For My Family

For My Family
64



Ardan terbahak, ia berjalan ke hadapan Ferla. Memandangi gadis itu dengan bibir yang mengembang.


"Jangan membual, tidak pernah terjadi apapun di antara kita dan tidak akan pernah."


"Ardan!" teriak Arfan yang sedari tadi berdiam di ujung ruangan.


Ardan melihat ke arah lelaki berkulit putih itu. Ia menggelengkan kepala pelan.


"Bukannya kamu mencintainya? Kenapa tidak berani bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan?"


Arfan terdiam, ia menyentuh tengkuk lehernya. Melihat ke arah Gerald yang mulai menangkap gerakannya.


"Maksudmu?" tanya Gerald bingung.


"Malam itu aku memang mabuk. Tapi aku tidak kehilangan kesadaran."


Ferla langsung melihat ke arah Ardan. Kening mulusnya berkerut.


"Setelah kamu menciumku, bukannya kamu juga ikut mabuk? Lalu, apakah kamu pikir malam itu aku mampu membawamu kembali ke apartemen?"


Sontak gadis itu langsung melihat ke arah Arfan. Matanya kembali meluruhkan air. Perlahan ia menggelengkan kepalanya, berdiri berhadapan dengan Ardan.


"Ardan, aku tahu kamu memang tidak mencintai aku. Gak masalah juga kalau kamu memang gak mau mengakui anak ini."


Ardan menghela napasnya, menjatuhkan badan ke atas sofa. Tangannya mengeluarkan ponsel dan menelpon seseorang di seberang sana.


Ia menekan loudspeaker setelah panggilan itu tersambung.


"Iya, Ardan."


"Fer, ingat malam saat aku mabuk setelah pemakaman Arsy?"


"Ya."


"Siapa yang membawaku pulang dari bar?"


"Ardan apa kamu amnesia? Kamu sampai siang tidur di kamarku. Bahkan setelah bangun pun kamu masih malas-malasan sampai malam."


Ardan melihat ke arah Ferla, bibir gadis itu bergetar kuat. Tak berhenti air membanjiri kedua matanya.


Sorot matanya beralih menatap Arfan, lelaki itu kini hanya tertunduk lemas.


"Lalu, kamu tahu siapa yang membawa pulang Ferla?"


"Bukannya saat itu aku sudah memberitahumu kalau Arfan membawa pulang Ferla? Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Ferdi cemas.


"Tidak ada, Kawan. Maaf mengganggumu, aku matikan dulu."


Ardan memandang wajah Gerald yang terus memadam, seringai kemenangan terpatri di wajah manisnya.


"Dengarkan? Aku ini bukan pecundang."


Gerald terduduk di atas sofa, ia memegangi sudut dahinya yang terasa cenutan.


Arfan berlutut di hadapan Ferla, menundukkan wajahnya dalam.


"Maaf, Ferla. Bukannya aku tidak mau bertanggung jawab. Malam itu--"


"Cukup!" Ferla memalingkan wajahnya, tidak sanggup menerima kenyataan pahit ini.


"Arfan, Papa gak mau tahu. Segera, kamu nikahi dia," ucap Gerald meninggalkan ruang tengah.


Berusaha keluar dari panasnya masalah percintaan anak-anaknya itu.


Sementara gadis itu kembali terduduk, memandangi Ardan yang sama sekali tidak menaruh iba terhadap dirinya.


"Kenapa, Ardan?" tanyanya parau.


Matanya terus mengeluarkan cairan bening, memandangi Ardan yang duduk berhadapan dengannya.


"Kenapa kamu begitu dingin terhadapku?"


"Hentikan, Ferla!"


"Kenapa?! Kenapa bukannya menjadi istrimu aku malah harus menjadi iparmu? Apa ini adil buatku?"


"Adil atau tidak itu bukan aku yang menentukan? Arfan memang kembaranku, lantas? Apakah aku harus bertanggung jawab atas benih yang ia tabur?"


Mendengarkan ucapan Ardan, Arfan menggepalkan jemari tangannya. Ia berjalan mendekati Ardan, mencengkeram kerah kaus Ardan dengan kuat.


"Sialan! Ardan, kamu tahu dia sangat mencintaimu. Kalau bukan demi menemanimu malam itu, apakah dia akan mabuk?"


"Bukan aku yang meminta dia datang."


"Ardan, dia hanya peduli padamu!"


"Aku gak butuh."


Bugh


Kepalan tangan menghantam wajah kembarannya itu. Arfi berlari, memegangi dada Arfan yang bergejolak panas.


"Baj*ngan! Kenapa harus lelaki sepertimu yang dia cintai?"


"Cukup, Arfan!" teriak Ferla kuat.


"Kamu! Kamu sahabat aku, kenapa kamu melakukan ini padaku?"


Seketika badan tegap Arfan gamblang, ia kembali berlutut di depan Ferla. Menghapus bajiran air mata di wajah wanita yang ia cintai itu.


"Maaf, Ferla. Malam itu kamu terus memelukku dan tidak ingin aku meninggalkanmu. Maaf, aku lepas kendali."


Ardan tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya.


Arfan kembali meretakan rahanganya, ia kembali memukuli Ardan dengan tangannya sendiri.


"Sialan! Ardan kamu tahu? Bahkan malam itu dia selalu memanggilku dengan namamu! Namamu, Ardan."


Ardan memeluk badan Arfan, membalikan keadaan. Kepalan tangan berulang kali menghantam wajah putih kembarannya itu.


"Lantas karena apa kamu bisa menidurinya, ha? Hanya karena dia memanggil namaku haruskah kamu menghiburnya dengan cara begitu?"


Arfan menahan kepalan tangan Ardan. Menendang dada kakaknya itu agar menjauh dari dirinya.


"Dia mencintaimu, Ardan!"


"Lalu? Haruskah aku peduli pada semua wanita yang mencintaiku? Ha? Kamu pikir di dunia ini berapa banyak yang mencintaiku? Bukan hanya dia!"


"Bangs*t!" teriak Arfan semakin meradang.


"Cukup!" teriak Ferla tak kalah kuat.


"Kenapa kalian menjadi seperti ini? Kalian itu kembar."


"Aku tidak sudi memiliki kembaran seperti dia. Cuih." Arfan membuang salivanya, ia mendekati Ferla dan merangkul bahu gadis itu keluar dari rumah.


Meninggalkan pertengkaran panasnya dengan saudara sekandungnya itu.


Sedang, Ardan memandangi saliva bercampur darah yang di buang oleh adiknya itu.


Terdiam, membiarkan air melintasi salah satu pipinya. Ada gumpalan yang teremas, sakit, perih dan sangat nyeri ketika ia mendapatkan ucapan itu.


"Tunggu." Arfan menghentikan langkahnya, ia memalingkan wajah melihat Ardan yang berdiam di ruang tengah. Arfan menyentuh pucuk kepala Ferla.


"Aku bersumpah! Suatu saat nanti, aku akan menyakiti wanita yang sangat kamu cintai, sama seperti kamu menyakiti Ferla saat ini. Mungkin, lebih."


Ardan memandang sengit ke arah Arfan yang berdiri di ujung ruangan. Lalu dua orang itu menghilang di balik pintu.


"Kak Ardan." Arfi mendekati Ardan, menghapus beberapa aliran darah yang menghiasi wajah kakaknya itu.


"Kenapa kita hancur seperti ini, Arfi? Arsy, Ferdi, sekarang Arfan dan Ferla. Perlahan semuanya menjauh dariku."


"Masih ada aku, Kak. Selamanya aku akan berada di pihak, Kakak."


Ardan mengambil napasnya yang terasa menyengal di dada. Ia menjatuhkan badan di atas sofa.


"Kenapa kita bercerai berai seperti ini? Bukankah kita ini keluarga?"


"Kak--"


"Arsy membenciku, kini Arfan mengutukku. Setelah ini, hal apa yang akan membuatmu meninggalkanku, Arfi? Aku sungguh tidak sanggup." Ardan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, memecahkan tangisannya di sana.


Perlahan lelaki muda itu merengkuh badan tegap Ardan, mengelus punggung kekar yang semakin melemah itu.


"Aku janji untuk selalu berada di pihak, Kakak. Tak peduli apapun itu, aku pasti akan bersamamu, Kak."


"Pergilah, Arfi. Aku ingin sendiri." Ardan melepaskan rangkulan tangan Arfi. Berlari menuju taman bunga persik milik Arsy.


Mencoba menghirup udara yang semakin sesak memasuki rongga dada. Perlahan ia mengeluarkan sebatang rokok, membakar dan mengisapnya perlahan. Matanya memandang dalam ke arah kolam.


Masih teringat jelas bagaimana Arsy memakinya di kertas yang ia tinggalkan di atas nakas malam itu.


Terngiang di telinganya, bahwa Arsy sangat membenci dirinya.


***


Ardan membuka matanya, ia langsung terduduk di atas tempat tidur. Sekilas bayangan kaki Arsy tergantung di atas matanya kembali terlihat.


Ardan berjalan ke arah pintu, keluar dengan tergesa menjejaki rumah Gerald Erlangga. Meninggalkan Hazel yang masih terdiam di atas kasur.


Wanita itu menghapus sudut matanya yang beberapa kali mengeluarkan air saat mendengarkan cerita Ardan.


Siapa yang menyangka, di balik nama agung Erlangga selama ini ada sebuah luka yang sangat dalam. Tragedi pahit yang terus menjadi pertentangan, perpecahan sebuah keluarga yang sampai mengorbankan sebuah nyawa.


Hazel bangkit dari kasur Arsy, ia berniat mengejar langkah Ardan. Sebuah kertas jatuh dari rak buku komik Arsy. Perlahan Hazel mengambil kertas itu. Membaca tulisan tangan Arsy.


'*Arsy Erlangga, semua remaja iri pada nama ini. Namun mereka tidak tahu bahwa dunia ini sangat kejam.


Mama dan Ayah, bahkan mereka tidak mengizinkan aku menggambar.


Kak Arfan, dia selalu fokus pada kak Ferla. Kak Arfi, dia terlalu asyik pada dunianya.


Kak Ardan, kamu adalah yang paling aku sayangi. Tetapi kenapa? Kenapa kak Ardan tidak membelaku di depan Ayah?


Aku mengeluh, aku mengadu, kak Ardan bilang tahanlah dulu, kita akan pindah. Tetapi setelah aku menahannya apa yang aku dapat?


Lelaki itu menyentuhku, aku jijik saat dia memelukku dan aku mengutuknya saat dia memperkosaku.


Di mana kamu kak Ardan? Ayah, Mama? Di mana kalian saat aku meraung kesakitan di kamar itu. Aku jijik pada diriku yang ternodai, aku jijik pada duniaku yang dikuasai.


Dikuasai ego ayah, protektif mama yang salah sasaran.


Ayah, seumur hidup ini aku menyesali kenapa menyandang nama Erlangga. Aku menyesali karena harus ditetesi darah lelaki sepertimu.


Kak Ardan, aku sangat membencimu yang membiarkanku disentuh lelaki itu.


Untuk Kak Ferdi, maaf aku harus pamit. Maaf aku harus meninggalkanmu. Karena aku, Arsy yang pernah mencintaimu adalah gadis kecil penuh noda. Maaf, aku tidak bisa menjaga diri agar menjadi pantas bagimu.


Maaf, kak Ferdi. Aku tak layak untuk kamu cintai*.'


Hazel mengambil napasnya yang sempat terhenti saat membaca goresan pena penuh luka itu.


Ia menghapus sudut dagunya dan kembali meletakan kertas itu di antara buku-buku komik milik Arsy. Memandangi wajah gadis kecil yang ada dalam pigura.


'Sayang kamu, Arsy. Kamu harus menyerah karena sebuah luka yang tidak mampu kamu tahan sendiri.'