For My Family

For My Family
189



Bungsu Erlangga itu menjatuhkan badannya di atas kasur. Menggulum badan di atas sprai berwarna putih tersebut.


Kedua tangannya mengibas-ngibas, menyapu permukaan sprai seperti sayap kupu-kupu. Menikmati empuknya kasur di hotel itu setelah delapan belas jam waktu penerbangan yang melelahkan.


Lelaki itu bergerak malas saat suara dari ponselnya masuk sebuah pesan. Membaca kiriman dari salah satu staf hotel yang menawarkan fasilitas bar di bawah hotel.


Lelaki itu menghela napas, membanting ponselnya di atas kasur. Lantas ia bangkit, berjalan ke arah jendela. Menyibak kain gorden itu untuk melihat pemandangan kota Moskow dari atas kamarnya.


Bibir sedikit kemerahan itu tersenyum, memerhatikan keindahan kota Moskow yang sedang berada di awal musim semi.


"Masa depan, aku datang."


***


Bibir tipis milik lelaki berkulit sawo matang itu tersenyum. Melihat pesan yang dikirimkan sang adik.


"Ada apa, Ardan?"


"Arfi mengirimkan foto pemandangan," kata Ardan seraya memperlihatkan pesan kiriman sang adik pada sahabatnya.


Lelaki berwajah teduh itu mengerutkan dahi, melihat foto Arfi yang merentangkan tangan di balkon hotel, memperlihatkan kemegahan ibu kota negara Rusia dari atas kamarnya.


"Moskow? Dia ... di Rusia?" tanya Ferdi sedikit terkejut. Baru kemarin adik sahabatnya itu mengirimkan pesan kontrak perusahaan. Dan hari ini lelaki itu sudah berada di negara orang. Benar-benar kehidupan Erlangga sulit untuk dibayangkan.


"Seperti yang kau lihat. Dia tengah menikmati pesona kota Moskow. Dan kita ... masih harus berjuang memikirkan cara berperang." Ardan menggelengkan kepala, tak heran jika lelaki itu terbang dari satu negara ke negara lain. Dari dulu, Gerald sangat memanjakannya.


"Apa yang dia lakukan di sana?"


"Entahlah, bermain bersama gadis berambut pirang kurasa," jawab Ardan enteng.


"Lalu bagaimana dengan Khadijah?" Gerakan mata Ardan yang membaca data kiriman sang adik terhenti.


"Apa dia meninggalkan Khadijah lagi?"


Ardan hanya berdiam, lalu jarinya sibuk menscrool tampilan.


"Mengapa dia selalu bertindak dan menganggap enteng segalanya? Setelah melakukan ini, dia bisa pergi ke Rusia dengan sangat tenang."


"Hei, ayolah. Adikku tidak sepecundang itu juga. Arfi banyak berubah, dia bukan si manja yang suka merengek untuk penyelesaian masalah yang sudah dibuatnya. Aku yakin, ada hal yang ingin dikerjakannya. Dan dia, tengah berjuang untuk itu."


Ferdi menarik napas dan kembali melihat ke dalam gawai.


"Ya. Semakin lama dia semakin mirip denganmu. Tetapi gerakannya, bahkan lebih nakal darimu."


Ardan terkekeh, lalu kembali sibuk memainkan gawai yang ada di tangannya.


"Aku mau kau print semua berkas ini. Kita akan susun cara untuk meminta penalti mereka."


Ferdi hanya mengangguk, detik kemudian ia bangkit untuk mulai mengerjakan apa yang sahabatnya itu perintahkan.


"Fer."


"Hem."


"Menurutmu bagaimana cara Arfi mendapatkan data ini? Tak mungkin rasanya dia bisa mendapatkannya semudah itu."


Ferdi hanya mengendikkan bahunya. "Entahlah, kadang adikmu itu terlalu nakal. Dia sanggup melakukan apa yang tidak mampu kau lakukan, Ardan."


Ardan bangkit dari kursinya dan menatap ke arah luar jendela. Memerhatikan lalu lalang orang dari ruangannya.


"Memang apa yang bisa dia lakukan tapi tidak bisa kulakukan?"


"Arfi itu sangat nakal. Jika dulu saja dia bisa lulus dengan nilai cumlaude tanpa menulis skripsi sedikitpun. Bisa kabur saat diminta menjadi perwakilan Erlangga. Bisa membuat banyak masalah tanpa hukuman. Mengapa tidak bisa melakukan hal luar biasa lainnya?"


Ardan terkekeh, tentu Arfi bisa lulus dengan nilai yang baik. Kedua Kakaknya yang berjuang sekuat tenaga menyelesaikan skripsinya, sedangkan dia? Bermain game sepanjang malam.


Lelaki berkacamata itu menoleh, melihat punggung Ardan yang tengah memerhatikan jalanan. Perlahan dia menghampiri, berdiri bersebelahan dengan sahabat karibnya itu.


"Terkadang aku merindukan saat-saat itu. Walau aku dan Gerald memang sering selisih paham. Namun, adik-adikku masih berada di sisiku. Perlahan waktu berputar, semua yang manja berubah mandiri. Arfan membangun bentengnya sendiri dan kini Arfi, tidak membutuhkan lagi perlindunganku."


Satu tangan Ferdi menepuk bahu kekar itu. Menatap wajah Ardan yang sering sekali sendu saat membicarakan masa lalu.


Lelaki itu rindu akan rumahnya, rindu akan keluarganya. Walau kadang dalam keluarga banyak terjadi pertengangan. Namun, semakin dewasa kita akan semakin memahami. Bahwa tak semua pertentangan terjadi selalu tentang keretakan, bisa jadi itu bentuk kerekatan.


Banyak hal yang menjadi sebuah candu kerinduan. Salah satunya, keadaan rumah yang tak lagi sama.


Orang-orangnya masih sama, suasananya sama, tempat dan segalanya masih sama. Namun, waktunya berbeda, mau tidak mau, itu pula yang membawa perbedaan itu tampak nyata.


"Hei, setiap orang akan merasa lega saat satu persatu bebannya terlepas. Mengapa kau malah bersedih?"


"Kau tidak akan tau, Ferdi. Tunggu saat dua adikmu mulai lulus kuliah. Lalu mereka menikah dan saat itu mereka tak merengek lagi tentang apa pun padamu. Saat itu, kamu akan menyadari, bahwa saat-saat mereka manja, adalah saat merepotkan yang sangat membahagiakan. Saat mereka memilih mandiri, merengek pada orang asing. Kamu akan merasa hampa. Bahagia, tapi banyak yang berubah."


"Setiap orang akan dewasa, Ardan. Setiap kita pasti akan berkembang, kamu tidak bisa mengharapkan segala sesuatunya tetap berada pada titik awal. Siklus kehidupan berjalan, suatu saat apa yang dekat akan menjauh, semakin jauh dan perlahan memudar dari pandangan."


Ardan menatap wajah teduh itu lamat-lamat. Terkadang mengatakan memang sangat mudah, tidak menyadari bahwa kehidupannya pun terus berputar pada poros yang sama.


"Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Ferdi ketus.


"Kau mengatakan itu padaku. Lalu, apakah kau sendiri sudah berjalan?"


"Maksudnya?"


"Ferdi, tunggu apalagi? Gadis belia itu sudah menyerahkan dirinya padamu. Kau pun sudah bukan lagi anak remaja. Mau nunggu apa?"


"Nunggu apa? Memangnya aku harus berbuat apa?"


Ardan mendesah, ia membuka kancing jasnya, lalu memutar badan. Berhadapan dengan sang teman.


"Umurmu sudah cukup untuk menikah. Mau sampai kapan kamu menggantungkan dia? Saat ini zaman sudah berbeda. Kau tidak cepat, maka jodohmu direbut mereka yang sigap."


Ferdi berdecak geram, ia mengacak rambutnya.


"Kau tak mengerti, Ardan?"


"Apanya yang tidak kumengerti, hah? Jika cinta katakan cinta. Mengapa banyak sekali bersandiwara. Hei, kau itu lelaki. Malu, saat kau yang selalu dikejar dan didahului perempuan."


"Aku tau. Tapi---"


"Apa? Kau takut dia hanya sebagai pengganti. Berhentilah bersembunyi, Ferdi. Mau sampai kapan? Kau yang bilang hidup ini berjalan. Keputusan itu dibuat, Kawan."


"Aku tau. Tapi, masa aku harus sama belia yang bahkan umurnya setengah umurku, Ardan? Apa kata dunia?"


"Peduli apa sama perkataan isi dunia? Jika hidupmu menderita, apa ada yang peduli akan bahagiamu? Apa mereka bertanggung jawab atas susahmu? Enggak, kan? Peduli apa? Jika kamu bahagia dengan pilihanmu, mengapa harus memikirkan mereka yang tidak ada pedulinya padamu?"


"Tapi dia masih sembilan belas tahun, Ardan. Masih terlalu dini, bagaimana jika aku hanya cinta monyetnya? Lalu setelah kami melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, dia ketemu orang baru dan jatuh cinta lagi? Lalu aku?"


Ardan menarik napasnya, menatap wajah itu lamat-lamat. Dari dulu, pikiran Ferdi selalu rumit akan masa depan.


"Ferdi, setia itu tak harus dewasa. Banyak yang dewasa namun mereka tak mampu setia. Jika kamu ingin dia setia, itu kuncinya ada pada dirimu. Pada perlakuanmu, pada sifatmu, sikapmu dan juga caramu memperlakukan dia."


Lelaki berkacamata mata itu terdiam.


"Dewasa juga tidak tergantung oleh usia. Tapi itu tergantung pada pemikirannya, caranya menjalani hidup, menyelesaikan masalah dan juga cara dia berkembang. Semua tergantung akan personalnya, bukan masalah dewasa ataupun usia."


"Tapi aku rasa, pernikahan itu masih terlalu serius untuk anak seusia Sasy, Ardan. Kurasa komitmen itu apa, dia saja tak paham."


Ardan tersenyum. "Pernahkah kamu bertanya padanya? Berbicara dengan kedewasaan yang sama, dan memperlakukan dia layaknya kamu butuh jawaban keseriusan darinya? Kita tidak bisa menilai seseorang hanya karena sikap yang ditunjukkan sehari-hari. Kadang mereka yang terlihat urak-urakan, lebih paham liku kehidupan."


Lelaki itu kembali menatap ke arah luar. Menikmati pemandangan dengan kenangan masa lampau yang kembali terputar.


"Seperti aku yang dulu hanya menilai Hazel keras, kaku, dingin dan sangat membangkang. Perlahan saat dia berbicara tentang kehidupan, sisinya terlihat menakjubkan, banyak hal yang tidak pernah terpikirkan, kuketahui dari pengalaman yang dia lewatkan. Dia menikah umur 18 tahun. Menjadi ibu tunggal untuk anak seperti Surya. Jika hanya terukur dari umur, katakan padaku. Apakah gadis 18 tahun pada umumnya, sanggup melewatinya?"


Ferdi menundukkan pandangannya, tak salah apa yang diucapkan Ardan. Namun, keadaan Sasy berbeda, dia masih kuliah dan masa depannya baru saja ditata.


"Tapi masa depan dia masih sangat panjang, Ardan. Dia masih kuliah dan kurasa masa depan dia baru mulai ditata."


"Hei, menikah tidak akan menghalangi sebuah impian, Ferdi. Menikah bukan penjara ataupun kekangan yang tidak memperbolehkan untuk menggapai apa-apa. Banyak manfaat saat seseorang memilih menikah muda. Aku rasa, aku tak perlu menjabarkannya padamu. Karena kau lebih paham hukum agama di bandingkan aku."


Sepasang iris di balik lensa itu menatap Ardan lekat. Perlahan bibirnya terkembang dengan lebar.


Seperti mendapatkan pencerahan akan masa depan yang harus dirancang. Lelaki berwajah teduh itu terus memehartikan wajah sang sahabat.


"Ada apa? Jangan terlalu lama memandangiku, nanti kau jatuh cinta bagaimana?"


Satu tangan Ferdi menepuk kepala belakang Ardan. Lelaki berwajah garang itu terdiam, karena biasa dia yang melakukan itu pada orang.


"Fer---" Belum siap dia berucap, lelaki berkacamata itu telah lebih dulu berjalan keluar.


"Hei Ferdi, kau mau ke mana?" jerit Ardan.


Lelaki itu hanya melambaikan tangannya, keluar dari ruangan dengan tergesa. Membuat kepala lelaki beralis tebal itu menggeleng lemah.


Ardan kembali melihat ke arah luar, memerhatikan mobil sang sahabat keluar dari pekarangan.


"Hazel, siapa duga jika gadis sepertimu mampu mengubah sudut pandangku?"