For My Family

For My Family
221



Tubuh mungil gadis keturunan Turki tersebut langsung berhambur ke dalam pelukan Ardan ketika lelaki itu masuk ke kamar.


Membenamkan wajah di dada bidang itu untuk membasuh segala rasa sedihnya.


Ardan terdiam, perlahan bibir tipis itu melengkung. Mengelus kepala belakang Hazel, lantas merengkuh bahu mungil istrinya.


"Kamu kenapa? Kok, tumben manja banget?" tanya Ardan mencoba menarik bahu Hazel, tetapi wanita itu semakin erat mendekap.


"Sebentar saja, Mas. Aku ingin di dekapan, Mas." Serak suara itu menjawab.


Lelaki berkulit sawo matang itu mengalah, merengkuh tubuh mungil istrinya seraya menciumi pucuk kepala.


Membiarkan Hazel mendekapnya beberapa waktu lama. Detik kemudian badan mungil itu terasa bergetar. Sesenggukkan mengingat perkataan Gerald.


"Ada apa? Kenapa kamu menangis, Sayang?"


Hazel mencoba menghentikan tangisannya, menahan sesak yang menyengal pernapasan. Sedikit memaksa, Ardan menarik punggung badan itu. Menangkupkan kedua tangannya di pipi sang wanita.


"Ada apa, Hazel? Apa ada yang menyakitimu?"


Tersentak-sentak kepala itu mencoba untuk berhenti menangis. Memandangi wajah Ardan semakin membuat dia sedih. Hazel kembali berhambur ke dalam dada Ardan.


"Ada apa, Sayang? Apa Gerald menyakitimu?" tanya Ardan berusaha tenang.


Kepala dalam dekapan itu hanya menggeleng. Semakin menyembunyikan wajahnya di dada Ardan.


Lelaki itu menarik napas, menggendong badan mungil istrinya ke arah kasur, mendudukkan di atas paha untuk menenangkannya.


Terdiam, untuk beberapa lama Ardan membiarkan Hazel terus melepaskan tangisannya.


"Tenanglah, Hazel. Katakan padaku jika ada yang menyakitimu, akan kubalas seribu kali lipat. Ada apa, hm?" tanya Ardan seraya merapikan anak rambut sang istri.


Gadis itu menarik napas tergagap, bingung, mau mengatakan apa pada Ardan. Jika dia jujur, mungkinkah hubungan sang suami dan papanya kembali memburuk?


"Ada apa, hm? Jangan nangis terus, aku bingung melihatmu begini, Hazel."


"Itu, Mas. Aku ... aku ...."


"Kenapa?"


"Aku gak sanggup lihat Surya nangis terus. Gak tau gimana lagi nenangin dia, Mas. Rasanya lelah, bahkan dia gak serewel ini saat sakit dulu." Gadis itu menarik napas, mencoba menenangkan dirinya, malah semakin membuat napasnya tersengal parah.


Terlebih ucapan Gerald terus terngiang dan dia tidak memiliki keberanian untuk mengatakan pada Ardan.


"Aku harus bagaimana, Mas? Aku bingung." Gadis itu menarik bahu Ardan, kembali menangis sesenggukkan.


Ardan menarik napas, sedikit tidak percaya oleh perkataan Hazel. Namun, jika itu yang dikatakan, maka dia akan berusaha untuk tetap meyakininya.


"Sabar, Sayang. Mungkin Surya hanya merasa asing, perlahan dia juga akan terbiasa, hm," kata Ardan seraya mengelus lembut kepala istrinya.


"Maunya nempel terus, kadang aku bingung jaganya kalau Yena juga lagi rewel. Aku harus gimana, Mas?"


Ardan menarik bahu itu, mengusap wajah istrinya yang semakin kuyu karena menangis terus.


"Mungkin Surya juga sedang bosan. Siapin anak-anak, kita jalan mau?"


Gadis itu menyeka wajah. "Mau ke mana?"


"Ke mana aja. Ke mall, taman, atau taman hiburan. Terserah, mungkin dengan ngeliat keindahan malam di ibu kota Surya jadi sedikit lebih tenang, mau?"


Gadis itu mengangguk pelan, keluar dari rumah Erlangga walau sebentar mungkin bisa membuat buah hatinya tenang.


Bingkai tipis itu tersenyum dengan jari-jari yang merapikan anak rambut.


"Kalo gitu siapin anak-anak, aku mandi dulu. Jangan nangis lagi, Sayang." Ardan mengecup bibir Hazel sekilas, lantas memindahkan tubuh sang istri ke atas kasur.


Perasaannya kacau, pasti ada sesuatu yang melukai hati sang istri. Seperti biasa, dia akan menutupinya, entah untuk apa?


...***...


Sedikit memberengut, Hazel memberikan tubuh Surya ke dalam dekapan Ardan.


"Yena tidur, Mas. Dari siang tadi dia belum ada tidur. Nanti kalau dibanguni malam nanti rewel."


"Ya udah kamu bawa Yena. Biar Surya sama aku terus."


"Nanti kalo tengah malam dia gak tidur Mas yang begadang, ya."


"As you wish, Baby," kata Ardan seraya mengedipkan sebelah matanya. Membuat seulas senyum terbit di wajah sang istri.


Baru mau mengangkat tubuh Yena, Mbok Darmi datang seraya berkata.


"Biar Yena sama si Mbok saja, Hazel. Kalian pergilah bertiga."


"Eh, Mbok gak mau ikut?"


"Enggak usah, Mbok di rumah saja sama Yena. Lagian Mbok juga lelah."


Hazel menoleh ke arah Ardan, lelaki berwajah garang itu mengangguk pelan. Membuat desahan napas Hazel terhela panjang.


"Ya sudah, Mbok istirahat, ya. Kalo Yena bangun minta Nigar buat jagain."


"Iya, ya udah kalian jalan saja sebelum kemalaman."


Tidak membuang waktu lagi, McLarent hitam itu segera melaju meninggalkan perkarangan rumah Erlangga.


Surya yang awalnya rewel dengan rengekkannya perlahan mulai tenang. Sesekali tertawa saat bercanda bersama sang Bunda. Sekilas Ardan melirik, ikut tersenyum saat dua orang di sebelahnya asyik berdua.


Mungkin memang Hazel hanya tidak nyaman dengan tangisan Surya, pikirnya.


Mobil hitam legam itu berhenti di alun-alun ibu kota. Menikmati suasana terbuka dengan banyak permainan jalanan yang bertengger di setiap sudut lapangan.


"Iya, iya. Sabar, Nak," kata Ardan berusaha menahan tubuh mungil yang terus ingin melorot ke bawah.


Hazel terkekeh melihat Ardan yang mulai kewalahan menahan anaknya.


"Mas, aku cari minuman sama camilan dulu, ya. Mas sama Surya dulu gak apa-apa, kan?"


Ardan hanya mengangguk, mulai menurunkan badan bocah itu pada salah satu wahana mobil-mobilan di pinggir lapangan alun-alun kota.


"Berani?" tanya Ardan.


"Berani, Mas."


"Jangan jauh-jauh, nanti kalo kamu hilang aku juga yang merana."


Hazel tertawa, satu tangannya memukul lengan Ardan lembut.


"Memang aku anak kecil?" katanya seraya berjalan menjauh.


Lelaki itu hanya tertawa, setelah badan sang istri menjauh dia menarik napas. Melihat sang putra yang sudah berada di dalam mobil kecil.


Satu tangan Ardan meraih kepala Surya, mengacak puncak kepala sang anak. Lalu, tubuh kekar itu berjongkok, memandangi wajah Surya yang tampak senang berada di luar.


"Surya kenapa, Nak? Kok rewel terus di rumah Opa? Surya gak betah?" tanya Ardan dan bocah itu menggeleng.


"Jadi Surya maunya gimana?" tanya Ardan mengelus pipi gembilnya.


"Yumah," jawab Surya celat, Ardan hanya terdiam. Nanar menatapi wajah putranya yang merindukan rumah mereka.


"Gak mau kalau kita tinggal di ibu kota? Nanti Surya bisa main di sini tiap malam."


Tidak lagi mendengarkan ucapan sang Papa, bocah itu asyik memutar-mutar kemudinya. Membentuk seulas senyum di wajah Ardan.


Baru ingin berdiri, satu tangan Surya menarik jeans Ardan.


"Apa," panggilnya mendongak.


"Hmm."


"Unda anyis." Satu alis Ardan menaik.


"Nangis kenapa, Nak? Surya tau kenapa Bunda nangis?" tanya Ardan lagi.


Bocah itu hanya mengangguk, kembali memainkan kemudi mobilnya.


"Kenapa Bunda nangis, coba bilang sama Papa," bujuk Ardan lembut.


"Opa Nena," katanya menggeleng, "opa Uya." Sambungnya, berusaha menjelaskan bahwa Gerald bukanlah opa dirinya.


Seketika tangan Ardan mengepal, geram. Walau Surya tidak memberi tahu detil, tetapi otaknya cukup bekerja untuk memaknainya.


"Gerald harus bagaimana aku menghadapimu?" lirih Ardan geram. Ia usap wajah itu kasar, bukan tidak pernah memikirkan masalah ini sebelumnya, tetapi dia juga bingung mencari jalan keluarnya. Gerald sangat keras untuk disatukan.


Pantas saja Hazel terus menangis, dugaannya tidak melesat sama sekali. Pasti sang istri terluka oleh perlakuan lelaki tua tersebut.


Perhatian Ardan teralih saat sentuhan dingin terasa di lengannya. Lelaki itu menoleh, Hazel tersenyum seraya memberikan sekaleng soda.


Memilih duduk di tepi semen pembatas jalanan. Sepasang mata tajam itu terus memerhatikan sang putra yang masih bermain. Sementara Hazel asyik dengan makanannya.


Tidak menyadari kalau wajah Ardan lebih suntuk dari sebelumnya. Pikirannya mulai mengacau, harus bagaimana?


Memilih keluarga kecilnya dan kembali pulang ke kota mereka. Atau tetap bertahan, tetapi dengan Surya yang terus diasingkan sang papa?


Ardan menghela napas berat, Hazel menoleh. Melihat wajah Ardan yang kian suntuk.


"Mas kenapa? Lelah, ya?" tanya Hazel dan Ardan langsung meletakan kepalanya di atas bahu sempit Hazel.


"Kalau lelah, bentar lagi kita pulang saja, ya."


"Hazel."


"Hmm."


"Katakan padaku, kamu memilih mau tinggal di mana? Di rumah kita atau rumah papa?"


Gadis itu terdiam, susah payah dia menelan sisa makanan yang masih ada di dalam mulut.


"Mas belum ambil keputusan?"


"Sudah."


"Lalu?"


"Siap berubah kapan saja asalkan kamu memintanya."


"Kalau Mas sudah memutuskan, aku akan mengikutinya. Mas yang paling tau mana yang terbaik buat kita semua."


Ardan terdiam, matanya terus memandangi Surya yang bermain dengan lega.


Haruskah dia mengorbankan kenyamanan sang putra?


🌱🌱


Malam gaes, wah pokoknya lopr sekebon buat para readers setia yang masih mau menanti, yang udah khawatir dan selalu memberikan doa terbaiknya.


Makasih gaes, alhamdulillah othor kagak sakit. Cuma kemarin ada editorin naskah novel punya teman dan juga ngerombak naskah. Jadi manage waktunya kacau.


Jan tanya kapan crazy up ya gaes, othor masih berusaha sekuat tenaga buat up Ardan. Lope2 buat kalian semua 😘😘😘