapak tangan wanita itu, lalu meletakan di atas pundak kekarnya.
"Katakan jika kamu ingin berhenti, saya akan menghentikannya untukmu."
"Iya," jawab Hazel lembut.
Ardan mulai menangkupkan kedua tanganya di wajah bulat wanita itu. Mencium setiap inci wajah cantik wanita berdarah Turki tersebut.
Terdengar helaan napas Ardan yang mulai bergairah, menyapu setiap kulit wanita itu dengan bibir tipisnya. Beralih pada leher jenjang yang selalu membangkitkan hasratnya setiap kali ia memandang wanita itu.
Terdengar deru napas yang tertahan keluar dari bibir wanita itu. Ardan kembali menatap wajah cantik Hazel sebelum melanjutkan kegiatannya, memastikan bahwa tidak ada air mata yang melintas di pipi putihnya.
Hazel kembali tersenyum saat mata sayu itu kembali menatap wajahnya. Perlahan tangannya menyentuh lembut pipi lelaki berkulit sawo matang itu, memainkan ibu jarinya lembut, mengusap kulit wajah Ardan.
"Hazel," panggilnya parau.
"Hem."
"Siapa saya?"
"Ardan, Ardan Erlangga," jawab Hazel lembut.
Ardan mengembangkan senyumnya, kali ini ia tidak salah menyebutkan nama. Perlahan tangan kekarnya mengangkat tubuh wanita yang bahkan tak sampai sedadanya itu.
Mendudukan di atas pangkuan pahanya.
"Hazel, kamu benar-benar rela melakukan ini denganku?" tanya Ardan sekali lagi.
Perlahan Hazel menganggukan kepalanya, sudah hampir dua bulan mereka menikah. Jika bukan saat ini? Maka kapan lagi, ia bisa bermalam dengan pria ini dan memenuhi janjinya.
Tapi anehnya, saat ini, ia rela melakukan itu sebagai istri. Bukan lagi sebagai pihak kedua dari perjanjian itu.
Entah karena ia telah jatuh cinta, atau hanya karena ia rela. Entahlah, yang pasti sedikit rasa percaya telah hadir di dalam hatinya.
Jari besar lelaki itu mengelus lembut pipi putih Hazel, lalu merapikan anak rambut yang masih setengah basah milik wanita itu. Memastikan sekali lagi bahwa wanita ini benar nyata ada dalam pangkuannya.
"Pak," panggil Hazel yang mulai risih oleh elusan jari lelaki itu.
"Hem."
"Anda kenapa?" tanya Hazel bingung.
"Saya hanya masih merasa ini tidak nyata. Saya takut kamu tidak benar-benar rela melakukannya dengan saya."
"Insha Allah, saya rela, Pak."
"Kalau begitu, cium saya lebih dulu," pinta Ardan lembut.
Perlahan jari-jari lentik itu menangkup di pipi Ardan. Mendekatkan wajahnya dengan sapuan napas yang sama hangatnya, membangkitkan gairah milik suaminya itu.
Bibir mungil itu lembut memainkan bibir tipis lawannya. Mensesapnya dengan beberapa kali jeda, sekadar mengambil napas. Hazel menjauhkan wajahnya, kembali menatap wajah Ardan dengan mata bulatnya.
Perlahan ia kembali mendekat, membuka bibir Ardan agar bisa mengeksplor lidah ke dalamnya.
Ardan merengkuh bahu wanita itu dan menjatuhkan di atas kasur. Meletakan Hazel di bawah dekapan tubuh kekarnya.
Sebuah lafadz terucap dari bibir lelaki dewasa itu. Hal yang membuat mata wanita itu membelalak lebar. Tak percaya, jika lelaki ini masih sempat membaca doa sebelum melakukan hubungan ranjang.
Siapa dia? Ardan Erlangga dengan reputasi buruk selama ini?
Hal itu pula yang membuat ia semakin sadar, bahwa lelaki yang ada di atasnya saat ini adalah lelaki yang sangat berbeda dengan mantan suaminya.
Wanita itu kembali menyentuh pipi lelaki bermata sayu tersebut. Memperhatikan setiap inci paras tampannya.
"Ardan, Ardan Erlangga," lirihnya kembali.
Berusaha untuk benar-benar sadar tentang siapa lelaki yang berada di dalam dekapannya saat ini.
Sebelum gairah cinta itu membawanya hanyut ke dalam hangatnya dekapan di atas ranjang, sepanjang hujan sore ini.