For My Family

For My Family
254



Ardan mengetuk pintu kamar milik kembarannya, Arfan menoleh, lantas tersenyum saat melihat sang Kakak berdiri di ambang pintu.


"Bagaimana persiapanmu, Boy?" tanya Ardan seraya menumpuhkan sebelah bahunya di daun pintu.


Arfan hanya mengendikkan bahu, seperti yang Ardan lihat, dia sedang mengemas pakaiannya dibantu oleh Ferla.


"Maaf, ya, Ferla. Aku harus membuat kamu berjauhan dengan suamimu."


Wanita yang dipanggil hanya menoleh sekilas, lantas kembali sibuk menyusun baju-baju sang suami ke dalam koper.


"Daripada mengasihani aku, lebih baik kau mengasihani istrimu, Dan. Bukannya kau juga akan ke luar pulau?"


Ardan tersenyum lembut, dia hanya mengangguk dengan mengacak rambut hitam legamnya.


"Benar juga, aku akan meninggalkannya lebih jauh dibandingkan Arfan meninggalkanmu. Untuk itu, bisakah aku menitipnya padamu?"


Wanita yang tengah menyusun baju milik suaminya itu melirik sekilas. Lantas seulas senyum dia tampilkan dengan gelengan kepala pelan.


"Tidak salah mau menitipkan dia padaku? Dibandingkan aku, jelas sekali kalau orang tua kalian menerima dia lebih baik dari aku dulu."


Ardan terkekeh pelan, "kau salah jika menilainya begitu."


"Aku tidak pernah salah dalam menilai?"


"Benarkah?" tanya Ardan tak yakin.


"Tentu saja! Walau aku benci mengakuinya, tetapi istrimu jauh lebih tangguh dari aku. Jika meluluhkanmu saja dia bisa, apalagi hanya Gerald."


Ardan terkekeh, sementara Arfan menarik pinggang wanitanya mendekat.


"Jadi kamu cemburu padanya?" tanya Arfan menarik tubuh Ferla untuk menempel padanya.


"Bukannya sudah terlalu terlambat jika aku ingin mencemburuinya?"


Arfan ikut tertawa, ia mendaratkan sebuah kecupan di pipi wanita beranak tiga tersebut. Sementara Ardan hanya menggeleng pelan melihatnya.


"Sudahlah, kalian lanjutkan saja," katanya beranjak dari ambang pintu Arfan.


Tak jauh, langkahnya tercegat oleh Gerald, lelaki tua itu menatap sinis putra sulungnya.


"Ardan, kali ini apa lagi yang ingin kau lakukan? Untuk apa mengirim Arfan kembali ke Green Kosmetik? Sementara perusahaan kita sedang kacau balau. Kudengar kau akan ke luar pulau? Apa kau benar-benar ingin memisahkan Ruby Jewelry?" tanya Gerald beruntun.


"Pa, percayalah padaku. Kali ini aku mampu, benar-benar mampu."


"Kalau begitu diskusikan rencanamu pada Papa. Kita lihat kau benar-benar mampu atau tidak."


Setelah mengatakan itu Gerald berjalan ke arah ruang baca. Diikuti oleh Ardan menyusuli langkah sang papa.


"Katakan! Bagaimana kau akan mengatasi ini semua?" tanya Gerald tidak sabar.


"Seperti yang kukatakan, aku akan melepaskan Ruby Jewelry dan mengganti backing hukum."


Gerald menarik napasnya berat. "Ardan, setelah yang kukatakan padamu, tidak bisakah kau memikirkannya lagi? Aku benar-benar menceritakan yang sesungguhnya, bukan hanya karangan semata!"


"Kita tidak bisa kembali, Pa. Saat kita memilih untuk melangkah maju, maka kita tidak bisa terus terfokus sama apa yang sudah kita tinggalkan."


"Tapi pemisahan ini akan berimbas pada harga saham, kau paham?!"


"Aku paham! Karena itu aku akan menarik mitra baru nantinya."


"Apa? Apa aku nggak salah dengar? Saat perusahaan sedang kacau balau kau malah memikirkan untuk bekerja sama dengan orang lain? Kau pikir apa mereka akan mau? Setelah mengetahui masalah perusahaan Erlangga apa kau pikir mereka akan mau?"


"Mereka tidak akan memiliki pilihan lain selain menerimanya."


Gerald menarik napasnya, mencoba memahami rencana Ardan walaupun dia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikir anaknya.


"Perusahaan apa yang ingin kau tarik?"


"From Blue Sky."


"Perusahaan apa itu? Papa tidak pernah mendengarnya sama sekali."


"Itu hanya toko perhiasaan biasa."


Seketika napas Gerald tersengal, kali ini Ardan benar-benar menguras kesabaran.


"Ardan apa kau gila? Bagaimana bisa kau menukar perusahaan sebesar Ruby Jewelry dengan toko perhiasan biasa? Jangan bercanda!"


"Sudah kukatakan! Percayalah padaku!"


"Bagaimana aku bisa percaya padamu saat kau selalu membuat rencana gila itu terus berlanjut. Ini bukan permainan, ini juga bukan pertaruhan, perusahaan itu adalah segala perjuangan Aulia, apa kau tak paham?!" bentak Gerald kehilangan kesabaran.


"Karena itulah aku tak ingin perusahaan Erlangga jatuh, Pa! Karena perjuangan mama yang pernah Papa ceritakanlah aku ingin berjuang sekuat tenaga menyelamatkannya!" teriak Ardan tak kalah lantangnya.


"Karena ini semua adalah milik kalian berdua yang sangat berharga. Aku mencoba segala hal yang kubisa," sambung Ardan melemah.


"Kumohon mengertilah dan cukup percaya padaku!"


Gerald berjalan melewati Ardan dengan kesabaran yang hampir hilang, belum sempat tangan tua itu meraih kenop pintu, Ardan kembali menghentikan langkah Gerald.


"Dengan apa Anda ingin meyakinkan David? Mempertaruhkan pernikahan Arfi? Aku tak percaya jika Anda sama sekali tak menyadari maksud mereka yang ingin menikahkan Arfi dan Ayla."


Tangan yang ingin meraih kenop pintu terkepal. Tentu saja Gerald tau, dia bukan orang bodoh yang tak mengerti cara berbisnis. Namun, jika ini adalah pilihan satu-satunya, dia bisa berbuat apa.


"Tolong! Hentikan kegilaan Anda, Pak. Kami anak-anak Anda bukan barang pertukaran bisnis. Biarkan kami bahagia dengan jalan yang kami pilih. Hentikan ini, hentikan ambisi dan keegoisan ini."


Gerald tersenyum miring, lantas berbalik menatap Ardan.


"Ternyata setelah apa yang aku ceritakan, kau pun masih beranggapan bahwa aku melakukan semua ini demi ambisi?"


"Hentikan, Pa! Jangan bersembunyi di balik perjuangan mama. Karena ada hal yang takkan pernah hilang, meski sesuatu itu sudah tidak lagi ada."


"Kau takkan bisa membayangkan bagaimana sulitnya saat kami membangun ini semua, Ardan. Karena kami selalu mengusahakan yang terbaik agar kalian tidak kesusahan! Sekarang kau bilang aku hanya berambisi karena ingin melindungi yang kumiliki?"


"Kami bukan lagi bayi, Pa. Kami bukan lagi anak kecil yang hanya bisa menunggu perlindungan Papa. Kami sudah dewasa, kami sudah bisa menentukan langkah. Jika memang kita kehilangan perusahaan itu bukan masalah karena kita bisa memulainya kembali bersama."


Gerald tersenyum miring, dia menggelengkan kepala tak percaya. Seperti mudah saja membangun perusahaan sebesar Erlangga.


"Kau pikir itu akan mudah? Membangun perusahaan tidak semudah yang kau bayangkan, Ardan!"


"Aku tau, Pa! Jelas aku tau sulitnya bagaimana! Tapi saat ini kita tidak sendiri! Kita memiliki kebersamaan, percayalah saat semuanya kita mulai bersama-sama itu akan terasa lebih mudah."


Gerald membuka pintu ruang baca dan keluar dengan seringai meremehkan pada wajahnya.


"Ternyata! Kita hanyalah dua orang yang takkan pernah bisa berdamai."


Mendengar ucapan itu membuat dada Ardan bergejolak, amarah dan ego yang selama ini dia kesempingkan kembali mencuat kepermukaan. Benar-benar orang tua yang satu ini.


Ardan geram, ia kepalkan tangan dan mengejar langkah Gerald.


"Aku benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Anda!" teriak Ardan menghentikan langkah Gerald.


"Setelah semua ego dan amarah yang kukesampingkan untuk berdamai dengan Anda. Anda juga tak paham?"


"Apa yang harus kupahami? Kau pun tak ingin mencoba memahami posisiku, bukan?"


"Apa yang harus aku pahami dari ambisi yang tak ingin mengalah itu, Pak Gerald?"


"Seorang ayah rela menahan seribu luka demi anaknya, tetapi bisakah seorang anak menahan sebuah luka untuk ayahnya?"


Pertanyaan itu membuat Ardan terdiam, kali ini dia benar-benar tak paham apa yang Gerald pikirkan.


Gerald tertunduk, bibir keriput itu melengkung dengan lebar.


"Seorang ayah akan selalu mengalah walau seribu kali ditantangi oleh anaknya. Bisakah seorang anak mengalah sekali saja pada ayahnya?"


"Kadang ada beberapa tindakan dan keputusan yang dilakukan demi kebaikan, nyatanya malah menimbulkan keretakan. Peperangan dan kesalah pahaman. Membuat seorang ayah dipandang kejam dan egois. Dianggap keras dan tidak memiliki hati. Sebenarnya, tujuannya hanya satu."


"Untuk melindungi segalanya," sambung Gerald.


"Papa tidak menyalahkan kalian, sebagai anak wajar jika kalian memiliki pikiran untuk menentang keputusan yang tidak sesuai keinginan. Tapi jika kalian bisa melihat dari sudut pandang Papa sekali saja. Kalian pasti akan memahami."


Gerald terdiam, cukup lama. Karena dia juga butuh waktu untuk mengungkapkannya.


"Bahwa apa yang Papa lakukan hanya untuk mempertahankan segalanya."


"Dan mengorbankan kebahagiaan anak-anak Papa?" tanya Ardan sinis.


Gerald tersenyum dan menggeleng.


"Ardan, kau yang paling dewasa di antara yang lainnya. Kau juga sudah menjadi papa, bukankah kau juga akan mengorbankan segalanya demi anakmu?"


"Tetapi aku tidak akan mengorbankan kebahagiaan anakku demi tujuanku."


"Ternyata kau pun belum mengerti sepenuhnya." Gerald Terkekeh seraya menggelengkan kepalanya.


"Tak selalu makna kebahagiaan itu sama, Ardan," kata Gerald lirih, kini ungkapan itu terdengar lebih dalam.


"Saat kalian anak-anak yang kami besarkan bisa hidup nyama dan tanpa kekurangan, itu kebahagian. Saat kalian yang Papa perjuangkan dengan segala kemampuan bisa tertawa dan membisingkan rumah kita, itu juga kebahagiaan, Ardan."


"Tak sulit bagi kami meraih kebahagiaan. Dengan senyum kalian saja kami sudah bisa ikut bahagia. Hanya sesederhana itu, pernahkah kau berpikir begitu?"


Ardan lagi-lagi hanya terdiam, baru kali ini dia kehabisan kata untuk menentang Gerald.


"Kau bisa mengatakannya akan memulai lagi karena kalian sudah dewasa dan memiliki kemampuan untuk itu. Tapi di mata Papa kalian tetaplah anak-anak Papa yang tak ingin Papa lihat kesusahannya. Ada Papa, kenapa kalian harus bersusah payah, masih ada Papa, Papa akan melindungi kalian semua."


Gerald tertawa dan mendekati Ardan, menepuk pipi putranya lembut.


"Papa gagal menghadirkan surga untuk rumah tangga kami, ternyata Papa juga gagal menjadi punggung untuk buah hati kami. Setelah ini, mau seberapa banyak lagi kegagalan Papa yang ingin kau buka?"


Gerald berbalik, berjalan meninggalkan Ardan yang terdiam di lorong, memperhatikan tubuh tua itu berjalan tergopoh menuju kamar kekasihnya.


Seketika kerongkongan lelaki itu mengering, bersama lara yang ikut mentesi pipi. Kini dia sadar satu hal, Gerald hanya ingin terlihat kuat di depan anak-anaknya.